THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 31 - TIME IS UP


__ADS_3

Arnav, Nalesha, dan Zael sedang meeting. "Mulai sekarang kita tidak akan berhadapan lagi dengan mereka. Aku akan membuat ilusi penuh yang akan membuat mereka mengakui kesalahannya pada polisi."


Nalesha dan Arnav mengangguk mengerti.


Setelah itu, Zael mengajak Nalesha makan malam di sebuah restoran mewah. Awalnya Nalesha menolak, tapi Zael membujuknya. Akhirnya Nalesha pun pergi.


Saat lampu merah menyala, mobil yang dikendarai Zael berhenti. Nalesha melihat ke luar jendela. Gadis itu terbelalak melihat layar iklan di sebuah bangunan yang menampilkan wajahnya. Ada tulisan di bawah fotonya. "Putri bungsu keluarga Gunindra menghilang di hutan."


Nalesha mencoba duduk lebih tegak, agar Zael tidak melihat layar besar itu.


Sesampainya di restoran, mereka memesan makanan. Keduanya menyantap hidangan yang telah mereka pesan.


"Setelah akting yang sangat menyebalkan, aku senang kita bisa makan di restoran," ucap Zael.


Nalesha tersenyum. "Aku senang, tapi lebih menyenangkan lagi jika kita makan di rumah seperti biasa."


"Di rumah? Kau tidak bosan terus tinggal di tengah hutan?" Tanya Zael.


Nalesha menggeleng. "Aku nyaman berada di rumahmu. Aku merasa benar-benar seperti di rumah sungguhan."


"Aku pikir gadis dari bangsa manusia sangat menyukai makan malam yang romantis," ujar Zael.


"Tidak semua gadis menginginkan itu. Sebelumnya kau berkencan dengan siapa saja?" Tanya Nalesha curiga.


"Aku? Aku... hanya berkencan dengan satu orang. Dan dia sudah meninggal," jawab Zael.

__ADS_1


Nalesha merasa bersalah. "Oh? Maafkan aku."


Zael tersenyum. "Kau cemburu?"


"Ah? Tidak." Nalesha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Zael tersenyum. "Kau pernah bilang kau ingin menjadi seorang drucless. Kau ingin aku menikahimu dan membuat tanda kepemilikan?"


Wajah Nalesha sudah memerah seperti kepiting rebus. "Aku tidak...."


Zael mengusap rambut Nalesha dengan lembut. "Aku tidak ingin kau menjadi drucless. Aku ingin kau menjadi manusia biasa. Tuhan menciptakanmu sebagai makhluk yang paling sempurna."


Nalesha mencerna ucapan Zael.


"Aku mau ke toilet dulu." Zael beranjak dari tempat duduknya.


Zael mengernyit. "Maksudmu?"


"Kau pergi ke toilet untuk kabur dan meninggalkanku kemudian aku membayar semua makanan ini. Aku tidak punya uang," ucap Nalesha.


Zael memutar bola matanya. Dia berbisik, "Kau pikir aku akan melakukan itu? Istanaku terbuat dari emas. Hanya dengan satu blok bata emasku, aku bisa membeli 4 restoran seperti ini."


Nalesha terkekeh. "Ya, sudah sana. Jangan lama-lama."


Saat Zael pergi, Febrian memasuki restoran itu. Dia tampak santai dengan pakaian rumahan.

__ADS_1


Pelayan menyapanya. "Selamat datang, Pak Polisi."


Febrian mendapatkan pelayanan yang istimewa. Tanpa sengaja, Febrian melihat keberadaan Nalesha. Dia tampak terkejut.


Dia menghampiri Nalesha. Merasakan ada seseorang yang datang menghampirinya, Nalesha mendongkak menatap orang itu. Kedua matanya terbelalak lebar.


"Sebuah kebetulan bertemu denganmu di sini." Febrian duduk berhadapan dengan Nalesha.


Nalesha segera mencari kalimat yang bisa dia gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Febrian.


"Sedang apa Kak Febrian di sini?" Tanya Nalesha.


"Ada kasus pembunuhan yang sedang kuselidiki. Salah satu lokasi yang kami kunjungi adalah restoran ini," jawab Febrian.


"Oh." Nalesha meneguk minumannya.


"Aku senang melihatmu baik-baik saja. Tapi, keluargamu sangat mencemaskanmu, Nalesha. Aku tahu kau tidak dekat dengan mereka, tapi dengan kabur dari rumah dan menghilang di hutan, kau membuat semua orang panik," kata Febrian.


"Keluarga? Keluarga yang mana?" Tanya Nalesha dengan ekspresi malas.


Febrian juga menatap Nalesha dengan serius. "Ketiga kakakmu, mereka sangat mencemaskanmu."


Nalesha tertawa sarkas. "Mereka berharap aku menghilang dari dunia ini. Mereka mencariku untuk memastikan apakah aku masih hidup atau sudah mati."


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


^^^18.44 | 23 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah^^^


__ADS_2