The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 41


__ADS_3

"Nona hanya tidak boleh melakukan aktivitas berat tuan, Jika duduk itu dibolehkan." ucap dokter dengan senyumnya namun diacuhkan oleh Nathan yang sedari tadi memperhatikan istrinya.


"Jangan lama lama duduknya, Kalo capek...."


"Iya langsung istirahat." balas Ara dengan memotong ucapan suaminya yang hendak mengomelinya. Dokter hanya tersenyum dan memeriksa infus dan alat lainnya yang melekat pada Ara.


"Nona anda disarankan untuk lebih banyak beristirahat jangan melakukan hal yang berlebihan." ucap dokter dengan senyumnya.


"Baik dok." jawab Ara dengan membalas senyuman tersebut.


"Yasudah nona, Tuan saya permisi, Nanti jika memerlukan kami tinggal menekan tombol itu." ucap dokter sambil menunjuk kepada tombol yang berada diatas kepala Ara. Ara menganggukkan kepalanya namun tidak dengan Nathan yang terus saja memperhatikan wanitanya tersebut.


Dokter langsung meninggalkan ruangan tersebut dan Nathan kembali mendudukkan tubuhnya disamping wanitanya. "Kamu denger kan apa kata dokter?." tanya Nathan sambil mengusap perut yang belum membesr sama sekali itu.


"Iya." jawab Ara dengan senyumnya. Nathan meletakkan dagunya diatas bahu istrinya dan terus saja menatap dan mengusap perlahan perut datar itu.


"Kamu baik baik ya sayang dalam perut mama." bisiknya denfan bibir yang membentuk senyuman tulus dan bahagia. Ara tidak memperdulikannya akibat pikirannya yang sibuk berdebat.


"Mama sama papa nungguin kamu keluar, Inget ya jangan nakal, Jangan nyusahin mama, Susahin papa aja." bisiknya kembali dengan mencium perut itu. Nathan terus saja memainkan perut istrinya dengan saat ini dia duduk diatas kursi dengan kepalanya yang berada dipangkuan wanitanya.


"Sayang kamu belum makan siang, Mau makan apa?." Nathan mendongakkan kepalanya saat ingat jika keduanya belum makan siang.


"Ikut kakak aja makannya." jawab Ara dengan senyumnya. Nathan memasang wajah bingungnya saat istrinya tersenyum manis dengannya.


"Ada yang lagi dipikirin?." tanya Nathan dengan mengusap kepala tersebut.


"Gak ada, Ara mau makan makanan yang kakak makan." ucapnya kembali.


Beberapa menit Nathan terdiam hingga dia menarik nafas panjang. "Yaudah kamu tunggu disini, Kakak keluar dulu cari makan." ucapnya dengan mencium pucuk kepala istrinya tersebut dan langsung meninggalkan ruangan tersebut. Ara memperhatikan gerak gerik suaminya hingga pintu ruangan kembali tertutup.


Wanita itu menarik nafas panjang dan mengusap lembut perutnya. "Sayang maafin mama ya." ucapnya dengan wajah sedih.


"Kamu baru aja beberapa minggu diperut mama tapi kamu udah ngerasain sakit, Mama beneran minta maaf ya gak bisa jagain kamu baik baik." sambungnya dengan terus mengusap perutnya tersebut.

__ADS_1


Nathan membuang nafas panjang saat bisa mendengar dengan jelas perkataan istrinya tersebut. "Kakak kamu juga dulunya berjuang sekuat tenaga buat dia hidup sampai titik ini nak, Itu juga karna mama, Rahim mama lemah buat kalian, Rumah buat kalian gak kokoh sayang." ucapnya kembali dengan kepala yang tertunduk dan tangan.yang mengusap perutnya.


"Sekali lagi mama minta maaf sayang, Mama janji mama bakal jagain kamu sampe kamu ketemu papa, Nenek, Kakek sama kak Okta sama kak Yuna." ucapnya yang kembali tersenyum dengan tangan yang terus mengusap lembut perutnya itu.


"Ah itu makananya dateng." ucap Nathan dengan senyumnya saat sudah mendengar ucapan tadi dan mengambil makanan yang dipesannya melalui online.


"Makasih pak." ucap Nathan dengan senyumnya dan berjalan menuju kembali keruangan istrinya dan masuk kedalamnya.


"Kamu maukan makan makanan ini?." tanya Nathan dengan menunjukkan makanan kepada istrinya.


"Iya, Kalo kamu makan aku juga makan." jawab Ara dengan senyumnya. Nathan membalas senyuman tersebut dan membuka makanan yang dipesannya dan mulai melahapnya.


"Anak papa harus kuat ya sayang." ucap Nathan setelah menyuapi wanitanya sambil memainkan hidungnya diperut wanitanya tersebut.


"Papa beli makanan sehat buat kamu sama mama, Jadi kamu sama harus....."


"Sehat." jawab Ara dengan menerima suapan selanjutnya dengan dijawab tawa oleh Nathan.


"Kamu makan juga." ucap Ara saat suaminya hanya sesuap makan sedangkan dia sudah banyak. Nathan mengiyakannya dan menyuapi dirinya sendiri dengan suapan yang seharusnya untuk istrinya tersebut.


"Bentar lagi." jawab Ara dengan mata yang perlahan terpejam.


"Eh nanti tidurnya, Mandi dulu, Gak boleh mandi malem." ucap Nathan dengan memegang wajah istrinya saat mata wanita itu yang perlahan terpejam.


"Cuma cuci badan aja kan?." tanya Ara dengan mendongakkan kepalanya.


"Iya." jawab Nathan dengan senyumnya.


"Gendong." Ara melentangkan tangannya dan langsung ditangkap oleh Nathan dan digendongnya dan dibawanya masuk kedalam kamar mandi yang ada dirumah sakit tersebut.


"Bumil gak boleh bandel juga gak boleh mandi lama." ucap Nathan. Nathan meletakkan wanitanya tersebut diatas wastafel dan mengambil kain dan tisyu basah.


Ara kembali melingkarkan tangannya dileher suaminya tersebut seakan akan tidak ingin terpisah sedetikpun dengan Nathan yang mengelap tubuh istrinya dengan perlahan dan sentuhan lembutnya. "Dia kalo manja gini...."

__ADS_1


"Berasa berguna gue jadi suami." guman Nathan dengan senyum senangnya dan memberikan kecupan di pucuk kepala wanitanya tersebut dan kembali membawanya keranjang.


"Dingin gak?." tanya Nathan dengan posisi masih berdiri akibat Ara yang berpindah menempel diperutnya.


"Iya." jawabnya. Nathan menaikkan suhu ac.


"Kamu harus tidur samping aku." ucap Ara dengan mendongakkan kepalanya.


"Iya, Nanti aku tidur disini." ucap Nathan dengan menunjuk kepada kursi.


"Bukan, Tapi....." Ara menggeserkan tubuhnya agar suaminya dapat duduk disampingnya.


"Disini." sambungnya dengan senyum yang mengembang.


"Gak boleh, Nanti kamu sesak tidur diranjang sempit, Udah kamu geser kesini." ucap Nathan.


"Enggak, Waktu dulu biasa aja seranjang ini tidur berdua, Ayo naik." ajak Ara kembali yang memaksa lelaki itu. Nathan tidak bergeming, Dia menatap tajam kepada istrinya tersebut akibat keberatan.


"Kamu beneran mau kakak tidur diranjang yang sama?." tanya Nathan dengan wajah bingungnya.


"Iya, Iya, Ayo naik." ajak Ara kembali dengan senyumnya.


"Tunggu kakak suruh dokter ganti ranjang yang lebih gede supaya kamu gak ngerasa sempit nanti." ucap Nathan dengan merogoh ponselnya yang berada disakunya.


"Jangan." ketus Ara kesal padahal dia ingin memeluk suaminya.


"Kamu tadi...."


"Yaudah kalo gak mau, Biar gue sendiri aja tidur disini." ketusnya dengan berbaring diatas ranjang tersebut dengan suasana hati yang kesal. Nathan yang sangat peka terhadap sekitar terdiam terlebih dahulu hingga akhirnya dia kembali membuang nafas panjang dan mendudukkan tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan istrinya.


"Yaudah iya, Ini kakak tidur sama kamu." ucap Natham dengan membaringkan perlahan tubuhnya dan langsung menangkap tubuh kecil istrinya yang membelakanginya.


"Katanya takut sempit, Kalo takut sempit tidur aja dibawah." jawabnya kesal.

__ADS_1


"Enggak, Enggak sempit, Sini ngadep belakang." ucap Nathan dengan nada rendah sambil mencium bahu istrinya tersebut.


__ADS_2