
Setelah memarkirkan mobilnya, Raya langsung turun dan berjalan menyusuri halaman panti sambil menjinjing bingkisan. Ia berniat menjenguk Bude Divio malam itu.
Raya mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan sesosok Alifa yang masih setia dengan kursi rodanya.
"KAK RAYA!" Seru Alifa, girang sekaligus tidak menyangka akan kedatangan Raya. Ia memastikan. "Kakak ini Kak Raya kan?"
Raya tersenyum. Menyesuaikan posisinya, lalu membelai rambut Alifa. "Iya Sayang. Ini Kak Raya."
Alifa terlihat bahagia. "Alifa kangen banget sama Kak Raya. Kenapa Kakak baru kesini lagi?"
Raya meminta maaf. Ia beralasan sibuk dan tidak punya waktu untuk berkunjung kesana. "Ngomong-ngomong, Bude ada kan?"
Alifa tertunduk sedih. "Bu'de masuk rumah sakit. Kemarin malam, penyakit darah tingginya kambuh lagi."
Raya terkejut mendengarnya. "Ya Allah.. Terus yang jagain kamu dan anak-anak panti disini, siapa?"
Alifa menggeleng sedih. "Gak ada. Kami juga belum makan dari pagi."
Raya menghela nafas. Prihatin mendengarnya. "Yaudah, selama Bu'De di Rumah sakit, Kakak yang akan jagain kalian. "
Alifa antusias. "Kakak serius?"
"Iyah. Tunggu sebentar yah, Kakak mau beli makan buat kalian. Untuk sementara, kalian makan ini dulu." Raya menyerahkan bingkisan berisi makanan ringan dan buah-buahan.
Alifa tersenyum dan mengangguk.
***
Pagi-pagi, Meisya mendapat pesan WhatsApp dari Rizvan yang mengajaknya jogging di taman kota.
Meisya terdiam. Ia merasa Dejavu , teringat akan Regy yang juga pernah mengajaknya jogging dulu. Saat itu ia berjanji akan datang, namun harus ingkar karena lebih memilih pergi bersama Rangga.
(Gimana Sya?) Rizvan meminta kepastian.
Fiuhhhhhh.. Meisya menghela nafas dan akhirnya membalas. (Oke).
Rizvan yang rupanya sudah berada di taman kota, tersenyum begitu mendapat pesan balasan dari Meisya. Ia menyandarkan punggungnya sambil tak berhenti nyengir. Haaah.. Entah kenapa, dia begitu bahagia bisa dipertemukan lagi dengan Meisya. Meisya yang kini begitu cantik dan membuatnya sangat terpesona.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Rizvan. Rizvan yang menyangka jika itu adalah Meisya, langsung tersenyum dan berbalik.
"Bener. Kirain aku salah orang."
Rizvan terbelalak. Bagaimana ceritanya adik sepupunya tiba-tiba ada disana? "Ra.. Rangga?"
Rangga berjalan ke depan dan duduk di samping Rizvan. Wajah Rizvan auto pucat.
"Abang lagi ngapain?" Rangga membuka botol minumnya dan langsung meneguk air yang ada di dalamnya. Sepertinya ia pun habis jogging.
Gugup, Rizvan menjawab. "A.. Abang lagi nungguin seseorang. "
"Oh."
Rizvan membuang muka, menyembunyikan ekspresi paniknya yang tidak main-main. Bagaimana jika Rangga tahu bahwa dia kembali dekat dengan Meisya?
"Ngomong - ngomong, besok tepat satu tahun kepergiannya Kak Diana kan?" Tanya Rangga.
Ya. Diana sudah meninggal akibat kecelakaan, setahun yang lalu. Dan itulah salah satu alasan Rizvan mulai mendekati Meisya. Agar ia bisa melupakan sosok Diana di hatinya.
Mendengar pertanyaan Rangga, Rizvan menunduk dan mengangguk pelan. Saat teringat Gadis itu, dadanya langsung sesak.
Menyadari kesedihan yang tergambar jelas di wajah Rizvan, Rangga langsung merangkulnya.
"Abang belum bisa move on yah?"
"Masih dalam proses." Rizvan menatap Rangga. "Kamu sendiri? Udah bisa move on belum dari Meisya?"
Rangga tersenyum kecut dan menjawab hal yang sama. Sama seperti Regy, ia juga tidak bisa menghapus bayangan Meisya dari hati dan pikirannya.
Tring! Handphone Rizvan berbunyi pertanda masuknya sebuah notifikasi. Pesan WhatsApp dari Meisya.
(Van, Maaf banget. Aku nggak bisa kesana. Soalnya aku disuruh Mamah bantuin masak.
Maaf yah)
Rizvan mendesah pelan. Antara lega dan kesal, ia membalas: Gapapa Mei.
***
Di halaman rumahnya, Keyla tengah menjaga Calief yang sedang asyik bermain. Hingga beberapa menit kemudian, Keyla mendapat pesan yang membuat perhatiannya langsung teralih pada handphone yang ia letakkan di sampingnya.
WhatsApp dari Vino : Key, lagi free gak? Aku ke rumah kamu yah sekarang.
Keyla menggigit bibir bawahnya, pertanda ia sedang bimbang. Baru saja hendak membalas, muncul lagi pesan dari sebuah kontak yang ia beri nama Devon.
(Morning beauty, Kita jadi jalan kan sekarang? Aku ke rumah kamu yah?)
Mata Keyla langsung membulat. Demi saus tar-tar, ia auto panik. Bagaimana jika kedua cowok itu datang bersamaan?
Keyla pun membalas pesan Devon terlebih dahulu. (Jadi Von, kamu langsung ke rumah aja.)
Selanjutnya, ia membalas pesan Vino: Duh Vin, aku ada urusan. Next time aja yah.
Beberapa detik kemudian, Vino membalas. (Owh oke)
Fiuhhhhh.. Keyla menghela nafas lega. Untung ia bisa mencegah kedatangan Vino. Kalau tidak, bisa-bisa akan terjadi perang dunia Ketiga.
Keyla meletakkan kembali handphonenya, lalu menegakkan kepala. Mampus! Calief tidak ada!
"Nahloh. Calief kemana?" Keyla bangkit dan langsung mencari adiknya yang menghilang entah kemana.
Dengan perasaan khawatir yang teramat sangat, Keyla berseru, memanggil nama adiknya. "CALIEF! KAMU DIMANA DEK?"
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala sudut, berharap matanya segera menangkap sosok Calief. Namun ia tidak urung menemukan adiknya.
"CALIEF! KAMU DIMANA SIH?"
Keyla mulai putus asa dan bahkan berpikir yang tidak-tidak . "Duh Ya Allah.. Jangan-jangan dia diculik."
Tiba-tiba Calief muncul dari balik tembok luar sambil memegang sebuah lolipop. Keyla menghela nafas lega dan langsung berlari ke arahnya. Ia berlutut di hadapan Calief.
"Adek! Kamu darimana aja sih?"
"Gnggnggngngng." Celoteh Calief seraya menyuruh Keyla membukakan lolipop nya.
Keyla menatap lolipop itu dengan heran. "Permen dari siapa itu?"
"Tjuh.. Tjuh." Dengan gemas, Calief menunjuk ke satu arah. Keyla mengikuti arah telunjuk Calief.
Betapa dirinya shock saat melihat sesosok Aby yang sedang berdiri sambil menyembunyikan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Ia melempar senyum semanis madu.
Keyla bangkit perlahan. Rasanya seperti mimpi.
Aby pun melangkah, menghampiri keduanya. "Jadi baby sitter tuh yang bener. Jangan sibuk sama handphone! Adiknya di gondol kucing baru tahu rasa loh." Celetuk Aby, menyamakan Calief dengan ikan asin. Ya kali digondol kucing. Ada-ada saja!
Keyla sendiri membeku. Ia benar-benar tidak percaya akan bertemu lagi dengan Aby. Aby yang sejujurnya sangat ia rindukan.
Aby menyesuaikan posisinya dengan Calief. "Iya nggak dek? Tampol aja Kakaknya. Eh, banting handphonenya sekalian. Biar dia fokus jagain kamu."
Berbeda dengan saat Romeo yang mengajaknya beberapa hari lalu, Calief justeru tidak takut dan malah tampak menyukai Aby. Buktinya setelah Aby berkata seperti itu, Calief tersenyum padanya.
Membuat Aby gemas dan langsung mencubit pelan pipinya. "Ululuh.. Anak Om Gunawan yang satu ini gemoy banget. Sini Kakak bukain lolipop nya."
Baru saja Aby hendak mengambil lolipop tersebut dari tangan Calief, Keyla langsung merebutnya dengan kasar. Kemudian mengembalikan lolipop itu pada Aby.
Tanpa berkata apa-apa, Keyla menggendong Calief dan mengajaknya masuk. Ia takut jantungnya meledak bila melihat Aby lebih lama lagi.
Aby pun menatap kepergian Keyla. Sesaat wajahnya datar. Sebelum kemudian bibirnya menyunggingkan senyum begitu manis. "Si ayang makin cantik aja. Jadi makin jatuh cinta."
Awwww! Meleleh aku meleleh..
Ketika Aby berbalik dan hendak pulang, tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengendarai moge berwarna hitam. Pria itu kemudian melepaskan helmnya. Menstandarkan motor, dan langsung turun.
__ADS_1
Aby menatapnya tanpa berkedip. Siapa nih cowok? Saingannya kah?
"Siapa loe?" Tanya pemuda itu, sengit. Dialah Devon.
"Loe siapa?" Aby balik bertanya.
"Kok loe malah balik nanya?"
"Lo sendiri kenapa banyak tanya?"
Devon membuang muka dan tersenyum sinis. Masih pagi sudah ada yang cari gara-gara!
"Gue Devon, cowoknya Keyla!" Akunya, dusta.
Aby termangu. Lalu tanpa diduga ia tersenyum dan membalas ucapan Devon. "Gue Abi. Selingkuhannya."
"BOHONG!" Teriak Keyla, yang sedari tadi memerhatikan mereka dari depan pintu. Ia pun mendekati kedua pemuda yang sedang adu mulut tersebut.
Dengan tajam, Keyla menatap Aby. "Plis deh! Jangan ngaku-ngaku!"
"Dia sendiri ngaku-ngaku gak? Katanya dia cowok loe." Ucap Aby, tidak gentar.
Keyla menatap Devon yang seketika menunduk, menyembunyikan rasa malunya. Alih-alih mengelak, Keyla justeru membenarkan.
"Iyah. Dia emang Cowok gue kok."
"Oh!" Jawab Aby, singkat.
Lain halnya dengan Devon yang seolah mendapat lampu hijau. "Yaudah yuk sayang, kita jalan sekarang."
Keyla memaksa senyum sambil menganggukkan kepala. Merekapun menaiki motor Devon. Lalu dengan sengaja, Keyla memeluk pinggang Devon dengan erat, seolah ingin memanas-manasi Aby.
Setelah keduanya melesat, Aby tersenyum tipis.
"Loe pikir gue percaya kalau dia cowok loe? Loe gak bakal bisa bohongin gue Key."
***
Pukul 7 pagi, Keyla terbangun dari tidurnya. Ia duduk lalu termenung. Termenung memikirkan mimpi yang ia alami semalam.
Di mimpinya tersebut, Aby tiba-tiba menyatakan cintanya. Cinta yang katanya telah lama ia pendam. Keyla yang sejujurnya merasakan hal yang sama, tanpa pikir panjang langsung menerima perasaan Aby. Merekapun berpelukan, dan sudah hampir menyatukan bibir jika saja dering alarm di handphone Keyla tidak berbunyi.
Menyebalkan bukan?
Keyla menghela nafas panjang dan langsung menyibak selimutnya. 'Sadar Keyla! Loe harus bisa move on dari Aby! Tapi gimana gue bisa move on kalau dia datang lagi di kehidupan gue?' batin Keyla, kemudian berteriak frustasi.
Saat Gadis itu menuruni tangga rumahnya, ia terkejut ketika melihat Aby yang sedang asyik bermain dan bercanda dengan Calief.
Keyla langsung menghampiri mereka. "Ngapain loe disini?" Tanyanya pada Aby, dengan ketus.
"Maen layangan."
"Gak lucu! Jawab yang bener!"
Aby memangku Calief. "Kelihatannya lagi ngapain?"
Keyla mendengus kesal. "Pulang sana! Biar gue yang jagain Calief."
"Haha! Mana mau Calief dijagain sama orang yang belum mandi. BAU!"
Plok! Keyla memukul bahu Aby. Kebiasaan Keyla yang terkadang Aby rindukan ketika ia masih di Singapore.
"Rese banget sih loe!" Sungut Keyla, kesal.
"Bodo.. wle." Aby mengolok Keyla.
Mendadak Mamah Keyla muncul. "Abi, kalau misalnya.. Eh, incess Mamah udah bangun."
Aby tersenyum geli mendengar sebutan Mamah Keyla untuk putrinya. Sementara Keyla menatap Mamahnya dengan gusar.
"Mamah ngapain sih nitipin Calief sama dia?"
"Loh memangnya kenapa?"
"Kamu kan masih tidur tadi."
Keyla mangap dan sudah siap menjawab. Tapi tiba-tiba otaknya blank dan bingung harus berkata apa. Akhirnya Keyla diam. Membuat Aby tertawa kecil saat melihat ekspresi wajahnya yang polos.
"Yaudah, Tante ke dapur lagi yah? Lagi bikin kue Soalnya."
Aby tersenyum. "Iya Tante."
Setelah Mamah Keyla berlalu, Keyla juga berniat kembali ke kamarnya. Namun seruan Aby membuat langkahnya tertahan.
"Anjir! Gue diompolin."
Keyla berbalik dan langsung tertawa puas. "HAHAHA."
****
Sambil menatap bintang malam, Raya dan Alifa duduk bersama di teras panti. Sementara anak-anak yang lain berpencar. Ada yang sedang main di halaman, ada yang sedang berbincang di dalam, ada pula yang sudah tidur sejak sore.
"Bintangnya indah ya Kak." Ucap Alifa, terkesima.
Raya tersenyum sambil mengelus rambutnya. "Iyah."
Alifa tiba-tiba teringat akan seseorang. Divio. Sudah lama mereka tidak berjumpa meskipun hanya sekedar lewat video call.
Alifa menatap Raya. "Kak, Alifa boleh minta video call nggak sama Kak Vio?"
Ucapan Alifa membuat Raya mematung seketika. Kalau harus jujur, sebenarnya Raya juga penasaran. Divio tinggal dimana sekarang?
"Boleh ya Kak? Alifa bener-bener kangen sama Kak Vio. Ya, meskipun Kak Vio mungkin nggak akan bisa ngelihat Alifa, tapi Alifa tetep pengen ngelihat wajah Kak Vio."
Raya heran. Ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Alifa. "Kak Vio nggak akan bisa ngelihat kamu? Maksudnya?"
"Kakak belum tahu? Kak Vio kan buta."
Deg! Jantung Raya nyaris berhenti berdetak mendengarnya. Apa? Divio buta? Bagaimana mungkin?
"Di.. Divio buta? Kamu serius?"
Alifa mengangguk cepat. Masih teringat saat Divio datang ke panti, dengan kondisinya yang sudah tidak seperti sebelumnya. Waktu itu, Divio berjalan sambil memegang tongkat. Membuat seluruh anak panti menangis saat Bude menjelaskan bahwa Divio kini tidak bisa melihat mereka.
"Buta kenapa?" Raya kalap setengah mati.
"Alifa juga nggak tahu. Yang Alifa tahu, Kak Divio udah gak bisa ngelihat sekarang."
Raya speechless. Sekuat tenaga ia menahan tangisannya yang tiba-tiba ingin keluar.
Di dalam sebuah taxi online..
Handphone Divio berdering. Sang Mamah langsung mengambil benda tersebut dari saku celana puteranya, lalu menatap layar.
"Ada video call sayang."
"Dari siapa Mah?"
"Nomor asing. Gak ada fotonya juga. Mau diterima nggak?"
"Yaudah terima aja."
Mamah Divio langsung meng-slide tombol hijau ke atas. Wajah Alifa langsung memenuhi layar.
'Hai Bunda.' sapa Alifa sambil melambaikan tangan. Begitulah anak-anak panti memanggil pada Mamah Divio.
Wanita bernama Adelia tersebut seketika tersenyum. "Alifa? Bunda kira siapa."
Mamah Divio lalu menyerahkan handphone tersebut pada puteranya. Setelah itu, beliau langsung menyandarkan tubuh seraya memejamkan mata. Perjalanan Medan- Jakarta membuat tubuhnya lelah.
'Kak Vio! Alifa kangen.'
__ADS_1
Divio tersenyum. Meskipun matanya terarah ke layar, namun tatapannya kosong. (Yang di donorkan hanya retinanya saja, karena itu Divio masih bisa membuka mata).
"Kakak juga kangen sama Alifa."
'Kapan Kakak kesini?'
"Mungkin besok. Sekarang Kakak lagi di jalan mau pulang ke rumah."
Alifa terkejut. "Kakak udah di Jakarta?"
Divio tersenyum dan mengangguk.
Alifa langsung bersorak girang. Berbanding terbalik dengan Raya yang menatap wajah Divio melalui layar dengan ekspresi sedih sekaligus terpukul.
'Div.. Gimana ceritanya loe bisa kaya gini?' suara hati Raya.
'Ngomong-ngomong, Alifa pake handphone siapa?'
Alifa menatap Raya. Gadis itu langsung memberi kode agar Alifa tidak memberitahu keberadaannya pada Divio.
Akhirnya Alifa berbohong. "Selama Bude sakit, ada seseorang yang menjaga Alifa dan anak-anak panti disini. Namanya.." Alifa memutar otak, mencari nama yang bagus. "Namanya Kak Cinta."
'Owh bagus dong. Tadinya Kak Vio bener-bener khawatir sama kalian yang terlantar dan gak ada yang ngurusin.'
Alifa tersenyum. "Kakak mau ngobrol sama Kak Cinta?"
Raya terbelalak dan langsung memelototi Alifa. Gadis kecil itu justeru tersenyum. Bukannya takut, ia malah geli saat dipelototi seperti itu.
'Boleh. Mana orangnya?'
Alifa menyerahkan handphone Raya. Meski kalut, Raya menerimanya. Jantungnya seketika berdegup lebih kencang.
'Hai Cinta..' sapa Divio, dengan lembut.
Raya menutup mulutnya. Menahan tangis yang benar-benar memaksa keluar saat itu juga. Tahan Raya.. Tahan..
Setelah berhasil mengendalikan emosinya, Raya mencoba tersenyum.
"Hai." Ucapnya, sedikit menekan suara agar terdengar tidak sama dengan suaranya yang asli.
Divio mana curiga kalau dia adalah Raya. 'Makasih yah udah mau jagain anak-anak. Ngomong-ngomong, gimana ceritanya kamu bisa jadi pengasuh pengganti?'
"Aku kenalan Bude dan dimintain tolong sama Bude buat jagain mereka." Tapi bo'ong.
Divio percaya begitu saja. 'Oh gitu.. Besok, aku akan nemuin kamu dan ngucapin makasih secara langsung. Jadi, tunggu aku yah. Tapi kamu jangan kaget ketika ngelihat aku yang jauh dari kata sempurna. Aku seorang tuna netra.'
Raya tidak tahan lagi dan langsung mengakhiri panggilannya. Ia menangis sejadi-jadinya.
Keadaan Divio benar-benar membuat hatinya hancur. Meski dulu, pemuda itu telah menorehkan luka dihatinya, namun bagaimanapun dia adalah sosok pemuda yang baik dimatanya.
Melihat Raya menangis, Alifa ikut bersedih dan langsung memeluknya.
***
Di atas tempat tidurnya, Meisya duduk memeluk lutut, sambil menatap lurus ke arah 2 buah boneka Teddy bear yang terletak di atas meja belajarnya.
Gadis itu pun beringsut. Kemudian mengambil 2 boneka kecil berwarna biru dan pink tersebut. Boneka pemberian seseorang yang tiba-tiba ia rindukan saat ini.
Meisya mengambil handphonenya. Memotret kedua boneka tersebut se estetik mungkin, lalu menguploadnya di Instagram dengan caption:
Bolehkah aku merindukanmu?
Anjayy..
Rizvan yang sedang rebahan di kamarnya, langsung bangun dari posisinya. Seketika penasaran.
Ia pun langsung berkomentar di postingan Meisya.
@Rizvan_Pratama : Merindukan siapa?
@Icha_Adriana : Kepo! Haha
@Rizvan_Pratama : Hish!
Rangga yang membaca semua itu, seketika panas hati. Apalagi sebelumnya ia baru melihat postingan Meisya yang berfoto bersama Rizvan saat di kedai bakso.
Ia langsung men-DM Rizvan.
(Bang, loe Deket lagi sama Kak Meisya?)
Tidak ada jawaban. Rizvan hanya membaca DM Rangga tanpa membalasnya.
Sementara itu, seseorang juga menelan ludah getir saat melihat postingan Meisya tersebut.
Ia pun tidak mau kalah.
Setelah memotret langit Bandung yang ditaburi bintang-bintang, Regy segera menguploadnya dengan caption:
Rinduku Terlarang.
Deg! Meisya tertegun saat melihat postingan Regy , yang seakan membalas postingannya dengan kontan.
Tak lama kemudian, muncul sebuah komentar.
@Wulandari_ : Garila ih! Sumpah
@Regy_AL : Bae weh (Biarin)
@Wulandari_ : Itu si Michelle can diparab (Itu si Michelle (domba Regy) belum dikasih makan)
@Regy_AL : Paraban we nyalira (Kasih makan aja sendiri)
@NadyaPutri_Alvino : I Miss you Gi.
@Regy_AL : Haha
@NadyaPutri_Alvino : Kenapa ketawa?
@Regy_AL : Gapapa Nad.
@Icha_Adriana : Cie Regi.
Wadaw! Meisya memberanikan diri ikut berkomentar. Karana sejujurnya ia panas hati.
Regy sendiri shock dan tidak menyangka jika Meisya akan berkomentar di postingannya.
Ia pun membalas komentar Meisya.
@Regy_AL : Kenapa Kak?
Meisya tersenyum pahit. Bisa-bisanya Regy masih bertanya kenapa. Apakah dia tidak peka? Atau hanya pura-pura tidak peka?
"Gue jealous Regi!" Meisya melemparkan handphonenya ke atas kasur dengan emosi. Nafasnya memburu. Ia benar-benar kesal dan merasa tidak berdaya.
Hingga akhirnya, sebuah DM masuk ke akun Instagramnya. Gadis itu langsung membukanya.
Dari Regy!
(Assalamu'alaikum Kak)
Dengan hati berdebar, Meisya membalas
(Waalaikumsalam)
(Saya rindu)
(Rindu siapa? Wulan? Nadya? Atau cewek lain?)
(Rindu Kak Meisya Adriana)
Anjay! Meisya langsung melting. Saking melting nya ia sampai bingung harus membalas apa, dan akhirnya memilih mengabaikan DM Regy.
__ADS_1
Membuat Regy merasakan sesak di dadanya.
-Bersambung-