
"Boleh kan ma? Yuna juga gak pernah tidur di rumah mama Inggit" ucap Okta dengan sedikit memohon menggelayut di celana Ara berharap Ara akan mengizinkan Yuna pergi ke rumah Inggit bersama dengan nya.
"Okta." panggil Yuna yang langsung turun dari gendongan Nathan.
"Yuna, Kamu tidur dirumah aku aja ya?." ajak Okta dengan senyum yang mengembang saat melihat Yuna. Ara menoleh kearah suami dengan dibalas pandang oleh Nathan.
"Ra gimana?, Kamu ngizinin Yuna tidur dirumah aku sama mas Yuda?." tanya Inggit.
Ara masih belum menjawab dan kembali menatap suaminya. Nathan langsung tersenyum lebar dan melingkarkan tangannya dipinggang wanitanya tersebut. "Tergantung Yuna, Kalo dia mau boleh." jawab Nathan.
"Yuna kamu maukan?." tanya Okta kembali.
"Ma, Pa..."
"Kalo kamu mau gak masalah sayang." ucap Nathan saat anaknya menginginkan jawaban dari pertanyaan Okta.
"Yey, Makasih papa." ucap Yuna dengan senyum senangnya dengan dibalas senyum senang pula dari kedua orang tuanya.
"Yaudah ayo." Okta langsung menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
"Hey kamu belum pamit sama papa sama mama." teriak Nathan saat kedua anaknya yang sudah hendak pergi meninggalkannya dan juga istrinya tanpa berpamitan.
"Eh iya." kedua anak itu kembali kebelakang dan bersalaman kepada ayah dan ibunya.
"Nanti dirumah tante Inggit jangan nakal ya sayang." ucap Ara dengan mencium pucuk kepala anaknya.
__ADS_1
"Siap." jawab Yuna dengan semangat.
"Okta nanti jagain adiknya ya, Kalo nakal nanti jewer aja telinganya." ucap Ara dengan senyumnya kepada Okta.
"Siap ma, Bakal Okta jalanin nasehat mama." jawab Okta dengan senyumnya pula.
"Yaudah ma kita pergi." pamit Yuna yang langsung berlari membawa Okta meninggalkan tempat itu dengan Inggit yang sudah berada didalam lift bersama suaminya.
"Hati hati jangan lari lari nanti jatuh." teriak Ara saar Yuna dan Okta yang bergegas masuk kedalam lift.
"Dada mama, Papa." ucap Okta dan Yuna bersamaan sambil melambaikan tangan mereka kepada Ara. Lambaian tersebut dibalas oleh Ara dan juga Nathan hingga lift tertutup keduanya masih berada diluar kamar.
Ara membalikkan tubuhnya. "Astaga, Kakak." teriak Ara saat kaget akan suaminya yang masih ada dibelakangnya.
"Em, Kenapa?." tanya Nathan dengan senyum senangnya.
"Kakak ngapain ikutin Ara." ucap Ara saat Nathan yang terus saja membuntutinya.
"Kamukan tadi bilang kalo pengen anak harus usaha." ucap Nathan dengan melingkarkan kedua tangannya dipinggang kecil wanita itu.
"Jadi?." tanya Ara dengan wajah polosnya.
"Jadi kita harus mulai usaha supaya bisa ngasih Yuna sama Okta adik." balas Nathan dengan senyum bahagianya.
"Em." Ara mengalihkan pandangnya saat Nathan yang sama sekali tidak bereaksi apapun dengan memperlihatkan leher putihnya berharap Nathan mengerti akan kode kecil itu.
__ADS_1
"Hem." Nathan tersenyum kecil dan memberikan ciuman dileher putih tersebut.
Malam harinya.
"Hah." Ara membuang nafas panjang dan menyandarkan kepalanya dibahu lebar sang suami.
"Capek?." tanya Nathan dengan mengusp lembut kepala wanitanya tersebut.
"Em." jawab Ara dengan memainkan pusar suaminya yang berada dibalik selimut.
"Kamu masih mau hamil sayang?." tanya Nathan dengan mengusap lembut kepala itu.
"Jelas aja iya, Kalo enggak ngapain ngelakuin gituan tadi." balas Ara dengan wajah kesalnya.
"Syukur deh kalo kamu masih mau, Kakak takutnya nanti kamu udah gak mau hamil atau belum siap, Tapi kalo emang belum siap hamil lagi kakak juga gak masalah, Yang hamilkan kamu bukan kakak." jelas Nathan dengan tangan yang terus memainkan rambut dan punggung istrinya.
Ara langsung mengangkat pandangnya dan menatap tajam suaminya tersebut. "Kenapa?." tanya Nathan.
"Kenapa kakak bisa ngomong gitu?" tanya Ara dengan wajah bingungnya.
"Gapapa, Cuma kalo kamu emang belum siap hamil lagi gak masalah bilang sama kakak, Kakak juga gak bakal maksa punya anak lagi." jawab Nathan dengan senyumnya.
Ara kembali menundukkan kepalanya dan menyandakan kembali kepalanya didada suaminya tersebut. "Enggak, Ara siap kok hamil lagi, Ara malah takut kakak yang gak siap punya anak lagi dari Ara." balas Ara.
"Kakak jelas aja siap, Waktu kamu hamilin Yuna kakak gak bisa jagain kamu, Kakak juga gak bisa disisi kamu makanya kakak mau banget kamu hamil lagi supaya kakak bisa ngerasain jadi suami ngejagain istrinya waktu lagi hamil." ucap Nathan dengan senyumnya.
__ADS_1
"Mungkin hamil kedua nantinya gak separah hamil pertama, Gak tau nanti kalo anak kamu minta nya yang macem macem." ucap Ara dengan senyumnya menatap suaminya tersebut.
"Emang waktu ngehamilin Yuna ngidam apa aja?, Kamu nyusahin Roky apa aja?." tanya Nathan yang masih belum mengetahui cerita kehidupan istrinya saat hamil.