
Regy bernyanyi dengan niat membuat Meisya luluh sekaligus terharu dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Namun, apakah respon Meisya akan sesuai dengan ekspektasi Regy?
Setelah menyanyikan lagu Five Minutes berjudul Sumpah Mati tersebut, Regy menaruh gitarnya sembarang, dan menyeka pipi Meisya yang basah oleh airmata.
"Kaget nggak? By the way, pacar Regy Alvino makin cantik aja. Jadi makin sayang." Gombal Regy.
Alih-alih tersanjung, Meisya justru tersenyum sinis. "Pacar? Bukannya kita udah putus yah?"
"Hah putus? Kiamat dulu, baru kita putus. Aku udah janji sama diri aku sendiri, bahwa apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah ngelepasin kamu." Nah, ini baru Regy yang sesungguhnya!
"Terus omongan kamu waktu di telfon, cuma bercanda?" Tanya Meisya. Perasaannya benar-benar dibuat naik turun seperti rollercoaster, oleh Regy.
Cowok itu nyengir biadab. "Iyah. Itu semua cuma prank. Haha."
"Sumpah, gak lucu!" Meisya yang telanjur emosi, akhirnya pergi sambil menubruk bahu Regy.
Regy pun tidak tinggal diam dan langsung menahan Meisya dengan meraih tangannya. "Meisya.."
Gadis itu langsung menepisnya. Tanpa berkata apa-apa, ia menatap Regy dengan tatapan setajam silet. Membuat Regy panas dingin sekaligus sedih karena reaksi sang kekasih diluar dugaannya.
Taksi muncul. Meisya menghentikannya dan buru-buru naik, meninggalkan Regy yang terpaku di tempatnya.
Regy memandangi kepergian Meisya disertai helaan nafas yang berat. Padahal ia hanya ingin memberi kejutan. Tapi mungkin caranya yang salah. Dan kalau tahu begini, dia tidak akan berani menge-prank Meisya.
Saat Regy hendak mengambil gitarnya yang tergeletak di bawah, sayup-sayup ia mendengar suara deru mobil yang semakin mendekat.
Ia pun mengurungkan niatnya mengambil gitar, dan menegakkan badan untuk melihat apa yang terjadi.
Rupanya taksi yang membawa Meisya datang kembali. Bahkan tidak lama kemudian, Meisya terlihat keluar dari dalam taksi tersebut.
Dari jarak 6 meter, keduanya saling melempar pandang dengan tatapan sendu. Sebelum akhirnya, Meisya berlari ke arah Regy dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan pemuda itu. Pemuda yang hampir membuatnya gila.
Meisya menangis. "Plis Gi, jangan pernah bercanda kaya gitu lagi. Mungkin buat kamu semua itu lucu, tapi nggak bagi aku. Aku hampir gila tahu nggak?"
Mendengar isak tangis Meisya, Regy semakin merasa bersalah dan balas memeluk Meisya dengan erat.
"Maafin aku sayang. Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Iyah, mungkin cara aku memang salah. Tapi aku cuma pengen bikin kejutan buat kamu."
Meisya melepaskan pelukannya dan menatap Regy dengan airmata yang berlinang. "Aku bisa gila kalau kamu beneran mutusin aku."
Regy menyeka airmata Gadis pujaannya, lalu mendaratkan bibirnya di kening Meisya dengan lembut.
Regy kembali menatap Meisya. "Aku janji, apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah mutusin kamu.
Sekalipun dunia menentang hubungan kita, aku akan selalu di samping kamu, selamanya."
Meisya tersenyum haru. Merekapun kembali berpeluk mesra di antara sunyi nya malam.
Bulan dan bintang menjadi saksi, betapa kedua insan tersebut saling mencintai dan tidak ingin kehilangan satu sama lain.
Namun mereka tidak bisa bersama lama-lama, karena waktu telah menunjukkan pukul 12 malam.
Regy pun mengantar Meisya pulang dengan motornya. By the way, motor Regy naik level menjadi N-Max.
Setibanya di depan rumah, Meisya langsung turun.
Ia menatap Regy dan tampak berat untuk berpisah.
Kalau diizinkan, Meisya malah ingin tidur sambil ditemani Regy malam ini.
Regy sendiri balas menatap Meisya dengan tatapan penuh cinta. "Masuk gih."
Meisya cemberut. Bukan itu kata-kata yang ia harapkan. Meski begitu, ia mengangguk pelan.
"Tapi besok kita masih bisa ketemu kan?"
Regy tersenyum geli dan mengacak sayang rambut Pacarnya. "Iyah sayang."
Meisya tersipu. Baru kali ini ia dipanggil sayang oleh seorang laki-laki. Karena Regy memang pacar pertamanya.
"Oiyah, aku kepo deh. Selama di Jakarta, kamu tinggal dimana?"
"Di rumah."
"Rumah siapa?"
"Rumah Papah."
Regy kemudian menjelaskan, bahwa Ayah (tiri)nya di mutasi ke Jakarta oleh perusahaannya. Dan karena Sang Ayah tidak sanggup tinggal jauh dengan keluarga baru-nya, maka Regy, Mamahnya, dan juga Wulan di boyong serta bersamanya.
Meisya auto girang. Tentu saja. Karena itu artinya, dia tidak harus menjalani LDR lagi dengan Regy.
"Kamu serius?" Tanya Gadis itu dengan mata berbinar.
Regy mengangguk dan tersenyum meyakinkan.
Meisya benar-benar bahagia dan tidak berhenti mengucap syukur. Kemudian ia teringat sesuatu.
"Tunggu! Kuliah kamu gimana?"
"Ya aku juga pindah kampus."
"Ke mana? Trisakti kan? Trisakti yah?"
Regy menggeleng. Universitas Trisakti cukup jauh dari rumah dinas Papahnya. Dan Regy malas menghabiskan waktu di jalanan.
"Binus (Universitas Bina Nusantara)." Jawab Regy, membuat Meisya kecewa. Tapi it's okay. Yang penting Kekasihnya tinggal di Jakarta sekarang.
Mendadak Meisya teringat pada Wulan. Gadis tengil nan kocak yang selalu membuatnya tertawa karena tingkah dan ucapannya.
"Berarti Wulan juga ada di Jakarta sekarang?"
"Iyah. Dan dia berencana sekolah di Bumi Pertiwi. Bekas sekolah kita."
"Hah? Kita? Aku aja kali, kamu mah nggak. Kelas 10 juga nggak kelar." Olok Meisya. Sekaligus kesal mengingat sikap Regy yang pengecut saat itu.
Regy tersenyum pasrah. "Ya udah, terserah kamu aja. Yang penting kamu bahagia."
__ADS_1
Meisya tersenyum manis. "Kalau gitu, besok pertemukan aku sama Wulan yah?"
"Ahsiaaaappp."
***
Raya yang masih terbaring lemah di rumah sakit, siang itu tampak sedang makan disuapi sang Mamah. Namun baru 5 suap, Raya meminta berhenti dengan alasan kenyang.
"Tapi ini masih banyak." Ucap Sang Mamah.
"Raya udah kenyang Mah. Mulut Raya juga pahit."
Sang Mamah menghela nafas. Beliau faham, saat sakit semua rasa makanan menjadi pahit.
"Yaudah, Mamah beliin buah-buahan yah. Gak papa kan Mamah tinggal sendiri? Atau mau Mamah suruh temen kamu kesini?"
"Gak papa, Raya juga lagi pengen sendiri."
Sang Mamah mengerti dan langsung pergi setelah mengambil tasnya. Raya pun kembali berbaring miring menghadap tembok.
Saat Gadis itu memejamkan mata, tiba-tiba dia teringat akan kejadian silam. Saat Divio meneriakkan sumpah untuk selalu mencintainya sampai ia mati.
"HEI EVERYBODY!
GUE, DIVIO MAHENDRA, BERSUMPAH AKAN SELALU MENCINTAI RAYA MONICA SAMPAI GUE MATI."
Raya tersenyum getir. Ternyata semua itu hanyalah omong kosong, mengingat Divio ternyata berubah haluan dan lebih memilih Cinta daripada dirinya.
Tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Raya yang yakin jika itu Mamahnya, langsung berkata, "Kok balik lagi Mah?"
Tidak ada sahutan. Saat Gadis itu membalikkan badan...
Ia terperangah. Bukan Sang Mamah, melainkan Divio lah yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Raya benar-benar shock, bahkan berpikir jika sekarang dia sedang bermimpi.
Divio sendiri mendekat beberapa langkah. "Lama gak ketemu Ray. Lo masih ingat kan sama gue?" Tanya pemuda itu disertai senyuman tipis.
Raya tidak menjawab. Tubuhnya benar-benar membeku. Apalagi pertanyaan Divio terdengar konyol baginya.
Satu hal yang membuat Raya tidak menyangka adalah. Ternyata Divio membohonginya selama ini, dengan berpura-pura masih buta. Tapi sedetik kemudian, Raya mencoba paham.
Mungkin Divio ingin balas dendam dan merasa marah saat tahu semuanya. Ya.. Divio pasti telah mengetahui semuanya.
"Gimana kabar lo? Eh tunggu.. Gue ngaco yah? Udah jelas lo lagi sakit sekarang." Canda Divio, tapi tidak berhasil membuat Raya tersenyum.
"Kalau gitu gue ganti pertanyaan. Lo sakit apa?"
Raya menelan ludah getir. Barulah ia membuka mulut dengan suara yang sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar. "Anemia."
"Kok bisa? Setahu gue lo cewek strong yang gak pernah sakit."
"Gue manusia biasa."
"Oh gitu yah?" Divio memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. " Oiyah, gue denger lo mau tunangan yah sama si Levin? Selamat yah. Akhirnya dia benar-benar berhasil dapetin lo." Ucapnya , terus membuat Raya terheran-heran.
"Kata siapa?" Tanya Raya, hendak membantah.
Raya terpaku. Dia baru ingat. Saat masih berakting sebagai Cinta, ia pernah mengatakan pada Divio bahwa Raya dan Levin akan bertunangan. Dengan wajah sedih, Gadis itu menunduk dan menyesali semua perbuatannya.
Kalau dipikir-pikir, dia memang tidak waras.
"Oiyah asal lo tahu, gue udah putus Sama Bella dan udah dapat penggantinya. Namanya Cinta. Dia cewek yang baik banget, saking baiknya dia sampai rela donorin matanya buat gue.
Gue sempat buta Ray. Dan berkat Cinta, gue bisa ngelihat dunia lagi. Meski Cinta sendiri nggak tahu kalau operasi transplantasi kornea gue berhasil.
Karena gue sengaja bohongin dia." Wajah Divio yang semula cerah mendadak berubah menjadi gelap.
Tidak ada lagi senyuman. Dengan tatapan menusuk dan suara dingin, ia melanjutkan ucapannya.
"Sama kaya dia yang udah bohongin gue selama ini."
"Haaah.." Raya tak kuasa lagi menahan airmatanya. Ia menangis sambil menutup mulutnya yang serasa ingin berteriak sekencang mungkin.
Divio terus mencercanya. "Iya Ray. Cewek itu tega bohongin gue. Dia ngaku-ngaku sebagai cewek lain dan berhasil nge-begoin orang yang selama ini begitu percaya sama dia."
Raya tersedu-sedu. Demi Tuhan dia sangat merasa bersalah pada Divio yang selama ini telah dia bohongi.
Divio menelan ludah getir. "Waktu tahu semua itu, gue bener-bener benci, bahkan berniat balas dendam sama dia. Tapi saat gue ngelihat keadaan dia saat ini, gue jadi gak tega dan.."
Saat Divio masih berbicara, Raya tiba-tiba melepaskan jarum infus yang menempel di punggung tangannya. Dia beranjak, kemudian tanpa diduga duduk bersimpuh di hadapan Divio.
"Maafin gue Div." Isaknya, memilukan.
Membuat Divio terenyuh dan tanpa sadar ikut menjatuhkan airmatanya. Raya benar-benar hebat. Setelah berhasil menipunya, kini ia pun berhasil membuat Divio luluh dengan mudah.
Kemudian tatapan Divio tertuju pada punggung tangan Raya yang berdarah akibat gadis itu melepaskan jarum infus sembarangan.
Raya menatap Divio dengan airmata yang berlinang.
"Plis maafin semua kesalahan gue Div. Gue gak berniat bohongin lo. Saat itu, gue bener-bener belum siap buat berhadapan lagi sama lo. Jadi gue minta Alifa buat nggak ngasih tahu keberadaan gue.
Dan tentang donor mata itu, Levin minta gue buat nggak ngasih tahu lo kalau dia yang bakal jadi pendonor buat lo. Makanya gue minta kerjasama Nyokap lo buat ngasih tahu kalau Cinta lah yang bakal jadi pendonor. Sekaligus, gue juga pengen tahu seberapa besar cinta dan kesetiaan lo sama Raya."
"Artinya lo ragu sama sumpah yang pernah gue buat dulu?" Tanya Divio, dingin.
Membuat Raya kembali terisak. "Nggak gitu Div, plis lo jangan salah paham.. Gue.. Gue.." Gadis itu speechless dan tidak mampu lagi berkata-kata.
Ia hanya bisa menangis menyesali perbuatannya terhadap Divio.
Divio menghela nafas panjang. Mencoba meruntuhkan ego-nya yang begitu besar. Ia merogoh sapu tangan dari balik jaketnya, lalu menyesuaikan posisinya dengan Raya.
Dengan sapu tangan berwarna putih tersebut, Divio membalut tangan Raya yang berlumuran darah.
Sambil masih memegangi tangan Raya, Divio kembali menatap Gadis itu.
"Lo jahat Ray."
Raya menggigit bibirnya, pedih. "Gue harus gimana biar bisa lo maafin?"
__ADS_1
"Gak harus gimana-gimana. Gue gak bakal maafin lo." Canda Divio dengan wajah serius.
Raya kembali menangis. "Div.. Gue mohon.."
Melihat airmata Raya dari jarak dekat, membuat Divio serasa diiris sembilu. Tanpa menunggu lama, ia merengkuh Raya ke dalam dekapannya.
"Lo emang hebat Ray. Setelah lo bikin gue marah dan benci, sekarang, dengan mudahnya lo bikin gue luluh dan iba sama lo."
Kali ini Raya menangis haru. Membuat matanya semakin sembab karena Divio terus membuatnya menangis. Raya pun mengulurkan tangan, membalas pelukan Divio yang terasa hangat dan nyaman.
Musnah sudah ketakutan yang selama ini ia rasakan. Meski Divio marah, namun dia tidak semurka yang ia bayangkan. Tapi sebelumnya Raya sudah yakin. Bahwa se marah-marahnya Divio, Pemuda itu pasti akan tetap memaafkan kesalahannya.
Tiba-tiba tangan Raya terkulai lemah.
Divio kaget. "Raya? Lo gak papa?"
Saat Divio melepaskan pelukannya, Raya langsung jatuh dan tidak sadarkan diri. Sepertinya ia mengalami shock setelah perasaannya diombang-ambing oleh Divio.
Satu jam kemudian, Raya akhirnya tersadar dari pingsannya. Saat ia membuka mata, netra nya langsung menangkap sosok Divio yang sedang duduk memperhatikannya.
"Div.."
Divio tersenyum lembut. "Lo udah bangun?"
"Gue kenapa?"
"Tadi lo pingsan."
Raya baru ingat. Ia menatap tangannya yang kembali terpasang infus, lalu menelan ludah getir. Semua hal yang terjadi sebelumnya, membuat dirinya terguncang. Dan mungkin karena itu ia pingsan.
Raya duduk dari posisinya, kemudian menatap Divio. Divio yang sangat ia cintai.
"Maafin gue Div. Sumpah, hidup gue gak bakal tenang sebelum lo mau maafin semua kesalahan gue."
Divio memandang Raya dengan sendu. Sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk. Kini sudah tidak ada lagi dendam dan kebencian di hatinya.
"Iya Ray. Gue mau maafin lo."
Raya bahagia mendengarnya. "Lo serius?"
Divio membelai rambut Raya. "Iyah Raya Monica..
Kebencian gue emang besar. Tapi rasa sayang gue buat lo jauh lebih besar dan gak akan bisa dikalahkan oleh apapun."
Raya terharu sekaligus meleleh mendengarnya. Dari dulu Divio memang paling jago membuatnya baper.
Divio kemudian mengambil tangan kiri Raya dan menggenggamnya dengan erat. "Lo masih cinta kan sama gue."
Mata Raya berkaca-kaca. "Masih dan akan selalu."
Divio tersenyum bahagia. "Kalau gitu, sekarang adalah waktunya untuk kita bahagia. Tanpa bayang-bayang Levin. Sekarang kita udah bebas."
Raya tersenyum dan mengangguk. Kini, tidak ada lagi yang menjadi penghalang kebahagiaan mereka berdua. Rintangan cinta mereka sudah berakhir.
Berganti menjadi kebahagiaan yang sudah menanti di depan mata.
"I love you, Raya Monica." Ucap Divio, dari hati yang terdalam.
Raya menangis haru. "I love you too.. Divio Mahendra."
Divio mendekat, dan mencium sepasang bibir Raya dengan lembut. Raya tidak menolak. Ia memejamkan mata dan membalas ciuman Divio.
Di dalam ruangan tersebut, keduanya bercium mesra dan larut dalam kebahagiaan.
***
Sore itu, Abi kedatangan Naura. Well, bukan hanya sore itu, hampir setiap hari Naura mengunjungi Abi di rumahnya. Meski sekedar berbincang berdua, gadis itu sudah merasa senang. Karena saat ini, hanya Abi-lah yang bisa membuatnya bahagia.
Kedua orang itu duduk berdampingan di teras rumah Abi.
"Jadi Mamah kamu udah meninggal?" Tanya Naura, begitu mendengar penjelasan Abi yang sudah tidak memiliki ibu dan merupakan seorang piatu.
Abi hanya mengangguk. Bersama Naura, ia seolah menjadi sosok introvert. Tidak banyak bicara dan hanya menjawab seperlunya jika ditanya. Karena sejujurnya ia terpaksa menuruti keinginan Gadis itu dan Ayahnya.
Naura pun merangkul pundak Abi. "Sabar yah Bi."
Abi tak menjawab. Ia justru memikirkan cara halus untuk mengusir Naura saat itu.
"Oiyah Bi.. Makin kesini, penyakit aku jadi semakin sering kambuh. Hari ini aja aku udah mimisan 5 kali.
Belum lagi aku nggak bisa tidur semalaman. Lihat tangan aku." Naura menunjukkan tangannya. "Bengkak kan? Ini artinya, penyakit aku udah semakin parah. Jadi kamu nggak usah khawatir.
Bentar lagi aku pasti meninggal, dan gak akan gangguin kamu lagi."
Mau tak mau, Abi terenyuh mendengar ucapan Naura yang sangat memilukan. Apalagi sejurus kemudian airmata Naura tiba-tiba jatuh, namun langsung diseka dengan kasar olehnya.
Tiba-tiba Naura mimisan. Abi terkejut dan langsung berlari mengambil tissue ke dalam rumahnya.
Setelah itu ia menyuruh Naura mendongak, agar darahnya berhenti.
Abi membersihkan hidung Naura yang berlumuran darah. Tatapannya sendu. Ada rasa kasihan bercampur kesal saat melihat Gadis itu.
Naura sendiri tertegun oleh sikap Abi yang sangat perhatian. Dan hal tersebut membuat Naura ingin hidup lebih lama lagi. Naura ingin menua dan hidup bahagia bersama Abi.
"Abi.." panggil Naura, lirih.
Abi langsung berhenti. Ia menurunkan tangannya dari hidung Naura yang sudah bersih.
"Hmm?" Sahutnya.
Lalu tanpa diduga, Naura mendekat dan mencium bibir Abi, diiringi airmatanya yang mengalir deras.
Dari jarak 10 meter, sepasang mata yang sedang berada di dalam mobil, menyaksikan semua itu dengan perasaan hancur. Bagai ditusuk ribuan pedang, hatinya sakit tidak terkira.
-Bersambung-
__ADS_1