The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 49


__ADS_3

Nathan memastikan bahwa istrinya benar benar tertidur baru dia mulai memejamkan matanya sebab takut jika istrinya memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan.


Keesokan paginya.


Ara membukakan matanya perlahan, Matanya langsung tertuju kepada suaminya yang masih tertidur nyenyak dan setelah itu baru menatap jam dinding yang sudah menujuk pukul lima pagi. "Kamu kan yang kecapean ngurusin aku seharian." bisiknya dengan mencium dahi suaminya dan setelah itu berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya tersebut hingga terlepas.


"Sayang." suara serak terdengar jelas di telinga Ara sehingga membuatnya membalikkan tubuhnya dan terlihat suaminya langsung meraih tangannya dengan mata yang terpejam.


"Jangan pergi." ucap Nathan dengan mata masih terpejam dan nampak hawatir. Ara hanya diam dan memperhatikan dengan seksama wajah suaminya tersebut.


"Aku mohon jangan pergi." Nathan memohon dengan wajah gelisahnya sambil tangan yang menggenggam erat tangan kecil itu sebab benar benar tidak ingin di tinggalkan oleh istrinya.


"Itu beneran bukan anak aku, Pulang ya sayang." ucapan itu terlontar jelas dari bibir suaminya sehingga membuat Ara kembali terdiam.


"Kok dia ngomong gitu." guman Ara dengan wajah bingungnya.


"Aku gak pernah nyentuh dia sama sekali." Ara sadar akan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.


"Dia masih nginget kejadian lalu?." guman Ara yang sadar namun Nathan semakin menggenggam erat tangan istri.


"Ais mlah tambah erat." umpat wanita itu yang merasa sedikit kesakitan namun dia membiarkannya dan menatap lekat wajah suaminya sehingga berpuluh puluh menit Nathan pun terbangun dan Ara kembali tertidur.


Lelaki itu menggerakkan tangannya namun tangan satunya terhenti saat sadar tangannya memegang sesuatu. "Eh." Nathan dengan segera merenggangkan genggamannya dan langsung duduk dan melihat tangan istrinya yang sudah cukup memerah.


"Eh astaga, Merah tangannya." ucap Nathan dengan wajah bersalahnya dan menatap istrinya dengan baru ia sadari bahwa istrinya tengah tidur dengan posisi duduk.


"Sayang." panggil Nathan dengan suara sedikit serak dengan Ara yang langsung bangun.

__ADS_1


"Kakak udah bangun?." tanya Ara.


"Tangan kamu merah, Maafin kakak." ucap Nathan sehingga membuat Ara langsung menatap tangannya dan benar sja tangannya sudah memerah saat ini namun dia tidak memperdulikannya dan kembali menatap lekat suaminya.


Wanita itu membentang lebar tangannya dengan bibir yang tersenyum tulus namun membuat Nathan kebingungan. "Sini peluk." ucap Ara saat melihat wajah kebingungan suaminya. Nathan kembali di buat bingung akan ucapan tersebut sehingga Ara sendiri yang langsung meraih tubuh suaminya tersebut.


"Nanti lain kali gak usah mikir kemana mana ya, Gak usah mikir kejadian lalu, Kita fokus aja ya ke masa depan kita, Lupain aja kejadian lalu." ucap Ara dengan mengusap lembuat kepala lelakinya yang berada dipelukannya.


"M-maksud kamu?." tanya Nathan.


"Kakak tadi ngigo minta maaf terus, Minta Ara supaya balik dan gak ninggalin kakak, Itu artinya kakak belum ngelupain kejadian lalu dan itu semua gara gara Ara yang terlalu gegabah sampe........"


"Kenapa malah nyalahin diri sendiri?." potong Nathan dengan mendongakkan kepalanya.


"Gak nyalahin diri sendiri, Cuma emang bener kenyataannya, Ara langsung pergi tanpa penjelasan dari kakak dan bikin......"


"Jadi....." potong Ara pula saat suaminya belum selesi berbicara dengan senyumnya.


"Kita lupain." sambung Nathan dengan senyumnya. Ara membalas senyuman tersebut dan Nathan langsung memeluk tubuh wanitanya tersebut sambil memberikan beberapa ciuman dikepalanya.


Berbulan bulan berlalu.


"Jadwal cek up hari ini sayang." ucap Nathan dengan mengusap lembut perut istrinya yang sudah membesar itu.


"Iya, Ini aku udah siap." jawab Ara dengan senyumnya.


"Yaudah, ayo kita pergi liat dedeknya yang udah gede." ucap Nathan dengan mencium perut tersebut dan turun kebawah.

__ADS_1


"Mau kemana sayang?." tanya Nita dengan Nur dan Mamat yang juga ada di indonesia.


"Mau kerumah sakit bun, Cek kandungan." jawab Nathan.


"Sarapan dulu sayang." ucap Nur dengan senyumnya. Ara dan Nathan mengiyakannya dan mendudukkan tubuh mereka ditempat biasa dan sarapan bersama.


"Mama, Kapan dedeknya lahir?." tanya Yuna.


"Bentar lagi dedeknya lahir." jawab Nur dengan senyumnya sambil mengusap kepala cucunya tersebut.


"Yey gak sabar nunggu dedeknya lahir." teriak Okta dengan senyum senangnya sedangkan Ara hanya tersenyum saja mendengarnya. Setelah selesai sarapan semuanya melanjutkan aktivitas masing masing dengan Okta dan Yuna pergi kesekolah, Ara dan Nathan yang juga pergi kerumah sakit.


"Halo ponakan tante." Sheyla yang hubungannya sudah membaik dan mendapatkan kepercayaan kembali dari keeluarga Nathan saat ini selalu mengawasi Yuna dan Okta disekolah sebab anaknya juga sekolah disana.


"Udah sarapan sayang?." tanya Fikri dengan membenarkan sedikit rambut Okta yang berantakan.


"Udah om." jawab Okta dengan senyumnya.


Sesampainya dirumah sakit, Nathan dan juga Ara masuk keruangan dimana mereka bertemu dengan dokter dengan diperiksanya lah kandungan Ara. "Liat dia aktif banget." ucap Nathan dengan mengabdikan momen tersebut dengan Ara yang tersenyum girang.


"Eh tapi kok..." dokter sadar akan posisi bayi dan menoleh kearah Ara.


"Kak sakit." Ara memegang perutnya yang terasa sangat sakit sehingga Nathan sontak mematikan ponselnya dan mendekat.


"Sayang kenapa?." Nathan mendekat dan Ara langsung mencengkram kerah baju suaminya.


"Sakit kak." rengeknya. Dokter membuka selimut yang dikenakan Ara dan benar saja air ketuban sudah keluar sehingga membuat dokter panik dan meminta dokter lain menyiapkan ruang lahiran.

__ADS_1


"Istri saya kenapa?." teriak Nathan dengan wajah paniknya.


__ADS_2