The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 39


__ADS_3

"Emang waktu ngehamilin Yuna ngidam apa aja?, Kamu nyusahin Roky apa aja?." tanya Nathan yang masih belum mengetahui cerita kehidupan istrinya saat hamil.


"Waktu ngehamilin Yuna, Ara lebih sering minta makan pedas sama kak Roky, Minta dianterin jalan jalan naik gerobak sama dia." jawab Ara dengan senyumnya.


"Ngapain naik gerobak?, Bukannya itu bahaya buat kandungan?." tanya Nathan.


"Enggak, Malah itu ngebuat Ara ngerasa bahagia aja waktu itu, Tapi mungkin karna naik gerobak itu Yuna waktu lahir dia....."


Ucapan wanita itu terhenti membuat Nathan menatap kearahnya. "Sampe Yuna waktu dia lahir dia gak bisa liat, Itu karna Ara yang gak bisa jagain dia waktu...."


"Shuuuttt, Gak boleh ngomong itu, Itu bukan salah kamu." potong Nathan dengan mempererat pelukannya terhadap istri tercintanya tersebut.


"Tapi waktu lahiran penyebab Yuna gak bisa liat karna ada hentakan yang gak disengaja." balas Ara.


Nathan terdiam, Dia tidak tau lagi harus mencoba mengalihkan ucapan bagaimana. "Maafin kakak ya, Kakak gak bisa ngejagain kamu waktu kamu hamilin Yuna." ucap Nathan saat beberapa saat diam.


"Bukan salah kakak." balas Ara dengan mempererat pelukannya pula.


"Kakak jangan banyak pikiran, Ini juga salah Ara yang pergi tiba tiba waktu itu." ucap Ara dengan mendongakkan pandangnya menatap suaminya tersebut.


"Kalo bukan kakak yang ceroboh waktu itu kamu pasti gak bakalan pergi." balas Nathan pula.


"Udah ya jangan bahas lagi, Kita jalanin aja kehidupan sekarang, Yang lalu biarin berlalu." jawab Ara dengan senyumnya.


"Em." Nathan memberikan satu kecupan dipucuk kepala wanitanya tersebut.


"Kak." Ara berjalan mendekat kearah suaminya dengan membawa laptop ditangannya dia mendudukkan tubuhnya disamping suaminya tersebut.


"Em, Kenapa?." tanya Nathan dengan menatap istrinya yang sudah duduk disampingnya.


"Ini gimana?." tanya Ara saat kesusahan mengatur bangunan yang dibuatnya.


"Kamu ngedesain rumah?." tanya Nathan saat melihat desain tersebut.


"Bukan." jawab Ara.


"Jadi ini apa?." tanya Nathan.


"Panti." jawab Ara dengan senyumnya dan hal tersebut kembali membuat Nathan menatapnya.

__ADS_1


"Panti asuhan?." tanya Nathan.


"Iya." jawab Ara dengan senyumnya kembali.


"Udah jangan banyak nanya, Coba tunjukin ini gimana." ucap Ara saat Nathan yang sedari tadi melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Sini kakak coba bantu." Nathan mengambil alih laptop dari istrinya dan merevisi apa yang menurutnya kurang benar itu.


"Semewah ini kamu mau bikin panti?." tanya Nathan dengan memberikan laptop kepada sang pemilik.


"Iya, Uang papa sama mama kan emang buat panti jadi gak masalahkan kalo Ara bikin panti kayak gini?." balasnya dengan wajah tersenyum menatap suaminya.


"Iya emang gak masalah." jawab Nathan dengan senyumnya.


Ara tidak menjawabnya dan memilih warna apa yang bagus untuk diletakkan dipantinya nanti dengan dibantu oleh Nathan yang melihat dari samping dengan Nathan yang juga sesekali melihat pekerjaannya. "Kamu beneran gak masalah sama seluruh harta almarhum papa dan mama seratus persen larinya kepanti?." tanya Nathan yang nampak sedikit ragu.


"Jelas lah, Duit kakak kan cukup buat ngehidupin Ara, Okta, Yuna sama ayah sama bunda, Jadi gapapa lah kalo warisan mama larinya kesana." jawab Ara dengan senyumnya.


"Iya juga, Kakak masih bisa ngehidupin kalian sama warisan yang dikasih bunda sama ayah." balas Nathan dengan senyumnya sambil mengusap kepala wanitanya tersebut.


"Eh tapi nanti kalo Ara mau kerja kakak gak boleh ngelarang Ara." ucap Ara dengan mendongakkan kepalanya menatap suaminya tersebut.


"Mau kerja apa emangnya?." tanya Nathan.


"Asal kerjanya gak berat kakak gak bakal ngelarang." balas Nathan.


Dua bulan berlalu.


"Hati hati ya." Ucap Ara dengan menyalami suami tercintanya tersebut.


"Iya, Kamu juga hati hati nanti kalo mau ke panti." balas Nathan dengan memberikan kecupan kepada istrinya tersebut.


"Em." Ara hanya mengangguk dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman.


"Aakhh." Nathan menghentikan langkah kakinya saat istrinya meremas lengannya dengan suara kesakitan tersebut.


"Kenapa?." tanya Nathan dengan memegang bahu wanita itu.


"Perut Ara sakit." ucap Ara dengan meremas lebih kencang lengan tersebut.

__ADS_1


"Darah?." ucap Nita saat melihat kaki menantunya yang ada darah.


"Kak sakit." rengeknya kembali dengan wajah kesakitannya.


"Kenapa berdarah bun?." tanya Nathan dengan wajah kebingungannya.


"Cepat bawa Ara kerumah sakit." teriak Nita yang seketika panik melihat darah tersebut. Nathan tidak menjawabnya dan langsung menggendong wanitanya tersebut dan membawanya masuk kedalam mobil dengan sopir yang langsung membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


"Kak perut Ara sakit banget." teriaknya kembali sedangkan kedua anaknya sudah berada disekolahan dengan diantar oleh Inggit dan suami.


Terus berteriak dan merengek kesakitan membuat Ara yang lemah itu tidak sadarkan diri dan membuat Nathan sang suami langsung panik. "Cepattt." teriak Nathan saat istrinya sudah tidak sadarkan diri.


"Sayang bangun." ucap Nathan dengan mengusap wajah itu.


"Sayang ayo bangun, Kita bentar lagi sampe dirumah sakit, Bangun ya bangun." ucap Nathaan dengan nafas yang naik turun dengan cepat akibat panik.


Beberapa menit berlalu akhirnya mobil berhenti didepan rumah sakit. Nathan langsung turun dan membawa wanitanya berlari masuk kedalam rumah sakit tersebut. "Dokter." teriak Nathan langsung dan membuat perawat dan seluruh orang yang ada dirumah sakit memperhatikannya.


"Cepat selamatkan istri saya." teriak Nathan kembali dengan langsung para suster berhamburan mendekat dengan membawa ranjant.


Nathan langsung meletakkan wanitanya diatas ranjang tersebut dan dibawalah Ara kedalam ruangan iGD dirumah sakit tersebut. "Maaf tuan, Anda harus menunggu diluar." ucap Suster saat Nathan yang hendak masuk.


"Ya tuhan tolong selametin Ara." ucap Nathan dengan mata yang terpejam hawatir dan kaki yang bolak balik didepan ruangan tersebut.


"Nak gimana Ara?." tanya Nita yang baru saja sampai bersama dengan Andre.


Cklekkk...


"Dok, Gimana istri saya?." tanya Nathan langsung saat pintu ruangan terbuka tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Kondisi nona saat ini sedang lemah...."


"Kenapa kakinya berdarah tadi?." tanya Nathan dengan masih hawatir dan sangat hawatir.


"Itu karna nona tengah hamil, Namun...."


"Ha-hamil?." potong Nathan kembali dengan wajah bingungnya sebab tidak mengetahui hal tersebut.


"Iya tuan, Kandungan nona sudah memasuki usia enam minggu namun kandungannya lemah disebabkan nona yang terlalu kelelahan dan untungnya nona segera dibawa kesini dan janin didalam perutnya dapat diselamatkan." jelas dokter kembali tanpa adanya potongan lagi dari siapapun.

__ADS_1


"J-jadi A-Ara hamil?." tanya Nathan yang tidak percaya akan penjelasan tersebut.


"Benar sekali, Namun disarankan agar nona banyak istirahat dan tidak banyak melakukan aktivitas yang berlebihan sebab jika kelelahan akan berakibat sangat fatal." jawan dokter dengan senyumnya.


__ADS_2