
Aku merasakan sakit di kepalaku. Kelopak mataku terasa berat dan enggan terbuka lebar, perutku berputar seperti diaduk-aduk. badanku juga terasa sangat sakit seperti dipukul dengan palu berkali-kali.
Terdengar sayup-sayup suara familier di sekitarku.
".Anne bangun kamu!" suara Papa begitu keras, "dan anak kamu juga. Anne ini anak kita!"
Perlahan tapi pasti. Meskipun masih terasa berat, akhirnya Aku memberanikan diri untuk membuka kelopak mata. Melihat satu persatu keluargaku yang berada didalam kamar ini. Wajah mereka terlihat tegang, cemas, dan marah.
"Kenapa sih, Pa?" tanyaku dengan suara serak.
"Apa yang kamu lakukan semalam, Anne?Kenapa kamu pulang dalam keadaan mabuk?Dan kemana kamu pergi? dengan siapa kamu pergi?". Serentetan pertanyaan meluncur mulus dari mulut Papa. Wajah beliau merah padam, sorot matanya begitu tajam.
Aku terdiam, sembari mengingat potongan demi potongan tentang kejadian kemarin. kelab, Ando, minuman beralkohol, dan mabuk. Ando berhasil membawaku ke tempat hiburan malam dan membuatku menenggak minuman
keras. Ando menjebakku?Tidak, dia adalah pacar terbaik. mungkin kemarin hanya kesalahan fatal.
setelah berhasil menyadari kesalahanku, Aku mendongak dan menatap Papa dengan wajah iba. "Pa---"
tapi Papa segera memotong kalimatku cepat. ".Jawab saja pertanyaan Papa, Anne! apa yang kamu lakukan semalam? dan siapa orang yang berani-beraninya membuat kamu sampai mabuk seperti ini!"teriak Papa murka, membuatku bergidik ngeri.
Aku hanya menggeleng dan menangis. seumur-umur Aku tidak pernah dibentak separah ini oleh Papa.sebagai kepala keluarga, beliau memang selalu menerapkan hukum agama yang begitu kuat terhadap anak-anaknya. seperti melarang sesuatu yang haram dan mengidahkan yang halal.
"Astagfirullah, Anne! kenapa hidup kamu semakin lama semakin bebas?Apa selama ini Papa mengajari kamu melakukan hal seperti itu?!" Papa terlihat marah. beliau tidak pernah salah mendidik anak, tapi menghadapi
watakku? Papa hampir angkat tangan.
__ADS_1
"Pa, sudahlah. jangan bicara seperti itu pada Anne. lagi pula, kemarin itu Anne dalam keadaan mabuk. dia pasti tidak mengingat apa pun." Mas Eza mulai mengambil alih pembicaraan.
"Jangan belain dia, Eza. Papa benar-benar sudah lelah menghadapi sikap nakal adik kamu ini!" sekarang Papa membentak mas Eza, hingga mas Eza mengatup mulutnya rapat-rapat sambil menatapku iba.
Papa kembali menoleh padaku dan bertanya "Anne, ada satu hal lagi yang harus kamu jawab jujur. apa kamu tidur dengan laki-laki yang bukan muhrim kamu?"
Nyaris, Aku terperanjat, lantas memandang wajah Papa dengan mata terbelalak. bahkan Mas Eza dan Mama sama terkejutnya. " Apa yang Papa bicarakan? nggak mungkin anak kita melakukan hal sehina itu," timpal Mama
"Kita tidak tahu apa yang anak kita lakukan di luar pengawasan kita,Ma. pergaulan Anne ini bebas." Papa dan Mama saling bertatapan sengit.
"Pa hanya karena Anne suka keluyuran malam, bukan berarti pergaulan Anne sebebas itu sampai berbuat sesuatu di luar kendali Anne sendiri! Anne masih waras, Pa. Anne masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!" potongku cepat. hatiku sudah menggebu-gebu dan terasa panas.
".kalau kamu masih waras, kenapa kamu bisa sampai mabuk, Anne!" bentak Papa lagi berkecak pinggang. dada Papa sampai naik turun karena menahan gejolak emosi.
wajahku tertekuk murung sambil mengaitkan kesepuluh jari. otakku berputar, namun terasa buntu. Aku tidak mempunyai jalan pintas atau cara terbaik keluar dari perkara ini. DASAR ANNE DUNGU! PANTES AJA LO NGGAK WISUDA SAMPAI HAMPIR ENAM TAHUN KULIAH. OTAKKU SUDAH PINDAH DI DENGKUL, SIH! suara batinku memaki. "maafin Anne, Pa." akhirnya hanya kalimat penuh penyesalan itu yang mampun Aku keluarkan.
Suara Papa tidak semarah dan sekeras tadi, kali ini terdengar lebih pasrah.
".Sekarang, lebih baik kamu mandi dan ganti pakaian. Karena sebentar lagi keluarganya Arsen akan datang untuk bertamu." lanjut Papa sebelum keluar dari kamar.
Aku mengerutkan dahi, Arsen lagi?
".Anne sayang, Mama percaya kalo kamu ngga mungkin berbuat yang macam-macam." Mama menghampiriku. Duduk di ranjang tepat disebelahku dan membelai rambutku lembut. ".Sekarang kamu dengerin apa kata Papa kamu, ya? Mandi yang bersih dan dandan yang cantik. Anak Mama harus terlihat sempurna di hadapan keluarganya Arsen, oke?" Kemudian Mama bangkit dan ikut keluar dari kamar.
Lagi-lagi dahiku berkerut. Siapa sih Arsen itu sebenarnya? Memangnya dia seterkenal apa?
Kini giliran Mas Eza yang mendekatiku. Dia mendesah sembari menggeleng samar. Mas Eza juga sudah bingung melihat tingkah laku adiknya yang sangat jauh berbeda dari dirinya sendiri.
__ADS_1
".Mas juga marah ya sama Anne?" tanyaku hati-hati. Namun Mas Eza hanya membalasku dengan senyuman.
".Adik mas udah gede, udah mau wisuda, udah bisa jaga diri sendiri. Jadi mas percaya sama kamu." Suara Mas Eza terdengar begitu lembut.
".Maaf ya, Mas, gara-gara ulahku Mas Eza jadi capek-capek berkunjung kesini dan ninggalin istri sama anaknya dirumah."
Mas Eza tertawa, menarik tubuhku kedalam pelukannya. Aku merasa sangat hangat dan nyaman. ".Mas udah izin sama Mba Dita kok, sepulang dari bertugas langsung mengunjungi kamu."
".Beruntung deh, Mas dapet istri yang baik kaya Mba Dita. nanti kalo Aku nikah, Aku juga pingin cari calon suami sebaik Mas Eza."
".Kamu akan mendapatkan ciri-ciri suami yang kamu inginkan itu, Anne. bahkan lebih segala-galanya dari Mas Eza."
".Dari mana Mas tahu? emangnya mas ini Tuhan, yang bisa nentuin jodoh buat Anne." Aku mengernyit sebal. Tapi lagi-lagi Mas Eza hanya membalasnya dengan tertawa.
".Ya Mas yakin aja kalo kamu akan menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari pada Mas. Udah deh mendingan kamu mandi dan bersihin badan kamu dari bau alkohol. sumpah, ini nyengat banget, An. Jangan sampai keluarganya Arsen jadi mikir yang macem-macem tentang kamu."
Tuh kan, Arsen lagi!
".Sebenernya Arsen itu siapa sih, Mas? temannya Mas atau Papa?"
Dari kemarin selalu nama Arsen yang menjadi topik perbincangan hangat dikeluarga ini. setenar apa memangnya si Arsen itu, hingga kepopulerannya melebihi gosip para artis yang sering Mama tonton ditelevisi?
Mas Eza hanya tersenyum. ".Nanti kamu juga akan tahu."
Bola mataku berputar jengkel. Lama-lama Aku jadi curiga, Jangan-jangan keluargaku ingin menjualku kepada Mas-mas yang bernama Arsen itu. Amit-amit!.
***
__ADS_1
bersambung.