
"Apa kau bisa membuka jasmu? Aku akan mencucinya," kata Nalesha.
"A-apa?" Faidan terkejut. "Tapi, ini hanya noda anggur. Aku pikir air saja cukup untuk membersihkannya."
"Tidak akan bersih dengan air," ucap Nalesha.
Faidan melepaskan jasnya. "Baiklah, jika menurutmu begitu."
Nalesha pergi. "Tunggu, ya. Jangan kemana-mana."
Faidan duduk di sofa. Nalesha kembali dengan jasnya yang sudah bersih.
"Oh, terima kasih, Nona." Faidan menerima jas tersebut.
Nalesha meletakkan kedua tangannya ke belakang. Dia tersenyum manis. "Panggil aku Lesha saja."
"Terima kasih, Lesha. Panggil aku Faidan saja."
"Iya, Kak Faidan."
Faidan tersenyum. Dia pun berpamitan pada Nalesha. Pria itu memasuki mobilnya. Tapi, baru beberapa meter, bahan bakarnya sudah habis.
"Bukankah aku sudah isi ulang bensin kemarin?" Gumam Faidan. Pria itu melihat Nalesha masih berdiri di depan gerbang.
Faidan keluar dari mobilnya kemudian menghampirinya. "Apa ada pom bensin di dekat sini?"
Nalesha menggeleng. "Tidak ada."
Faidan menghela napas berat.
"Kalau begitu, menginap saja di rumahku," kata Nalesha.
"Apa? Tapi...." Faidan tidak meneruskan kata-katanya, karena Nalesha menarik tangannya kembali ke rumah.
__ADS_1
Nalesha menyajikan coklat panas dua cangkir. "Saat Ibu masih hidup, Ibu sering membuatkan coklat panas untukku saat aku kedinginan."
Faidan sudah tahu kalau ibunya Lesha telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Dia mendengar cerita tersebut dari Arnav.
"Sekarang kau hanya punya ayahmu, jadi sayangilah dia," kata Faidan.
Nalesha mengangguk. "Iya, meskipun bentukannya seperti itu, dia tetap ayahku. Aku menyayanginya."
Faidan tersenyum.
Nalesha mulai menangis. "Setiap aku meminum coklat panas, aku selalu teringat ibuku."
Faidan mengusap rambut Nalesha. "Jangan menangis."
Nalesha memeluk Faidan dan menumpahkan semua tangisannya. Faidan menjadi canggung, tapi kemudian pria itu memeluk Nalesha.
"Polisi bilang, ibuku meninggal karena kecelakaan, tapi aku yakin seseorang mencoba membunuhnya," kata Nalesha.
Mendengar itu, Faidan terkejut.
Melihat ekspresi kemarahan Nalesha, Faidan tampak khawatir. Seolah-olah perkataan gadis itu sengaja ditujukan kepada dirinya.
"Polisi pasti akan menemukan pembunuhnya," hibur Faidan.
Nalesha tersenyum pedih. "Tentu, pembunuhnya harus ditangkap dan diadili. Dia harus ditangkap bagaimana pun caranya."
Faidan mengalihkan pandangannya. "Lesha, kau membuatku takut."
Nalesha segera mengubah ekspresinya. "Kenapa?"
"Ekspresimu seperti pembunuh bayaran," celetuk Faidan.
Nalesha mengernyitkan dahinya. Saat Faidan kembali melihat padanya, Nalesha segera mengubah ekspresinya menjadi sedih.
__ADS_1
Faidan membuka matanya. Dia terkejut saat menyadari dirinya sedang berada di sebuah tebing yang curam.
"Kenapa aku di sini?" Faidan melangkah mencari jalan keluar, tiba-tiba sebuah tangan berlumuran darah mencengkram kakinya.
Faidan menoleh. Kedua matanya terbelalak melihat Farhan yang terluka keluar dari mobil dan memegang kakinya.
"Teganya kau melakukan ini padaku, Faidan! Ikut bersamaku ke neraka!" Teriak Farhan.
"Tidak!" Faidan berusaha menyingkirkan tangan Farhan dari kakinya.
"Faidan!"
Faidan berhasil melepaskan kakinya dari cengkraman Farhan. Dia berlari masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Dia bersembunyi di bawah akar pohon besar.
Febrian dan Irfan serta beberapa polisi lainnya menuruni jurang untuk mengevakuasi mayat Farhan. Faidan berbalik untuk melarikan diri, tapi dia tersentak kaget saat wajah Farhan yang menakutkan tiba-tiba berada di depan wajahnya.
"Kau menikmatinya?" Tanya Farhan.
Faidan menggeleng.
Farhan mencakar leher Faidan. Pria itu meringis tertahan.
"Pak polisi! Pembunuhnya di sini!" Teriak Farhan.
Para polisi menoleh ke sumber suara. Faidan panik. Dia segera berlari tanpa arah. Langkah kakinya terasa berat. Dia tidak bisa berlari. Sementara para polisi mengejarnya. Mereka sudah dekat.
"Tidak! Aku tidak membunuhnya!!" Faidan menoleh. Dia melihat tangan-tangan berdarah mencengkram kakinya. Itulah sebabnya langkahnya sangat berat.
Para polisi itu menembaki tubuhnya hingga hancur tak berbentuk lagi.
...🍂🍂🍂...
^^^10.10 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^