The Perfect Husband

The Perfect Husband
Episode 34


__ADS_3

Yuna diam dan menatap lekat wajah ayah nya yang sedang menatap nya itu. "Hey, Papa nanya loh, Ayo di jawab" ucap Nathan yang kembali meminta anak nya menjawab pertanyaan nya.


"Papa" panggil Yuna dengan wajah yang semakin murung menatap ayah nya yang berada tepat di hadapan nya.


"Em, Iya sayang kenapa?" tanya Nathan dan mendekatkan tubuh nya ke tubuh anak nya tersebut.


"Yuna mau nemenin mama di rumah, Yuna hawatir sama mama, Hikssss" anak itu langsung menangis saat mengatakan hal tersebut kepada ayah nya. Nathan langsung di buat kaget akan anak nya yang tiba tiba saja menangis itu.


"Sayang, Sayang jangan menangis" ucap Nathan dan langsung memeluk anak tercinta nya itu.


"Yuna mau nemenin mama, Kasian mama sendirian gak ada yang nemenin dia, Yuna beneran hawatir sama mama pa, Hikssss" Yuna tambah menangis di dalam pelukan ayah nya dan Nathan langsung mengeratkan pelukan nya lebih erat kepada anak nya tersebut.


"Mama tadikan nyuruh kamu sekolah, Mama juga bilang dia gapapa jadi kamu gak usah hawatir" ucap Nathan dan mengusap kepala anak nya agar sedikit bisa menenangkan nya.


"Mama selalu ngomong gitu kalo dia kenapa kenapa, Mama gak pernah mau jujur kalo dia lagi kenapa kenapa sama kayak dulu dia sedih waktu udah bertahun tahun gak ketemu sama papa, Mama bilang gapapa kayak gitu supaya Yuna gak sedih begitupun sama papa sama Okta. Yuna gak mau mama kenapa kenapa pa, Hikssss" Yuna menangis tersedu sedu di dalam pelukan ayah nya.


Penjelasan yang cukup jelas di jelaskan oleh anak nya sendiri membuat Nathan terdiam. Dia tidak pernah memikirkan apa yang di pikirkan anak nya meskipun dia selalu hawatir dengan keadaan istri nya tapi dia percaya percaya saja dengan apa yang keluar dari mulut istri nya dan tidak berpikir seperti Yuna. "Yuna gak sekolah ya pa hari ini" ucap Yuna yang berharap papa nya mengizinkan nya untuk tidak masuk sekolah hari ini.


"Pak Nathan?" sapa Yuda yang baru saja sampai bersama istri nya untuk menemani Yuna dan Okta.


"Yuna? Okta mana sayang?" tanya Inggit istri Yuda. Yuna tidak menjawab nya dan masih saja menatap lekat wajah ayah nya meminta jawaban dari ayah nya tersebut.


"Yuna sayang?" panggil Inggit yang nampak bingung akan Yuna yng tidak menjawab pertanyaan nya.


"Papa jawab pertanyaan Yuna" ucap Yuna dan menggoyangkan bahu Papa nya. Inggit dan Yuda nampak bingung saat mendengar ucapan Yuna tadi dan menatap ke arah Nathan.


"Iya iya sayang, Pak Yuda tolong katakan kepada Okta jika Yuna tidak bisa masuk sekolah hari ini" ucap Nathan dan langsung menggendong anak nya tersebut.


"Yuna kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya Inggit dengan memegang tangan yang menggelayut itu.


"Papa ayo pulang, Mama sendiri di rumah" ucap Yuna dan menggesak ayah nya untuk segera pulang.

__ADS_1


"Huh, Ayo pergi" ucap Ara yang sudah baik baik saja dan turun dari lantai tiga.


"Sayang mau kemana?" tanya Nita saat melihat menantu nya turun.


"Ara izin keluar sebentar bunda, Gapapa kan?" tanya Ara.


"Bukannya kamu lagi lemah sayang? Kok udah mau keluar?" tanya Nita dengan memegang tangan anak nya dan nampak tangan itu normal.


"Ara udah baik baik aja, Ara keluar bentar ya bunda, Ara pamit" ucap Ara yang tidak mau di tanya lebih banyak lagi oleh mertua nya apa lagi dia melihat Andre yang baru saja keluar dari kamar. Ara langsung berlalu dari rumah dan menaiki taxi, Dia memberitahukan denah kantor polisi yang di tempati mami dan papi nya.


Sekitar setengah jam dia menempuh perjalanan akhir nya mobil berhenti tepat di depan kantor polisi yang hendak di tujui nya. "Makasih pak" ucap Ara dan langsung turun dari taxi tersebut.


Ara menatap kantor polisi yang ada di hadapan nya. "Tenang Ara tenang, Ayo masuk" ucap Ara dengan membuang nafas panjang dan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kantor polisi tersebut.


"Ibu Windi" teriak polisi.


Windi yang mendengar nama nya pun langsung berdiri dari duduk nya dan mengikuti polisi keluar dari sel. "Silahkan" ucap polisi mempersilahkan Windi untuk duduk.


Windi langsung memasang tatapan datar dan menatap tajam wanita itu. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Windi dengan wajah datar nya.


"Udah lama Ara gak ke sini, Ara kangen sama papi sama mami" jawab Ara dengan senyum tulus nya menatap mertua nya tersebut.


"Kamu gak usah pura pura peduli sama kami" ketus Teo yang juga di bawa keluar oleh polisi menemui Ara karna permintaan Ara.


Senyum di wajah wanita itu langsung menghilang saat mendengar teriakan dari Teo membuat polisi semakin memperketat pengawasan. "Ara gak pura pura peduli" jawab Ara dengan menatap ayah nya tersebut.


"Dengan nyoblosin kami orang yang udah ngerawat kamu dari kecil kamu pikir kami percaya dengan kata kata kamu yang bilang kalo peduli sama kami hah? Anak haram seperti mu mana tau keperdulian" ketus Teo dengan melototkan mata nya menatap Ara.


"Papa jangan ngomong gitu, Ini emang salah kita" ucap Windi saat suami nya yang emosi.


"Enggak, Kita gak pernah salah, Kamu memang pembawa sial mulai dari orang ttua kamu sampai kamu yang emang pembawa sial di dunia ini" teriak Teo yang geram hingga membuat polisi langsung memegang tangan nya takut jika Teo menyakiti Ara.

__ADS_1


"Jaga ucapan anda" saut seseorang dari belakang. Teo dan juga Windi langsung menoleh ke arah suara dan ternyata itu Nathan tapi tidak dengan Ara yang masih menatap kedua orang yang sudah membunuh orang tua nya dan masih ia anggap sebagai orang tua nya.


"Ara minta maaf karna gak bisa ngebebasin kalian dari sini, Ara emang gak bisa ngeluarin kalian karna ini emang kesalahan kalian" ucap Ara.


"Udah aku duga, Kamu ke sini nememuin kami emang mau ngejek kami kan? Iyakan?" teriak Teo dan berusaha lepas dari pegangan polisi.


Nathan yang melihat itu langsung mendekat dan melindungi istri nya dari tatapan Teo sedangkan Windi dia hanya menjadi penonton dengan memegang tangan suami nya agar tenang. "Istri saya masih baik ingin memaafkan anda dan istri anda, Tapi anda bertindak seolah olah ini adalah istri saya" ucap Nathan dengan wajah datar dan kesal nya menatap Teo.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Ara yang baru sadar akan kehadiran suami nya.


Nathan tidak menjawab nya dan kembali melindungi istri nya dari pandangan Teo. "Kamu ngajakin suami kamu ke sini buat ngejekin kita sama sama?" tanya Teo dengan sedikit tawa nya.


"Anak pembawa sial ini berani kamu....."


"Jaga ucapan anda, Anda tidak sadar dengan apa yang sudah anda lakukan? Anda yang menghabisi mertua saya dan anda juga pernah ingin membunuh istri saya, Apakah anda..."


Plakkkk


Tangan Teo yang hendak memukul antara Nathan dan Ara dapat di tangkis oleh Ara. "Jangan berani menyentuh nya" ucap Ara.


Krekkk


"Ah" tangan wanita yang jauh lebih lemah dari lelaki membuat Teo dengan sangat mudah memutarkan tangan nya membuat wanita itu kesakitan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2