The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 16


__ADS_3

"Di hari pertama Yuna sekolah gak mungkin aku gak nemenin dia" jawab Ara.


"Tapi kamu sakit" ucap Nathan.


"Bukankah dia selebgram yang terkena masalah dan menghilang dari publik beberapa tahun lalu?"


"Iya, Karna kasus nya mabuk yng tersebar bukan?"


"Apa yang kalian katakan?" tanya Nathan dengan wajah datar nya. Dia tidak mau istri nya tau masalah yang pernah terjadi terhadap nya saat beberapa tahun lalu.


"Kak" Ara memegang tangan suami nya yang hendak marah tersebut dan langsung menggelengkan kepala supaya suami nya tidak marah.


"Tapi..." Ara kembali menggelengkan kepala nya dan memegang tangan suami nya gar suami nya tidak emosi terhadap ibu ibu yang ada di depan mereka. Ibu ibu tadi langsung berlalu dari sana dan Ara pun langsung melepaskan tangan suami nya.


"Tempat ini gak bagus buat kamu, Kita pergi aja ayo" ajak Nathan kepada istri nya.


"Yuna masih di dalam, Dia bentar lagi keluar" jawab Ara dengan tersenyum dan membalikkan tubuh nya menatap ke dalam.


"Ah tuhan, Masalah ini udah berlalu beberapa tahun lalu kenapa masih ada aja orang yang ngebahas masalah ini?" guman Nathan yang sungguh tidak menyukai masa lalu wanita di ungkit kembali padahal hal tersebut sudah berlalu sangat lama.


"Mama, Papa" Okta langsung memeluk tubuh kedua orang tua nya sedangkan Yuna di gendongan Yuda.


"Hey, Kapan kamu masuk?" tanya Ara dengan mengusap kepala anak itu.


"Aku lebih awal tadi ma" jawab Okta dengan tersenyum menatap Ara.


"Iya ma, Okta lebih awal tadi" Yuna turun dari gendongan Yuda dan berdiri di hadapan Ara.

__ADS_1


"Oh pantesan papa sama mama gak liat Okta tadi" jawab Nathan yang langsung berdiri dan menggendong anak nya.


"Anak itu adalah anak pak Nathan?"


"Iya mungkin bersama wanita itu" Yuda dan istri terdiam saat mendengar ocehan ibu ibu itu yang mengatakan Yuna dan juga Ara.


"Kenapa coba pak Nathan mau sama dia"


"Iya padahal tuh cewe punya masalah sama publik dan malah ngilang gak tau kemana"


"Sayang kamu ikut mama Ara pulang ke rumah papa Nathan?" tanya Ara kepada Okta yang sedang berada di gendongan nya. Malas mendengar ocehan dan hinaan orang saat ini. Bukan malas melainkan dia tidak ingin anak anak nya mendengar nya makanya dia mengalihkan percakapan dan mengajak kedua nya pulang.


"Iya mau ikut mama" jawab Okta dengan tersenyum lebar menatap Ara.


"Ayo sayang, Yuna sama papa gapapa?" tanya Ara saat sudah berdiri dengan menggendong Okta.


"Beberapa orang akan tau akibat nya saat menjelek jelekkan nama istri saya" ucap Nathan dan langsung berlalu dari sana menyusul istri nya.


"Dih siapa juga yang ngejelek jelekin istri nya? Kan emang bener kalo si Ara itu pernah ada masalah sama publik dan malah ngilang, Malah dia yang kelarifikasi" jawab ibu ibu tadi sat Nathan sudah berlalu.


"Maaf ibu, Anda tau bukan siapa Jonathan adijaya? Anda tidak mau bukan mencari masalah dengan keluarga nya? Jadi saya berharap sebelum dia melaporkan ke pihak berwajib atas ucapan anda tadi lebih baik anda meminta maaf kepada nya. Saya tidak yakin akan dia yang akan melepaskan orang yang sudah menghina istri nya dengan mudah, Saya hanya menyampaikan nya saja, Ayo sayang" Yuda langsung menarik tangan istri nya dan berlalu dari sana. Dia tau betul bagaimana Nathan yang selalu membereskan masalah sendiri dengan mudah nya dia memasukkan orang yang sudah mengusik hidup nya ke ranah hukum. Bukan tanpa sebab, Dia melakukan itu agar tidak ada yang berani lagi menghina ataupun mencomoohkan keluarga nya apa lagi saat ini bersangkutan dengan wanita nya yang sudah lama menghilang dan baru muncul beberapa bulan di jakarta.


Nathan membuka pintu mobil dan Ara pun memasukkan Okta ke dalam nya begitupun dengan Nathan yang juga memasukkan Yuna ke dalam mobil bagian belakang. Setelah meletakkan kedua anak nya di dalam mobil kedua nya beranjak dan masuk ke tempat masing masing.


"Kak" panggil Ara saat sudah duduk rapi di samping suami nya. Nathan, Yuna dan juga Okta menoleh ke arah nya membuat dia menatap ketiga orang itu secara bergantian.


"Ada apa?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Tidak jadi" jawab Ara dan kembali duduk seperti semula.


"Mama memiliki masalah?" tanya Okta. Anak yang sudah memiliki pikiran seperti orang dewasa saat umur yang masih sangat sangat muda. Dia mengetahui apa saja yang menyinggung hati orang lain entah dari mana anak itu belajar. Entah memang dari masalah yang selalu datang kepada ayah nya atau masalah yang selalu datang kepada nya. Dia sendiri saja tidak tau apa lagi orang lain begitupun dengan Yuna. Keadaan yang membuat kedua anak kecil yang seharus nya menikmati masa kecil nya dengan bermain dan tidak memperdulikan ucapan banyak orang menjadi seperti ini.


Meskipun Yuna tidak pernah menampakkan kehawatiran nya terhadap ibu nya dia tetap sangat hawatir akan itu dan tidak mau ibu nya memiliki beban tambahan dengan dia yang ikut campur dan ikut memikirkan masalah itu makanya dia memilih untuk diam saja dan terus berdoa kepada tuhan agar ibu nya selalu bahagia tidak di sudutkan selalu oleh siapapun.


Ara dan Nathan langsung menoleh ke arah Okta yang duduk di belakang. "Okta lihat ini" ucap Yuna yang mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan sesuatu yang ada di ponsel yang ia mainkan saat ini kepada Okta.


"Wah" Okta nampak kagum melihat apa yang di tunjukkan oleh Yuna itu.


"Kenapa belum jalan?" tanya Ara kepada suami nya. Nathan tidak menjawab nya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumah nya.


"Sayang kamu liat apa?" tanya Fikri kepada istri nya. Sheyla langsung menoleh ke arah suami nya.


"Aku merindukan adik kecil ku" jawab Sheyla dan kembali menatap ke luar jendela.


"Ara?" tanya Fikri.


"Iya, Adik kecil yang selalu di acuhkan oleh mami dan papi ku, Adik kecil yang seharus nya hidup bahagia tapi di tuntut untuk menjadi dewasa akibat masalah yang ada, Di tuntut untuk menjadi pintar tanpa di lihat hasil kerja keras nya, Di tuntut menerima kenyataan orang yang di sayangi oleh nya adalah orang yang membunuh kedua orang tua nya. Kebahagiaan nya bersama Nathan juga di ambil oleh Delina yang tidak tau diri dan sekarang aku gak bisa menemuin dia, Di mana dia? Apa dia baik baik saja? apa dia hidup bahagia?" tanpa di sadari air mata wanita itu menetes dengan sendiri nya. Dia merindukan adik yang selalu membuat nya bahagia dan tertawa.


"Dia yang selalu membuat aku tertawa dengan keadaan rumah yang tidak memungkinkan untuk tertawa. Padahal keadaan hati nya tidak baik baik saja, Apa sekarang dia seperti itu? Apa sekarang hati nya baik baik saja? Apa luka di hati nya sudah sembuh? Bagaimana kabar nya? Aku sudah sering ke rumah Nathan ataupun ke rumah kakek tapi aku tidak menemukan pri kecil itu" ucap Sheyla dengan menatap wajah suami nya yang nampak memperhatikan nya.


"Dia yang menyayangi Fera dari kecil, Dia juga gak tau Fera sekarang udah gede, Fera juga gak tau sama dia. Dia apa kabar sayang? Ara apa kabar?" tanya Sheyla dengn menangis. Dia sangat merindukan adik nya meskipun sudah banyak masalah yang terjadi dia masih saja sangat menyayangi dan mencintai adik nya.


"Udah udah jangan nangis, Kita coba ke rumah Nathan ayo liat ada gak dia di sana sama ajak Fera" ajak Fikri.


"Aku udah liat kemarin tapi dia gak ada, Kemarin aku ke sana, Aku cek ke semua tempat yang dia kunjungi tapi aku gak nemu dia" jawab Sheyla.

__ADS_1


"Hati nya sudah hancur di sakitkan oleh banyak orang" sambung nya kembali.


__ADS_2