
"Ada apa?." tanya Andre.
"Tadi siang ada seorang wanita kemari tuan dia mencari nona Ara." ucap penjaga tersebut.
"Kenapa dia nyari Ara?." tanya Andre dengan wajah bingungnya.
"Dia tidak menyebutkan alasannya mengapa dia mencari nona, Tapi beliau mengatakan jika dia adalah kakak nya nona Ara." jawab penjaga dengan sedikit menunduk.
"Kakak Ara?." wajah bingung terlihat jelas dari raut wajah Andre.
"Siapa?, Apa mungkin Sheyla?." guman Andre dengan wajah bingungnya.
"Saya hanya ingin menyampaikan itu tuan, Saya permisi keluar." pamit penjaga saat Andre hanya termenung saja.
"Ngapain Sheyla kesini nyariin Ara?." tanya Andre dengan wajah tidak sukanya saat menebak Sheyla yang mengunjungi rumah itu untuk mencari Ara.
"Tapi mungkin aja bukan Sheyla."
"Tapi kalo bukan Sheyla siapa kakak Ara lagi?." pikiran yang terus memikirkan hal tersebut membuatnya bingung.
"Cek aja." Andre menutup pintu kamarnya dan menaiki lift dan menuju kelantai empat dimana disanalah letak cctv. Andre masuk kedalam ruangan tertutup tersebut dan melihat rekaman beberapa jam lalu.
"Benerkan Sheyla." ucapnya saat benar melihat Sheyla yang berkunjung.
"Tapi ini kok kayak dipaksa buat pulang sama suaminya." guman Andre saat melihat hal tersebut.
"Ah terserah, Yang jelas keluarga mereka gak boleh nyentuh menantuku seujung kukupun." ucapnya dan mengambil ponselnya.
"Perketat penjagaan ruangan yang ditempati Ara, Jangan biarkan orang asing masuk." ucap Andre dan langsung menutup telponnya dengan pengawal yang sudah tau jika akan seperti itu.
Andre mengangkat tangannya dan melihat jam yang sudah menunjuk pukul sebelas malam. Ia memilih keluar dari ruangan tersebut dengan diganti oleh pekerja yang mengawasi cctv dan turun kembali kekamarnya. "Ayah dari mana?." tanya Nita dengan mata mengantuknya namun di tahan akibat menunggu suaminya.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?." tanya Andre dengan mendekat dan mengusap kepala wanita itu.
"Bunda nungguin ayah." jawab Nita.
"Yaudah bunda istirahat dulu, Ayah mau ganti vaju, Nanti Yuna sama Okta bangun lagi." ucap Andre dengan membantu wanita itu berbaring dan menyelimuti istri dan cucu cucunya tersebut. Nita hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk tidak erat kedua cucunya.
"Em." Ara menggeliat merasa tidak nyaman dan hal tersebut membuat Nathan yang tidur sambil memeluknya tersadar.
"Sayang, kenapa?." tanya Nathan saat istrinya yang menggeliat tidak nyaman itu.
"Em." Ara mengusap erlahan perutnya dan membuka perlahan matanya sedangkan Nathan saat ini, Dia terus memperhatikan istrinya takut kepala istrinya itu terbentur kebesi pembatas.
Ara menatap keatas dengan kembali memejamkan paksa matanya akibat silau. "Laper." ucap Ara yang kembali berbalik kepada Nathan dan menyembunyikan wajahnya didada bidang lelaki itu.
"Hem, Laper?." tanya Nathan yang kurang jelas mendengar ucapan itu. Ara menganggukkan kepalanya mengiykan pertanyaan tersebut.
Nathan mengangkat tangannya dan melihat jam hitam yang ada ditangannya tersebut. "Udah mau jam dua belas." guman Nathan.
"Tapi biasanya kalo kantin rumah sakit 24jam kan?." gumannya dengan wajah bingung dan kembali menatap istrinya.
"Mau makan masakan bibi." jawab Ara.
"Bibi?." Nathan nampak bingung begitupun dengan suaranya.
"Iya, Bi Nur, Udah lama gak makan masakan dia." jawab Ara dengan mendongakkan kepalanya.
"Hah?." Nathan terdiam.
"Gak bisa?." tanya Ara dengan wajah menyendihkannya.
"Bu-bukan gak bisa sayang, Tapi bi Nur kan lagi di Singapore jadi susah kalo mau masakan bi Nur." jawab Nathan yang sedikit ragu untuk menolak namun bagaimana caranya dia meminta bi Nur kembali ke indonesia hanya untuk memasakkan makanan untuk istrinya.
__ADS_1
Wajah kecewa nan menyendihkan langsung terlukis diwajah wanita itu, Semangat yang ingin makan pun memudar dan kembali menunduk berbaring seperti awal. "Makan yang lain aja ya, Kakak aja yang masak buat kamu?." bujuk Nathan saat tau akan istrinya yang merajuk.
Ara langsung menggelengkan kepalanya menandakan jika dia tidak mau masakan suaminya ataupun makanan lain. "Jangan gitu dong, kamu tadi bilang laper loh, Beli makanan kesukaan kamu aja gimana?." Nathan kembali mencoba membujuk wanita tersebut namun Ara masih saja dengan jawaban awalnya.
"Kakak minta bunda buat masakin kamu gimana?, Atau beli dikantin?, Beli di luar?." Nathan terus dan terus mencoba membujuk wanita itu.
"Enggak, Maunya masakan bibi." jawab Ara dengan wajah sedihnya.
"Bibi kan lagi gak di indonesia loh sayang, Kalo bibi ada kakak suruh dia masakin yang banyak buat kamu, Tapi bibi kan gak ada, kakak beli makanan aja ya diluar?." bujuknya akan istrinya yang sama sekali tidak ingin berpindah chef.
"Yaudah Ara gak jadi makan, Makannya nanti aja waktu bibi udah pulang." balasnya dengan membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.
"Mas aku mau itu." ucap Erina dengan perut yang sudah besar saat melihat iklan makanan di televisi.
"Itu baru aja mulai promosi loh Er." balas Vino.
"Iya aku mau makan itu." kesal Erina.
"Udh beliin aja, Turutin apa yang dia mau, Nanti mau anak kalian ngences karna ngidam waktu hamilinnya gak diturutin?." tanya Nita saat Vino yang terus menolak keinginan Erina.
"Enggak, Ini pertama kalinya gue ngurusin istri gue hamil, Gue gak boleh buat dia kenapa kenapa." ucap Nathan yang langsung menghubungi bi Nur.
Drittttttt
Nur yang sangat mengantuk dijam satu malam itu mengambil ponselnya yang berdering. "Halo." ucap Nur tanpa melihat itu panggilan dari siapa.
"Halo bi, Bibi bisa pulang ke indonesia sekarang? Soalnya Ara mau makan maskan bibi, Dia cuma mau masakan bibi bukan masakan siapapun." ucap Nathan langsung tanpa basa basi.
"Gue gak sopan banget, Udah ganggu tidur orang malah gak bilang maaf sebelumnya, Ah terserah deh, Nanti aja minta maafnya." guman Nathan dengan mengigit bibir bawahnya.
Ara yang tidak tidur tersenyum lebar mendengar suaminya yang menelpon menyuruh bibinya untuk pulang itu.
__ADS_1
"Nathan?, Ara kenapa emangnya nak? Dia sakit?." tanya Nur yang seketika langsung hawatir dan bangkit dari tidurnya tersebut.
"Sayang kenapa?." tanya Mamat yang terbangun akibat gelombang kasur yang sangat terasa ditubuhnya.