
episode sebelumnya..
***
satu kalimat dari Papa mampu membuatku berteriak histeris. Nyaris saja kedua bola mataku keluar. ". Apa? Pernikahan? Aku sama si mas-mas tua ini? Kutatap Arsen dengan pandangan ngeri. Oh, Tuhan... bagaimana bisa?
***
Papa mengangguk mantap. ".Iya, Kamu dan Arsen itu sudah dijodohkan sejak kecil. Papa dan Om Yusuf sudah berjanji satu sama lain akan menikahkan kalian ketika umur kamu dua puluh lima tahun."
".Are you kidding me, Daddy?"
Astaga, tuhan! Kepalaku kembali terasa pusing tujuh keliling. Tenggorokanku gatal, hingga akhirnya terjadilah kejadian yang tidak tertuga seperti ini.
"huweeek!"
Aku berhasil menumpahkan seluruh isi perutku ke arah baju Arsen. Semua orang langsung tekena serangan panik. Tanpa terkecuali Arsen. Saat laki-laki itu hendak bangkit dan ingin menghindar, muntahan kedua kembali muncul.
"huweeek!"
Cairan kuning dan berbau alkohol tersebut membuat kotor celana Arsen. Aku menyeka mulutku dengan punggung tangan sambil mendesah lega.
Hah, enak sekali rasanya perut ini, akhirnya rasa mual yang sejak kemaren melilit perutku akibat kebanyakan minum alkohol dapat keluar juga.
Aku mereningai geli saat melihat wajah Arsen yang tegang. ".Maaf..." ucapku tanpa belas kasihan sambil bersendawa kencang,
---
__ADS_1
Kamu benar-benar udah buat Papa malu, Anne! Bagaimana bisa kamu muntah didepan Arsen?"
Papa berjalan mondar-mandir, mengusap wajahnya frustasi sebelum menatapku dengan murka maksimal. Sejak kepulangan keluarga Arsen, Papa langsung menyerangku dengan serentetan amarahnya.
".habisnya mau gimana lagi? jelas-jelas muntahnya keluar sendiri, kok. Tadi itu kepala dan perut Anne memang lagi sakit, Pa." balasku santai membela diri.
sesekali bersendawa akibat terlalu meresapi gerakan tangan Mama yang begitu andal memijat leherku dengan minyak angin.
".Tapi setidaknya jaga sikap kamu didepan tamu kehormatan kita, Anne! Dan satu lagi, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu? Papa kan udah bilang kalau pakai baju yang sopan!" Papa mengacungkan jarinya, menunjuk bersih pakaianku dari atas ampai bawah dengan pandangan tidak suka.
Aku memasang wajah memelas. ".Pa.... Arsen itu kan tamu kehormatan Papa, bukan Anne. Lagi pula Anne nggak kenal sama tuh orang. Terus, kenapa kalo Anne pake baju kaya gini? Yang penting kan, Anne nyaman sama bajunya. Nggak mungkin dong, Anne pakai kebaya segala mau ketemu keluarganya mas-mas tua itu!"
Papa berkacak pinggang, memandangku seolah-olah Aku ini seorang musuh, bukan anak beliau. ".Sejak kapan kamu menjadi anak yang pemberontak dan pembangkang seperti ini, Anne?"
"Sejak keluarganya Arsen datang kerumah kita." jawabku mantap. ",Pa, Anne nggak mau nikah sama si tua itu!"
".Jaga ucapanmu, Anne!" hampir saja Papa bertindak gegabah ingin melayangkan satu tamparan keras di pipiku---sampai Aku memejam mata karena ketakutan.
".Papa tega menampar Anne demi Arsen?" Aku menatap Papa dengan nanar. "Sekarang jelaskan kepada Anne, kenapa Anne harus menikah dengan Arsen? Apa kehebatan Arsen sampai Papa begitu mempertahankan dia untuk menjadi suaminya Anne?"
Papa menghela napas gusar, berusaha untuk menenangkan diri sejenak, sebelum kembali bersuara. ".Karena Arsen adalah sosok suami idaman para wanita. kamu harus percaya dengan pilihan Mama dan Papa karena kami sangat kenal keluarga Arsen dengan baik."
Sungguh, Aku tertegun mendengar penjelasan Papa yang kurang logis. Bagaimana mungkin Papa bisa menyimpulkan kalau Arsen adalah suami idaman para kaum hawa. kalaupun memang benar adanya, sudah pasti Aku sangat tergila-gila dengan mas-mas tua itu. Bagiku, Arsen hanya mas-mas tua yang secara kebetulan disukai oleh orangtuaku karena dia anak dari teman baik Papa dan Mama. Sudah, itu saja. Tidak lebih dari kurang.
".Anne tetep enggak mau menikah sama Arsen, please, jangan paksa Anne, Pa." Aku memohon dari lubuk hati yang paling dalam. sekilas suara isakan tangis muncul dari bibirku.
Kenapa sih hidup jadi seberat ini? bahkan lebih berat dari masalah wisuda.
__ADS_1
Kali ini embusan napas Papa telihat lelah. ".Baiklah, kalau begitu giliran kamu yang kasih Papa alasan. Mengapa Papa harus membatalkan perjodohan kamu dengan Arsen?"
Mataku langsung berbinar, seolah mendapatkan lampu hijau untuk keluar dari jebakan perjodohan ini. ".Karena Anne sama sekali nggak kenal dan nggak cinta sama Arsen."
".Maka dari itu kamu harus memberikan Arsen kesempatan untuk dapat mengenal kamu lebih jauh lagi, An. Bagaimana cinta itu bisa tumbuh kalau dari awal aja kamu sudah memberikan penolakan seperti ini."
Aku kembali mencari alasan lebih baik. ".Pa, Anne kan masih harus fokus sama skripsi. Kalau misalnya kami menikah nanti, kuliah Anne makin nggak kelar-kelar dong."
".Alasan klasik, An. Papa yakin kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan berumah tangga. Lagi pula Arsen itu orangnya pintar lho. Kamu bisa minta bantuan sama Arsen untuk menyelesaikan skripsi kamu itu."
Lha katanya disuruh nyari alasan. Nyatanya , semua alasan yang telah kusebutkan tadi langsung dibantah secara telak oleh Papa. piye iki?
Aku mulai mengatur napas. Lama-lama otakku bisa eror memikirkan alasan yang lain lagi. ".Anne nggak mau perut buncit saat masih menyandang status mahasiswa."
Mama langsung terkekeh geli. ".Kamu kan bisa berunding dengan Arsen, buat anaknya ditunda dulu. jangan buru-buru main langsung tembus aja dong."
Aku menepuk jidat, merasa bodoh sendiri. Bukan itu maksud Anne, Ma! ingin sekali rasanya aku membenturkan kepala ke dinding.
".Oke! Aku benar-benar sudah kehabisan akal, ini adalah ide terakhir yang aku punya. ".Sebenarnya, Anne udah punya pacar! jadi pacar Anne itu adalah calon suami Anne."
Papa dan Mama saling bertatapan kaget. Suasana berubah menjadi hening dan canggung seketika.
".Kalau begitu perkenalkan pacar kamu kepada kami. Papa beri kamu waktu dua hari. Jika calon pilihan kamu tidak muncul dalam waktu yang sudah ditentukan, mau tidak mau kamu harus menikah dengan Arsen. itu pilihan terakhir buat masa depan kamu Anne."
Ini kalimat terakhir dari Papa sebelum beliau berbalik dan pergi meninggalkanku yang masih diam membeku seperti patung.
Siapa laki-laki yang harus Aku kenalkan kepada orangtuaku. Ando? Ya, hanya nama dia satu-satunya yang terlintas di dalam benakku. Karena dia memang pacarku.
__ADS_1
***
bersambung.