THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 38


__ADS_3

"Kau memindahkan Yunita Dan Faidan ke dunia drucless?" Tanya Nalesha dengan ekspresi terkejut.


Zael mengangguk. "Aku mengikat mereka dengan ilusi. Mereka pasti akan menderita di sana. Satu hari di dunia manusia biasanya 5 hari di dunia drucless, bahkan bisa lebih tergantung situasi."


Arnav menambahkan, "Mereka tidak akan terbunuh. Mereka terluka dan mati hanya dalam ilusi mereka sendiri."


Nalesha mengangguk mengerti.


Sementara Febrian sudah mendapatkan hasil analisis dari pisau tersebut.


"Maaf membuatmu lama menunggu, sebagian besar pisau hampir terkubur secara keseluruhan, jadi aku sulit menganalisisnya. Di gagang pisau itu ditemukan sidik jari milik Yunita dan satu orang di antara dua penjahat yang kau tangkap kemarin," ucap Elma, yang menganalisis sidik jari di pisau tersebut.


Febrian mengangguk. "Terima kasih, itu bukti kuat untuk menjebloskan Yunita ke penjara. Wanita itu pasti akan membuka mulut atas keterlibatan Faidan dalam pembunuhan ini. Dia tidak mungkin mau hidup sendirian di penjara."


Febrian segera pergi bersama beberapa polisi ke kediaman Gumelar untuk menangkap Yunita. Tapi, Yunita dan Faidan tidak ada di sana.


Para polisi juga mendatangi kantor Gumelar Group. Keduanya juga tidak ada di sana.


Hanya satu tempat yang belum mereka kunjungi, yaitu Yunita Fashion. Di sana pun Yunita dan Faidan tidak ditemukan.


"Nyonya Gumelar belum datang sejak kemarin. Dia bahkan meninggalkan ponselnya," kata Andre.

__ADS_1


Irfan mengulurkan tangannya. "Boleh kami lihat ponselnya?"


Andre menyerahkannya.


"Kami akan membawanya untuk penyelidikan," ucap Irfan.


"Tapi, Pak Polisi, Nyonya Gumelar akan memarahiku jika aku memberikan ponselnya pada kalian tanpa izin." Andre tampak khawatir.


Di kantor polisi, Silvi bertugas mencari informasi dari ponsel tersebut. Setelah dua jam, dia menemui Febrian dan menjelaskan informasi yang dia dapatkan.


"Ada sebuah chat di mana Faidan yang merencanakan pembunuhan. Dia bahkan merayu Yunita agar menyewa assassin. Rencananya disusun rapi dan ditulis di aplikasi catatan."


Mendengar itu, Febrian menghela napas berat. "Aku merasa kasihan pada Farhan. Dia dikhianati dan ditusuk oleh dua orang terdekatnya."


"Waktu itu kita memeriksa ponsel mereka, jadi mereka sengaja menipu kita dengan ponsel lain?" Ujar Irfan.


"Kita sudah punya bukti lengkap, tapi mereka menghilang seolah ditelan bumi."


Para polisi melakukan pencarian untuk menemukan kedua buronan itu. Bahkan mereka memasang spanduk pencarian dengan wajah Faidan dan Yunita di sepanjang jalan kota Jakarta.


"Faidan memiliki kolega yang begitu dekat dengannya, seseorang bernama Arnav Haden yang perusahaannya kebetulan tidak terlalu jauh dari lokasi kecelakaan Farhan Gumelar. Kita harus ke sana," ucap Febrian.

__ADS_1


Namun, sesampainya di lokasi tersebut, tidak ada gedung perusahaan Haden. Hanya ada hutan belantara.


"Mustahil, bagaimana bisa...." Febrian menatap tak percaya hutan tersebut.


"Apa kita salah jalan?" Tanya Irfan.


"Tidak, kita tidak salah. Hanya ada satu jalan menuju ke luar kota, yaitu jalan ini. Mana mungkin kita salah," bantah Febrian.


"Bangunan sebesar itu berdiri di sini waktu itu, tapi sekarang menghilang seolah-olah tidak pernah ada bangunan apa pun. Apa ini ilusi?" Gumam Irfan.


Ponsel Febrian berdering. Pria itu segera mengangkat panggilannya.


"Pak Febrian, Yunita dan Faidan di sini. Mereka berdua mengakui perbuatan yang telah mereka lakukan."


Febrian tertegun sejenak.


...🍂🍂🍂...


^^^19.42 | 23 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^

__ADS_1


__ADS_2