The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 12


__ADS_3

"Udah tau sakit perut masih aja mau gerak" ucap Nathan dan kembali mendudukkan tubuh nya di samping wanita nya tapi tubuh nya membelakangi wanita nya.


Tangan lelaki itu mengambil obat yang di berikan oleh dokter tadi dan membuka nya dan setelah itu kembali mengambilkan air yang tersisa tidak terlalu banyak di gelas.


"Minum obat dulu" ucap Nathan dengan menyodorkan obat tadi kepada wanita nya.


"Air dulu" jawab Ara. Nathan tidak menjawab nya dan memberikan air kepada istri nya. Ara menerima nya dan meminum air itu sedikit dan mengambil obat yang belum ia ambil tadi dan langsung menelan nya. Nathan memberikan minum kepada wanita nya dengan dia membimbing wanita nya untuk minum.


"Gak mempan malah makin sakit" guman Ara dengan memegang perut nya. Nathan meletakkan obat dan juga air minum milik istri nya dan kembali menatap ke arah istri nya, Ara nampak masih memegang perut nya membuat Nathan juga ikut memegang perut wanita nya.


"Masih sakit perut kamu?" tanya Nathan dengan wajah hawatir nya. Ara langsung menatap ke arah suami nya, Nampak tatapan tulus keluar dari mata suami nya, Tatapan hawatir akan diri nya membuat nya bersalah sudah membuat lelaki nya hawatir.


Ara menurunkan tangan nya dan tangan suami nya, Di genggam nya tangan kekar itu dan tersenyum menatap wajah lelaki yang tidak sesuai dengan tangan yang berurat. "Aku gapapa" jawab Ara dengan senyum nya.


"Terus kenapa tadi pegang perut?" tanya Nathan.


"Cuma maj mastiin aja masih sakit apa enggak makanya pegang perut tadi" jawab Ara dengan senyum nya.


"Masih sakit?" tanya Nathan kembali dengan wajah menggemaskan nya. Wajah yang sangat jarang di lihat oleh nya dan di tunjukkan oleh suami nya saat ini.


"Menggemaskan sekali, Jadi seperti ini dia hawatir kepada ku?" guman Ara dengan senyum nya menatap wajah lelaki nya yang sangat tampan itu.


"Enggak" jawab Ara dengan senyum nya.


Nathan membuang nafas panjang dan kembali memasang wajah biasa nya dan menghilangkan ekspresi menggemaskan nya tadi. "Syukurlah jika tidak sakit lagi" ucap Nathan dan mengambil piring yang berisikan kue buatan ibu nya untuk istri nya.


"Kamu mau ini?" tanya Nathan kepada istri nya.

__ADS_1


"Em" Ara mengangguk dengan wajah gembira nya. Nathan mengambilkan satu potong kue itu.


"Aa" Nathan menydorokan sepotong kue itu supaya istri nya memakan nya. Ara membuka mulut nya dan Nathan menyuapi nya dengan senang hati begitupun dengan Ara yang juga melahap nya dengan senang hati.


"Enak" ucap Ara dengan mulut penuh nya dan mengambil piring yang ada di tangan suami nya.


"Gak mau ngasih aku?" tanya Nathan.


"Kamu masih mau?" tanya Ara. Nathan langsung menganggukkan kepala nya menandakan dia masih mau.


Ara melihat kue nya hanya tinggal dua potong dan itu tidak cukup untuk nya. "Hey" Nathan menyadarkan istri nya akan lamunan dan itu membuat Ara langsung menoleh ke arah suami nya.


Ara kembali menatap ke kue dan di belahnya menjadi dua salah satu potongan kue tadi. "Ini buat kamu" ucap Ara dengan menyodorkan setengah potong kue kepada suami nya.


"Gak usah kamu makan aja" jawab Nathan dan meletakkan kembali kue tersebut ke dalam piring.


"Kemarikan" Nathan mengambil piring yang sudah koson itu dan meletakkan nya kembali di tempat awal yakni di samping ranjang. Wajah Ara kembali berubah, Wajah kesakitan nya kembali timbul saat Nathan tidak melihat nya.


Saat Nathan hendak membalikkan tubuh Ara langsung bertingkah seperti biasa saja, Raut wajah kembali seperti semula dan tidak menampakkan wajah kesakitan nya. Nathan menatap lekat wajah wanita nya dan terdapat kotoran bekas keju di bibir wanita nya. Nathan mengusap bekas keju itu menggunakan tangan nya hingga bersih, Ara menatap lekat wajah yang jarang di lihat nya dengan jarak sedekat itu. Bibir milik suami nya nampak menggoda saat ini, Dia meneguk siliva nya saat melihat bibir itu hingga tanpa dia sadari bibir nya sudah menempel di bibir lelaki nya.


Mata Nathan membulat saat merasakan ciuman dari wanita nya. Ara memeluk tubuh kekar itu tanpa bergerak sedikit pun dan terus ******* bibir itu. Nathan sama sekali tidak menolak nya dan dengan senang hati dia menerima nya dan membalas ******* dari istri nya.


Saat merasa nafas hampir habis Ara langsung melepaskan bibir nya dan menundukkan kepala nya. "Itu sebagai ganti kamu gak bisa makan kue tadi" ucap Ara dan langsung membaringkan tubuh nya dan masuk ke dalam selimut.


Nathan yang awal nya diam langsung tersenyum lebar melihat tingkah istri nya. "Ngapain malah sembunyi hem?" tanya Nathan yang berusaha membuka selimut.


"Aku gak sembunyi" jawab Ara yang terdengar rendah di telinga Nathan.

__ADS_1


"Ah tuhan perutku masih sakit" ucap Ara dengan nada pelan dan itu terdengar oleh Nathan. Nathan langsung membuka paksa selimut yang membalut tubuh wanita nya dan nampak wajah itu kembali kesakitan.


"Parut mu sakit lagi?" tanya Nathan. Ara langsung menganggukkan kepala nya, Tubuh nya langsung melengkung dan tangan nya terlipat di antara perut dan paha nya. Nyeri yang hanya di rasakan oleh wanita saat datang bulan sangat sakit.


"Udah udah jangan banyak gerak, Ayo istirahat" ucap Nathan. Ara tidak menjawab nya dan masih berposisi seperti tadi dengan wajah kesakitan dia menahan sakit yang sangat sakit itu.


"Kak sakit" ucap Ara yang langsung menangis kesakitan akan perut nya. Nathan semakin hawatir saat mendengar tangisan wanita nya, Dia tidak tau apa gang harus di lakukan oleh nya dia langsung mendekap tubuh kecil itu, Ara kembali menangis histeris dengan tubuh yang masih membentuk hurup O dan tangan yang memegang perut.


"Sayang jangan menangis" ucap Nathan.


"Ini sakit banget" jawab Ara yang kembali menangis. Air mata yang bercucuran kekuar dari mata wanita nya dan itu membuat hati nya sakit.


"Istirahat supaya sakit nya hilang dikit" ucap Nathan dengan memeluk tubuh itu.


"Lurusin kaki kamu" ucap Nathan. Ara yang kesakitan tidak mendengar nya membuat Nathan turun tangan dan meuluruskan kaki wanita nya. Dia kembali berbaring dan langsung memeluk tubuh itu supaya tidak melengkung lagi.


"Hikss"


Tangis itu terdengar jelas di telinga nya hingga membuat Nathan kembali hawatir akan wanita nya. Ingin memanggil dokter jam sudah menunjuk pukul dua belas malam. Ara yang sedari tadi tidak bisa diam akibat kesakitan sekarang menelentang.


Nathan merasa itu kesempatan untuk nya, Di bukanya sedikit perut wanita nya dan di pijat nya pelan perut itu. Dengan sangat hati hati dan pelan dia memijat perut datar nan kecil itu hingga Ara nampak tenang. Nathan menarik nafas lega akan istri nya yang nampak sedikit tenang meskipun belum sepenuh nya tenang dan masih nampak raut wajah kesakitan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2