
Faidan berlalu dan menaiki lift. Lift berhenti di lantai 16. Pintu lift terbuka. Faidan melihat gadis cantik berdiri di depan pintu lift dengan ekspresi sedih. Gadis itu masuk lalu menekan angka 21.
Dia melirik gadis yang mulai menangis tertahan itu. Faidan menjadi canggung. "Nona, apa kau baik-baik saja?"
Gadis yang tak lain Nalesha itu menoleh sesaat padanya kemudian menggeleng. "Aku bertengkar dengan pacarku. Aku tidak tahan ingin mengakhiri hubunganku dengannya."
"Begitu, ya?" Faidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memangnya apa yang dia lakukan padamu?"
Nalesha tidak menjawab.
Lift berhenti di lantai 18. Dua wanita masuk dan melihat pada Nalesha yang sedang menangis dalam diam. Kedua wanita itu juga melirik pada Faidan.
Seolah mengerti dengan tatapan kedua wanita itu, Faidan segera mengibaskan tangannya. "Bukan, bukan aku yang membuatnya menangis."
Di lantai 20, kedua wanita itu keluar. Faidan melirik Nalesha yang masih berada di dalam lift. Di lantai 21, Faidan keluar begitu pun dengan Nalesha. Bahkan keduanya berjalan ke arah yang sama.
"Lesha?"
Langkah Nalesha terhenti saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Dia menoleh begitu pun dengan Faidan, ternyata Arnav. Pria itu tampak marah dan menghampiri Nalesha.
Karena takut, Nalesha bersembunyi di belakang Faidan. Faidan panik karena Nalesha seolah meminta perlindungan darinya.
__ADS_1
"Nona, aku tidak mau terlibat dengan masalahmu," kata Faidan panik.
"Kumohon tolong aku, ayahku pasti akan marah padaku dan menghukumku," mohon Nalesha gemetar.
"Ayah?" Gumam Faidan setengah bertanya. Dia menoleh pada Arnav.
"Tuan Gumelar, kita bertemu lagi," ujar Arnav sambil melirik Nalesha yang bersembunyi di belakang Faidan.
"Ah? I-iya." Faidan tersenyum kaku.
"Lesha, kemari! Kenapa kau bersembunyi di belakang Tuan Gumelar?" Bentak Arnav.
"Ayah akan memarahiku, aku tidak mau pada Ayah," tangisan Nalesha semakin kencang.
"Aku tidak mau! Aku tidak tahan! Aku mau mengakhiri hubungan dengannya," tangis Nalesha.
Faidan merasa tidak enak. Dia bertanya, "Tuan Haden, apa dia putrimu?"
"Iya, dia putri tunggalku. Dia memang sering merajuk seperti itu. Maafkan aku karenanya kau merasa tidak nyaman," jawab Arnav merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," kata Faidan. Pria itu berbalik menatap Nalesha. "Kurasa lebih baik kau kembali pada ayahmu. Dia tidak mungkin menyakitimu."
__ADS_1
"Dia akan memarahiku dan melarangku makan selama 3 hari sampai-sampai aku kurus dan gaunku kelonggaran," celetuk Nalesha disela tangisannya.
Mendengar itu, Arnav terbelak. Gadis kecil itu kenapa dia berakting berlebihan? Kapan aku melarangnya makan? Semua persediaan makanan di kulkas Pangeran Zael habis dimakan olehnya.
Faidan kembali menoleh pada Arnav. Segera Arnav mengubah ekspresinya.
"Tuan Haden, berjanjilah kau tidak akan memarahi putrimu," ucap Faidan.
"Apa? Tapi, dia membuat kesalahan," kata Arnav serius.
"Kalau begitu, Nona, minta maaflah pada ayahmu," suruh Faidan.
Nalesha mengangguk sedih. "Ayah, aku minta maaf. Aku akan kembali menemui tunanganku di luar."
Arnav mengulurkan tangannya. "Baiklah, Ayah memaafkanmu. Ayo, kita temui dia."
Arnav dan Nalesha pun pergi. Faidan melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu bergumam, "Anaknya Arnav Haden sangat cantik, berbeda dengan ayahnya. Tapi, kurasa gadis itu terlalu muda untuk bertunangan."
...🍂🍂🍂...
^^^19.18 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^