
Divio auto melongo mendengar Raya yang ngaku-ngaku jadi pacarnya. Sementara Levin panas hati mengetahui fakta tersebut.
"Yaudah yuk Beb, kita pergi." Raya langsung menarik Divio, meninggalkan Levin yang tampak dongkol.
Di rooftop, mereka berdiri berhadapan.
Divio benar-benar tidak habis pikir. "Tadi tuh apa maksudnya sih?"
Dengan wajah datar, Raya berkata. "Loe harus mau jadi pacar boongan gue."
Divio membuang muka dan tertawa tak percaya. Cewek satu ini benar-benar unpredictable alias tidak bisa diprediksi.
"Kenapa gue harus jadi pacar boongan loe?"
"Karena selain loe, gak ada lagi cowok yang bisa gue mintain tolong."
"Kalau gitu harusnya loe ngomong, 'Div , loe mau nggak jadi pacar boongan gue?' bukannya 'Loe harus mau jadi pacar boongan gue."
Raya tidak mengerti. "Emang apa bedanya?"
"Ya beda lah.. Kalimat pertama itu permohonan, sedangkan yang kedua itu pemaksaan."
"Yaudah terserah!" Raya tidak mau ribet.
"Emangnya dia siapa sih?" Divio penasaran.
"Dia itu mantan gue. Cowok brengsek nomor 2 setelah si Randy."
"Oke, terus?"
"Dia nyangka gue gak punya cowok gara-gara gue gak bisa move on dari dia. Ya gue gak terima lah."
Divio mengerti sekarang. Setelah berpikir beberapa saat, ia mengangguk yakin. "Oke.. Gue bersedia jadi pacar boongan loe. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Berhenti ngeledekin gue fans Blackpink! Karena gue bukan fans mereka."
Raya menahan tawa mendengar syarat yang diajukan Divio. Padahal poster Blackpink yang diberikan Tania tempo hari sudah menjelaskan segalanya. Tapi cowok ini masih juga tidak mau mengakui.
"Kenapa? Gak mau? Yaudah.." Divio hendak pergi. Raya buru-buru menahannya.
"Iyah! Iyah! Gue janji gak bakal ngeledekin loe lagi."
"Awas yah! Kalau sampai loe ngelanggar, gue gak bakal segan ngasih tahu cowok itu kalau hubungan kita cuma settingan!"
***
Saat Meisya hendak ke toilet, ia berpapasan dengan Rangga. Keduanya sama-sama menghentikan langkah. Sebelum kemudian Meisya memutuskan untuk menyapa Rangga duluan.
"Mau kemana Ga?"
"Ke perpus." Jawab Rangga pelan. Berusaha tak acuh, tapi tidak bisa. Buktinya saat Meisya pamit, ia mencegah dengan meraih lengan Gadis itu.
Meisya menatap Rangga yang balas menatapnya.
"Kita udah janji kan Kak? Meskipun Kakak gak bisa nerima perasaan aku, tapi nggak ada yang berubah diantara kita."
Meisya terpaku mendengar ucapan Rangga.
Disaat yang sama, Regy muncul sambil membawa sekotak tape khas bandung yang dikirim ibunya kemarin sore.
"Semoga dia bakal suka."
Saat pemuda itu mendongak, ia terpaku. Terpaku melihat pemandangan yang menyakiti matanya juga hatinya. Pun senyum yang semula menghiasi wajah tampannya mendadak sirna.
Setelah sekian lama termenung, Meisya akhirnya tersenyum. "Iyah Ga.. Gak akan ada yang berubah diantara kita. Kita masih Adek-Kakak-an kaya dulu."
Rangga ikut tersenyum seraya mempererat genggamannya.
"Hufffhhhhhh.." Untuk kesekian kalinya, Regy harus mengalami patah hati.
***
"Ya Ampun Tan! Muka kamu kenapa?" Keyla histeris saat melihat wajah Fathan yang bonyok di bagian mata dan ujung bibirnya.
Fathan memegangi lukanya. "Ini semua perbuatan si Aby! Dia mukulin aku sampai kaya gini."
Keyla shock sekaligus tak menyangka. "Kamu Serius?"
Setelah berganti baju, Keyla buru-buru mendatangi rumah Aby dan berniat meminta penjelasan.
Dengan tergesa, ia mengetuk pintu rumah keluarga Ginanjar. Tak lama kemudian, Ayah Aby membuka pintu. Keyla pun meminta izin untuk menemui Aby. Seperti biasa, Ayah Ginanjar mengizinkan dan menyuruh Keyla pergi ke kamar putranya.
Tok.. Tok..
"Siapa?"
"Ini gue! Buka pintunya!"
"Ngomong disitu aja!"
Keyla berdecak kesal. Meski begitu ia tetap bertanya. " Bener loe mukulin Fathan?"
"Iyah." Meskipun terhalang pintu, suara Aby terdengar jelas.
"Alasannya?"
"Karena dia udah ngerendahin gue! Mentang-mentang gue anak piatu yang udah gak punya Ibu. Jadi gue gak terima."
Keyla terpaku. Jadi karena itu Aby memukul Fathan? Tapi tetap saja, Keyla merasa perbuatan Aby tidak bisa dibenarkan.
"Meskipun dia salah, tapi tetep aja, loe gak seharusnya mukulin dia sampai bonyok kaya gitu. "
"Yaudah gue minta maaf! Sekarang obatin sana muka pacar loe!"
"Maksud loe apa?" Keyla tak habis pikir mendengar ucapan Aby yang terdengar sinis.
"Loe bilang muka si Fathan bonyok! Sana obatin! Gak perhatian banget loe jadi cewek."
__ADS_1
Kali ini Keyla tersenyum miris. Diiringi airmata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Sumpah loe aneh banget Bi!"
"Iyah gue emang aneh! Udah sana pergi!" Aby mengusir.
Keyla auto meninggikan suaranya. "OKE! LOE GAK NYURUH JUGA GUE BAKAL PERGI!"
Aby menghela nafas seraya menyandarkan kepalanya ke pintu. Tuhan.. sampai kapan ia harus tersiksa oleh perasaannya sendiri?
Rasanya Aby sudah tidak sanggup lagi melalui semua ini.
5 menit kemudian, Aby keluar dari kamarnya.
"Astagfirullah!" Pekik Keyla saat melihat kondisi wajah Aby yang bonyoknya lebih parah dari Fathan. Rupanya dia belum pergi dan masih berada di depan kamar Aby.
Aby tak kalah kaget saat tahu Keyla masih belum beranjak meninggalkan rumahnya.
"Muka loe kenapa?" Suara Keyla bergetar menahan tangis. Entah mengapa hatinya sakit melihat wajah Aby yang dihiasi luka sana-sini.
Aby mencoba menguasai dirinya. Tanpa menatap Keyla, ia menjawab dingin. "Kejedot."
Keyla tersenyum getir. Kali ini airmatanya tidak dapat dibendung lagi. "Gue emang cewel tolol Bi.
Tapi gue masih bisa bedain luka kejedot sama luka gara-gara dipukulin orang."
Keyla menyeka airmatanya, lalu menatap Aby dalam-dalam. "Bilang sama gue.. Ini perbuatan Fathan kan? Kalian adu jotos?"
Akhirnya Aby menatap Keyla. Mata indah berwarna coklat itu kini harus berair karenanya.
"Kalau Iyah Kenapa? Sama kaya sekarang loe marahin gue, apa loe juga berani marahin Fathan?
Nggak kan? Jadi udah deh! Mending loe urusin aja dia, dan gak usah peduliin gue!"
Perkataan Aby sukses menghancurkan perasaan Keyla dengan telak. "OKE! MULAI SEKARANG GUE GAK BAKAL PEDULI SAMA LOE! DAN GUE JANJI GAK BAKAL NGURUSIN HIDUP LOE LAGI, PUAS?!" Keyla berlari pergi sambil menangis tersedu-sedu. Ia tak menyangka Aby tega berkata seperti itu padanya.
Sesaat Aby terdiam. Sebelum kemudian..
BLUG! Aby meninju pintu kamarnya sekuat tenaga. Ia membenci dirinya sendiri yang bersikap pengecut dan membuat Keyla menangis seperti itu.
***
Malam itu, Meisya merasa gabut dan langsung pergi ke taman kota dengan mengendarai motor matic milik Ayahnya. Meskipun keluarganya tidak se-sultan keluarga Raya dan Keyla yang rumah pun berlantai 2, namun Meisya tidak pernah merasa insecure dan justru bersyukur terlahir di keluarga yang sederhana namun cemara.
Ya, cemara. Karena selama ini, Meisya merasa tidak pernah kekurangan kasih sayang.
Berbeda dengan Raya yang harus mengalami pahitnya broken home, karena beberapa waktu lalu orangtuanya bercerai. Begitupun dengan Keyla yang orangtuanya sibuk bekerja dan tidak pernah ada waktu untuknya.
Tiba di taman kota, Meisya langsung mengeluarkan handphonenya dan menge-chatt Keyla dan Raya melalui grup yang bernama geng mereka, yakni TRIO SOMPLAK.
Meisya : Guys, sini dong ke taman kota. Gue lagi nongkrong sendiri nih. Udah kaya jablay yang lagi nungguin om-om.
Raya: Emang loe kaya jablay. Wkwk peace
Meisya : Sialan loe!
Keyla : Sorry Bo, gue gak bisa.
Raya: Yaudah, gue kesana sekarang.
Meisya : Oke, gue tunggu.
Meisya menyimpan handphonenya dan langsung menstandarkan motornya. Saat ia hendak berdiri, sayup-sayup terdengar suara nyanyian seseorang yang berjarak 5 meter dari motornya.
"Kaya kenal suaranya." Meisya langsung mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara. Ternyata Regy. Di sebuah bangku, doi sedang bernyanyi diiringi alunan gitar dipelukannya.
"Ku mencinta kau tak pernah tahu
Ku mendekat kau tak pernah sadar
Haruskah ku diam
Pendam semua rasa
Biarkan ku sakit tanpa kau tahu
Ada saatnya ku lelah berjuang
Namun hati tetap mau kamu
Tolong kamu sadar ada Ku Disini
Yang tak bisa menghilangkan bayanganmu.."
Regy bernyanyi sambil mengingat semua kenangan manis yang pernah ia lewati bersama Meisya. Hingga tanpa terasa, airmatanya ikut meleleh dan jatuh membasahi pipinya.
"Jika harus sakit biarkan ku sakit
Jika harus menangis biarkan ku menangis
Jika harus jatuh untuk bisa bersamamu
Biarkan Ku jatuh sampai lebam
Jika harus memohon aku siap memohon
Namun ternyata hati kuat ada rapuhnya
Sampai di titik ini aku angkat tangan
Aku menyerah.."
Jreng! Regy mengakhiri lagunya. Sepertinya ia benar-benar harus menyerah, sebelum rasa itu membunuhnya secara perlahan.
Prok! Prok! Prok
Terdengar suara tepuk tangan seseorang. Regy buru-buru menyeka airmatanya dan menatap orang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Cowok itu tertegun.
__ADS_1
"Keren banget! Kakak sampai merinding dengernya." Kata Meisya sambil memeluk dirinya sendiri. Ia akui, suara Regy sangat bagus. Dan lagunya yang sedih membuat satu perpaduan yang sempurna.
Meisya pun duduk di samping Regy.
"Ngomong-ngomong itu lagu buat Ana yah? Katanya kamu udah relain dia buat Adit."
Regy tersenyum kecut. "Gak segampang itu."
Meisya iba melihat Regy yang tampak sedang terpuruk malam itu. Ia memegang pundak Regy.
"Semangat Gi.. Cewek di dunia ini bukan cuma Ana doang."
Regy menunduk dan mengangguk. Andai Meisya tahu bahwa yang dimaksud Ana adalah dirinya.
Mungkin gadis itu akan shock.
Tanpa diduga, Regy menyingkirkan tangan Meisya dari pundaknya. "Saya akan lupain Ana.."
Menatap Meisya lekat, dan tiba-tiba airmatanya menetes. "Dia terlalu jauh untuk digapai."
Glek! Meisya menelan ludah dan bingung harus menjawab apa. Kata-kata Regy untuk Ana kan? Tapi kenapa ucapan pemuda itu seolah tertuju padanya?
Regy pun bangkit dan pergi tanpa pamit. Meisya ikut berdiri. "Gi! Kamu mau kemana?"
Sayangnya Regy tidak menjawab dan terus berlalu. Sekedar informasi, kost-annya tidak jauh dari taman kota. Karena itu Regy sering nongkrong disana.
Meisya sendiri menatap kepergian Regy dengan perasaan bingung. "Gajelas!"
"Lagi lihatin siapa loe?" Tanya Raya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Meisya.
Gadis itu terlonjak dan langsung berbalik. "Kampret! Ngagetin aja deh."
"Loe lagi lihatin siapa Kebo."
"Nggak, itu.. Gue lagi lihatin lampu taman."
**
Ninja merah Aby tiba di depan minimarket. Disaat yang sama, sebuah mobil juga berhenti di samping motornya. Merekapun sama-sama turun dari kendaraan, dan berjalan menuju pintu minimarket.
Saat keduanya bertemu..
"ABY?" . "DIVIO?" Ucap keduanya kompak.
Rupanya mereka saling mengenal, bahkan bisa dikatakan teman dekat. Karena dulu, mereka sekolah di SMP yang sama.
"Eh Pe.A! Loe kok ada disini? Loe bukannya sekolah di London?" Tanya Aby.
Divio tersenyum. "Bokap gue meninggal beberapa waktu lalu. Dan Nyokap cuma tinggal berdua sama pembantu. Jadi gue mutusin buat come back."
"Anjay.. Anak yang berbakti."
"Ya iyalah.. Ngomong-ngomong loe sekolah di SMA mana?"
"Di..."
Merekapun lanjut berbincang sampai lupa waktu.
--
Dalam perjalanan pulang, Raya tiba-tiba dicegat oleh 2 orang preman bermotor. Merekapun kemudian mendekati Raya, dan memaksa Gadis itu keluar dari mobilnya.
Raya auto panik dan buru-buru mengeluarkan handphonenya untuk mencari bantuan. Masalahnya dia harus menelfon siapa?
"Duh.. Gue harus ngehubungin siapa?"
Sementara kedua preman itu semakin menggila.
"Woy! Turun gak loe?!"
"Mau ngapain sih emangnya?"
"Gua bilang turun ya turun!"
Preman itu nekat membobol pintu mobil Raya.
Untungnya, belum sempat mobil Raya terbuka, terdengar suara sirine polisi yang berbunyi nyaring. Para preman tersebut langsung kalang kabut.
"Sialan! Cabut!" Mereka lari pontang-panting dan segera cabut dengan motornya.
Raya bernafas lega. Alhamdulillah.. Allah masih sayang padanya.
"Loe gak papa?" Tanya seseorang sambil mengetuk pintu mobil Raya. Rupanya suara sirine polisi itu berasal dari aplikasi yang ada di handphonenya.
Raya mengangguk pelan sambil memerhatikan pemuda itu. Wajahnya seperti tidak asing. Tapi Raya tidak tahu dia siapa.
"Hati-hati.. Daerah sini rawan begal."
"Oke.. Makasih yah."
Pemuda itu tersenyum tipis dan segera berlalu dengan motor ninjanya.
**
Diluar gerbang rumahnya, Keyla tengah berdiri sambil berbicara dengan Meisya via telfon.
"Iyah, Fathan lagi sakit. Jadi dia gak bisa jemput gue."
'Yaudah, gue sama Raya on the way ke rumah loe.'
"Sip! Gue tunggu."
5 menit kemudian, Aby muncul dari dalam rumahnya. Keyla mencoba tidak peduli dan pura-pura tidak melihat Aby. Karena bukankah itu yang ia inginkan?
Aby sendiri terus menatap Keyla. Tatapan sendu dan hati yang pilu. Andai sikapnya tidak pengecut, mungkin Keyla tidak akan menjauhinya seperti sekarang.
Disaat yang sama, mobil Raya tiba dan langsung berhenti di hadapan Keyla.
"Ayo Til.." ajak Meisya yang duduk disamping Raya. Raya sendiri seolah mengenali Aby dan langsung keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Loe? Loe cowok yang semalam nolongin gue kan?"
-Bersambung-