The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 45


__ADS_3

"Makanan apa itu sayang?." tanya Nathan yang tidak dapat melihat makanan tersebut.


"Keliatannya kayak empek empek." jawab Ara.


"Kamu lagi hamil loh mau makan itu." ucap Nathan dengan tatapan tajamnya.


"Kata dokter tadi kan gapapa." jawab Ara. Nathan terdiam dan mengingat perkataan dokter kepadanya tadi hingga dia ingat dan menuju ketempat dimana jualan keinginan istrinya tanpa mengatakan apapun.


"Panjang banget antriannya ya allah." ucap Nathan yang berada diantrian akhir.


"Demi Ara, Gapapa." ucap Nathan dan mengantri dengan mata yang selalu mengawasi mobil.


"Ehem." Ara tertawa kecil saat melihat suaminya yang nampak sedikit mengeluh dari ekspresi wajah.


"Papa kamu sayang bangetkan sama kamu, Apa yang kamu mau langsung dibeliin." ucap Ara dengan senyumnya sambil mengusap perutnya tersebut.


"Ya allah lama banget." keluh Nathan saat sudah tiga jam mengantri dengan wajah yang sudah memerah kepanasan.


"Nah giliran gue." ucap Nathan dengan wajah senangnya dan memesan banyak makanan tersebut.


"Kuahnya buat dua ya pak, Satu dikit aja." request Nathan.


"Baik kak." jawab pedagang tersebut dan langsung menyiapkan adonan dan menggoreng pesanan Nathan.


Setelah cukup lama menunggu Nathan kembali kemobil. "Nah i...."


"Kok malah tidur." ucap Nathan saat istrinya yang sudah terlelap. Lelaki itu membuang nafas panjang dan tersenyum menatap wanita itu.


"Gapapa beneran." ucapnya yang seketika memasang wajah menyedihkannya. Nathan menyelimuti tangan yang tidak berbalut dengan apa apa itu menggunakan jaket miliknya dan menyalakan mesin mobil dan kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali kerumah.


Sesampainya mereka dirumah Nathan kembali menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Tanpa banyak berpikir lelaki itu langsung keluar dan menggendong istri tercintanya tersebut dan membawanya masuk kedalam rumah. "Ara kenapa nak?." tanya Nita yang seketika hawatir saat Ara digendong masuk oleh Nathan.


"Ketiduran bun." jawab Nathan.


"Oh, Yaudah sana bawa kekamar." balas Nita dengan senyumnya. Tanpa menjawab Nathan kembali melanjutkan langkah kakinya dan menuju kekamar mereka.


Lelaki itu membaringkan perlahan wanitanya diatas ranjang dan menyelimuti tubuh kecil tersebut. Wajah lelaki itu tersenyum menatap wajah polos wanita yang tengah tertidur itu hingga senyumannya pudar sebab teringat akan kedua putrinya yang tidak terlihat. "Mana Yuna sama Okta." ucapnya dengan nada perlahan.


"Mungkin dirumah bibi kali ya, Bibikan ada di indonesia." balasnya menjawab pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


Ditempat yang berbeda, Nur dan Mamat terlihat bermain dengan kedua cucu perempuannya tersebut, Tawa bahagia yang sudah sangat jarang sekali terlihat hari ini tawa tersebut kembali nampak, Bermain dengan cucunya yang masih kecil itu dan tidak mempermasalahkan Okta yang bukan cucu mereka namun ikut berbahagia bersamanya.


Sedangkan ditempat lain. Sheyla masih saja terlihat lemah, Tidak nafsu makan dan tidak bersemangat hidup kenapa lagi jika bukan karna merindukan adiknya. "Sayang." Fikri mendekat dan menggenggam kedua tangan istrinya tersebut. Sheyla hanya menoleh tanpa mengeluarkan suaranya.


"Makan ya sayang, Udah dua hari kamu belum makan." ucap Fikri dengan wajah sedihnya saat melihat keadaan istrinya.


"Ara dia baik baik ajakan?." mata sayu kembali menanyakan keadaan adiknya yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.


"Iya sayang, Ara pasti baik baik aja." jawab Fikri dengan mengusap kepala wanita itu.


"Tapi aku belum liat keadaan dia, Apa bener dia baik baik aja apa enggak." balas Sheyla.


"Iya nanti kita jenguk Ara, Tapi kamu makan dulu." Fikri kembali mencoba membujuk istrinya tersebut.


"Tapi...."


"Nanti kalo kamu sakit ketemu Ara nya malah bikin Ara hawatir, Jadi makan dulu ya supaya ada tenaga buat ngejenguk Ara." potong Fikri saat Sheyla hendak mencari alasan lain.


"Makan ya." Fikri menyodorkan sesendok makanan kepada istrinya, Sheyla hanya melihat makanan tersebut hingga akhirnya dia menerima makanan tersebut dan memakannya dengan cukup lahap.


Fikri tersenyum lebar saat istrinya menerima suapannya dan kembali menyuapinya.


Nita menoleh kearahnya. "Iya sayang." jawab Nita namun matanya teralih kepada kresek yang ada ditangan Nathan.


"Apa itu?." tanya Nita.


"Empek empek, Bunda sama ayah mau?." tanya Nathan dengan mendudukkan tubuhnya disamping kedua org tuanya itu.


"Dimana belinya nak?." tanya Andre dengan mengambil kresek yang berisikan empek empek tersebut.


"Dekat lampu merah pertengahan rumah sakit sama rumah kita." jawab Nathan.


"Gak biasanya kamu beli makanan kayak gini." ucap Nita dengan mengambil satu empek empek dan memakannya.


"Enak juga." sambungnya.


"Bi tolong ambilin mangkok bi, Dua ya bi." pinta Nita.


"Baik nyonya." saut pelayan dan langsung melaksanakan perintah.

__ADS_1


"Ara yang mau tadi, Makanya Nathan beli." jawab Nathan.


"Banyak banget kamu belinya." balas Andre.


"Antrian tadi panjang yah, Makanya Nathan beli banyak supaya nanti Ara puas." jawab Nathan. Andre tidak menjawab lagi dan ikut mamakan empek empek tersebut.


"Kenapa dipisah bunda?." tanya Nathan.


"Buat Ara lah, Ini kan punya dia, Jadi bunda sama ayah makan dikit aja." jawab Nita dan memisahkan untuknya sedikit dan untuk Ara sedikit.


"Iya harus itu dipisah, Udah habis tadi empek empek nya, Dimana lagi Nathan mau cari kalo......."


"Kakak." terdengar teriakan dari atas membuat semua yang dibawah mendongak keatas.


"Udah bangun dia." Nathan beranjak dari duduknya dan langsung bergegas menuju keatas namun Ara malah turun menggunakan tangga.


"Eh hati hati." teriak Nathan yang mengurungkan niatnya menaiki lift dan berlari menaiki anak tangga.


Nita dan Andre ikut berdiri akibat ikut panik melihat Nathan panik. Nathan langsung meraih tangan istrinya saat berada sejajar. "Lift kan ada, Kenapa malah turun tangga." ucap Nathan dengan wajah kesal namun hawatir.


"Apaan sih, Lebay banget, Jalan kaki bagus buat ibu hamil." balas Ara dengan wajah yang ikut kesal ditambah dia baru saja bangun tidur.


"Tapi nanti kalo tangganya licin gimana, Kamu....."


"Bunda liat kakak ngomongnya kemana mana." adu Ara kepada Nita hingga membuat Nita tersenyum begitupun dengan Andre.


"Udah udah sayang, Ayo turun dulu." ucap Nita dengan senyumnya. Ara mengiyakannya dan turun kebawah.


"Hati hati." Nathan memegang dengan baik tangan istrinya tersebut akibat sangat hawatir akan hal yang belum terjadi.


"Kakak jangan erat erat, Sakit." ucap Ara saat tangan Nathan yang menggenggam sangat erat tangannya.


Nathan merenggangkan genggamannya. "Maaf." ucap Nathan dan membantu istrinya yang tidak perlu dibantu untuk duduk dikursi.


"Wah, Empek empek yang kakak beli tadi?." tanya Ara dengan wajah gembira.


"Iya." jawab Nathan.


"Ayo sayang dimakan." ucap Andre dengan senyumnya. Ara dengan senang hati langsung memakannya dan melahap dengan cukup lahap empek empek tersebut dengan cara makannya yang seperti anak kecil.

__ADS_1


Nathan yang awalnya memasang wajah datar seketika tersenyum senang, Sikap kekanak anakan istrinya kembali, Sikap yang cukup lama hilang dari seorang Ara Rianti saat ini kembali, Istrinya kembali seperti semula dengan Nita yang mengerti akan senyum bahagia anak lelakinya tersebut.


__ADS_2