The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 22


__ADS_3

"Kamu juga kalo lagi ada masalah jangan diem aja, Kasi tau kakak, Kasih kakak ngerasain masalah kamu begitupun sama kakak, Kita berbabgi cerita sama sama, Kamu bagian hidup kakak dan kakak gak mau kamu sedih sendiri" ucap Nathan dan memegang wajah istri nya.


"Jadi harus sedih berdua gitu?" tanya Ara dengan memegang tangan suami nya.


"Iya emang harus gitu, Tapi di usahain jangan sedih sedihlah karna kita udah punya keluarga kecil yang buat kita bahagia jadi gak ada tuh nama nya sedih" jawab Nathan dengan tersenyum menatap istri nya.


"Iyapun aku punya masalah gak bakal aku bilang sama kamu, You just need to be happy with me and not be sad " guman Ara dan memeluk erat tubuh suami tercinta nya.


Nathan membalas pelukan tersebut dan mengusap kepala istri nya, Dengan mata yang terpejam menikmati kenyamanan yang sudah lama tidak di rasakan oleh nya.


Keesokan pagi nya.


"Kamu hari ini nemenin Yuna sama Okta di sekolah?" tanya Nathan kepada istri nya yang sedang menggunakan sepatu.


"Iya, Kakak kerja kan hari ini?" tanya Ara kepada suami nya.


"Kalo kamu mau aku temenin aku gak jadi kerja" ucap Nathan.


"Eh gak usah, Kakak anterin kita aja abis itu biar aku yang urus semua" jawab Ara dengan tersenyum lebar dan berdiri.dari duduk nya.


"Mama Yuna udah siap sama Okta" teriak Yuna dari luar.


"Iya sayang" teriak balik Ara dan menuju ke pintu dan keluar dari kamar begitupun dengan Nathan yang juga ikut keluar dari kamar.


"Harus di pastiin dulu kalo bener bener gak ada yang berani gangguin mereka baru bisa tenang" guman Nathan dan mendekat ke arah istri nya. Nathan meletakkan perekam yang bisa terhubung dengan istri nya di dalam tas yang di bawa istri nya dan setelah itu dia kembali berpura pura biasa saja.


"Ayo kita berangkat" ajak Ara kepada anak nya dengan memegang tangan kedua nya di kedua tangan nya dengan Yuna di kanan dan Okta di kiri. Mereka naik ke dalam lift begitupun dengan Nathan dan lift membawa kedua nya ke bawah. Nathan mengenakan earphone yang terhubung ke alat yang di letakkan nya di dalam tas istri nya secara diam diam tanpa di sadari oleh istri nya.


Saat lift terbuka mereka langsung keluar. "Nenek, Kakek" sapa Yuna dan Okta secara bersamaan dan berlari ke arah nenek dan kakek nya begitupun dengan Ara dan Nathan yang mau ikut berpamitan.


"Eh cucu cucu nenek" ucap Nita dan meletakkan ponsel nya di samping nya dan mengambil Yuna sedangkan Okta di ambil oleh Andre.

__ADS_1


"Udah mau berangkat ke sekolah?" tanya Andre dengan merapikan rambut Omta yang berantakan.


"Iya kek" jawab Okta dengan tersenyum.


"Yuna mau pamit" ucap Yuna.


"Okta juga mau pamit" balas Okta. Kedua nya mencium tangan kakek dan nenek mereka secara bergantian.


"Rajin rajin sekolah nya ya sayang" ucap Nita dan mencium dahi Okta begitupun dengan Yuna tadi.


"Iya nek, Kami pamit" teriak kedua nya bersamaan dan keluar terlebih dahulu.


"Tungguin mama sama papa" teriak Ara kepada kedua anak nya yang sudah pergi iitu.


"Bunda, Ayah Ara pamit nemenin Okta sama Yuna" pamit Ara dan bersalaman kepada kedua mertua nya tersebut.


"Nathan juga pamit kerja bun, Yah" pamit Nathan pula yang bergantian setelah istri nya yang salam kepada kedua orang tua nya. Mereka berdua langsung keluar dan terlihat kedua anak mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Iya bun, Ayah berharap bakal selama nya kayak gini" jawab Andre dengan tersenyum lebar menatap istri nya.


Ara dan Nathan masuk ke dalam mobil dengan Ara yang di samping kemudi dan Nathan yang mengemudi. "Masih laper gak kalian?" tanya Ara kepada anak anak nya yang duduk di belakang.


"Udah kenyang mama" jawab kedua nya secara bersamaan. Ara tidak menjawab nya lagi sedangkan Nathan hanya diam dan langsung melajukan kemudi mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah anak anak nya.


Beberapa puluh menit akhirnya sampai. "Ayo turun" ajak Okta kepada Yuna dan turun dari mobil.


Ara melepaskan sabuk pengaman dan menyalami suami nya. "Kalo ada apa apa hubungi aku" ucap Nathan dan mencium dahi wanita nya.


"Iya" jawab Ara dengan tersenyum dan langsung turun dari mobil. Ara langsung berlalu menyusul anak anak nya tanpa menunggu mobil suami nya pergi.


Nathan yang melihat istri nya tidak berselera menunggu nya pergi pun langsung memposisikan mobil di parkiran. Nathan langsung mengambil ponsel nya untuk mengirimkan pesan kepada orang kantor.

__ADS_1


"Saya hari ini masih belum bisa ke kantor, Urus kantor dengan baik" isi pesan Nathan yang di kirimkan kepada asisten pribadi nya di kantor memang milik nya tidak ada sangkut paut nya dengan kantor ayah nya, Sedangkan kantor ayah nya di urus oleh Vino.


"Sayang hati hati jangan berlari" teriak Ara kepada anak nya yang berlari masuk ke dalam kelas. Saat smpai di depan kelas anak nya dia tidak melihat orang tua siapapun, Dia langsung mendudukkan tubuh nya di atas kursi kosong di depan kelas itu dan meletakkan tas nya di atas paha nya.


"Bu Ara" sapa salah satu orang tua murid kepada Ara.


"Iya saya?" jawab Ara saat mendengar nama nya di panggil.


"Saya pikir siapa" ucap ibu itu dn mendudukkan tubuh nya di samping Ara dan banyak lagi ibu ibu yang duduk di samping nya.


"Kami sebelum nya minta maaf atas kemarin berkata menyinggung hati anda" ucap ibu ibu itu.


"Iya bu, Kami tidak bermaksud, Kami tidak tau apa masalah yang anda alami tapi kami hanya bisa berkomentar tanpa melihat kehidupan anda, Kami memang salah sudah berkomentar miring tentang anda hanya karna satu kesalahan yang anda perbuat untuk menghilangkan banyak beban pikiran tanpa ingat kebaikan yang pernah anda lakukan" jelas salah satu ibu ibu pula.


Ara terdiam dia tidak tau ingin menjawab apa karna dia kerasa tidak pernah berbuat baik. "Yang di lakukan suami anda kemarin memang tidak lah salah, Hanya beberapa orang yang menganggap jika suami anda membela anda yang salah, Tapi setelah di telusuri lebih dalam anda memanglah banyak memiliki masalah hidup dan anda melakukan kesalahan itu karna ingin menghilangkan pikiran dari sana sekejap, Kami baru mengerti akan itu dan pantas saja banyak yang menyukai mabuk karna dengan mabuk kita bisa meluapkan segala nya meskipun sesaat" jelas ibu ibu lain pula.


"Iya bu, Apakah anda memaafkan kami?" tanya salah satu ibu lain pula.


Ara masih terdiam dan menatap ke enam ibu ibu tersebut secara bergantian. "Itu adalah hal yang sudah lalu dan tidak perlu lagi di ingat, Masalah ucapan kalian tidak masalah untuk saya, Tanpa kalian minta maaf pun saya sudah memaafkan kalian" jawab Ara dengan tersenyum lebar akibat dia memang tidak pernah menyimpan dendam dengan siapapun.


"Syukurlah jika begitu, Saya doakan anda selalu bahagia bersama keluarga kecil anda saat ini" ucap ibu ibu itu dengan tersenyum tulus mendoakan Ara dan keluarga.


"Amin, Terima kasih" jawab Ara dengan membalas senyum mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2