
Di dalam mobil, Febrian dan Irfan terlibat percakapan. Sembari menyetir, Irfan menggerutu kesal, "Sudah pasti bocah ingusan itu pelakunya, Pak. Saat kita datang, dia langsung masuk ke ruangannya dan mengunci pintu."
Febrian menghela napas berat. "Kau sedang menyetir, jangan marah-marah."
"Emm... maaf, Pak."
"Kita mencurigainya, tapi kita harus mengumpulkan bukti dulu," ucap Febrian.
Irfan tidak menjawab, ucapan Febrian ada benarnya.
"Di tubuh Farhan ditemukan 4 luka tusukan. Lalu ada bekas tembakan di mobilnya. Ini sebuah pembunuhan berencana," ucap Febrian.
Lampu merah menyala. Irfan berhenti. "Kita ke mana sekarang, Pak?"
Febrian menyandarkan punggungnya. "Ke mana lagi, rumah Nyonya Gumelar."
Irfan mengangguk.
Di gedung Yunita Fashion.
Yunita melihat pada Febrian dan Irfan bergantian.
"Kami datang kemari untuk meminta kerjasamanya, jadi mohon untuk meluangkan sedikit waktunya," kata Irfan.
"Tadi kami pergi ke kediaman Gumelar. Security bilang, Nyonya Gumelar di sini, semoga kami tidak terlalu mengganggu," ucap Febrian.
__ADS_1
Yunita mengangguk.
Febrian menunjukkan foto berupa lubang peluru di bagian belakang mobil dan luka tusukan di tubuh Farhan. Irfan melihat ekspresi Yunita yang tampak biasa saja.
Febrian menujuk foto tersebut. "Seseorang merencanakan pembunuhan ini dengan matang. Kami nyaris tidak memiliki petunjuk apa pun. Sebagai istrinya, apakah mendiang suamimu pernah menceritakan keluh kesahnya? Mungkin mendiang pernah membahas tentang sesuatu yang bisa saja mengancam keselamatannya?"
Yunita tampak sedih. "Suamiku sering menceritakan masalah-masalah di kantornya, tapi dia hanya membahas tentang urusan kantor saja. Dia tidak memiliki musuh atau semacamnya. Suamiku orang yang baik dan sangat ramah. Aku rasa tidak mungkin ada seseorang yang ingin membunuhnya, karena itu aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi padanya."
Irfan dan Febrian saling pandang.
"Sepertinya kalian memiliki hubungan rumah tangga yang harmonis," kata Irfan sambil tersenyum lebar.
"Iya, hubungan kami semakin besar saat aku mengandung anak pertama kami, sayangnya aku mengalami kecelakaan yang membuatku harus kehilangan bayiku." Yunita menunduk menyembunyikan air matanya.
Setelah mendapat informasi yang sama sekali tidak penting, Irfan dan Febrian pun pergi.
"Saat melihat jenazah Farhan, Yunita terlihat biasa saja. Hidup bersama selama 9 tahun bukan waktu yang sebentar. Saat ayahku meninggal 4 tahun yang lalu, ibuku masih sedih jika melihat foto ayahku," ujar Irfan.
"Sambil menunggu kebenaran bocah itu (Faidan), kita pergi ke restoran tempat makan malam para karyawan bersama Farhan," kata Febrian.
"Baik, Pak."
Sesampainya di restoran, mereka meminta pemilik restoran untuk menunjukkan CCTV mereka. Febrian dan Irfan tampak serius melihat rekaman CCTV tersebut.
Dalam rekaman itu terlihat Farhan dan karyawan lainnya sedang menikmati makan malam.
__ADS_1
Irfan menunjuk seseorang di meja pojok yang terus memperhatikan Farhan di kejauhan. "Dia tampak mencurigakan. Jika dia melihat seorang wanita seperti itu, mungkin dia akan dianggap genit, tapi yang dia lihat Tuan Gumelar."
"Malam ini adalah malam pembunuhan. Setelah makan malam, mereka pulang, sementara Farhan kembali ke kantor," gumam Febrian yang masih serius melihat rekaman itu.
"Hanya sisi jalanan yang bisa kita lihat. Kita harus melihat CCTV perusahaan Gumelar untuk melihat apa yang terjadi setelahnya," ucap Irfan.
"Tenang saja, Faidan pasti akan buka mulut besok," ucap Febrian.
Irfan tampak berpikir. "Bagaimana caranya?"
"Kita akan ke sana lagi besok."
Malamnya Faidan pulang ke rumah. Yunita tersenyum dan mengecup bibir pria itu. Para pelayan tampak canggung. Mereka membungkuk kemudian pergi.
Yunita dan Faidan makan malam bersama.
"Jika polisi menanyakan apa pun, jawab senormalnya. Aku sudah menghilangkan semua barang bukti," kata Faidan.
Yunita mengangguk.
...🍂🍂🍂...
^^^08.59 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1