TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Pertaruhan


__ADS_3

Setelah berhasil menyelamatkan Raya dari kematian, Divio menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.


"Plis Ray, jangan bertindak bodoh."


Sebelumnya, Divio yang disuruh membeli sesuatu ke supermarket oleh Mamahnya, tanpa sengaja melihat Raya yang sedang berdiri termenung dipinggir jembatan. Firasatnya tidak enak.


Ia pun menghentikan mobilnya dan memperhatikan Raya dari jarak 5 meter.


"Mau ngapain dia?"


Dan benar saja. Tak berselang lama, gadis itu menaiki pagar jembatan. Tanpa basa-basi Divio langsung keluar dari mobilnya.


Setelah Divio berkata seperti itu, mata Raya mendadak berkaca-kaca. Ia pun pergi sebelum Divio melihat airmatanya.


Namun Divio berhasil mencegah kepergian Raya. Ia meraih lengan Gadis itu dan memegangnya kuat-kuat.


Raya meronta. Berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Divio. Sayangnya tenaga Divio jauh lebih besar.


Sementara Divio terus menatap Raya yang tampak sangat putus asa. "Gue mohon Ray..


Gue gak pengen lagi ada orang bego yang ngorbanin hidupnya cuma gara-gara cinta."


Kali ini Raya gagal menahan laju airmatanya. Terlebih ketika mendengar ucapan Divio. Meski begitu ia masih berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Divio. Namun sia-sia..


Akhirnya Raya menyerah. Ia menunduk dan menangis menyakitkan.


Divio pun melunak. Tanpa menunggu lama, ia menarik Raya kedalam pelukannya.


**


(Rumah sakit Kasih ibu)


Malam itu, Aby dibuat heran oleh Keyla yang banyak melamun dan tampak murung. Bahkan ia yang saat itu tengah menyuapi Aby, seolah tidak menyadari dering handphonenya yang berbunyi sejak tadi.


"Key.." Panggilan Aby membuyarkan lamunannya.


"Hmm?" Keyla menyahut. Wajahnya seperti orang linglung.


"Itu handphone loe bunyi."


Keyla menatap handphonenya yang terletak diatas nakas. Telfon dari Hugo. Malas ia mengangkatnya.


"Kok gak diangkat?" Aby heran.


"Males."


"Kenapa? Loe lagi punya masalah sama dia?"


Sambil mengaduk-aduk makanan Aby, Keyla tersenyum miris. Bahkan sejurus kemudian, airmatanya meleleh.


Aby auto khawatir. "Key loe kenapa?"


Keyla buru-buru menyeka airmatanya. Tak ingin Aby men-judge nya sebagai wanita cengeng. Padahal memang Iyah.


"Ternyata dia gak beneran suka sama gue."


"Maksud loe?" Aby tidak mengerti.


Keyla pun menjelaskan perihal foto yang dikirim Fathan, dan kebohongan Hugo kemarin malam.


Membuat Keyla tidak percaya lagi pada Hugo sekaligus merasa dipermainkan oleh pemuda itu.


"Untuk kedua kalinya. Gue dilukain sama cowok." Keyla menatap Aby nanar. "Apa gue emang gak pantes dicintai Bi?"


Aby menghela nafas panjang. Andai saja Keyla tahu, bahwa ada seseorang yang mencintainya dengan tulus dan rela mengorbankan seluruh hidupnya demi wanita itu. Dan orang itu adalah dirinya.


"Loe gak tahu Key? Ada seorang cowok yang sangat mencintai loe dan rela ngelakuin apa aja demi kebahagiaan loe."


Kening Keyla berkerut. "Siapa?"


"Om Gunawan."


Wajah Keyla langsung datar. Bahkan tangannya refleks memukul bahu Aby. "Ya iyalah.. Dia kan bokap gue."


Aby tertawa kecil. Entah kenapa kata hati dan mulutnya selalu bertentangan. Ia yang sudah menyukai Keyla selama bertahun-tahun tidak pernah menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Karena itu ia selalu kalah oleh orang baru.


"Mending jadi loe Bi.. Hidup loe adem ayem. Gak pernah terluka karena cinta." Kata Keyla kemudian.


Aby tersenyum tipis. "Kata siapa?"


"Kata gue. Tapi emang bener kan? Selama ini loe jomblo dan hidup tentram tanpa harus galau karena seseorang."


Duh Keyla.. Keyla.. Betapa bodohnya dia.


"Loe gak tahu? Udah bertahun-tahun gue naksir sama seorang cewek." Ungkap Aby.


Keyla cukup terkejut dengan fakta tersebut. "Loe serius? Terus kenapa loe gak ngungkapin perasaan loe sama dia?"


Aby menunduk dan berkata pahit. "Karena gue gak berani. Gue takut dia nolak, dan akan berimbas sama pertemanan yang udah kita bangun selama bertahun-tahun. Karena itu gue memilih diam dan memendam perasaan gue, demi kebaikan."


Keyla manggut-manggut. Dia benar-benar tidak sadar jika Aby tengah membicarakan dirinya.


"Oh jadi cewek itu temen loe? Terus dia gak sadar kalau dia suka sama loe?"


"Nggak. Karena dia cewek paling bego dan paling gak peka sealam dunia."


Keyla penasaran. "Siapa sih dia? Apa gue kenal?


Kalaupun gak kenal, gue siap jadi Mak comblang kalian. Asal loe kasih tahu gue siapa cewek itu."


"Loe pengen tahu?"


"Banget."


Tanpa diduga Aby menarik Keyla hingga jarak keduanya begitu dekat. Bahkan Keyla bisa merasakan hangatnya nafas Aby yang berdesir mengenai wajahnya. Merekapun saling bertatap lekat untuk beberapa lama.


"Loe.. Cewek itu adalah loe.. Keyla Maheswari." Kali ini Aby benar-benar mengatakan isi hatinya. Tanpa ragu dan sangat jelas.


Deg! Keyla tertegun. Sumpah demi apa perempuan itu adalah dirinya?


"Lo.. loe serius?" Tanya Keyla, tak menyangka setengah mati.


Aby mengangguk tegas sambil masih menatap wajah Keyla dengan lekat.


"Beneran gue?" Keyla masih sulit menerima kenyataan itu.


Aby terdiam. Sebelum kemudian ia tersenyum jahil dan berseru. "Tapi bo'ong hahahahaha." Ia tertawa puas. Kampret!


Keyla gondok dan langsung memukul pahanya.


"Ih! Rese banget sih loe!"


"Hahahaha.. Loe beneran nyangka Kalau gue suka sama loe?"

__ADS_1


"Au ah gelap!" Keyla yang merasa dipermainkan langsung pergi dengan perasaan kesal bercampur emosi.


"Key loe mau kemana?" Teriak Aby yang memang ngeselin setengah mati.


Namun Keyla terlanjur kesal dan tetap pergi tanpa menjawab ucapan Aby. Duh.. Aby.. Aby..


**


Dibalik pagar jembatan, Raya dan Divio berdiri berdampingan. Keduanya menatap ke bawah, ke arah aliran sungai yang airnya tampak jernih.


"Loe tahu Ray? Gue seneng banget bisa mencegah perbuatan nekat loe tadi."


Tidak ada jawaban. Raya masih terdiam dengan posisi yang sama.


"Sayangnya gue gak bisa ngelakuin hal yang sama terhadap Kakak gue."


Barulah kali ini Raya menatap Divio. "Maksud loe?"


Divio menghela nafas berat. Kali ini tatapannya tertuju pada langit malam yang bertabur bintang.


"Cinta udah bikin Kakak gue jadi orang bego.


Saking cintanya kakak gue sama cowoknya yang udah meninggal, dia rela ngikutin jejak cowoknya dengan cara gantung diri di kamar.


Makanya saat gue tahu cowok loe baru meninggal dan loe mendadak jadi cewek introvert, gue jadi takut.


Takut loe bakal ngelakuin hal yang serupa sama almarhumah Kakak gue."


Raya cukup kaget mendengar penjelasan Divio tentang Kakaknya. Namun ia tidak mengucapkan apa-apa. Karena sejujurnya ia juga bingung harus berkata apa.


"Gue tahu, loe terpukul atas kematian cowok loe. Tapi b*tch please! Gak seharusnya loe nyiksa diri loe sendiri. Karena dengan loe bersikap kaya gitu pun gak akan bikin dia hidup lagi."


"Loe salah." Ucap Raya, akhirnya.


"Maksud loe?"


**


Pagi hari..


Tid! Tid! Terdengar suara klakson mobil yang nyaring. Keyla menuruni tangga rumahnya dengan buru-buru. "Siapa sih pagi-pagi? Kamvret banget."


Saat Keyla keluar, tampak Raya yang sedang berdiri disamping mobilnya sambil melempar senyum manis.


"Pagi kutil.."


"Dih gue kirain siapa."


"Buruan masuk. Ntar kita telat lagi kaya waktu itu.


Males gue kalau harus berhadapan sama si kumis (Pak Bambang)." Raya langsung memasuki mobilnya.


Sementara Keyla yang heran dengan sikap Raya yang seolah kembali menjadi Raya yang dulu, langsung menatap Meisya yang duduk di jok belakang.


"Kenapa dia?" Tanyanya tanpa suara.


Meisya mengangkat bahu. Demi Tuhan dia juga dibuat bingung sejak tadi.


"Buruan kutil!"


"Eh, Iyah Iyah.."


Sepanjang perjalanan..


"Eh girls, udah lama kita gak nongki.


Keyla dan Meisya saling menatap heran melalui kaca. Si Raya kesambet apa bagaimana?


"Heh kutil! Kebo! Kalian lagi puasa ngomong? Gue lagi nanya nih bukan lagi pidato."


"Loe sakit Ray?" Keyla memeriksa kening Raya untuk memastikan. Normal kok tidak panas.


Raya sendiri buru-buru menyingkirkan tangan Keyla dari keningnya. "Apaan sih loe? Gue sehat wal Afiat."


"Terus kenapa-"


"Duh udah deh! Bawel." Raya langsung memutar musik dan meninggikan volumenya. Sesekali ia ikut bernyanyi.


Keyla dan Meisya semakin bingung dibuatnya.


Tapi mereka juga bersyukur karena Raya kembali menjadi dirinya yang dulu. Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa secepat itu ia berubah? Apa penyebabnya?


Setibanya Trio somvlak di kelas.


Raya seakan terkejut melihat keberadaan Divio yang duduk di sebelah bangkunya. "Loe? Loe cowok yang nabrak mobil gue waktu itu kan?"


Meisya menaikkan sebelah alisnya. Sementara Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Drama macam apa ini?


Divio sendiri bangkit dari duduknya. "Iyah! Kenapa? Kaget? Atau Jangan-jangan loe seneng ngelihat keberadaan gue?"


"Idih pede! Tapi bagus deh.. Gue jadi bisa balas dendam dan gak perlu repot-repot nyari loe."


Divio hanya tersenyum sinis. Apakah dia mempunyai kemampuan menghapus memori otak?


Tiba-tiba Meisya mendapat telfon dari Mamahnya. Begitupun dengan Keyla yang mendadak kebelet boker dan langsung ngacir ke toilet.


Tersisalah Raya dan Divio di kelas itu.


Tanpa diduga Divio tersenyum. Ia pun mengingat kejadian tadi malam.


( "Loe salah."


"Maksud loe?"


"Gue ngelakuin hal nekat kaya tadi bukan karena gue mau ngikutin jejak Randy saking cintanya.


Tapi justru karena gue kecewa, ternyata selama ini dia udah begoin gue." Raya pun menceritakan semuanya pada Divio.


"Sekarang loe ngerti kan perasaan gue? Sakit yang gue rasain tuh double. Udah sakit kehilangan dia, ditambah sakit atas pengkhianatan yang dia lakuin terhadap gue. Belum lagi gue juga punya masalah keluarga yang nggak bisa gue ceritain.


Rasanya beneran kaya dibunuh berulang kali."


"Karena itu loe gak seharusnya ngelakuin hal nekat kaya tadi. Harusnya loe tunjukkin sama dia, kalau loe bisa hidup lebih baik tanpa dia yang udah ngekhianatin loe. Dan tentang masalah keluarga loe. Meskipun gue gak tahu apa masalahnya, tapi percayalah. Setiap masalah selalu ada jalan keluarnya."


Raya menatap Divio dan mempertimbangkan ucapannya.


"Gini deh.. Loe gue tantang.


Kalau loe mau balas dendam sama Randy, loe harus bersikap seperti Raya yang dulu di depan semua orang. Itu loh, Raya yang galak, cerewet, dan banyak omong. Dan kalau sebaliknya, bersikaplah seperti Raya yang sekarang. Tapi itu gue anggap sebagai bentuk penolakan loe buat lupain Randy yang udah ngekhianatin loe.")


Dan ternyata, Raya menyanggupi tantangan Divio dengan menjadi dirinya yang dulu dan menganggap tidak pernah mengenal Randy selama hidupnya.

__ADS_1


"Sampai ketemu di perdebatan kita selanjutnya." Ucap Divio. Raya tersenyum simpul.


--


Di halaman sekolah, terlihat Regy yang sedang duduk di sebuah bangku panjang sambil meng-scroll social medianya.


Tidak lama kemudian, seseorang duduk di bangku yang berada di belakangnya. Posisi meraka saling membelakangi.


"Halo Go? Loe dimana?" Tanya Lukas kepada Hugo melalui telefon.


'Ini gue di kelas baru dateng.'


"Buruan ke halaman sekolah sekarang."


Beberapa menit kemudian, Regy mendapat pesan WhatsApp dari ibunya yang ingin tahu sekolah Regy. Regy tersenyum dan membalas akan segera mengirim video suasana di sekolahannya.


Disaat yang sama , Hugo datang sambil ngomel-ngomel. "Anjing emang si Keyla..


Jauh-jauh gue dateng ke rumahnya buat jemput dia, gak tahunya dia udah berangkat sama temen-temennya..


Kalau gak inget sama taruhan yang kita buat, gue bener-bener males deketin dia."


Lukas tersenyum tipis lalu meneguk sekaleng kopi. "Ini hari terakhir yah..


Kalau sampai loe gak bisa jadiin Keyla cewek loe, Ferrari yang gue janjiin bakal hangus."


"Loe tenang aja. Istirahat nanti gue bakal minta kepastian dia. Dan gue yakin dia bakal nerima perasaan gue."


Waw.. Sebuah fakta yang mengejutkan.


**


Bel masuk berbunyi.


Saat Raya tiba, Keyla dan Meisya langsung memperhatikan gerak-geriknya. Mereka masih dibuat penasaran oleh sikap Raya.


Gadis itu sendiri pergi ke tempatnya. Lalu pada Divio, ia berkata sengit. "Apa loe lihat-lihat?"


"Idih, pede!"


"Pergi sana! Gak sudi gue duduk sama loe."


"Loe yang pergi! Ini kan tempat gue."


"Lawak! Sebelum loe pindah, gue udah lebih dulu duduk disini."


"Tapi kan beberapa hari yang lalu loe sempet pindah. Jadi meja ini mutlak milik gue."


"Permisi.." Meisya menyela, hendak bertanya sesuatu.


Keduanya kompak menoleh.


"APA?" . "APA?"


"Gak jadi deh."


**


Meisya yang sedang lahap-lahapnya menikmati bakmi Pak Joni terpaksa berhenti saat Rangga tiba-tiba mendekatinya.


"Kak Mei, bisa ikut aku bentar nggak? Ada yang pengen aku omongin."


Mau tak mau, Meisya mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki Rangga.


Sementara Raya heran. "Siapa tuh Cowok?"


"Entah, gue juga baru lihat."


Tidak lama kemudian, Keyla juga mendapat pesan WhatsApp dari Hugo.


(Key, nanti kalau udah selesai makan, temuin Kakak di rooftop yah)


Keyla menghela nafas. Mengelap mulut dengan tissuenya, lalu bangkit berdiri.


Raya heran. "Loe mau kemana?"


"Gue ada urusan."


Melihat kedua sahabatnya pergi, Raya menggerutu. "Gue sendirian dong."


Tiba-tiba Divio datang sambil membawa semangkuk mie ayam dan segelas jus jeruk.


Ia duduk di hadapan Raya.


Gadis itu auto menatapnya. Divio mencari alasan.


"Gak ada lagi kursi yang kosong. Jadi gak papa kan gue duduk disini?"


"Gak boleh! Loe musti bayar!" Canda Raya.


"Ntar gue bayar pake bulu ketek."


"Dih jorok!"


Di belakang kelas, Rangga dan Meisya berdiri berhadapan.


"Ada apa?" Meisya penasaran.


Rangga pun mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah video. Video bergambar bangunan sekolah mereka yang tampak dari depan. Tidak ada yang aneh dengan video tersebut. Kecuali suara dua orang lelaki yang terekam dalam video tersebut.


("Anjing emang si Keyla..


Jauh-jauh gue dateng ke rumahnya buat jemput dia, gak tahunya dia udah berangkat sama temen-temennya..


Kalau gak inget sama taruhan yang kita buat, gue bener-bener males deketin dia."


"Ini hari terakhir yah..


Kalau sampai loe gak bisa jadiin Keyla cewek loe, Ferrari yang gue janjiin bakal hangus."


"Loe tenang aja. Istirahat nanti gue bakal minta kepastian dia. Dan gue yakin dia bakal nerima perasaan gue." )


Meisya auto shock mendengarnya. Ia sudah bisa menebak. "Ini si Hugo? Sama siapa?"


"Sahabat dia siapa?"


"Astagfirullah.. Si Lukas?"


Rangga mengangguk. Padahal ia sama sekali tidak tahu tentang dua pemuda tersebut. Karena memang rekaman video itu ia curi dari Regy.


"Gila sih.. Keyla harus tahu hal ini.


Kirim Ga!" Meisya buru-buru mengeluarkan handphonenya.

__ADS_1


Rangga mengerti dan langsung mengirim video tersebut ke WhatsApp Meisya. Ia harap upayanya mengambil hati Meisya bisa berhasil dengan cara ini.


-Bersambung-


__ADS_2