THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 04


__ADS_3

Farhan membawa Faidan ke kantor. Sebelum memegang jabatan penting, Faidan disuruh belajar menjadi karyawan biasa. Tampaknya Faidan kecewa dengan keputusan kakaknya.


"Apa Kakak tidak percaya padaku? Kenapa aku harus memulai dengan belajar menjadi karyawan biasa?" Tanya Faidan.


"Kau perlu belajar dan aku harus melihat kinerjamu. Dengan begitu, aku akan tahu kemampuanmu dan memberikan posisi apa yang bagus untukmu.Gibran akan mengajarimu," kata Farhan kemudian berlalu.


Setelah Farhan berlalu, Faidan mendecih sambil tertawa sarkas. "Apa dulu ayah juga melakukan hal yang sama padanya? Yang benar saja, dia bertindak seolah-olah ini adalah perusahaan yang dibangun sendiri olehnya. Ayah lihat? Itulah anak sulungmu. Apa fungsinya aku berkuliah jika aku masih harus belajar dari orang rendahan?"


Gibran menjelaskan tugas seorang karyawan pada Faidan. Meskipun malas dan kesal, Faidan tetap mendengarkan.


Setelah jam makan siang, Faidan pulang ke rumah. Dia tidak mau melanjutkan. Di rumah, dia mengadu pada Yunita.


"Dia memperlakukanku seperti karyawan magang, padahal aku ini adik kandungnya," gerutu Faidan.


"Aku akan bicara padanya. Dia pasti akan mengerti," hibur Yunita.


Faidan menatap Yunita. "Terima kasih, Kak. Kakak lebih mengerti dibanding Kak Farhan."


Yunita tersenyum. "Kau adikku juga."

__ADS_1


Malam harinya, Yunita sedang memakai pelembab malam. Dia melihat suaminya masuk.


"Aku tidak mengira Faidan akan kabur dari kantor. Maksudku dia pergi begitu saja tanpa pamit di jam makan siang," ucap Farhan sambil duduk di tepi ranjang.


Yunita berbalik dan beranjak dari kursi rias lalu duduk di samping Farhan. "Dia, kan, adikmu. Apa kau tidak bisa sedikit lunak padanya?"


"Yunita, kau tahu sendiri peraturan perusahaanku seperti apa. Aku tidak suka ada karyawan yang tidak disiplin. Faidan menginginkan posisi tinggi di perusahaanku. Jika dia sendiri tidak bisa menjadi karyawan biasa, apa lagi menjadi atasan," kata Farhan.


Yunita memeluk lengan suaminya. "Adikmu pasti akan mengerti. Dia sudah dewasa. Cobalah bicara baik-baik padanya. Dari kecil kalian suka bertengkar, apakah sekarang kalian juga masih mau bertengkar? Kalian tidak sedang memperebutkan permen."


Farhan menatap Yunita. "Kau cantik sekali malam ini."


Keesokan harinya, Farhan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Yunita memasangkan dasi.


"Lihatlah, dia bahkan belum bangun," ujar Farhan.


"Aku akan membangunkannya," kata Yunita kemudian bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Faidan. Wanita itu mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


"Faidan? Kak Farhan menunggumu, kau mau berangkat kerja?" Tanya Yunita. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Yunita pun masuk. Dia melihat Faidan yang masih tertidur di ranjangnya. Terlihat tubuhnya yang topless tertutup selimut.

__ADS_1


Kedua pipi Yunita memerah melihat tubuh kekar Faidan. Dia menepuk lengan Faidan. "Faidan, Kak Farhan menunggumu. Kau tidak berangkat kerja?"


Faidan meregangkan tubuhnya sambil menguap. Dia sangat tampan meskipun baru bangun tidur. Pria itu menoleh pada Yunita.


"Aku tidak mau pergi." Setelah berkata demikian, Faidan melanjutkan aktivitas tidurnya.


Yunita pun segera bilang pada Farhan, kalau Faidan tidak mau pergi ke kantor.


"Sudah kuduga. Kau terlalu memanjakannya, Sayang," ucap Farhan.


"Nanti aku akan menasehatinya, kau tenang saja," kata Yunita.


"Aku berangkat, ya." Farhan mengecup kening Yunita.


"Hati-hati, Sayang."


...🍂🍂🍂...


^^^07.07 | 22 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2