TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Jadian


__ADS_3

"Gue cinta sama loe Ray. Gue pengen, kita bener-bener pacaran. Bukan sekedar settingan." Pinta Divio, penuh harap. Saat tahu bahwa Raya adalah gadis misterius yang berhasil membuatnya jatuh cinta , Divio seakan takjub oleh takdir Tuhan yang benar-benar Maha Kuasa.


Sementara Raya dibuat tak berkutik. Dirinya masih tak menyangka jika Divio baru saja menyatakan cinta padanya.


"Gue tahu, berkali-kali loe dilukain sama cowok, dan mungkin trauma karena hal itu. Tapi asal loe tahu, Gue beneran tulus sayang sama loe, dan berharap bisa nyembuhin luka hati loe Ray."


Selanjutnya, Divio memberi instruksi. Tidak ingin bertele-tele, karena sesungguhnya ia teramat penasaran dengan jawaban Raya.


"Sekarang gini, kalau loe nerima perasaan gue, loe suapin gue cokelat itu. Tapi kalau loe nolak, loe yang makan cokelat itu."


Sekian lama bungkam, Raya akhirnya membuka suara. "Sebelumnya, gue pengen mastiin sesuatu dari loe.


Beberapa waktu lalu, loe bilang udah punya cewek yang loe suka. Meskipun loe gak tahu orangnya, tapi loe jatuh cinta sama suaranya dan berharap bisa ketemu sama cewek itu.


Terus sekarang, gimana nasib dia?"


Divio tersenyum geli. "Sekarang kan gue lagi nembak dia."


Demi apapun Raya bingung. "Maksud loe?"


Divio menyuruh ke-3 anak itu pergi. Kemudian ia menjelaskan semuanya pada Raya. Bahwa ternyata, gadis itu adalah dirinya.


Membuat Raya terkejut dan merasa tak percaya dengan takdir Tuhan yang sangat menakjubkan. "Jadi cewek itu, gue?"


Divio mengangguk. "Lagu pertama yang gue denger waktu itu adalah lagunya Andmesh yang judulnya hanya rindu.'


Raya tertegun. Benar, ia pernah menyanyikan lagu itu beberapa waktu lalu. Hari dimana Randy meninggalkan dunia untuk selamanya.


"Dan lagu kedua, berjudul Merindunya. Penyanyi Pingkan Mambo. Iya kan?"


Raya mengangguk pelan. Sumpah demi apapun, perasaannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Antara senang, kaget, takjub, tak menyangka. Semuanya berbaur menjadi satu.


Divio tersenyum tipis melihat ekspresi Raya yang seperti orang linglung. "Awalnya gue bener-bener shock, waktu tahu kalau ternyata cewek itu adalah loe. Tapi disisi lain, gue juga seneng banget. Karena ternyata cewek itu adalah loe." Divio menelan ludah, lalu meminta kepastian. "Jadi gimana?"


Fiuhhhhhh Raya menghela nafas. Tidak perlu sholat istikharah. Ia sudah yakin dengan isi hatinya.


Setelah membuka kemasan cokelat pemberian Alifa, ia berjalan mendekati Divio beberapa langkah. Sementara Divio menatap Raya dengan jantung berdebar hebat.


Kemudian yang dilakukan Raya adalah..


Memakan cokelatnya.


Divio lemas. Raut kekecewaan seketika tergambar jelas diwajah tampannya. "Jadi gue ditolak?"


"Kata siapa?" Raya balik bertanya dengan mulut yang belepotan.


"Ya itu buktinya. Loe makan cokelat itu."


Raya nyengir. Memerlihatkan giginya yang cokelat akibat memakan makanan manis tersebut. "Gue mau jadi cewek loe. Tapi gue juga mau cokelat ini. Nih, sekarang giliran loe. Aaa.."


Raya menyuapi Divio. Dengan perasaan bahagia, Divio mangap, membuka mulutnya lebar-lebar.


Senyum Raya kian merekah. Bagai bunga yang mekar di pagi hari. "Asal loe tahu Div. Sebenarnya gue juga punya perasaan sama loe.


Tapi yang namanya cewek, mana mungkin nembak duluan."


Divio tersenyum bahagia dan langsung menarik Raya ke dalam dekapannya. Meskipun belum lama saling mengenal, namun Gadis itu sangat ia cintai, melebihi apapun di dunia ini.


"I Love You Ray."


Tak kalah erat, Raya membalas pelukan Divio yang terasa begitu hangat. Kini, mereka benar-benar asli pacaran, no settingan.


"I Love You too Div."


**


Break time. Meisya pergi ke toilet untuk memenuhi panggilan alam. Setelah selesai, ia berkaca di sebuah cermin besar sambil membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Tring! Sebuah pesan masuk ke WhatsAppnya.


Meisya langsung mengeluarkan handphonenya dan menatap layar dengan wajah tanpa ekspresi.


Sedetik kemudian, ekspresi kagetnya muncul begitu membaca pesan yang dikirim Papahnya.


Kalap, Meisya segera pergi menemui Sang Om di ruangannya.


"Om, Meisya izin pulang sekarang yah. Ada hal urgent."


"Memangnya ada apa?"


Setelah memperoleh izin dari omnya, Meisya bergegas pulang dengan perasaan kalut. Dalam hati ia berdoa semoga Mamahnya baik-baik saja.


Melihat Meisya yang berjalan tergesa-gesa, Regy segera berlari menghampirinya.


"Kakak mau kemana?"


"Kakak mau pulang Gi."


"Tapi diluar lagi hujan Kak."


Meisya menatap keluar. Benar. Keadaan diluar sedang hujan deras. Padahal tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tapi Meisya tidak peduli.

__ADS_1


"Gak papa, Kakak bakal tetap pulang."


"Plis Kak!" Regy menahan langkah Meisya dengan meraih tangannya. "Kasih tahu saya apa yang terjadi, biar saya nggak khawatir." Pinta Regy. Nada suaranya mengandung kecemasan yang teramat sangat.


Meisya menghela nafas dan akhirnya menjelaskan. "Mamah Kakak jatuh di kamar mandi."


Regy terkejut. Lalu berbaik hati. "Yaudah, biar saya anterin Kakak pulang."


"Nggak usah, Kakak mau naik grab aja."


"Hujan-hujan gini jarang ada driver Kak. " Regy keukeuh.


Mau tak mau, Meisya akhirnya bersedia diantar pulang oleh Regy. Regy yang semakin kesini semakin membuatnya kagum oleh kepribadiannya.


Sebelum berangkat, Regy mengeluarkan jas hujan dari dalam jok motornya, lalu menyerahkannya pada Meisya.


"Nih Kak, pake."


Lagi-lagi Meisya menolak. Karena ia pikir, Regy yang lebih pantas memakainya. Namun Regy membantah dengan alasan ia sudah memakai jaket, dan itu sudah cukup.


Membuat Meisya pasrah dan langsung mengenakan jas hujan berwarna hijau tersebut.


Sepanjang perjalanan, Meisya tak henti menatap Regy yang kini sedang memboncengnya. Ia tampak terharu. Karena baru kali ini ada pemuda yang begitu care padanya.


"Kak." Regy menoleh kesamping, sekaligus membuyarkan lamunan Meisya.


"Iyah?"


Regy mengusap wajahnya yang basah kuyup. Karena jarak kafe dan kosannya tidak terlalu jauh, ia berpergian tanpa memakai helm.


"Maaf banget, Kakak pegangan yah? Saya mau ngebut biar cepat sampai."


"Oh.. Oke."


Meski canggung, Meisya tetap melingkarkan tangannya ke pinggang Regy. Cowok itu pun segera menambah kecepatan motornya.


5 menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah Meisya. Gadis itu buru-buru melepaskan jas hujannya dan menyuruh Regy memakainya. Meski tidak ada gunanya karena toh Regy sudah basah sebasah-basahnya.


"Yaudah, Kakak masuk dulu yah?"


"Iyah. Saya doain semoga Mamah Kakak baik-baik aja."


Meisya tersenyum tipis mendengar perkataan Regy yang sedikit menenangkan hatinya. "Aamiin."


Begitu Meisya menghilang dari pandangannya, Regy langsung bersin-bersin. Alamat flu akan segera menyerangnya.


Regy pun putar balik dan langsung melesat dengan motornya. Ada kebahagiaan tersendiri saat ia berhasil menjadi pahlawan bagi Meisya.


Melawan badai pun aku rela demimu


Jangan tanyakan alasannya


Karena bumi pun tidak pernah bertanya


Mengapa hujan selalu turun membasahinya


-Regy Alvino-


****


(Bi, kapan loe pulang?)


Setelah mengetik pesan tersebut, Keyla langsung menyentuh tombol send. Harga dirinya sudah menjadi nomor sekian, sekarang.


Karena Aby sedang online, beberapa detik kemudian Keyla mendapat balasan. Bukan berupa pesan, melainkan video call.


Senyum Keyla merekah. Secepat kilat ia meng-slide icon berwarna hijau ke atas. Wajah Aby seketika muncul, memenuhi layar handphonenya.


"Kenapa? Loe kangen yah?" Goda Aby yang langsung membuat Keyla salah tingkah.


"Nggak." Dusta Keyla , tak mau mengakui.


"Oh gitu? Yaudah, gue gak bakal balik lagi ke Jakarta."


"Ih! Jangan dong!" Keyla cemberut mendengar ancaman Aby.


Cowok itu tergelak. "Makanya loe jujur."


"Iyah! Gue kangen sama loe! Puas?!" Kata Keyla, ngegas. Aby masih hobby menguji kesabarannya.


Aby tersenyum menang. "Nah gitu dong. Kan enak kalau jujur. Gue seneng , loe gak dapet dosa."


Keyla akhirnya ikut tersenyum. "Loe sendiri kangen nggak sama gue?"


"Nggak."


Ekspresi Keyla langsung datar. "Oh gitu? Yaudah gue tutup yah."


"Nggak salah maksudnya!" Ucap Aby cepat, takut Keyla benar-benar mematikan sambungannya.


Kali ini Keyla yang terbahak. Skor : 1 - 1 . Haha!

__ADS_1


"Jadi kapan loe pulang?" Tanya Keyla, sudah tak sabar menanti kehadiran Aby.


"Maunya?"


"Sekarang."


"Yaudah, nanti gue teleportasi biar langsung datang ke kamar loe."


Keyla tersenyum. Ucapan Aby selalu berhasil membuat hatinya membumbung ke angkasa.


"Key loe jangan kebanyakan senyum."


"Kenapa? Loe mau ngatain gue cewek Stress kalau kebanyakan senyum?"


"Dih suudzon."


"Terus?"


"Gue takut diabetes."


"Haha. Gombal!"


"Tapi emang senyum loe semanis itu."


"Masaaaaa."


Aby tersenyum. Semakin hari, rasa cintanya semakin besar untuk gadis itu.


**


"LOE SERIUS??!!" Pekik Meisya dan Keyla, bersamaan.


Raya mengangguk dan tersenyum malu-malu. Beberapa detik yang lalu, ia baru saja mengungkapkan hubungannya dengan Divio pada dua somplak.


"Anjir loe kesalip Key." Celetuk Meisya. Ia salut pada Divio yang sat-set dan lebih gercep ketimbang Aby. "Berarti yang jones tinggal gue doang." Lanjut Meisya dengan wajah memelas.


"Gue gak dianggap?" Tanya Keyla sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya loe kan bentar lagi juga mau ditembak sama si Aby. Lah, gue?"


"Kan ada si Regy." Celoteh Raya.


Keyla menambahkan. "Bener Bo.. Udah loe move on aja sama dia. Meskipun berondong, tapi kalian cocok kok."


Meisya terdiam. Tidak berusaha menyangkal, tapi juga tidak menanggapi. Ia justeru mengingat kebaikan yang dilakukan Regy tadi malam.


***


Divio baru datang di kelas. Saat merogoh Kolong mejanya, ia menemukan secarik kertas yang dilipat dua di dalam sana.


Cowok itupun segera membukanya dan membaca tulisan yang tertera disana.


JAUHIN RAYA, ATAU LOE BAKAL NYESEL.


Disaat yang sama, Trio somplak juga datang.


Ketiganya dibuat heran saat melihat Divio yang sedang berdiri mematung sambil membaca sebuah kertas.


"Eh ayang beb loe tuh." Goda Meisya sambil menyikut Raya. Gadis itu tidak menanggapi dan buru-buru berjalan mendekati Divio.


Divio terkejut melihat kedatangan Raya dan buru-buru menyembunyikan kertas itu ke belakang punggungnya.


"Loe baca apaan?"


"Hah? Bukan apa-apa."


"Bukan apa-apa. Tapi kok muka loe tegang gitu?"


"Masa sih? Udah ah, gue mau ke toilet dulu." Divio berlalu dengan langkah cepat. Yakin, kertas teroran itu pasti dari si Levin. Divio pun berniat mencari cowok bangsat itu saat ini juga.


Setelah menemukan Levin yang sedang berdiri di depan pintu kelasnya, Divio langsung menariknya dan membawa cowok keparat itu ke belakang kelas.


"Ini ulah loe kan?" Tanya Divio sambil menunjukkan kertas teror yang ia temukan di kolong mejanya.


Levin tersenyum menyeringai. "Jelas. Kalau bukan gue, siapa lagi?"


Divio menghela nafas panjang. Ia benar-benar muak menghadapi manusia jahanam satu ini. "Loe mau gue jauhin Raya? Kenapa? Loe masih cinta sama dia? Bukannya dulu loe udah nyakitin dan nyia-nyiain dia?" Divio membombardir Levin dengan pertanyaan.


Levin tak menjawab. Justeru menatap Divio dengan tajam dengan tangan yang mengepal. Tempramennya yang buruk membuat emosinya mudah terpancing.


"Kalaupun gue jauhin Raya, emang dia mau balikan lagi sama loe? Menurut gue sih gak mungkin. Soalnya dia pernah bilang, jangankan balikan, lihat muka loe aja udah bikin dia enek!" Kata Divio, sengaja memprovokasi.


Levin yang sudah tidak tahan akhirnya melayangkan tinjunya dan berhasil mendarat di wajah Divio.


Cowok itu justeru tersenyum sinis mendapat pukulan dari musuhnya. Ujung bibirnya berdarah, tapi seolah tidak mempedulikan hal itu.


"Jadi loe nantangin gue? Oke! Loe tunggu tanggal mainnya!" Levin berlalu sambil mendorong bahu Divio dengan tubuhnya.


**


"Ujung bibir loe kenapa ? Kok lebam?" Tanya Raya yang tampak khawatir melihat sudut bibir Divio yang memar, seperti habis ditinju.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2