THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 39


__ADS_3

"Aku melakukannya, aku membunuhnya dengan menembak dari jalan. Karena itulah mobilnya meledak," ucap Faidan.


"Aku juga menyuruh orang untuk menusuknya dengan pisau tajam," kata Yunita dengan suara gemetar


Silvi dan Irfan saling pandang. Febrian menoleh pada Faidan dan Yunita bergantian.


"Kau bisa cek rekening luar negeriku, aku membayar assassin untuk mempermudahnya. Tadinya aku ingin menyuruh assassin itu sendiri, tapi orang asing di larang masuk ke area perkantoran, oleh sebab itu aku menyuruh dua orang pria untuk memulai aksinya."


"Aku mohon penjarakan aku, aku sudah tidak tahan dihantui oleh rasa bersalah seumur hidupku."


Febrian mengangguk. "Baiklah, katakan itu di depan hakim."


Di rumah hutan, Nalesha menyelesaikan novelnya. "Setelah melewati masa-masa sulit bersama, akhirnya mereka berdua hidup bahagia selamanya."


Zael menghampiri Nalesha. "Kau sedang apa?"


"Biasa, menulis novel. Dan setelah 6 minggu menulis, 120 ribu kata terkumpul," jawab Nalesha.


"Oh."


"Oh, ya, bagaimana caramu membuat Yunita dan Faidan mengakui kesalahannya pada polisi?" Tanya Nalesha.


** Flashback **

__ADS_1


Saat Yunita dan Faidan sama-sama dibuat ketakutan dalam ilusi mereka sendiri, Zael datang memasuki dunia ilusi yang dia buat. Dengan mantel ungu dan topeng yang dia kenakan, Zael menghampiri Faidan dan Yunita di ilusi yang berbeda.


"Tolong aku, aku dihantui kakakku," tangis Faidan.


"Suamiku tampaknya ingin membawaku ke neraka," ucap Yunita dengan ekspresi ketakutan.


"Kau tidak dihantui kakakmu. Kau dihantui rasa bersalahmu. Jika ingin semuanya berakhir, datanglah ke kantor polisi dan katakan semua yang sudah kau lakukan maka semuanya akan berakhir," ucap Zael pada Faidan.


"Suamimu menegurmu. Perselingkuhan dan pembunuhan yang kau lakukan dengan Faidan harus terungkap. Kau dan Faidan yang harus mengatakan segalanya pada polisi," kata Zael pada Yunita.


Faidan dan Yunita terbangun. Mereka berada tempat terbunuhnya Farhan. Keduanya berjalan sejauh beberapa mil agar sampai di kantor polisi. Di sanalah mereka mengakui apa yang telah mereka perbuat.


** End Flashback **


"Aku merasa lega, karena penebusan dosaku berhasil kali ini," ucap Zael.


Nalesha tersenyum. "Setelah melakukan 7 penebusan dosamu, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan kembali ke dunia drucless, kembali ke kerajaanku untuk menemui ibu dan adikku serta rakyatku," jawab Zael.


Nalesha tampak sedih setelah mendengar itu. Dia bergumam pelan, "Kita tidak akan bertemu lagi."


Zael menghampiri Nalesha. "Aku masih lama di sini."

__ADS_1


Nalesha mendongkak menatap pria itu kemudian menunduk. "Tetap saja pada akhirnya kau akan pergi. Aku mengerti, kau dan aku berbeda dunia. Tentu saja kita harus hidup di dunia masing-masing."


"Kau sedang membaca naskah novelmu sendiri?" Zael menahan tawa.


"Apa yang kutulis di novelku adalah perasaan terdalamku," ujar Nalesha.


"Kau sangat pandai merangkai kata-kata," ucap Zael.


"Itulah fungsinya kata-kata," kata Nalesha.


Zael merentangkan kedua tangannya. Kedua alis Nalesha terangkat. Dia pun memeluk pria itu. Zael tersenyum sambil mengusap rambut Nalesha dengan lembut.


Sementara Arnav yang berdiri di ujung tangga menghela napas berat. "Kenapa aku harus menyaksikan semua ini?"


Namun, beberapa saat kemudian Arnav tersenyum. "Pertama kalinya aku melihat senyuman Pangeran Zael, itu tandanya dia bahagia. Aku turut senang, Pangeran."




...🍂🍂🍂...


^^^06.40 | 23 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah^^^


__ADS_2