THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 14


__ADS_3

Tiba-tiba kaca mobil belakang Farhan pecah terkena tembakan. Ternyata tidak hanya mengejar, orang-orang di mobil itu juga menembakinya.


Hanya ada satu jalan menuju hutan ke luar kota. Tidak ada pilihan lain. Farhan terpaksa melewati jalanan yang gelap itu, entah kemana tujuannya.


Tembakan demi tembakan melesat menyerang mobilnya.


Farhan semakin cemas saat mobilnya melewati tebing tinggi yang curam. Belum lagi darah yang terus mengalir dari perutnya. Saat melewati tumpukan bebatuan, tiba-tiba bebatuan itu berjatuhan ke arahnya. Karena berusaha menghindari batu-batu tersebut, mobilnya jatuh terperosok dan berguling ke dalam jurang.


Farhan yang sudah berlumuran darah itu keluar dari mobil tersebut. Sambil berjalan terseok-seok, dia mencoba menjauhi mobilnya yang sudah pasti akan meledak. Baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang dari kegelapan menembak mobil tersebut hingga meledak lebih cepat.


Farhan terlempar beberapa meter karena ledakkan tersebut. Api membakar tubuhnya. Sementara mobil yang mengejarnya satu per satu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Pria itu menggeliat kepanasan di atas tanah sambil berusaha memadamkan api di tubuhnya dengan menepuk-nepuk api tersebut menggunakan tangan kosong.


Di saat-saat terakhirnya, seorang pria dengan mantel punggung berwarna ungu gelap datang menghampiri Farhan. Dia membantu memadamkan api dengan tangannya hingga api itu benar-benar berhenti membakar tubuh Farhan. Tak lain pria itu adalah Zael.


"Aku bisa membantumu jika kau bersedia," ucap Zael sambil menggenggam tangan pria yang sedang sekarat itu.


Nalesha berdiri di dekat pohon tak jauh dari mereka. Dia melihat saat mobil yang berisi pembunuh Farhan pergi beberapa menit yang lalu.


"Aku sudah berada di penghujung. Aku tidak kuat lagi. Seandainya aku bisa, aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini," kata Farhan dengan napas tersengal-sengal.

__ADS_1


Pria bermantel ungu mengangguk. "Aku akan membantumu."


Saat itu juga Farhan mengembuskan napas terakhirnya. Zael tampak sedih. "Maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkan nyawamu. Takdir Tuhan tidak bisa dilawan."


Nalesha menghampiri Zael. Dia melihat pria itu terbujur kaku. Nalesha menghela napas berat dan berdo'a.


"Aku rasa bangsa manusia lebih mengerikan dibandingkan bangsa drucless," kata Zael sambil mendongkak menatap Nalesha.


"Kau sudah melihat pembunuhnya?" Tanya Nalesha.


Zael mengangguk.


Nalesha tampak sedih. "Seseorang tidak pantas mati seperti ini. Sepertinya si pembunuh memiliki dendam sampai-sampai harus mengejar dan membunuhnya di hutan."


"Kita kejar pembunuhnya?" Tanya Nalesha.


"Tidak, bukan kita. Polisi akan mengurusnya," jawab Zael.


Sementara itu, kepolisian mendapatkan laporan dari seorang wanita yang menunggu kepulangan suaminya, tapi sampai pagi pun suaminya belum pulang.


Yunita duduk berhadapan dengan seorang polisi. "Semalam aku menghubunginya, tapi tidak ada jawaban."

__ADS_1


"Kami sedang melakukan pencarian. Kami akan segera menghubungi jika ada kabar," ucap polisi itu.


Sementara itu, para polisi sedang menyisir area hutan di mana satu-satunya jalan menuju luar kota yang belum mereka selidiki.


Di sanalah para polisi menemukan jenazah Farhan dan mobilnya yang terbakar.


Kematian Farhan yang tiba-tiba membuat para karyawan merasa sedih. Farhan adalah sosok atasan yang tegas, tapi berhati lembut.


"Aku tidak mengira hal buruk terjadi padanya. Padahal baru kemarin aku berbicara dengannya membahas tentang saham yang naik turun setiap harinya," ucap Ripan. Pria itu menunduk sedih.


"Aku tidak bisa membayangkan perasaan istrinya. Nyonya Gumelar pasti sangat sedih. Setelah kehilangan bayi dalam kandungannya, sekarang suaminya juga meninggal," ujar karyawan yang lain.


"Semoga Pak Farhan tenang dan berada di tempat istimewa di sisi-nya."


"Amiiin."



...🍂🍂🍂...


^^^20.05 | 22 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2