
Malam ini Farhan pulang lebih awal dari biasanya. Dia tidak melihat Yunita di kamarnya. Pria itu melihat Yunita keluar dari kamar Faidan dengan pakaian yang agak terbuka. Farhan sudah tahu. Malam itu juga dia menanyakannya dan Yunita tidak bisa menyangkalnya. Farhan sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Yunita.
"Aku tidak mengira kau akan mengkhianatiku, bahkan kau melakukannya dengan adikku sendiri. Aku tahu aku bukan sosok suami yang sempurna. Tapi, jika ini yang kau mau, kenapa kau tidak meminta cerai saja dariku?" Farhan menatap Yunita.
"Aku tidak ingin cerai darimu. Maafkan aku, aku akan memperbaiki semuanya," tangis Yunita.
Farhan mendecih. "Yunita, aku juga tahu waktu itu kau mengandung anak Faidan. Kau tahu aku tidak bisa membuahimu. Sangat tidak masuk akal jika kau hamil anakku. Namun, aku selalu membahagiakanmu. Aku sadar aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu, aku harap kau bahagia meskipun itu bukan darah dagingku."
Yunita menyesalinya. Dia tidak ingin berpisah dengan Farhan. Oleh karena itu, Farhan membeli sebuah apartemen untuk ditinggali Faidan agar adiknya itu tidak mengganggu hubungan rumah tangganya dengan Yunita yang sudah retak.
Meskipun tidak rela berpisah dengan Yunita, Faidan terpaksa menuruti keinginan kakaknya. Dia tinggal di apartemen sendirian.
Apakah Yunita benar-benar menyesal?
Entahlah, tapi yang pasti Faidan dan Yunita masih berhubungan. Mereka menjadi semakin leluasa, karena Faidan tinggal di apartemen. Jadi, mereka bisa menghabiskan waktu selama Farhan belum pulang ke rumah.
"Semenjak Farhan mengetahui hubungan kita, dia sangat kasar padaku saat kami berhubungan intim. Dia tidak seperti biasanya," kata Yunita.
"Bagaimana jika kita membunuhnya saja?" Usul Faidan tanpa beban.
__ADS_1
"Apa? Apa kau gila? Aku tidak mau masuk penjara," kata Yunita.
"Kita harus membuat seolah-olah Kak Farhan kecelakaan. Dengan begitu, polisi tidak akan curiga. Kita bisa menikah dan hidup selamanya. Aku juga bisa memegang Gumelar Group," ucap Faidan.
Yunita tampak berpikir.
Sementara itu, Zael sedang mematut di depan cermin. Dia tampak begitu tampan dengan kemeja hitamnya. Pria itu menuruni tangga dan melihat Nalesha sedang menonton video di ponselnya.
"Nale, aku mau keluar," ucap Zael.
"Keluarkan saja," jawab Nalesha dengan polosnya.
Nalesha tersentak kemudian menoleh pada Zael. "Ah, maksudku kau mau keluar? Ke mana?"
"Sepertinya aku tidak bisa mendengar teriakan kematian jika terus berada di tengah-tengah hutan. Aku harus berada di sekitar manusia untuk mencari seseorang yang butuh pertolongan," ucap Zael.
Nalesha tampak berpikir. "Baiklah, ayo pergi."
Zael mengulurkan tangannya. Nalesha mengernyit kemudian dia menerima uluran tangan Zael. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya melewati angin yang begitu besar.
__ADS_1
Zael merangkul Nalesha sambil berbisik, "Tutup matamu."
Mereka sampai di atap sebuah gedung. Nalesha membuka matanya. "Aaa!" Gadis itu merasa tubuhnya sangat ringan sehingga dia limbung.
"Apa tidak ada tempat yang lebih aman?" Tanya Nalesha dengan suara bergetar.
"Sssstt." Zael berdesis sambil meletakkan telunjuk di depan bibir.
Nalesha pun diam. Tidak ada yang bisa mereka dengar, hanya suara mobil yang berlalu lintas di jalanan kota Jakarta yang macet. Angin berembus membuat rambut panjang Nalesha bergerak-gerak. Dia menatap Zael. Rambut pria itu juga bergerak tertiup angin yang semilir membuat ketampanannya bertambah. Nalesha tersenyum kecil dengan pipi memerah.
"Kau mendengar suara teriakan kematian?" Tanya Nalesha.
Zael menggeleng.
Nalesha tampak berpikir. "Kalau begitu kita pergi ke tempat lain yang lebih banyak orang."
...🍂🍂🍂...
^^^20.14 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^