
Siang harinya , Aku duduk disalah satu kursi kafe sambil menikmati secangkir macchiato. jemariku mengetuk permukaan meja dengan bosan sambil melirik arloji yang sudah menunjukan pukul dua siang.
Setelah beberapa menit menunggu lama, akhirnya orang yang sejak tadi aku tunggu hadir juga.
".Maaf aku telat, baby." Ando tersenyum hangat sebelum menarik kursi dan duduk dihadapanku.
kepalaku menggeleng memakluminya seraya membalas senyumannya. ".it's okay, By."
".Oh iya, katanya kamu mau ngomong sesuatu yang penting. Apa itu?" Ando menyandarkan punggungnya santai kekursi sambil membolak -balikan buku menu.
Diatas kursi, Aku mulai duduk dengan gelisah. sekilas kupejamkan mata ini sebelum memulai percakapan yang tergolong serius.
".Papa sudah menjodohkan Aku dengan laki-laki pilihannya, By." kening Ando mengernyit, ia menatapku antara bingung atau kaget. ".Kamu udah dijodohin?" tanya Ando kembali memastikan.
Aku mengangguk ragu dan tersenyum hambar.
".Ayolah, An, ini bukan zamannya siti nurbaya lagi!" Ando mengusap rambutnya kebelakang.
".Tapi kamu tenang aja, By. Aku juga ga setuju sama perjodohan ini. karena itu Aku udah punya solusi untuk kita berdua."
".solusi apa maksud kamu?" dahi Ando berkerut. Ia mulai mencondongkan badannya kedepan. berharap keputusan ini adalah titik final hubungan kami berdua.
Pelan-pelan Aku menghela napas, jantungku tidak berhenti berdetak kencang. Aku mengulurkan tangan untuk meraih tangan Ando dan menggenggamnya erat.
".Kamu harus nikahin Aku."
__ADS_1
".Apa?" Nyaris saja Ando terjengkang ke belakang karena terkejut. Tiba-tiba dia sudah menarik tangannya menjauh. ".Kamu udah gila, ya?" lanjutnya kemudian. Wajahnya pucat maksimal.
".Hanya ini satu-satunya cara agar Aku terbebas dari perjodohan dan kita bisa hidup bersama selamanya."
Ando menggeleng-gelengkan kepala gusar. ".Tapi aku ngga bisa menikahi kamu semudah itu. Pernikahan itu ikatan yang sakral!"
".Ya, i know. Tapi kita saling mencintai satu sama lain, kan? kamu bilang cuma aku satu-satunya wanita yang ada dihati kamu dan bisa bikin hidup kamu penuh warna."
".Yaa....." Ando mengedikkan bahunya, ia terdengar ragu-ragu. ".Tapi kita ini baru pacaran beberapa bulan, An. Dan aku belum yakin sepenuhnya sama kamu." ujarnya menyangkal.
Kedua alisku bertautan bingung. ".Kamu nggak yakin sama Aku? berarti kamu juga nggak yakin sama hubungan kita? intinya, kamu sama sekali tidak mencintai Aku!"
".Bukan begitu maksud Aku, An. Tapi---"
".Tapi apa? kalo kamu cinta sama Aku, udah pasti kamu akan mempertahanin Aku!" Aku mulai naik pitam, namun berusaha keras untuk menahan air mata yang sudah menumpuk dipelupuk mata.
".Iya, sayang..."
dahiku mengernyit . Sayang? Ando tidak pernah mengeluarkan panggilan yang tidak lazim seperti itu kecuali kepadaku. Berselang beberapa menit, Ando sudah selesai berbicara dengan seseorang di ponselnya dan kembali menatapku.
Pelan-pelan, dia mulai menarik napas. ".Itu yang menghubungi Aku tadi adalah istriku."
"Apa?" Aku menjerit, kaget. Saraf-saraf pendengaranku seperti ditarik putus. Aku tidak salah dengar kan?
".Ya, sebenarnya aku sudah menikah."
__ADS_1
"Apa?" Lagi-lagi aku menjerit, berhasil menjadi tontonan para pengunjung kafe.
".Jauh sebelum aku pacaran sama kamu." lanjut Ando lagi dengan hati-hati.
Suara kunci berderit terdengar nyaring saat tubuhku mundur kebelakang. Gurat wajahku sudah cemas, namun berpura-pura menyeringai geli. ".Kamu bercanda kan, By? Kamu bohong kan? Jangan main-main sama aku."
Tidak ada wajah keraguan di mimik Ando, semua itu murni keseriusan dan kejujuran. ".Aku nggak bercanda, An. Maaf selama ini, aku cuma--"
Marah, kesal , benci. Hati ini sudah menggebu-gebu dan terasa panas. Tanpa banyak basa-basi lagi, aku langsung mengangkat tinggi-tinggi gelas macchiato-ku dan mengguyur wajah Ando dengan seluruh isinya.
".Jadi selama ini kamu cuma mempermainkan aku? Selama ini kamu cuma menjadikan aku sebagai pelampiasan? Kamu cuma menjadikan aku selingkuhan?" bentakku yang sudah naik pitam.
Ando mengusap wajahnya dengan sapu tangan dan menjawab dengan enteng. ".Maaf, An."
".Maaf?" raut wajahku sudah berubah frustasi. ".Kamu udah jadiin aku sebagai perusak rumah tangga kamu sendiri dan udah jebak aku sampai bersedia minum‐minuman beralkohol. Terus, dengan mudahnya kamu cuma bilang maaf? Enak banget hidup lo, ya!" seruku sarkatis.
Tapi wajah laki-laki dihadapanku ini sama sekali tidak menampilkan rasa sesal. ".Kamu yang salah, kenapa kamu mudah terpedaya? Aku hanya memulai permainan kecil ini, tapi kamu sendiri yang mengikuti alurnya kan?"
".Dasar cowok brengsek kamu, Ando! kamu pikir kamu itu siapa, ha? Adam levine, Sarukh khan, Lee min ho, Rio dewanto? Jangan sok kecakepan deh, kamu itu cuma laki-laki playboy yang nggak tau malu! pergi kamu dari sini sebelum aku tendang selangkanganmu!"
Ando bangkit berdiri sambil tersenyum sinis. ".Anne, Anne." Ia geleng-geleng kepala. ".pantesan aja kamu nggak wisuda-wisuda, mulut kamu belum lulus dikuliahin, sih."
Dalam hati aku mulai menghitung sampai lima, kalau saja Ando tidak buru-buru enyah dari hadapanku, mungkin aku sudah melempar laki-laki itu dengan kursi. Tapi ternyata, Ando berlalu sebelum hitunganku berakhir. Dasar pengecut!
Sakit dan sesak. Dadaku seperti tertimpa batu besar. Aku kembali duduk dan mendudukkan kepala diatas meja. Aku menangis. Baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu parahnya. Kenapa aku terlalu bodoh, mau memercayai laki-laki seperti Ando?
__ADS_1
***
bersambung.