THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 16


__ADS_3

Nalesha dan Zael sedang duduk di tepi kolam halaman belakang. Kaki mereka masuk ke dalam air. Keduanya tampak serius berbincang.


"Aku hanya bisa melihat memori manusia saat mereka berada diambang kematian. Dengan menyentuh mereka, aku tahu semuanya," kata Zael.


"Berarti kau belum tahu pasti siapa pembunuhnya?" Tanya Nalesha.


"Sebenarnya orang mati itu mencurigai dua orang yang dekat dengannya. Dia sangat yakin jika kedua orang itu yang membuatnya terbunuh," ucap Zael.


"Siapa?" Tanya Nalesha penasaran.


"Istri dan adik kandungnya," jawab Zael.


"Mereka melakukan itu untuk mendapatkan harta warisan? Tebakanku tidak mungkin salah. Semua manusia selalu tergila-gila dengan uang. Mereka bahkan rela membunuh keluarga mereka sendiri." Nalesha mengalihkan pandangannya karena kesal.


"Aku tidak terlalu yakin, tapi dalam ingatan pria itu, tampaknya ada perselingkuhan antara istrinya dan adik kandungnya. Mungkin itu sebabnya kedua manusia itu membunuh pria itu agar mereka berdua bisa bersama selamanya," ujar Zael.


"Pemikiranmu kuno sekali, mungkin perselingkuhan itu hanya bagian kecil dari alasan mereka membunuh. Tetap saja alasan utamanya adalah uang, aku jamin itu," kata Nalesha.


"Tapi, pria itu tetap mencintai istrinya dan menyayangi adiknya meskipun dia sudah lama tahu perselingkuhan itu. Bahkan setelah keduanya mengaku pun, pria itu tetap memaafkan. Apa bangsa manusia memang sebaik itu?" Tanya Zael.

__ADS_1


Nalesha tampak berpikir. "Tidak semua manusia baik, juga tidak semuanya jahat. Kau akan menemukan berbagai macam jenis manusia di dunia ini."


"Ada pepatah mengatakan, sekalinya selingkuh, maka dia akan terus berselingkuh. Entah berselingkuh dengan orang yang sama atau dengan orang yang berbeda," kata Zael.


Nalesha melipat kedua tangan di depan dada. "Aku setuju dengan pepatah itu. Jika aku jadi pria itu, aku tidak akan pernah memaafkan mereka."


"Bagaimana jika kita sedikit berakting?" Zael menatap Nalesha.


"Berakting?" Nalesha tampak berpikir.


Setelah kematian Farhan, Faidan mengambil alih Gumelar Group dua hari setelah upacara pemakaman kakaknya. Para karyawan saling pandang saat melihat Faidan masuk ke ruangan pribadi Farhan dan duduk di kursi kebesarannya.


"Ini sangat menyedihkan, malam itu kami semua makan malam bersamanya di restoran sebelah gedung ini."


"Begitu, ya." Febrian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mencatat semua laporan tersebut.


"Tapi, Pak...." Ripan tampaknya ingin mengatakan sesuatu dalam keraguan.


"Katakan saja, Pak. Ini demi menyelesaikan kasus pembunuhan yang sedang kami selidiki," ucap Febrian.

__ADS_1


"Sebenarnya saya kurang enak mengatakan ini, karena Pak Faidan baru mengambil alih perusahaan, tapi Pak Faidan dan Pak Farhan sering berseteru," kata Ripan.


Febrian mencatatnya. "Ada lagi?"


Ripan menggeleng. "Hanya itu yang saya tahu, Pak."


Febrian dan Ripan bersalaman. "Terima kasih atas kerjasamanya."


Febrian ingin menemui Faidan, tapi dia harus membuat janji terlebih dahulu.


Irfan tampak kesal. "Nona, kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan mendiang atasan kalian. Seharusnya kalian bekerja sama dengan kami, begitu pun dengan atasan baru kalian yang merupakan adik kandungnya sendiri."


Wanita itu tampak sedih. "Maafkan saya, Pak Polisi. Saya hanya menjalankan perintah atasan saya."


Febrian menarik lengan Irfan. Dia mengangguk santun pada wanita itu. "Terima kasih atas kerjasamanya, Nona."


...🍂🍂🍂...


^^^06.28 | 22 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2