
Siang hari itu keadaan rumah terlihat ramai. bendera kuning sudah ditancapkan didepan pagar. banyak orang yang memakai peci dan kerudung mulai berdatangan. laki-laki berusia dua puluh tahun tersebut duduk dihadapan jenazah Yusuf dan Kinanti sambil meraung-raung. Kini sudah terlambat untuk menyesali segala perbuatannya yang mengakibatkan kedua orangtuanya meninggal dunia.
sedangkan di depan pintu, muncul rombongan dari teman-teman orangtuanya yang ikut melayat. Tio membawa istri serta anaknya yang bernama Anne yang masih berusia lima belas tahun masuk ke dalam rumah.
".Pa, ini yang meninggal siapa, sih?" tanya Anne dengan polosnya saat itu.
__ADS_1
".mereka adalah teman baik Papa, An. Dan yang lagi nangis disana itu adalah anaknya." Tio menunjuk anak laki-laki yang masih berlutut didepan jenazah orangtuanya.
".Om Yusuf dan keluarganya itu baik banget sama kita, coba deh kamu samperin anaknya. Dia pasti terpukul sekali." ujar Papanya lagi.
Anne menurut begitu saja, Dia segera berjalan pelan dan duduk di atas lantai bersama anak laki-laki tersebut.
__ADS_1
Arsen menoleh, menatap wajah gadis yang duduk disebelahnya dengan tatapan nanar. mata gadis itu terlihat tulus dan teduh. untuk pertama kalinya Arsen kembali merasakan hatinya begitu nyaman.
Arsen menerima tisu tersebut sambil menghapus air matanya. ".Terimakasih."
".Sama-sama, Mas." seulas senyuman manis menyungging di bibir Anne. Anne merangkul tubuh Arsen hangat, menepuk punggungnya pelan. Dan disaat itu, hari itu, detik itu juga. mendadak hati Arsen mulai membaik. Dia tidak lagi menangis meratapi kepergian orang tuanya. Dia duduk sambil membuka buku Yasin, mengirimkan doa-doa untuk kepergian orangtuanya.
__ADS_1
Namun siapa yang mengira jika semesta kembali mempertemukan Arsen dan Anne dalam keadaan yang sudah berbeda.
🛩