
Dengan memakai kaos oblong bergambar logo starbucks dan celana jins pendek, Aku berjalan menuju ruang tamu. mataku menyapu ke seluruh penjuru ruangan, melihat beberapa orang yang tidak Aku kenal tengah asik berbincang hangat. Aku mengernyit, saat melihat laki-laki yang wajahnya familiar itu juga ikut duduk diruang tamu.
".Nah, itu Anne," ucap Mas Eza, yang membuat semua pasang mata langsung tertuju padaku. Tanpa terkecuali Papa yang memandangku tajam dari atas kepala sampai ujung kaki. Papa sangat tidak suka melihat pakaianku yang menurut beliau kurang sopan.
".Oh, jadi ini yang namanya Anne? Cantik ya cen." Nenek Arsen --- yang duduk disebelah cucunya, memujiku secara terang-terangan. dan Arsen pun hanya mampu mengangguk seolah mengiyakan.
".Anne sayang, ayo sini gabung sama kita." Pinta Mama. Dengan berat hati, Aku bergegas mendekat dan ingin duduk disofa yang kosong. tapi seorang wanita yang terlihat lebih muda dariku mulai bangkit dan bersuara.
".Mba An, duduk disini aja. disebelah Mas Arsen. biar Vanilla yang pindah ke sofa tunggal. sedangkan sisi sebelah kanan Arsen jadi kosong mlompong.
Aku mendesah jengkel saat tatapan Papa dan Mama yang mengisyaratkan agar Aku duduk disebelah Arsen. Si Mas-mas tua!
Saat akhirnya aku duduk. entah kenapa sofa yang ditempatkan oleh tiga orang ini terasa sangat sempit. apa karna tubuh Nenek Arsen terlalu besar atau Mas-mas tua ini sengaja berhimpitan denganku? Aku berusaha menjaga jarak agar terhindar dari sentuhan Arsen.
"An, kamu ngga mau salaman dengan keluarga Arsen? Ayo, lekas salim dulu sama Neneknya Arsen." tutur Papa.
Akupun langsung mencium punggung tangan Nenek Arsen dengan sopan.
"Nah, kalau perempuan cantik itu namanya Vanilla. adiknya Arsen, umurnya hanya satu tahun dibawah kamu." ujar Papa lagi kali ini menunjuk ke perempuan cantik--yang bertukar tempat denganku tadi. Aku menoleh dan tersenyum kepada Vanilla, senyuman terpaksa.
"Dan yang terakhir..."
"stop, Pa!" Aku langsung menyela seraya mengangkat kelima jariku tinggi-tinggi.
"Aku kenal dengan Mas-mas tua ini. dia itu temannya Papa, kan?". Semua orang langsung tertawa mendengarku.
__ADS_1
"An, Arsen ini bukan teman Papa." Sambung Mas Eza. "Tapi, kemarin dia sendiri yang bilang kalo dia ini temannya Papa." Aku menatap wajah Mas Eza dengan memelas.
"Anne, panggil Arsen dengan sopan. jangan dia-dia, namanya Arsen Namara. lihat wajahnya, cakep pisan ya. Papa Arsen ini keturunan timur tengah lho, An." Mama memuji Arsen blak-blak an yang justru membuatku jengah.
"Pa, Ma, Mas, Aku bingung deh, sebenarnya ini ada apaan sih? dan siapa Mas-mas tua yang duduk disampingku ini?" Tanyaku spontan.
"Anne, Namanya Arsen. jangan panggil begitu!" tegur Mama sekali lagi.
"Mas-mas tua?" tiba-tiba Vanilla terkikik geli. "wajah Mas emang keliatan tua si." ejeknya seraya menatap Arsen sambil tertawa terpingkal-pingkal. Arsen memelototi adiknya, memberi peringatan tegas. "Hush, sembarangan aja kalo ngomong."
"Anne, ini memang lucu, ya. Nenek jadi makin suka sama Anne." Kini Nenek menatapku dengan gemas seraya membelai punggungku dari belakang.
sumpah, ini acara apaan sih! semua ini berhasil membuatku bingung dalam waktu bersamaan. buru-buru aku menjauh dari sentuhan Nenek dan bangkit berdiri.
"Kayaknya Anne mau masuk kedalam kamar aja deh. soalnya Anne lagi ga enak badan, nih." Kataku berusaha menampik pembicaraan barusan.
"What? semua mata tertuju padaku. ".Nggak perlu, Nek, Aku sehat-sehat aja kok. Mendadak udah baikan." Aku kembali mendaratkan bokongku keatas sofa. sedangkan Arsen justru tersenyum tidak karuan.
".Jadi, Ay, Arsen ini anaknya Om Yusuf. Kamu ingat kan sama teman Papa yang waktu itu pernah belikan kamu sepeda roda tiga saat umur kamu masih lima tahun?." gumam Mama di sela-sela Mbok Min datang mengantar minuman dan meletakkannya di atas meja.
Lima tahun? Aku sudah tidak ingat lagi pernah dibelikan sepeda roda tiga dengan Om yusuf. Lagi pula aku juga tidak mengenal beliau. Namanya terasa sungguh asing di telingaku.
".Udah pastilah Anne lupa, ya kan, An?
Nenek kembali menatapku. Yang kubalas dengan anggukan saja meski Aku tidak mengerti inti dari pembicaraan ini.
__ADS_1
"Om Yusuf itu sahabat karib Papa dari SMA. Tapi sayangnya, Kamu dan Arsen baru bertemu sekali saja. Itu pun waktu umur Kamu masih lima belas tahun." lanjut Papa kemudian.
".Kamu tidak ingat dengan Saya?" Arsen tiba-tiba menatapku. Ia menunjuk dirinya sendiri.
Aku langsung mengerutkan dahi, menatap wajah laki-laki di sebelahku ini dengan seksama.
"nggak." jawabku ketus.
".Coba kamu ingat-ingat dulu, An. Dulu Kamu pernah meluk Saya."
Mataku terbelalak kaget. ".Meluk Kamu?" Aku menyeringai geli.
"jangan mimpi deh, nggak mungkin Aku mau meluk laki-laki yang udah bangkotan kayak kamu."
".hush, Anne, Kamu nggak boleh bicara kaya gitu." Papa memberi teguran keras. Matanya melotot tajam. Gurat wajahnya terlihat sungkan saat menatap Arsen.
"Sudahlah, Anakku, percuma juga kamu mencoba untuk mengembalikan memori lamanya Anne. Dia pasti sudah lupa, dulu kan Anne masih kecil. Sekarang lebih baik, Bagaimana kalau kita langsung membicarakan tentang masa depan anak kamu dan cucu saya saja."
Perkataan Nenek mampu membuatku bingung. Aku menyentuh kepalaku, tiba-tiba saja menjadi sakit. Keadaan perutku kembali bergejolak menahan mual. Mungkin ini efek alkohol dari mabuk kemarin.
".Ya sudah, kalau gitu langsung aja kita tentukan tanggal pernikahan untuk Arsen dan Anne." kata Papa.
Satu kalimat dari Papa mampu membuatku berteriak histeris. nyaris saja kedua bola mataku keluar. "Apa? Pernikahan? Aku sama si mas-mas tua ini?" Kutatap Arsen dengan pandangan ngeri. Oh, Tuhan... bagaimana bisa?
***
__ADS_1
bersambung.