
Malam hari yang begitu kelam di dunia drucless. Bulan yang berwarna merah redup itu seolah-olah tengah mengawasi dunia drucless.
Kerajaan Ventalla tampak gelap seperti 131 tahun yang lalu saat dikutuk Dewi Amiles.
Di beberapa desa di wilayah Kerajaan Ventalla, tampak beberap patung bergerak. Perlahan para drucless yang dikutuk menjadi batu itu kembali berubah menjadi drucless seperti semula.
"Ibu."
"Ayah!"
"Anakku!".
Mereka berpelukan dengan erat. Tapi, masih ada beberapa desa drucless yang masih menjadi batu.
Tampaknya penebusan dosa yang dilakukan Pangeran Zael berhasil.
Arnav yang datang ke dunia drucless tersenyum melihat para drucless itu kembali seperti semula. Dia juga melihat hutan yang masuk ke wilayah Kerajaan Ventalla berubah seperti semula. Di mana hewan dan makhluk-makhluk lainnya juga telah kembali berkeliaran.
Dia pergi ke istana Ventalla untuk melihat situasi di sana.
Namun, semuanya tampak masih sama di Kerajaan Ventalla. Tidak ada satu pun yang berubah menjadi drucless.
** Flashback **
Pangeran Zael memberikan sebuah gulungan pada Arnav. "Berikan gulungan ini pada Raja Zeroun."
"Baik, Pangeran!" Arnav menerimanya. Pria itu menaiki kuda dan keluar dari wilayah Kerajaan Ventalla untuk menunaikan amanat dari Pangeran Zael.
__ADS_1
Sementara Zael menatap Arnav yang kian menjauh dan menghilang di balik pepohonan.
** End Flashback **
Arnav tampak sedih. "Ini tidak adil, kenapa aku tidak menjadi batu seperti mereka. Meskipun aku tidak memiliki keluarga, aku merasa sedih melihat teman-temanku begini. Aku yakin Pangeran Zael merasakan kesedihan yang lebih besar dariku."
Setelah kembali dari dunia drucless, Arnav menemui Zael dan mengatakan apa yang dia lihat.
"Syukurlah," ucap Zael. Arnav membungkuk kemudian pergi meninggalkan Zael sendirian.
Zael menatap steak sapi di piring yang belum dia sentuh sama sekali.
** Flashback **
Beberapa tubuh manusia tergeletak berlumuran darah di sebuah ruangan. Pria paruh baya berjenggot yang duduk di kursi tersenyum licik melihat sesuatu yang berkilauan dalam kegelapan. Kilauan itu berasal dari zirah emas drucless yang kini muncul menunjukkan diri. Tak lain dia adalah Pangeran Zael Arvanendra dengan pedang di tangannya.
Pangeran Zael menautkan alisnya. "Galad, ini bukan duniamu. Kembali ke dunia drucless!"
"Pangeran Zael, dengan membunuh bangsa manusia kau akan dihukum Dewi Amiles, kau tidak takut?" Tanya pria paruh baya yang bernama Galad itu.
"Kau juga akan dihukum karena telah membunuh manusia dan melakukan ritual terlarang," geram Pangeran Zael.
Galad menautkan alisnya. "Itu urusanku. Kau terlalu ikut campur."
"Di mana kau sembunyikan Zoya?" Tanya Pangeran Zael.
Galad menunjuk ke arah Pangeran Zael. Pria itu mengerutkan keningnya. Dia berbalik dan melihat gadis cantik itu tampak sedih.
__ADS_1
"Zoya."
Galad beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba dia berteleportasi menuju ke arah Zoya. Pangeran Zael terkejut. Galad merasuki tubuh Zoya.
Gadis itu tersenyum sinis kemudian bicara dengan suara berat, "Aku sudah menanam diamond di dalam tubuh Zoya. Dengan begitu, tubuhnya adalah inangku mulai sekarang."
Zoya menyerang Pangeran Zael. Terjadi perkelahian di mana Pangeran Zael hanya bisa menahan dan menghindari serangan Zoya. Pria itu tidak bisa melukai gadis yang sangat dia cintai.
Zoya berteriak kemudian menarik tangan Zael dan menancapkan pedang tersebut ke perutnya sendiri. Pangeran Zael menatap Zoya dengan tatapan nanar.
Zoya tersenyum. "Maafkan aku."
Terdengar suara teriakan Galad. Diamond warna merah jatuh ke lantai. Dengan segera, Pangeran Zael mengambilnya.
Tubuh Zoya berubah menjadi abu. Pangeran Zael menangis sejadi-jadinya. "Zoyaaaa!"
** End Flashback **
Zael beranjak dari kursinya dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Nalesha. Tampaknya gadis itu lupa menutup pintu. Zael masuk dan menyelimuti tubuh gadis itu.
"Tetaplah menjadi manusia."
...🍂🍂🍂...
^^^09.37 | 23 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1