THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 25


__ADS_3

"Arnav akan membantu kita," ucap Zael.


"Benarkah? Kau sudah memberitahunya?" Tanya Nalesha.


Zael mengangguk. "Dia akan menjadi ayahmu."


"Apa? Sungguh sialnya diriku ini punya ayah seperti Arnav," ceroscos Nalesha.


"Kita akan ke kota besok."


"Lalu?" Tanya Nalesha.


Zael melihat ke sekeliling. "Aku akan menggunakan kekuatanku untuk membuat bangunan ilusi di sekitar sini."


"Tapi, bukankah separuh kekuatanmu diambil Dewi Amiles?" Tanya Nalesha.


"Aku rasa aku masih bisa membuat dunia ilusi. Kau harus masuk ke dalam ilusiku agar kau tidak bingung," kata Zael.


Nalesha mengangguk.


** End Flashback **


"Kau mengenal para polisi?" Tanya Arnav.


Nalesha mengangguk. "Kami sering bertemu sebelumnya, jadi aku mengenalinya."


Arnav mengangguk mengerti. "Akan lebih baik kau tidak bertemu dengan mereka kalau mereka mengenalmu. Rencana Pangeran Zael tidak akan berjalan baik."


"Aku mengerti," jawab Nalesha.

__ADS_1


Keesokan harinya, Faidan makan malam bersama Arnav. Keduanya mengangkat gelas wine dan bersulang.


"Apa kau sudah berbaikan dengan putrimu?" Tanya Faidan.


Arnav tertawa. "Dia memang keras kepala, tapi pada akhirnya dia mau meminta maaf pada tunangannya."


Faidan mencerna ucapan Arnav. "Meminta maaf?"


Arnav meletakkan gelasnya. "Kurasa aku terlalu memanjakan putriku. Dia menjadi kurang ajar. Beruntung sekali tunangannya memaafkannya."


"Putrimu masih sangat muda, kupikir dia belum ingin menjalin hubungan yang serius," kata Faidan.


"Seharusnya dari awal aku menyewa guru privat agar mengajarnya di rumah. Mungkin dia bergaul dengan anak-anak berandalan di sekolahnya," ujar Arnav sambil meneguk lagi minumannya.


"Putrimu bersekolah di mana?" Tanya Faidan.


"Itu adalah sekolah favorit yang sangat terkenal selain Hardiswara," puji Faidan.


Arnav menatap Faidan. "Seandainya aku lebih dulu mengenalmu dibandingkan dengan tunangan putriku, aku pasti lebih memilih menjodohkan putriku denganmu."


Faidan terdiam untuk sesaat. Kemudian dia tertawa kaku mendengar ucapan Arnav.


"Sayangnya kau sudah menikah," ucap Arnav dengan eskpresi sedih.


"Meskipun aku masih lajang, belum tentu putrimu menyukaiku," kata Faidan.


Arnav memundurkan wajahnya. "Kenapa tidak? Kau tampan, berpendidikan, dan baik hati. Waktu di Bali dia bersembunyi di belakangmu. Seolah aku orang lain dan kau pria yang bisa melindunginya, manis sekali."


"Tuan Haden, sepertinya kau mabuk." Faidan menahan Arnav agar tidak minum lagi. Tapi, wine dari gelas Arnav malah tumpah ke jas Faidan.

__ADS_1


Karena Arnav mabuk, Faidan terpaksa mengantarkan pria itu pulang ke rumah. Rumah ilusi itu berada tak jauh dari bangunan perusahaan ilusi yang dibuat Zael.


Sesampainya di rumah mewah itu, Faidan membopong tubuh Arnav lalu menekan bel. "Tuan Haden, apa kau tidak punya bodyguard atau pelayan?"


"Ada putriku di dalam. Lesha?"


Tak lama kemudian Nalesha membuka pintu. Faidan melihat gadis remaja itu memakai celana pendek dan sweater rajut kebesaran yang membuatnya terlihat manis.


"Ayah? Tu-Tuan?" Nalesha tampak canggung. Dia membantu Faidan membopong ayahnya ke kamar.


Nalesha menyelimuti tubuh ayahnya. "Maaf telah merepotkanmu, Tuan."


Faidan tersenyum. "Tidak, tidak, kami memang rekan. Kalau begitu, aku pergi, ya."


Nalesha melihat noda di jas Faidan. Dia mengambil tisu dan mengelap noda itu. "Sepertinya ayahku mengotori jasmu."


Di jarak sedekat itu, jantung Faidan berdegup kencang. Dia memperhatikan Nalesha yang tampak begitu cantik dan imut secara bersamaan.


"Apa kau bisa membuka jasmu? Aku akan mencucinya," kata Nalesha.


"A-apa?" Faidan terkejut.


...🍂🍂🍂...



^^^09.36 | 22 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^

__ADS_1


__ADS_2