THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 15


__ADS_3

Nalesha dan Zael sedang sarapan bersama, tapi pria itu tidak memakan steak sapi buatan Nalesha. Pria itu hanya memainkan garpu dan pisau.


"Kenapa kau tidak langsung menangkap pembunuhnya? Kenapa harus polisi yang menangkapnya?" Tanya Nalesha.


"Tugasku bukan menangkap pembunuhnya. Pria itu ingin aku membalaskan dendamnya pada si pembunuh. Soal menangkap dan mengurus jenazahnya, itu tugas polisi dan manusia lainnya," jawab Zael.


Nalesha mengangguk mengerti. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Oh, ya... kau bilang kau tidak bisa menyelamatkan nyawa manusia yang sedang sekarat, tapi waktu itu kau menolongku dan aku bisa selamat, tidak jadi mati."


"Kau diserang serigala di depan rumahku. Tentu aku mendengar suara teriakanmu," jawab Zael.


"Oh." Nalesha melanjutkan makan.


"Aku tidak mengerti kenapa waktu itu kau berada di hutan sendirian? Kau mau bunuh diri?" Tanya Zael curiga.


Nalesha tidak langsung menjawab. Dia terdiam untuk beberapa saat. Kemudian gadis itu menatap Zael. "Aku tidak berniat bunuh diri. Aku hanya ingin mencari portal menuju ke dunia drucless. Kudengar dari orang-orang, kalau di hutan ini ada air terjun yang terhubung dengan dunia drucless."

__ADS_1


Zael mengernyit. "Sebelumnya kau pernah melihat drucless selain aku, sampai-sampai kau ingin pergi ke dunia drucless?"


Nalesha menggeleng. "Tidak, aku pernah membacanya di buku."


"Kau percaya pada cerita fantasi di buku?" Tanya Zael.


"Dan kenyataannya memang benar. Drucless memang ada," ujar Nalesha.


Zael memutar bola matanya.


Di pemakaman Farhan, Yunita dan Faidan memakai kacamata hitam. Mereka menunduk dan ikut berdo'a seperti orang-orangย  lainnya yang hadir di pemakanan itu.


Faidan dan Yunita menoleh, ternyata seorang polisi yang memanggil mereka. Polisi tampan itu menunjukkan tanda pengenal dan lencananya. Tertera nama Febrian Galih. "Kami dari kepolisian turut berduka atas kepergian Tuan Gumelar. Kami bertugas di divisi kriminal pembunuhan yang menyelidiki kematiannya. Mohon kerja samanya."


Mendengar ucapan Febrian, Faidan mengerti maksud dari ucapan polisi itu. "Maaf, Pak Polisi. Tapi, kami sedang berduka. Kita bisa membicarakan apa pun setelah kami merasa cukup tenang."

__ADS_1


Febrian melihat pada Yunita dan Faidan bergantian kemudian mengangguk. "Baiklah, kapan pun kalian siap."


Di kantor polisi, Febrian sedang mendengarkan penjelasan dari rekannya, Irfan.


"Setelah menanyai beberapa karyawan di Gumelar Group, Farhan Gumelar tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun. Dia tidak memiliki musuh," jelas Irfan.


Febrian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Karena Gumelar Group adalah perusahaan yang sedang naik daun, kemungkinan ada perusahaan lain yang merasa tersaingi dan ingin menjatuhkan Farhan."


Irfan tampak berpikir. "Bukan bermaksud itu, Pak, tapi... Gumelar Group tidak sebesar perusahaan milik keluarga Adiwijaya dan Mahali. Saingan Gumelar Group tidak akan sebesar kedua perusahaan tersebut."


"Benar juga." Febrian melihat foto Faidan dan Yunita di berkasnya. "Kurasa tidak ada tersangka lain selain kedua orang ini. Dengan kematian Farhan, dua orang ini mendapatkan keuntungan. Faidan akan mengambil alih perusahaan dan istrinya Farhan juga akan mendapatkan harta peninggalan suaminya."


Di rumah, Faidan dan Yunita menikmati makan malam romantis mereka. Ekspresi sedih yang mereka tunjukkan di pemakaman kini berganti dengan ekspresi kebahagiaan. Keduanya seolah sedang berpesta atas kematian Farhan.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...

__ADS_1


^^^21.42 | 22 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2