
Janji ibarat hutang. Meisya berniat membayar hutangnya pada Regy yang mengajaknya jogging tadi malam. Usai berdandan rapi, semprot parfum sana -sini, Gadis itu bergegas menuju tempat janjiannya dengan Regy, di taman kota.
Namun langkahnya tertahan ketika melihat sesosok manusia yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Meisya membuang muka, dan tampak tidak suka melihat keberadaan orang itu.
"Kenapa semalam telfon aku nggak diangkat?" Rangga melontarkan pertanyaan yang semalaman menghantui pikirannya.
"Kakak sibuk." Jawab Meisya tak acuh, dan tanpa menatap Rangga. "Mau ngapain kamu kesini?"
"Aku mau ngajak Kakak jalan." Ucap Rangga, bisa-bisanya. Padahal saat itu baru jam 7 pagi.
Namun ia seolah mempunyai firasat bahwa Meisya akan pergi.
Gadis itu sendiri berkata dengan dingin. "Kakak nggak bisa. Kakak udah ada janji sama..." Meisya menggantung ucapannya. Tidak mungkin ia berkata jujur. Karena itu sama halnya dengan mengadu domba Rangga dan Regy.
Rangga mengernyit heran. "Sama siapa?"
"Sama temen-temen Kakak." Meisya terpaksa berbohong demi kebaikan. Ia pun melanjutkan langkahnya dan berjalan melewati Rangga.
Rangga tidak tinggal diam dan langsung meraih lengan Meisya, menahan kepergiannya. "Plis Kak.. Hargai pengorbanan aku. Aku udah datang jauh-jauh dari rumah kesini cuma buat Kakak."
Meisya menghela nafas panjang. Ia benci situasi ini. Situasi dimana hati menyuruhnya pergi menemui Regy, sementara otak memintanya bersama dan mengasihani Rangga.
Regy sendiri sudah tiba di taman kota sejak 15 menit yang lalu. Dengan perasaan tidak sabar, ia duduk di sebuah bangku sambil menanti kedatangan Meisya. Meisya yang semakin hari semakin Regy cintai, dan tidak bisa ia lupakan, seberapa keraspun usahanya.
Waktu terus berlalu. Sementara Regy masih menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya ia tidak bisa terus duduk tanpa melakukan apa-apa.
Regy pun mengeluarkan handphonenya dan berniat menelfon Meisya. Naas, sesaat setelah Regy menempelkan handphone ke telinganya, ia dibuat hancur ketika melihat ke arah jalanan.
Meisya dibonceng Rangga dengan motornya!
Secepat kilat, Regy mengakhiri panggilannya dan menurunkan handphonenya dengan lemas. Wah..
Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak.
***
Selesai mandi dan skincare-an, Keyla tiba-tiba diserang rasa lapar. Wajar. Sudah pukul 07.30, namun belum ada makanan yang masuk kedalam perutnya.
Akhirnya ia bangkit dan bergegas mencari sarapan. Sambil melangkah menuruni tangga rumahnya, Keyla berpikir tentang menu sarapan yang ingin ia makan pagi ini. Enaknya makan apa yah, kira-kira?
Saat keluar rumah, Keyla melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa. Yakni Aby yang sedang duduk diatas sepeda dan tampak tengah asyik mengobrol dengan Mbok Sumi yang saat itu sedang menjemur pakaian.
Pelan tapi pasti, Keyla bergerak mendekati sahabat dan pembantunya.
"Loe lagi ngapain?" Tanya Keyla, heran.
"Kelihatannya?" Aby balik bertanya.
Keyla mendengus kesal dan langsung menatap Mbok Sumi yang sedang mengaitkan bajunya ke dalam hanger.
"Mbok lagi ngobrolin apa sama dia?"
"Anu Non.. Den Aby ngajakin Mbok sesepedaan."
Keyla auto menatap Aby yang juga sedang menatapnya dengan wajah datar. Bisa-bisanya!
"Terus Mbok mau?"
"Ya kalau Mbok nggak banyak kerjaan mah, hayu-hayu ajah. Tapi kan kerjaan mbok masih banyak. Aha! Mbok punya ide." Mbok Sumi langsung menatap Aby yang kini sedang memaju-mundurkan sepedanya.
"Den Aby sesepedaan sama Non Keyla aja."
Aby dan Keyla seketika saling melempar pandang. Itu memang tujuan Aby yang sebenarnya. Namun karena tadi malam ia masih kesal terhadap sikap Keyla, akhirnya ia pura-pura mengajak Mbok Sumi.
Keyla sendiri tampak menunggu. Menunggu ajakan Aby untuk bermain sepeda.
"Loe mau emang?" Tanya Aby, pada akhirnya.
"Kenapa enggak?" Haha. Keyla selalu begitu. Mengembalikan kata-kata Aby. "Lagian kebetulan gue lagi mau nyari sarapan."
"Yaudah sana ambil sepeda loe. Gue tunggu disini."
Keyla mengerti dan bergegas menuju bagasi yang terletak di samping kanan rumahnya.
"Menurut si Mbok, Den Aby sama Non Keyla sama-sama saling suka. Iya kan?" Celetuk Mbok Sumi, tanpa prediksi.
Aby langsung menyanggah. "Apaan sih Mbok." Namun dalam hati ia berharap ucapan Mbok Sumi menjadi kenyataan.
Beberapa menit kemudian, Keyla muncul sambil menuntun sepedanya. "Ayo.."
Aby bergeming dan malah menatap Keyla dengan lekat. Membuat gadis itu heran Sekaligus salah tingkah. "Kenapa loe lihatin gue?"
"Gak papa. Loe mau beli apa?"
"Mmm.. Bubur ayam aja kali yah? Eh loe sendiri belum sarapan kan? Kalau belum, sarapan bareng yuk?"
Aby tersenyum lembut seraya mengangguk. Salah satu impian terbesarnya adalah disiapkan sarapan lalu makan bersama Keyla setiap pagi.
__ADS_1
Semoga terwujud Ya Allah..
**
Sepanjang perjalanan, Meisya menutup mulutnya rapat-rapat. Berbeda dengan saat bersama Rizvan waktu itu. Karena jika tidak kasihan, sejujurnya ia malas pergi dengan Rangga.
Rangga sendiri mencoba memecahkan keheningan. "Kakak nggak penasaran, mau aku bawa kemana?"
"Nggak."
"Serius?" Rangga tersenyum menggoda. "Kakak nggak takut aku culik?"
"Maaf Ga. Kakak lagi nggak mood bercanda." Tukas Meisya, tajam.
Rangga menghela nafas sedih. "Oh.. Oke."
Setibanya di tempat tujuan, Meisya terdiam. Pikirannya mulai dihantui pertanyaan.
Apa maksudnya Rangga mengajak dirinya ke tempat yang sama dengan yang waktu itu dia datangi dengan Rizvan? (Alias Dufan).
Meski begitu, ia tetap mengikuti langkah kaki Rangga menuju loket pembelian tiket.
"Kita mau kemana dulu? Tornado? Halilintar? Bianglala?" Sama Persis! Tempat yang disebutkan Rangga adalah wahana yang ia coba bersama Rizvan beberapa waktu lalu.
Membuat Meisya semakin penasaran dengan rencana Rangga sesungguhnya. Namun lagi-lagi Gadis itu pasrah. Untuk saat ini, ia berencana menuruti semua keinginan Rangga.
"Terserah."
"Yaudah kalau gitu, kita naik halilintar dulu aja."
Jika waktu itu Meisya menjerit ketakutan, saat ini, wajahnya justeru terlihat datar dan seolah tidak merasakan apa-apa. Karena raganya memang berada disana, tapi tidak dengan jiwanya.
Meisya malah melamun. Membawa jiwanya, menuju saat ia dan Rizvan menaiki wahana tersebut beberapa waktu lalu. Sungguh indah kala itu..
**
Tiba di alun-alun kota, Keyla dan Aby memarkirkan sepeda mereka di samping gerobak penjual bubur ayam.
Setelah memesan, merekapun duduk berdampingan di sebuah kursi panjang.
"Kenapa loe nggak suka seledri?" Tanya Aby ketika mendengar pesanan Keyla 10 detik yang lalu.
"Gak suka aja. Menurut gue rasanya nggak enak.
Oiyah loe tim bubur diaduk apa nggak? " Keyla balik bertanya. Selama bersahabat dengan Aby, baru kali ini mereka sarapan Bubur ayam bersama. Karena itu ia tidak tahu Aby makan bubur seperti apa.
"Gue tim disedot." Celetuk Aby. Nyelenehnya kumat.
Tiba-tiba, muncul seorang Gadis yang mengendarai motor. Setelah melepas helm dan menstandarkan motornya, Gadis manis itu turun dari motornya.
Aby mengenalinya. "Nilam?"
Gadis bernama Nilam itu tampak senang melihat keberadaan Aby. "Kak Aby? Kebetulan banget kita ketemu disini. Kakak lagi beli bubur?"
"Nggak. Kakak lagi main layangan." Lagi-lagi Aby bercanda. Dan rupanya bukan saat bersama Keyla saja. Sifat humorisnya sudah dikenal semua orang.
Dan bukan hanya Keyla, Nilam pun memukul bahu Aby begitu mendengar guyonannya. "Kebiasaan deh. Tiap aku nanya Serius, pasti jawabannya selalu bercanda."
Aby tersenyum. "Lagian pertanyaan kamu nggak berbobot banget."
"Anjay berbobot." Nilam pun menatap Keyla yang buru-buru mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu. Jelas, Keyla terlihat cemburu melihat kedekatan mereka.
"Kakak sama siapa?" Tanya Nilam kemudian.
"Oh Iyah.. Kenalin, ini sahabat Kakak. Namanya Keyla." Aby menatap Keyla dan balas memperkenalkan Nilam. "Key, kenalin. Ini Nilam. Adek kelas gue."
Nilam tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Hai Kak, Aku Nilam."
"Keyla." Keyla menjabat uluran tangan Nilam dan buru-buru melepaskannya. Kehadiran Gadis itu membuat hatinya mendadak panas!
Pesanan Keyla dan Aby sudah jadi dan segera disajikan ke atas meja. Nilam sendiri langsung memesan, kemudian duduk disamping Aby.
"Ayo Key dimakan." Ucap Aby basa-basi.
Keyla tak merespon. Ia malah terus mengaduk-aduk buburnya dan tampak tidak berselera.
Aby langsung melahap buburnya tanpa diaduk-aduk seperti yang dilakukan Keyla. Membuat mulut Nilam gatal dan ingin berkomentar. "Bubur tuh paling enak diaduk. Biar rasanya menyatu."
"Suka-suka dong. Lagian kalau diaduk tampilannya jadi gak estetik. Mirip muntah kucing." Aby berbicara tanpa sadar bahwa Keyla makan bubur sambil diaduk. Membuat Keyla semakin tidak berselera dan langsung menjauhkan mangkuk buburnya.
Aby menyadari kekeliruannya dan buru-buru minta maaf sambil memegang bahu Keyla. "Sorry Key, gue gak sadar ngomong kaya gitu. Sorry yah." Aby menangkupkan kedua tangannya.
"Gak papa." Jawab Keyla, mendadak sedingin salju.
Nilam sendiri langsung pamit begitu bubur pesanannya sudah jadi.
"Key, loe marah yah sama gue?" Tanya Aby yang masih merasa bersalah. Apalagi Keyla belum terlihat memakan buburnya sama sekali.
__ADS_1
"Nggak."
"Terus kenapa nggak dimakan? Gue suapin yah?"
Untuk saat ini, perihal bubur tidaklah penting bagi Keyla. Sekian lama membuang muka, akhirnya Keyla menatap Aby dalam-dalam.
"Cewek tadi itu, gebetan loe?"
"Dih, bukan. Dia cuma adek kelas gue. Kita satu organisasi di sekolah, makanya kita lumayan akrab. Sumpah, dia bukan gebetan gue."
"Owh gitu." Keyla manggut-manggut. Ia bisa bernafas lega sekarang.
Aby menyadari sesuatu. "By the way, kenapa loe nanya gitu? Loe cemburu?"
Keyla buru-buru menyangkal. "Idih! Pede!" Padahal memang Iyah.
"Haha, udahlah.. Loe bilang aja kalau loe cemburu. Iya kan?"
"Nggak Abi!"
"Jujur Keyla!"
"Apaan sih, udah ah gue mau makan." Keyla langsung melahap buburnya yang kata Aby mirip muntahan kucing.
Aby sendiri tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia sangatlah yakin jika Keyla cemburu pada Nilam. Kemudian ia mengeluarkan handphonenya, dan terlihat mengetik sesuatu.
Keyla ikut-ikutan. Ia membuka WhatsApp dan melihat serentetan storry teman-temannya.
Di barisan paling atas, terpampang nyata status Aby yang bertuliskan:
Takkan pernah ada yang lain disisi
Segenap jiwa hanya untuKmu
Dan takkan mungkin ada yang lain disisi
Kuingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu
HINGGA AKHIR WAKTU.. SERR.
WADAW! Unggahan berupa lirik lagu itu seolah memberitahu Keyla bahwa dihati Aby hanya ada dirinya seorang. Tidak ada yang lain.
"Ini lagu, buat siapa?" Keyla bertanya dengan niat menguji. Tapi hati kecilnya berkata jika story Aby ditujukan untuknya.
"Buat seorang cewek yang nggak suka ngelihat gue deket-deket sama cewek lain." Jawab Aby, baddas.
Keyla langsung menaruh handphonenya, dan kembali memakan buburnya. Aby berhasil membuat gadis itu speechless hingga tidak tahu lagi harus berkata apa.
***
Setelah mencoba berbagai wahana yang diusulkan Rangga, pemuda itu mengajak Meisya mencari makan.
"Gimana kalau kita makan di kedai bakso yang ada di depan SMP Negeri 115?" Alias kedai bakso Pak Hasan langganan Meisya dan Rizvan.
Meisya membuang muka dan tersenyum miris. Sepertinya Rizvan benar-benar menceritakan semua yang terjadi pada Rangga hari itu.
Meski begitu Meisya tetap menurut dan tidak banyak bicara. Merekapun pergi ke kedai bakso Pak Hasan dengan mengendarai motor Rangga.
"Kakak SMP nya disana?" Tanya Rangga seraya menatap SMP negeri 115 yang terletak di seberang kedai bakso tempat mereka berada.
Meisya yang duduk di hadapannya hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak menahan kesal. Rangga menyadari itu.
"Kenapa sih daritadi Kakak diem aja? Kakak nggak seneng jalan sama aku? Padahal aku antusias banget loh."
"Gak papa." Jawab Meisya pelan. Lalu bertanya "Abis Ini kamu mau ngajak Kakak kemana?"
"Mmm.. Gimana kalau kita nonton di bioskop?"
"Terus ? Ke taman kota? Ya kan?" Tebak Meisya. Demi apapun ia sudah muak dan tidak tahan lagi mengikuti skenario Rangga. "Apa sih rencana kamu sebenernya? Sumpah kakak bener-bener penasaran daritadi."
Rangga menelan ludah getir. Menatap Meisya nanar, lalu menjawab. "Aku cuma pengen ngetes kejujuran Kakak, kakak bakal jujur suka sama kak Rizvan atau nggak. Karena saat tahu orang yang Kakak suka Adalah Kakak sepupu aku sendiri, aku bener-bener shock."
"Kalau Iyah Kakak suka sama Rizvan, kenapa? Kamu mau apa?" Meisya bertanya dengan nada menantang.
"Terus kenapa Kakak nggak pernah bilang?" Rangga tampak terluka.
"Emang kamu pernah nanya? " Meisya terus menyerang Rangga.
Rangga merasa di skak mat hingga merasa tak mampu lagi menjawab. Kemudian ia malah berkata. "Terus sekarang, apa Kakak masih suka sama Bang Rizvan? Harusnya udah nggak dong. Kan dia juga udah bahagia sama Kak Diana."
Kali ini Meisya terdiam. Hatinya semakin panas mendengar ucapan Rangga.
"Cinta gak bisa dipaksa Kak. Walaupun Kakak cinta mati sama Bang Rizvan, kalau dia cintanya sama Kak Diana. Kakak bisa apa?
Lagian apa susahnya sih ngelupain seseorang? Di dunia ini kan cowok bukan Bang Rizvan doang."
"Kamu bener! Semua yang kamu omongin gak ada yang salah. Dan kalau kamu pikir ngelupain seseorang itu gampang, maka cobalah lupain Kakak, yang sampai kapanpun gak akan pernah bisa suka sama kamu!" Savage! Perdebatan sengit yang terjadi antara mereka berdua akhirnya dimenangkan oleh Meisya.
__ADS_1
Meisya pun pergi dengan perasaan emosi yang bergejolak. Membuat Rangga mematung dan merasakan sakit yang tidak berdarah.
-Bersambung-