THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 35


__ADS_3

Para polisi menemukan pisau yang dikubur di tempat parkir. Itu adalah pisau yang digunakan para pembunuh untuk menusuk perut Farhan. Mereka membawanya ke lab.


"Semoga sidik jarinya masih bisa dianalisis," gumam Febrian.


** Flashback **


Yunita memberikan pisau itu pada dua pria bertopeng itu. Ada Faidan juga di sana.


"Pisau ini setajam katana. Seseorang yang tertusuk pisau ini pasti akan mengalami pendarahan parah," kata Yunita.


Pria itu menerimanya. "Kami akan menusuknya di perut, Nyonya."


Yunita mengangguk. "Aku menyewa assassin untuk membantu kalian membersihkan bukti. Satu lagi, jika kalian tertangkap oleh polisi, kalian jangan sebut namaku atau pun Faidan. Tenang saja, meskipun kalian di penjara, keluarga kalian akan hidup terjamin."


** End Flashback **


Faidan mengantar Nalesha pulang. Sesampainya di depan rumah Haden, Faidan melirik Nalesha yang tertidur. Dia menatap gadis itu.


Benar juga, Yunita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Lesha. Selain cantik dan imut, Lesha lebih muda dan mungkin dia masih polos, jika Zael belum pernah mencobanya, batin Faidan.


Pria itu melihat paha Nalesha yang terbuka karena memakai rok pendek. Belahan dadanya juga terlihat. Faidan membangunkan Nalesha.


"Lesha, sudah sampai," ucap Faidan.

__ADS_1


Nalesha terbangun. Dia pun keluar dari mobil. "Terima kasih sudah mengantar."


"Masuklah, di luar gelap sekali. Aku akan menunggumu sampai masuk," kata Faidan.


Nalesha mengangguk kemudian memasuki gerbang. Saat Faidan akan menyalakan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Nalesha. Pria itu segera keluar dari mobil dan memeriksa apa yang terjadi. Dia melihat Nalesha terduduk di tanah. Betisnya berdarah.


Faidan mengurungkan niatnya pulang. Dia menggendong Nalesha masuk ke rumah dan mengobati luka di betisnya.


"Ayahmu ke mana?" Tanya Faidan yang serius melilitkan perban ke betisnya.


"Aku tidak tahu, dia suka pulang terlambat. Mungkin minum-minum dengan koleganya," jawab Nalesha.


Faidan menatap Nalesha. "Apakah Zael pernah bermalam di rumahmu?"


Nalesha mengernyit. "Tidak mungkin dia diizinkan menginap di sini. Kami bertunangan, bukan menikah."


Nalesha menatap bingung pada Faidan. "Menyentuh... seperti ini?" Nalesha memengan bahu Faidan.


Faidan mendekatkan wajahnya. "Menyentuh seperti ini."


Pria itu mengecup bibir Nalesha. Tentu saja Nalesha terkejut, tapi dia tidak berani melawan. Faidan menindih Nalesha dan memperdalam ciumannya. Tangannya mengusap lembut paha dan menelusup masuk ke dalam rok gadis itu.


Keesokan harinya, Faidan terbangun. Dia merasakan tangan lembut itu tengah memeluk perutnya. Faidan menoleh, ternyata Nalesha yang memeluknya. Keduanya dalam keadaan tanpa busana. Nalesha tampak masih tertidur.

__ADS_1


Faidan melihat bibir Nalesha yang sedikit terbuka. "Kenapa Zael begitu bodoh? Gadis ini masih begitu polos. Mungkin pria bodoh itu terlalu sibuk, sehingga dia tidak memiliki waktu untuk menyentuhnya.


Pria itu mengecup bibir Nalesha dengan penuh penuntutan. Nalesha terbangun dan terkejut. Belum juga kesadaran terkumpul, Faidan kembali melakukannya.


Sementara itu, Yunita sedang berada di Gumelar Group mencari Faidan. "Semalam dia tidak pulang, sebenarnya dia kemana?


Karena Faidan tidak ada di kantornya, Yunita memilih pergi ke Yunita Fashion. Ternyata Zael sedang di sana menunggunya.


"Nyonya Gumelar? Tuan Arvanendra menunggumu dari tadi," kata Andre sambil tersenyum sumringah.


Zael dan Yunita pergi ke restoran terdekat.


"Kau sangat hebat. Mengurus perusahaan fashion dan merancang model pakaian juga," puji Zael.


Yunita tersenyum. "Itu bukan apa-apa. Banyak pengusaha yang lebih hebat dariku."


Zael tersenyum. "Faidan sangat beruntung memilikimu, tapi dia tidak pernah bersyukur."


Yunita mengernyit. "Maksudmu?"


Zael memberikan ponselnya dan menunjukkan sebuah video yang membuat Yunita sangat terkejut.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


^^^17.28 | 23 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2