
Hujan pagi membasahi rerumputan di depan rumah besar di tengah hutan.
Di ruang keluarga, Nalesha sedang berkutat dengan laptopnya. Dia sedang membuat sebuah novel. Ditemani coklat panas, Nalesha tampak serius.
".... meskipun saling mencintai, mereka tidak bisa bersama. Dunia drucless dan dunia manusia itu terpisah. Bagaimana bisa mereka bersatu dalam perbedaan ini," Nalesha mengeja tulisannya.
"Tunggu, kenapa rasanya cerita ini terlalu aneh." Nalesha menghapus dua paragraf lalu menggantinya dengan kalimat yang lebih bagus menurutnya.
".... Sebesar apa pun cinta mereka, mereka tidak bisa bersama karena dipisahkan oleh alam. Siapa sangka, pria yang selama ini dia cintai adalah sesuatu yang tidak bisa dia gapai. Pria yang tinggal di dunia lain, dunia drucless. Sementara Deana adalah manusia biasa." Nalesha tersenyum lalu mengusap buliran bening yang akan keluar dari sudut matanya.
"Rasanya aku ingin menangis. Oh, aku tidak tahu aku bisa merangkai kata-kata seindah ini." Nalesha melanjutkan menulis. "Apa lagi, ya?"
Tampaknya gadis itu kehabisan ide. Dia pun memilih untuk menonton video di Youtube sambil rebahan di karpet tebal berbulu yang hangat. Dia menonton video mukbang terbaru.
"Bakso lava. Oh, tampaknya lezat sekali." Nalesha menelan saliva saat orang dalam video menyantap bakso yang isinya penuh dengan cabe rawit merah.
"Aku mauuuuu." Nalesha segera mencari Zael. "Orang itu kemana, sih? Ah, maksudku drucless itu."
Setelah selesai menonton video mukbang, Nalesha mencari Zael ke setiap ruangan di rumah itu. "Zael? Kau di mana?"
__ADS_1
Karena tidak mendapatkan jawaban, Nalesha keluar dari rumah sambil membawa payung. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tampaknya Zael tidak ada di mana pun di sekitar rumah. Nalesha menggerutu kesal, "Bisa tidak kalau mau pergi bilang dulu."
Terpaksa Nalesha mencarinya. Hujan mulai berhenti menyisakan rintik-rintik air. Nalesha melihat pria bermantel punggung ungu gelap itu berdiri di depannya. Selain itu, dia mendengar suara air terjun.
"Zael!" Nalesha berlari menghampiri pria itu.
Zael menoleh pada gadis itu. Nalesha berhenti tiba-tiba saat menyadari jika di depannya ada tebing tinggi. Zael menarik lengan Nalesha agar tidak limbung.
"Payungku!" Nalesha melihat payungnya terbawa angin dan jatuh ke bawah.
"Itu payungku," kata Zael.
"Ini... ini air terjun menuju dunia drucless?" Tanya Nalesha yang tampak terkagum-kagum.
"Bisa dibilang begitu. Tapi, para drucless bisa membuat portal sendiri untuk masuk ke dunia drucless maupun dunia manusia, tapi harus dapat izin dari penjaga benteng," jawab Zael.
"Benarkah? Jika manusia bisa melewati portal di air terjun ini, maka akan tiba di mana?" Tanya Nalesha penasaran.
__ADS_1
Zael menjelaskan, "Sebenarnya air terjun ini bagian dari dunia drucless, lebih tepatnya anak sungai suci yang mengalir melewati benteng pemisah antara dunia drucless dan dunia manusia. Jika kau berhasil melewati air terjun ini, kau akan sampai di hutan yang lebat. Ada banyak makhluk aneh dan tumbuhan di sana bisa bergerak seperti hewan gurita. Lalu jika kau berhasil melewati hutan itu, kau kan menemukan sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Zeroun."
"Wuaaahh, sebesar apa kerajaan itu?" Tanya Nalesha penasaran.
Zael menatap lurus membayangkan Kerajaan Zeroun. "Yang pasti sangat besar. Tidak ada kerajaan yang mau bermasalah dengan Kerajaan Zeroun. Raja dari kerajaan tersebut terkenal kejam dan lebih menakutkan dari yang kau bayangkan."
Nalesha tampak berpikir. "Oh, bagaimana jika Raja Zeroun bertemu dengan setan?"
Zael tampak berpikir. "Mungkin setan itu akan sungkem pada Raja Zeroun."
(Zael)
(Nalesha)
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^09.04 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^