
"Tapi Yuna sama Okta...."
"Mama istirahat aja gak usah pikirin kita, Kita udah punya banyak temen di sekolah, Udah sebulan loh ma kita sekolah jadi gak usah di temenin lagi" potong Okta dengan senyuman nya menatap ibu nya sedangkan Yuna hanya diam di tempat.
Yuna nampak diam wajah nya nampak hawatir akan keadaan ibu nya tapi dengan kepribadian yang mengikuti kepribadian ayah nya membuat nya tidak bisa basa basi dan juga tidak bisa membujuk ibu nya tidak seperti Okta yang memiliki sifat sama seperti Ara. "Kalian gapapa?" tanya Ara dengan menatap kedua anak nya secara bergantian.
"Gapapa ma, Mama istirahat aja di sini, Yuna panggilin bibi buat bawa makanan buat mama ke sini" jawab Yuna dan langsung berlalu dari sana.
Ara menatap kepergian anak nya tersebut sedangkan Okta nampak masih saja menghawatirkan Ara. "Nanti ada istri nya Yuda yang nemenin mereka di sekolah, Kamu gak usah hawatir" ucap Nathan dengan mengusap tangan istri nya yang sedikit demi sedikit sudah kembali seperti semula.
"Bibi tolong bantu Yuna ambilin makanan buat mama" ucap Yuna kepada bi Imah yang ada di dapur.
"Emang mama kenapa sayang?" tanya Nita yang baru saja menuju dapur dan mendengar ucapan cucu nya tersebut.
"Mama belum makan nek" jawab Yuna.
"Ini nona kecil" ucap bibi dengan menyodorkan piring yang berisikan makanan kepada Yuna.
Yuna menerima nya, Dengan tangan dan tubuh kecil nya dia bisa membawa makanan tersebut. "Bibi bantu ya nona" ucap bi imah menawarkan bantuan kepada Yuna yang menurut nya tidak bisa membawa nya.
"Sayang sini biar papa yang bawa" ucap Nathan yang baru saja turun dari atas dan langsung melihat anak nya memegang nampan yang berisikan makanan. Yuna tidak menjawab nya dan mengikuti Nahan menuju ke atas.
"Ara kenapa ya? Gak biasa nya badan nya gemetaran kayak tadi" guman Nathan yang memikirkan apa yang terjadi kepada istri nya tersebut.
Saat lift terbuka kedua nya langsung turun dan masuk ke dalam kamar kembali untuk melihat kondisi Ara. Yuna nampak diam saat melihat Okta yang memeluk ibu nya tapi kaki nya tetap melangkah ke depan dan mendekat ke ibu nya tersebut. "Sayang sarapan dulu ya" ucap Nathan dan mendudukkan tubuh nya di hadapan istri nya.
Nathan nampak meletakkan nampan yang ia bawa tadi ke samping ranjang dan makanan di tangan nya. "Kak, Ara bisa sendiri, Kakak berangkat kerja aja jangan lupa anterin Yuna sama Okta ke sekolah" ucap Ara saat suami nya hendak menyuapi nya makanan.
__ADS_1
Nathan diam dan menurunkan sendok yang berisi makanan kembali ke bawah dan menatap lekat wajah istri nya. "Kamu emang nya gapapa di tinggal sendiri?" tanya Nathan yang tidak yakin untuk meninggalkan istri nya sendiri.
"Gapapa, Kalian berangkat ya" ucap Ara dengan senyum nya menatap suami nya dan anak nya secara bergantian dan setelah itu mengambil makanan yang ada di tangan suami nya.
Nathan masih diam dia tidak memberikan reaksi apapun terhadap istri nya dan hanya menatap dengan tatapan sendu akan istri nya yang wajah nya nampak sedikit pucat itu. "Kak udah sana berangkat kerja sama anterin Yuna sama Okta nanti telat loh kak" ucap Ara kembali saat suami nya masih saja diam di hadapan nya.
"Sayang.."
"Udah sana" balas Ara dan mendorong suami nya itu agar mengikuti ucapan nya.
Nathan membuang nafas panjang. Dia berdiri dari duduk nya tersebut. "Nanti kalo ada apa apa hubungi kakak" ucap Nathan yang tidak bisa memaksa untuk tetap berada di rumah, Toh pekerjaan nya juga sangat banyak di kantor akibat di tinggalkan beberapa hari.
"Ayo sayang kita berangkat" ajak Nathan kepada kedua anak nya.
"Hati hati" ucap Ara dan menyalami suami nya yang hendak berangkat tersebut. Nathan tersenyum membalas ucapan istri nya tersebut dan menurunkan Okta yang tidak mau berpisah dari Ara.
"Belajar yang rajin ya sayang" ucap Ara dan mencium kedua anak nya.
"Iya sayang" jawab Ara dengan senyum nya.
"Ayo sayang" ajak Nathan kembali. Yuna tidak menjawab nya dan melangkahkan kaki nya terlebih dahulu dari ayah nya tersebut begitupun dengan Okta yang menyusul Yuna.
Sesampai di bawah Nathan dan Okta terlebih dahulu berpamitan tapi tidak dengan Yuna yang langsung keluar dari rumah. "Yuna mana?" tanya Andre yang menyadari akan ketidak berpamitan nya Yuna cucu kandung nya kepada nya.
"Yuna udah keluar sama bi Imah kek" jawab Okta.
"Oh, Yaudah hati hati ya sayang" ucap Andre sedangkan Nita nampak menatap keluar rumah.
__ADS_1
Yuna mendudukkan tubuh nya di dalam mobil dengan wajah yang nampak seperti biasa nya. Tidak ada yang merasa aneh akan tingkah laku anak kecil itu. Nathan masuk ke dalam mobil begitupun dengan Okta yang duduk di samping nya menggantikan Ara. "Aku takut mama kenapa kenapa" guman Yuna yang nampak gelisah meninggalkan ibu nya sendiri di rumah meskipun ada nenek dan kakek dan juga pelayan pelayan di rumah tapi dia masih saja nampak gelisah.
"Udah nyampe sayang" ucap Nathan dan memarkirkan mobil nya di parkiran sekolah anak nya. Nathan menoleh ke arah Okta dan juga Yuna secara bersamaan.
"Hey udah nyampe" ucap Nathan kembali kepada Yuna yang masih termenung. Yuna tidak menjawab nya dan langsung keluar dari mobil.
Dahi Nathan mengerut saat tidak mendengar jawaban ataupun pamitan dari anak kandung nya tersebut. "Yuna kenapa?" guman Nathan yng cukup bingung akan anak nya yang sedari tadi hanya diam saja.
Nathan turun dari mobil nya dan menatap Yuna yang sama sekali tidak nampak bersemangat hari ini. "Yuna sayang, Kamu kenapa?" tanya Nathan dengan mengusap wajah anak nya yang nampak murung.
Okta dan bi Imah memperhatikan Yuna yang memasang wajah masam itu. "Yuna kamu kenapa?" tanya Okta dengan memegang bahu kedua saudara nya tersebut.
"Bibi sama Okta duluan aja nanti Yuna nyusul" ucap Yuna dengan senyum nya menatap Okta dan juga bi Imah.
"Nona gapapa?" tanya bi Imah sedangkan Okta menganggukkan kepala nya akibat pertanyaan sudah di wakili oleh bi Imah.
"Yuna gapapa, Kamu masuk dulu aja ya ke kelas" ucap Nathan dengan mengusap kepala anak nya tersebut.
"Yaudah pa, Okta ke kelas dulu, Papa hati hati" ucap Okta dengan girang nya dan mencium punggung tangan ayah nya tersebut. Okta langsung berlari dan berlalu dari sana untuk masuk ke dalam kelas nya sedangkan bi Imah mengikuti nya dari belakang.
Nathan berjongkok tepat di hadapan anak nya dan memasang wajah yang sama dengan anak nya tersebut. "Anak papa kenapa murung dari tadi?" tanya Nathan dengan mencubit perlahan wajah anak nya.
Yuna diam dan menatap lekat wajah ayah nya yang sedang menatap nya itu. "Hey, Papa nanya loh, Ayo di jawab" ucap Nathan yang kembali meminta anak nya menjawab pertanyaan nya.
"Papa" panggil Yuna dengan wajah yang semakin murung menatap ayah nya yang berada tepat di hadapan nya.
.
__ADS_1
.
.