
Di kantor polisi.
Febrian memegang lencananya. "Bagaimana bisa kemarin malam aku meninggalkan lencanaku di meja. Padahal aku sudah membawanya."
"Aku juga melihatmu membawanya kemarin sebelum pergi. Yang penting lencana Pak Febrian tidak hilang," ucap Irfan.
"Iya, sih."
Sementara itu di gedung Gunindra One, terlihat seorang pria berjas memimpin rapat. Setelah rapat selesai, pria itu berjalan menuju jendela kaca. Dia melihat Kota Jakarta yang sibuk. Beberapa bodyguard berdiri di belakangnya.
"Kalian belum menemukan gadis itu?" Tanyanya.
"Kami sudah menyisir seluruh hutan, tapi kami tidak menemukannya," jawab salah satu bodyguard.
"Setelah 2 bulan berlalu, apa dia masih hidup?" Gumam pria itu sambil mengeluarkan cerutu. Bodyguard yang paling dekat dengannya menyalakan pematik untuk membakar ujung cerutu tersebut.
Pria itu menyesapnya.
"Tuan Fahreza, Pak Febrian datang ingin menemuimu," kata salah seorang bodyguard yang tiba-tiba datang.
Febrian dan Fahreza duduk berhadapan.
"Kudengar ada kasus pembunuhan yang sedang kau selidiki," kata Fahreza.
__ADS_1
"Iya, kasus ini membuatku agak pusing," jawab Febrian.
Fahreza tersenyum. "Tidak mungkin polisi sehebat dirimu mengalami kesulitan, kan?"
"Pembunuhnya menyewa assassin untuk menghilangkan barang bukti. Aku sudah menangkap assassin dan 2 berandal yang membunuh korban," ujar Febrian.
"Kalau begitu, kasusnya sudah selesai. Kau sudah menangkap pembunuhnya," ucap Fahreza.
Febrian menyandarkan punggungnya. "Ya, tapi ada dalang utama dibalik pembunuhan ini. Aku juga harus menangkap mereka."
Fahreza mengangguk mengerti.
"Aku datang kemari untuk memberitahumu kalau kemarin aku bertemu dengan Nalesha," kata Febrian.
Fahreza tampak terkejut. "Apa?"
"Kenapa kau tidak membawanya padaku?" Fahreza tampak menahan marah.
Febrian mengalihkan pandangannya. "Lencanaku ketinggalan, aku tidak bisa membawa orang sembarangan tanpa itu. Selain itu, pria itu bilang dia sepupunya."
"Sepupu? Ayahku anak tunggal, ibunya juga. Pria itu mungkin pacarnya. Apa Nalesha menjadi simpanan seseorang sehingga dia bisa tinggal di restoran mewah sementara kartu ATM-nya sudah aku blokir?" Gumam Fahreza.
"Kau memblokir ATM-nya?" Tanya Febrian curiga.
__ADS_1
Fahreza tidak segera menjawab. Dia menggeleng. "Bukan begitu, Nalesha selalu kabur dari rumah. Aku mengancamnya akan memblokir ATM yang dia pakai agar dia kembali ke rumah dan tidak kabur lagi."
Febrian mengangguk mengerti. "Aku akan mencari adikmu segera. Kali ini akan membawanya pulang. Semoga pria itu tidak melakukan hal buruk pada Nalesha."
Fahreza menatap Febrian. "Tampaknya kau sangat mencemaskan adikku, maksudku kau lebih khawatir dibandingkan denganku."
Kedua pipi Febrian mendadak merah. "Bukan begitu, dia masih sangat muda."
Fahreza mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gunindra Store.
"Apa?! Nalesha masih hidup?!" Pria tampan berambut coklat tampak terkejut saat menerima telepon. Para karyawan tampak sibuk di anak perusahaan Gunindra One itu.
"Tidak perlu berteriak seperti di drama!" Gerutu Fahreza di seberang sana.
"Tapi, Kak, bukankah ini sudah dua bulan? Bagaimana bisa mungkin masih hidup? Kakak sudah memblokir ATM-nya, kan? Bahkan para bodyguard-mu sudah 5 kali memeriksa seisi hutan perbatasan." Pria itu berlalu ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.
"Harfan, daripada banyak bicara, lebih baik kau sendiri yang mencarinya," kata Fahreza. Panggilan berakhir.
Harfan melihat layar ponselnya. "Kenapa jadi dia yang marah?"
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^10.34 | 23 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^