
Aku menyingkap gorden, mengizinkan bias cahaya mengintip dari jendela kamarku. dihalaman depan rumah sudah terparkir sebuah mobil Fortuner, terlihat sangat asing. Sudah jelas kalau mobil itu bukan milik keluargaku.
Dengan malas, Aku langsung menyeret langkahku keluar dari kamar dan menuju kedapur. Tatapanku mengernyit, saat melihat secarik kertas berada diatas meja makan bersamaan dengan sarapan pagi yang sudah disediakan oleh Mbok Min.
Mama, Papa, dan Mbok Min lagi belanja ke pasar. Kalau ada tamu, Kamu suruh masuk aja ya.
Aku meremuk kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. kemudian meneguk segelas susu hingga habis. Tidak berapa lama waktu berselang, bel rumah terus berbunyi nyaring dan mampu membuatku dongkol.
".Iya, sabar!' Aku berteriak dan berjalan menuju pintu depan rumah.
Saat pintu terbuka, aku tercengang melihat tamu asing yang sedang berdiri didepan pintu rumahku.
Laki-laki dihadapanku ini tinggi menjulang, kira-kira sampai 180 senti, badannya kekar dan tegap.
Warna kulitnya putih, hidungnya mancung, bola matanya hitam namun tajam, Aku meneguk ludah ngeri.
Wow, bulu tangannya agak lebat, mirip gorila, laki-laki itu memakai kaus polo putih berkerah dan celana denim, serta kacamata Oakley yang disematkan di antara kerah kaosnya tersebut.
__ADS_1
Otakku langsung merespons dengan cepat . mungkin pemilik mobil fortuner tersebut adalah laki-laki ini.
"Maaf mau cari siapa? " tanyaku malas dengan punggung yang bersandar di daun pintu, mulut menguap ,dan satu tangan yang mengucek mata.
Namun tidak ada tanggapan yang aku dapat.
justru hening dan senyap laki-laki itu sedang memperhatikan penampilanku dari atas kepala hingga ujung kaki. pandangan antara jijik atau geli.
Aku memakai piyama berwarna hitam putih persis seperti papan catur dan rambutku kusut masai.
"haloo! " Aku mengibaskan tangan. "anda ini temannya mas eza ya? kalo mau cari dia sih jangan di sini, tapi di rumah barunya sekarang dia tinggal sama istri dan anaknya."
Lagi-lagi hening yang Aku dapatkan. Aku nyaris berfikir, kalau laki-laki dihadapanku ini punya kendala dengan pendengaran.
".Yaelah. ini orang budek atau apasih? kalau mau cari Mas Eza dia lagi ga ada.jadi lain kali aja ya datangnya, bye!"
Aku sudah hampir menutup pintu rumah tapi laki-laki itu segera menahannya. ".Tunggu sebentar, kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan keluarganya Om Tio."
".Oh, jadi mas temannya Papah? tapi diliat dari penampilannya sih, Mas lebih mirip temannya Mas Eza. kalau Papah si ketuaan"
__ADS_1
Laki-laki itu hanya menaikan kedua alisnya tampak bingung.
".Jadi kamu anaknya Om Tio?"
ragu-ragu aku menjawab ".yap."
".Kamu Anne. benar,kan?"
Aku kembali mengangguk dengan dahi berkerut. ".i-iyaa"
Segaris senyuman manis tercetak dibibirnya.
Dia pun langsung mengulurkan tangan. ".perkenalkan, nama saya Arsen namara."
bukannya membalas, sontak hal itu justru membuatku membelalakan mata, terkejut.
".Maaf, mas. mungkin anda salah orang!" . aku langsung menutup pintu dan berlari pontang-panting masuk kedalam kamar kemudian bersembunyi dibalik selimut. jantungku terpompa lebih cepat, tubuhku menggigil, Ini berita buruk! Kenapa Mas-mas itu bisa tau namaku?Astagaaa! Jangan-jangan Dia seorang penguntit, perampok,bahkan pembunuh, atau pedagang anak perawan.
***
siapakah sebenarnya lelaki itu?
🛩
__ADS_1