
"Gak tau beneran atau enggak semua yang keluar dari nulut lo, Yang jelas gue gak akan luluh sama omongan lo." guman Nathan saat menatap lelaki tersebut.
"Yaudah ayo masuk." ajak Nathan dengan penjaga yang tau bahwa Nathan akan memperketat penjagaan dan mengikuti mereka masuk kedalam.
"Udah waktunya makan malem, Ayo kak kita ke dapur." ajak Ara dengan senyumnya dengan Sheyla yang menatap kepada Nita dan di anggukkan kepala oleh Nita menandakan jika dia mengizinkannya.
Sheyla tersenyum dan mengikuti kemana adiknya membawanya. Nathan dan juga Fikri masuk kedalam rumah dan memperhatikan istri mereka yang sudah menuju ke dapur, Nathan tidak mengeluarkan suaranya dan mwnyusul kedapur dengan diikuti oleh Fikri.
"Kakak harus makan banyak banyak." Ara nemasukkan makanan untuk Sheyla dengan Sheyla yang senang hati menerimanya.
Sheyla nampak mulai melahap makanan begitupun dengan Ara dengan sedikit bicara membuat suasana dapur sedikit ramai dengan semuanya yang juga ikut makan, Fikri tersenyum melihat istrinya yang makan dengan lahap. "Silahkan di nikmati hidangannya." ucap Nathan mempersilahkan Fikri untuk ikut makan.
"Makasih." jawab Fikri dengan senyumnya dan ikut melahap makanan tersebut.
"Mama." terdengar teriakan dan langkah kaki yang berlari menuju ke dapur membuat Ara dan juga Nathan menoleh ke arah suara begitupun dengan yang lainnya.
"Eh, Om." ucap Okta saat melihat Fikri. Dahi Nathan mengerut begitupun dengan Ara sebab anak anaknya tidak mengetahui Sheyla dan juga Fikri.
"Kamu kenal sama om ini sayang?." tanya Ara dengan mengangkat anaknya tersebut untuk duduk di pahanya namun Nathan mengambil alih.
"Duduk sama papa ya sayang." ucap Nathan dengan dibalas tatapan kesal oleh Ara.
"Emm enak baunya nek." ucap Yuna yang saat ini berada diatas Andre.
"Mau makan yang mana?." tanya Andre.
"Iya pa, Om ini waktu itu beliin aku sama Yuna eskrim, Waktu itu papa lama banget jemputnya, Eh eskrim lewat dekat kita, Jadi Okta pesen tapi gak ada uang jadi om ini baik ini yang bayar." jelas Okta dengan senyumnya.
"Anak kalian?." tanya Fikri.
"Iya om, Kami anak mama sama papa." jawab Yuna.
__ADS_1
Ara tersenyum namun dia ingat akan bibi dan pamannya yang tidak ada. "Nenek Nur sama kakek Mamat mana sayang?." tanya Ara.
"Kakek tadi ada urusan jadi cuma nganter batas pintu ma." jawab Yuna.
"Om kenal papa sama mama?." tanya Okta dengan wajah sedikit gembira. Fikri diam dan tidak menjawab.
"Om ini iparnya mama sayang, Ini kakak mama istrinya om ini." jawab Ara dengan senyumnya sedangkan Nathan hanya diam saja.
"Oh, Mama punya kakak?, Jadi kita punya tante dong." balas Yuna dengan senyum yang mengembang menatap Sheyla dan dibalas senyuman pula oleh Sheyla.
"Iya dong sayang." jawab Ara dengan mencium pipi putrinya tersebut.
"Kok kita gak pernah liat om sama tante?." tanya Okta. Semuanya terdiam, Tidak ada yang menjawab sedangkan Nathan malah memperhatikan istrinya.
"Udah udah banyak banget pertanyaan nya, Lagi makan loh kita ini, Okta mau makan apa?." tanya Nathan dengan mengalihkan pembicaraan dengan Ara yang kembali tersenyum.
"Ini, Ini, Ini." jawab Okta dengan menunjuk apa yang ingin ia makan sedangkan Yuna sudah makan terlebih dahulu.
"Harus om, Kalo enggak siapa yang bakal makan makanan disini." jawab Okta dengan senyumnya sehingga membuat Fikri dan Sheyla ikut tersenyum.
"Keluarga ini bener bener hangat, Kebahagiaan emang ada di dalam keluarga ini." Guman Fikri.
"Suasana jadi ceria dengan kehadiran dua anak Ara sama Nathan, Jadi Ara bener bener baik baik aja selama gue gak tau kabarnya." guman Sheyla pula yang merasa lega.
Setelah berbincang dan memgobrol cukup lama, Sheyla dan juga Fikri memutuskan untuk berpamitan pulang dengan Okta dan Yuna yang sudah tertidur mendengar dongeng dari Sheyla dan usapan lembut dari Fikri.
"Sering sering ya lo main kesini, Entar kapan kapan gue main ke rumah lo." ucap Ara dengan senyum yang mengembang.
"Iya, Jaga diri baik baik, Jangan sampe kecapean, Jaga dede bayinya supaya terus sehat." jawab Sheyla. Setelah berpamitan keduanya meninggalkan kediaman tersebut.
"Kita istirahat?." tanya Nathan dengan tangan yang berada dipinggang istrinya. Ara menoleh ke arah Nita dan juga Andre.
__ADS_1
"Kalian istirahat ya, Bunda sama ayah juga mau istirahag ini." ucap Nita. Ara tersenyum menganggukkan kepala.
"Selamat malam." salam tidur dari Nita dan juga Andre untuk menantu dan anaknya.
"Ayo sayaang." ajak Nathan dengan tangan yang tidak pernah terlepas dari pinggang istrinya.
"Ara mandi duluan." ucap Ara saat Nathan yang duduk di atas sofa.
"Barengan aja." goda Nathan. Ara langsung memasang wajah kesalnya.
"Enggak becanda, Udah sana mandi." ucap Nathan dengan senyumnya dan Ara langsung meninggalkan kamar menuju kamar mandi.
Setelah keduanya selesai mandi dengan Nathan yang mandi dikamar tamu keduanya merebahkan tubuh diatas ranjang yang sama. Mata yang membelalak kemana mana begitupun pikiran membuat Nathan membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya yang juga seperti itu. "Sayang." panggil Nathan dengan suara seraknya.
"Em." balas Ara tanpa menatapnya. Nathan yang tidak mendaatkan balasan akan tatapan langsung bergeser dan memeluk tubuh kecil itu.
Ara masih saja diam hingga tangan Nathan mengusap perutnya membuat Ara menoleh ke arah suaminya. "Coba cerita apa yang ada di pikiran kamu sama kakak." ucap Nathan dengan mata yang menatap lekat wajah istrinya.
Cukup lama berdiam dan saling tatap tatapan Ara akhirnya membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan suaminya dengan wajah yang di tenggelamkan kedada bidang tersebut. "Ibu hamil gak boleh banyak pikiran loh, Adek harus inget." bisik Nathan.
"Gak banyak fikiran, Cuma nanti kalo Yuna sama Okta nanya pertanyaan yang ditanya pas di meja makan taddi Ara harus jawab apa?, Ara gak mungkin kan nyeritain semuanya ke mereka." jelas Ara.
"Gapapa, Gak usah mikirin itu, Kakak udah mikirin gimana cara jawabnya." jawab Nathan. Ara mendongakkan kepalanya, Nathan bisa melihat wajah kelelahan dari istrinya begitupun dengan Ara yang juga bisa melihat jika suaminya tersebut kelelahan.
"Cape pasti ya, Kita istirahat." ucap Nathan dengan senyumnya dengan Ara yang langsung menganggukkan kepalanya dengan mata yang buka tutup.
"Janji kalo pikiran nya gak bakal kemana mana lagi?." tanya Nathan. Ara kembali menganggukkn kepalanya dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada suaminya tersebut.
Nathan membalas pelukan wanita itu dengan memberikan kecupan bertubi tubi di kepala wanitanya tersebut. "Yaudah ayo istirahat." ucapnya dengan mata yang masih menahan ngantuk dengan tangan yang mengusap kepala istrinya.
Nathan memastikan bahwa istrinya benar benar tertidur baru dia mulai memejamkan matanya sebab takut jika istrinya memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan.
__ADS_1
Keesokan paginya.