
Yunita terkejut karena tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka.
"Kak Yunita? Kakak sedang apa?" Faidan tampak panik setelah mendapati kakak iparnya berada di depan kamar mandi.
"Kau sedang apa? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyebut namaku?" Tanya Yunita dengan suara bergetar.
"Kakak sebenarnya...." Faidan tidak tahu harus menjelaskan apa.
Yunita memberikan kesempatan dengan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Faidan, tapi pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. "Apa yang bisa kau jelaskan, Faidan? Itu apa?"
Faidan melihat arah telunjuk Yunita. Ada ****** ***** Yunita di sana. Dalam hati Faidan merutuki kecerobohannya.
"Aku menyukaimu, Yunita." Tiba-tiba Faidan mengecup bibir Yunita.
Karena kaget, wanita itu mendorong dada Faidan. "Kau gila?"
Faidan mendecih. "Sudahlah, Kak. Aku tahu Kakak sudah tidak menyukai Kak Farhan lagi. Aku sudah tahu semuanya. Kak Yunita pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa rahim Kakak, kenapa Kakak tidak bisa punya anak, padahal Kakak tidak mandul. Itu karena yang mandul Farhan bukan Kakak."
"Faidan!" Tamparan keras mendarat di wajah tampannya. Yunita yang menamparnya.
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Farhan itu kakakmu! Dia kakak kandungmu! Kau mau tahu alasan kenapa aku datang ke kamarmu? Aku ingin memberitahumu kalau Farhan telah memutuskan untuk memberikan posisi penting untukmu. Tapi, dengan apa yang kau lakukan padaku barusan, aku menyadari jika ucapan Farhan benar adanya." Yunita bergegas pergi meninggalkan kamar Faidan.
Faidan berteriak kesal sambil mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Farhan, Faidan, dan Yunita sarapan bersama. Yunita tidak berani menceritakan apa yang dilakukan Faidan padanya. Dia memendamnya sendiri, jika dia mengatakannya pada Farhan, sudah pasti Farhan marah dan akan menyakiti Faidan. Yunita tidak mau itu terjadi.
Di rumah Zael.
Nalesha sudah memakai apron, begitu pun dengan Zael dan Arnav. Kedua pria itu memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nalesha.
"Kita mulai dengan dagingnya. Daging ini akan kita giling," Nalesha berbicara seolah-olah dia sedang melakukan siaran langsung. Padahal dia melihat tutorial di video. Dia memasukkan daging ke mesin penggiling.
Arnav berbisik pada Zael, "Apakah dia sungguh-sungguh akan memakai lava?"
"Lava yang dia maksud adalah cabe rawit merah," jawab Zael pelan.
"Setelah dagingnya digiling, kalian buat anak baksonya, ya," kata Nalesha pada Zael dan Arnav.
"Anak bakso?" Arnav berbisik lagi pada Zael.
"Baik, Pangeran."
Setelah baksonya matang, Nalesha dan dua pria drucless itu memakannya.
"Uh, panas." Nalesha melihat uap halus yang keluar saat baksonya dipotong.
Zael menyantapnya. "Ini lezat juga ternyata."
__ADS_1
"Huhaaah, pedas sekali." Arnav segera mengambil minum.
Nalesha menyantapnya dan rasanya memang pedas. Hanya Nalesha dan Arnav yang merasakan tersiksanya makan bakso lava. Sementara Zael tampak biasa saja. Dia menikmati tekstur baksonya yang kenyal.
"Kurasa makanan ini memang pantas disebut lava," ceroscos Arnav.
Nalesha sudah menghabiskan 2 gelas susu. Dia tidak kuat jika harus menghabiskan bakso tersebut.
Arnav menoleh pada Nalesha. "Kau membuat makanan atau racun?"
"Memangnya di dunia drucless tidak ada makanan pedas?" Gerutu Nalesha.
"Aku tidak suka makanan pedas, lidahku terbakar," oceh Arnav.
"Lihatlah, Zael baik-baik saja memakan makanan ini," ujar Nalesha.
"Lalu kau sendiri? Wajahmu sudah memerah seperti akan meledak," kata Arnav.
"Aku manusia, tentu saja aku merasa pedas," ucap Nalesha.
"Lalu kau pikir drucless tidak peka dengan rasa pedas?!"
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^11.12 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^