TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Aku Tergoda


__ADS_3

"Saat ini gue cuma pengen satu hal."


"Apa?"


"Abi yang dulu."


Aby terhenyak. Sekuat tenaga ia menahan airmatanya. Membuat tenggorokannya sakit karena tangisnya tertahan disana.


Keyla berbalik dan menatap Aby dengan mata yang merah. " Gue pengen Abi yang dulu.


Abi yang selalu ada buat gue , Aby yang selalu bikin gue ketawa, Aby yang gak pernah bikin nangis, dan Aby yang selalu perhatian sama gue."


Keyla menelan ludah getir, kemudian tersenyum pahit. "Sayangnya Abi yang itu udah punya Nilam."


Tak tahan lagi, Aby langsung menarik Keyla dan memeluknya dengan erat. Tanpa Keyla ketahui, setetes air mata mengalir di pipi Aby.


'Loe salah Keyla. Sampai kapanpun, jiwa dan raga gue cuma milik loe seorang.' batin Aby.


Lain dimulut, lain dihati. "Plis, buat saat ini jangan ngomongin Nilam dulu."


Bukannya baper, Keyla justeru emosi mendengar ucapan Aby. Dengan segera ia melepaskan pelukan pemuda itu dan menatapnya tajam.


"Kenapa? Loe lagi berantem sama dia? Karena itu loe jadiin gue pelarian saat loe ada masalah sama dia? Iyah?"


"Nggak gitu Key, gue-"


"Cukup Abi! Jangan sakitin gue lagi!" Teriak Keyla yang sudah sangat muak, dan langsung bangkit. Meninggalkan Aby sambil berjalan terpincang-pincang. Sakit yang dirasakan kakinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang mendera hatinya.


Aby melepas kepergian Keyla dengan nanar.


"Gue sakit Key. Dan karena penyakit sialan ini, gue yakin hidup gue gak akan lama lagi." Pemuda itu menunduk dan menangis menyakitkan. Bukan hanya Keyla, ia pun tersakiti oleh sikapnya sendiri.


**


Saat istirahat, Meisya berpapasan dengan Regy.


Keduanya langsung menghentikan langkah masing-masing dan saling menatap untuk beberapa lama.


Sebelum akhirnya Meisya membuka suara.


"Tadi kamu ke rumah yah? Kakak sempet ngelihat kamu sekilas." Ucap Meisya, saat Rangga masih bersandar dibahunya tadi pagi, ia melihat Regy yang buru-buru memakai helmnya dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi.


Regy menatap Meisya dan seakan ingin masuk ke dalamnya. Ingin mencari tahu, untuk siapa tepatnya perasaan Meisya. Untuk Rangga, Masih untuk Rizvan, atau untuk dirinya? Regy berharap menjadi cenayang disaat seperti ini.


"Gi!" Meisya melambaikan tangan di depan wajah Regy sekaligus membuyarkan lamunannya.


Akhirnya Regy menjawab dusta. "Nggak."


"Owh. Berarti Kakak salah lihat. Tapi motornya mirip motor kamu."


Regy tak merespon. Ia memutuskan untuk irit bicara saat ini. Ingin tahu reaksi Meisya jika ia bersikap dingin pada gadis itu.


Meisya sendiri terus mencari topik. "Oiyah, Kapan kita mau nobar film Bollywood favorit kamu yang itu? Kakak penasaran banget sama filmnya."


"Saya nggak tahu." Jawab Regy, sedingin salju.


"Kok nggak tahu?"


"Saya lagi banyak tugas. Gak ada waktu buat nonton film."


"Owh gitu yah." Meisya tampak kecewa. Namun ia pantang menyerah. "Mamah kamu kapan kesini lagi? Kakak tiba-tiba pengen ketemu sama Mamah kamu."


"Saya nggak tahu."


Kali ini Meisya terdiam. Ia menunduk dan benar-benar sedih dengan sikap Regy yang mendadak dingin dan tak acuh padanya. Membuat Gadis itu bertanya-tanya. Apa salahnya?


"Yaudah ya Kak, saya masih ada urusan. Permisi." Regy berlalu meninggalkan Meisya yang mematung di tempatnya.


--


Bu Yumna. Guru matematika yang terkenal cantik dan ramah memasuki kelas 10 IPA 5. Setelah menaruh buku beliau langsung menyapa murid-muridnya dengan senyum yang melekat di bibirnya. Tidak seperti Guru matematika yang kebanyakan galak dan membosankan, Bu Yumna terkenal baik dan periang. Karena selain cantik dan sabar, Bu Yumna juga memiliki metode mengajar yang mudah dimengerti.


Bu Yumna tiba-tiba teringat sesuatu.


"Oiyah. Regy Alvino?"


Regy yang semula sedang mencatat di bukunya, sontak mengangkat kepala dan menatap Guru cantik tersebut. "Iya Bu."


"Kamu terpilih sebagai murid yang mewakili sekolah kita untuk mengikuti olimpiade matematika bulan depan."


"Wih.." Teman sekelas Regy auto riuh dan ikut bangga pada pemuda yang terkenal jago matematika itu. YA! JAGO MATEMATIKA. Sebuah plot twist bukan?


***


Sore itu, Divio tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang terletak di atas meja. Membuat vas dan isinya jatuh berantakan dan mengotori lantai rumahnya yang putih bersih.


Divio menyesali kecerobohannya dan langsung memungut pecahan vas yang berserakan tersebut. Namun karena tidak berhati-hati, tangannya tergores pecahan vas yang tajam dan mengalirkan darah segar seketika.


Pemuda itu terdiam. Perasaannya mulai tidak enak. Seolah hal buruk sedang mengintainya di depan mata.


Disaat seperti itu, ponsel Divio berdering. Divio langsung mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celana dan menatap layar gawai.


Sebuah panggilan dari nomor asing. Cepat-cepat Divio mengangkatnya.


"Halo?"


'Kak Vio. Tolongin Alifa.' Terdengar tangisan ketakutan Alifa di seberang sana.


Divio auto panik. "Alifa? Kamu kenapa?"


'Alifa diculik. Hiks. Tolong Kak, Alifa takut.'


"APA? DICULIK? SAMA SIAPA?" Divio kalap bukan main.


'Menurut loe sama siapa?' Kali ini suara berat seorang pemuda yang menimpali.


Divio kenal dengan baik pemilik suara itu. "Levin? LOE APA-APAAN ANJING?!"


'Haha. Kenapa? Panik? Loe gak nyangka kan gue bakal bertindak sejauh ini? Kan udah gue bilang, loe bakal nyesel kalau gak dengerin omongan gue.'


Wajah Divio merah padam. Tangannya mengepal. Giginya menggeretak menahan emosi. "Setan alas!"

__ADS_1


'Jaga omongan loe, atau gue gak bakal segan nyakitin anak lumpuh ini!'


Emosi Divio semakin naik ke ubun-ubun. "Apa mau loe?"


'Mau gue? Simpel kok. Lagian udah sering gue bilang perasaan.'


Divio tersenyum sinis. Ia tidak menyangka Levin se-pengecut ini. "Soal Raya? Loe mau gue mutusin dia?"


'Iyah. Gue mau loe putusin dan jauhin Raya selamanya. Kalau nggak, gue pastiin anak ini gak bakal selamat.'


Levin menatap Alifa yang sedang ia sandera. Tersenyum menyeringai seraya menodongkan pisau ke lehernya. "Iya kan Dek?"


Alifa semakin ketakutan. "Aaa! Tolong Kak Vio, Alifa mau ditusuk!"


Divio semakin kalap dan tidak bisa berpikir jernih.


"Oke. Gue janji bakal mutusin Raya. Tapi loe juga harus janji jangan macam-macam sama anak itu."


'Tenang, meskipun gue brengsek, tapi gue gak pernah ingkar janji. Nanti malam, loe udah harus mutusin Raya. Dan kalau besok gue masih lihat kalian akur di sekolah, bukan cuma anak ini yang gak selamat, tapi semua anak-anak yang ada di panti, bakal gue pastiin habis di tangan gue.' ancam Levin. Ambisinya untuk mendapatkan Raya kembali begitu besar. Hingga dia menghalalkan segala cara untuk memisahkan Raya dan Divio.


Setelah Levin menutup telfonnya, Divio menurunkan handphonenya dengan lemas.


Tuhan.. Takdir macam apa ini?


**


Malam hari.


"Sayang. Makan dulu yah? Kata Si Mbok kamu belum makan dari pagi." Bujuk Mamah Keyla yang baru datang dari kantornya. Begitu mendapat laporan dari Mbok Sumi yang mengatakan bahwa Keyla mogok makan, beliau khawatir seketika.


Keyla yang sedang berbaring menghadap tembok, menjawab tanpa menatap Sang Mamah.


"Keyla nggak nafsu Mah."


"Dikiiiit aja. Mumpung Mamah masih bersikap baik."


"Gak masalah. Walaupun Mamah marah, Keyla tetep gak mau makan. Lagian udah biasa kok Keyla dimarahin sama Mamah.


Waktu Keyla ngasih tahu Mamah kalau Keyla jatuh juga, Mamah malah marah-marah kan?"


"Maaf sayang. Waktu itu Mamah lagi pusing karena banyak kerjaan di kantor. Makanya tanpa sadar Mamah marahin Keyla."


Keyla tersenyum miris. Alasan yang klise.


Mamah Keyla akhirnya menyerah dan langsung pergi dari kamar putrinya, sambil mencari cara lain agar Keyla mau makan.


Keyla mengeluarkan handphonenya dari balik bantal, kemudian memutar sebuah lagu. Lagu berjudul Matahariku milik penyanyi Agnez mo.


Tertutup sudah pintu, pintu hatiku


Yang pernah dibuka waktu hanya untukmu


Kini kau pergi dari hidupku


Ku harus relakanmu walau aku tak mau


Berjuta warna pelangi didalam hati


Tak ada lagi cahaya suci


Semua nada beranjak aku terdiam sepi ~


Kenangan manis bersama Aby tiba-tiba muncul dan memenuhi otak Keyla. Membuat airmata Keyla jatuh untuk kesekian kalinya.


Tuhan.. Harus dengan cara apa ia menghilangkan perasaannya terhadap Aby?


Keyla ganti posisi dan berbaring ke arah berlawanan. Matanya membulat! Ketika melihat sesosok Aby yang tiba-tiba saja sudah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.


Gadis itu refleks duduk dari posisinya. "Ngapain loe disini?"


"Menanam cabe." Jawab Aby asal.


Keyla tidak merasa lucu sama sekali. "Garing!"


"Gue disuruh nyokap loe buat bujukin loe biar mau makan." Kata Aby terang-terangan.


"Gak usah! Mending loe pergi sekarang." Keyla mengusir. Melihat Aby lama-lama membuat hasrat move on-nya berkurang. Dan itu tidak bagus.


"Gue gak bakal pergi sebelum loe mau makan." Tekad Aby.


"Terserah! Sampai kapanpun loe gak bakal bisa bujukin gue."


Aby tersenyum menggoda. "Yakin?"


"Coba aja."


"Kalau gue bisa, loe mau ngasih gue apa?"


"Gak ngasih apa-apa."


Aby manggut-manggut. "It's okay. Tapi yang jelas, gue pasti bisa bikin loe makan."


Keyla tidak peduli dan malah membuang muka.


Aby mendekat. Menyondongkan tubuhnya, dan berbisik pelan di dekat telinga Keyla.


"Kalau loe gak mau makan, gue bakal ngasih tahu Om Gunawan kalau loe pernah bolos sekolah sama kedua temen loe itu."


Mata Keyla langsung melotot mendengar ancaman Aby. "Loe gila yah? Awas aja kalau loe sampe berani."


Haha Keyla langsung ciut. Karena salah satu hal yang paling ia takuti di dunia ini adalah kemarahan sang Papah.


Aby tersenyum penuh kemenangan. "Makanya loe harus mau makan biar mulut gue gak bocor.


Lagian apa susahnya sih? Loe tinggal mangap, kunyah, telen, udah."


Keyla mendengus kesal dan akhirnya bersedia makan walau pun terpaksa.


Aby mengambil piring makan Keyla dan langsung menyendok makanannya. "Baca doa dulu. Bismillahirrahmanirrahim. Bismika Allahuma-"


"Ngaco! Itu kan doa sebelum tidur."

__ADS_1


"Oh. Salah dong. Maaf deh."


Keyla akhirnya tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak Aby lihat di wajah cantiknya.


Saat Keyla baru makan satu suap, tiba-tiba sakit kepala kembali menyerang Aby.


"Aduh.. Aduduh." Aby langsung menaruh piring yang ia pegang, kemudian memegangi kepalanya yang berasa mau pecah.


Keyla panik sekaligus khawatir. "Abi loe kenapa?"


"Kepala gue. Kepala gue pusing banget Key." Aby menunduk dan terus memegangi kepalanya. Demi Tuhan, sakitnya tidak main-main. Rasanya seperti kepala Aby dilindas oleh sebuah mobil. Sakit sekali.


"Yaudah, kita ke rumah sakit yah?"


Aby menggeleng. Bahkan sejurus kemudian, Keyla melihat tetes airmata Aby yang mengalir.


Gadis itu semakin cemas bahkan ikut-ikutan menangis. "Ya ampun Bi. Sakit banget yah? Yaudah, gue panggil Dokter aja yah?"


Saat Keyla sudah hampir mengambil handphonenya, Aby tiba-tiba memegang tangannya. Seiring sakit kepala Aby yang berangsur hilang.


Keyla pun langsung menatap Aby yang kemudian mengangkat kepalanya.


"Gue cuma akting." Ucapnya, lalu tersenyum menyebalkan.


Keyla geram dan langsung memukul bahunya. "IH! Loe rese banget sih!"


"Haha."


****


"Kita mau kemana?" Tanya Raya yang kini sudah berada di dalam mobil Divio.


Sang Bebeb tersenyum dan berusaha setegar mungkin. "Kita dinner yuk? Gue laper."


Raya tersenyum dan mengangguk. Kebetulan ia juga belum makan.


Sesampainya di sebuah restoran, Raya terpaku.


Dari sekian banyak restoran yang ada di Jakarta, kenapa sih Divio harus memilih restoran ini.


Melihat kesedihan yang tergambar jelas di wajah kekasihnya, Divio heran. "Kenapa? Loe nggak mau makan disini?"


"Bukan gitu."


"Terus?"


"Waktu Randy masih hidup, dia sering ngajak gue makan disini. Bahkan malam sebelum dia meninggal juga, kita sempet makan disini."


Divio terpaku. Rasanya ia belum siap memutuskan Raya dan menorehkan luka di hatinya.


Selanjutnya Raya tersenyum. "Tapi gak papa deng. Toh gue udah bisa move on dari dia. Dan sekarang gue udah punya loe yang seribu kali lebih baik dari dia." Raya bergelendot manja di lengan Divio.


Pemuda itu langsung membuang muka, menyembunyikan kesedihannya. Padahal ia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Raya.


Namun nyatanya ia tidak bisa menepati janjinya tersebut.


Setelah makan, keduanya duduk di sebuah gazebo yang terletak di samping restoran.


"Ray, nyanyiin gue dong." Pinta Divio.


"Hah? Nyanyi?"


"Iyah. Gue pengen dinyanyiin sama loe.


Nyanyiin lagu yang mewakili perasaan loe sama gue."


Raya tersenyum dan menuruti keinginan Sang Bebeb. Istilahnya, apa sih yang nggak buat kamu.


Ia pun menyadarkan kepalanya ke pundak Divio, kemudian mulai bernyanyi. Lagu Anji yang berjudul Dia.


"Di suatu hari tanpa sengaja kita berjumpa


Aku yang pernah terluka


Kembali mengenal cinta


Hati ini kembali temukan senyum yang hilang


Semua itu karena dia


Oh Tuhan.. Ku cinta dia


Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia.


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya. Untuk dia."


Divio membeku. Demi apapun ia semakin berat meninggalkan Raya. Tapi ia sudah berjanji pada Levin untuk memenuhi keinginannya, memutuskan Raya. Dan jika Divio melanggar, maka nyawa anak-anak panti yang menjadi taruhannya.


"Sekarang giliran loe. Loe harus nyanyiin gue lagu yang mewakili perasaan loe saat ini." Raya tidak mau kalah. Hatinya berdebar. Penasaran, kira-kira lagu apa yang akan Divio nyanyikan untuknya.


Divio sendiri tidak menolak. Setelah terpikirkan sebuah lagu, ia mulai bernyanyi. Suaranya cukup bagus.


"Semua manusia pasti kan kecewa


Bila kekasih yang selalu dihatinya


Tak pernah lagi menyebut namanya


Bukan maksudku lukai hatimu


Maafkan aku membuat hancurnya hatimu


Aku tergoda oleh wanita."


Deg! Raya tertegun. Ia menarik kepalanya pelan dan menatap Divio dengan heran. "Maksud loe nyanyiin lagu itu?"


Divio menunduk. Ia benar-benar tidak berdaya.


"Maafin gue Ray."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2