TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Terlanjur mencinta


__ADS_3

"Eh loe tahu gak? Katanya Kak Rizvan sama Pacarnya kompak mau pindah sekolah."


"Pacarnya? Kak Diana?"


Meisya yang sedang sarapan di kantin refleks berhenti mengunyah, saat mendengar percakapan 2 orang gadis yang sedang duduk di belakangnya.


"Iyah."


"Kenapa? Terus pindah kemana?"


"Gak tahu sih. Yang jelas gosip ini udah nyebar kemana-mana."


Meisya menghela nafas panjang. Kemudian geleng-geleng kepala, seolah memaksa dirinya untuk tidak memikirkan semua itu. Biarlah Rizvan pindah sekolah, jika perlu pindah ke planet lain sekalian. Dengan begitu Meisya tidak akan bertemu dengan Rizvan lagi selama sisa hidupnya.


"Kak Meisya.." Regy muncul. Menarik kursi dihadapan Meisya, lalu duduk disana.


"Iyah?"


"Saya denger Kakak pinter matematika yah?"


"Nggak sepinter Jerome Poline sih. Kenapa emang?"


"Saya payah banget sama pelajaran itu. Waktu hari sabtu aja, ulangan saya cuma dapat nilai 40."


Meisya tertawa. Matematika adalah pelajaran favoritnya sejak SD. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menganggap matematika adalah musuh terbesar.


"Materinya tentang apa emang?"


"Logaritma. Otak saya sampai berasap saking pusingnya."


"Haha." Meisya bengek. "Oke.. Terus kalau kakak ngerti matematika, kamu mau apa?"


"Saya mau Kakak jadi guru privat saya. Tenang, gak gratis kok. Saya pasti bayar." Regy memohon dan berharap Meisya mau jadi guru privatnya.


Meisya menimbang-nimbang. "Mmm.. Gimana yah."


"Plis.." Regy menangkupkan kedua tangannya dan memasang wajah melas.


Meisya tersenyum geli dan akhirnya setuju. "Oke deh."


"YES! Alhamdulillah.. Makasih yah Kak." Regy girang bukan main.


"Tapi ada syaratnya." Ucap Meisya, rupanya tak serta-merta.


"Syarat apa?" Regy deg-degan. Ia harap syaratnya bukan yang aneh-aneh. Seperti membuatkan candi dalam Waktu satu malam, MISALNYA.


"Gampang kok. Kamu juga harus ngajarin Kakak main gitar. Soalnya Kakak pengen banget bisa main gitar."


"Owh, gampang itu mah. Bisa diatur."


"Oke fiks."


Senyum Regy semakin mengembang. "Kalau gitu pulang sekolah, saya anterin Kakak pulang, abis itu langsung ke kosan saya yah Kak."


"Ahsiaaaappp."


****


"Bo! Kebo! Bangun napa! Ayo istirahat!" Keyla mengguncang tubuh Meisya yang sudah tertidur sejak jam kedua. Kebetulan guru yang mengajar hari itu tidak masuk, jadi si kebo bisa tidur sepuasnya, tanpa ada yang melarang.


Meisya menggeliat, sambil mengumpulkan nyawanya yang separuh masih tertinggal di alam lain.


Saat melihat ke depan, ia tidak melihat Raya di bangkunya. "Si kampret kemana?"


Si kampret rupanya sedang berdiri di rooftop .


Ia tengah mendengarkan musik melalui earphonenya sambil ikut bernyanyi. Suaranya memang tidak sebagus Meisya. Tapi berhasil membuat Divio jatuh cinta, tanpa ia ketahui.


"Senyuman itu hanyalah menunda luka


Yang tak pernah kuduga


Dan bila akhirnya kau harus dengannya


Mengapa kau dekati aku


Kau membuat semuanya indah.


Seolah takkan terpisah


Aku telah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku telah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku TERLANJUR MENCINTA.."


Raya terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya berteriak, dan membuat sebuah pengakuan.


"DIVIOOOO.. Kayanya gue suka sama loe."


Nahloh.


**


"Mau pulang naik apa loe?" Tanya Meisya pada Raya, sembari menggendong tasnya.


Raya menjawab sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. "Naik odong-odong."


"Serius kampret!"

__ADS_1


"Naik grab Kebo!"


"Oh!" Meisya menatap Keyla yang sedang minum dari botol Tupperwarenya. "Loe sendiri?"


Belum sempat Keyla menjawab, Raya sudah lebih dulu menyambar. "Paling sama si Aby dia mah."


Keyla langsung meliriknya dengan kesal. Tatapannya seolah berkata. SOK TAHU!


"Apa loe lihat-lihat?" Raya tak terima mendapat tatapan tajam dari Keyla.


Keyla pun membalas. "Loe juga daripada naik grab mending sama si Divio. Div!" Keyla menepuk punggung Divio. Cowok itu langsung berbalik.


"Loe mau kan nganterin Raya pulang?"


Divio menatap Raya yang juga sedang menatapnya sambil menanti jawaban.


"Boleh. Tapi gue ke toilet dulu yah, kebelet." Divio langsung ngacir. Raya langsung mengikutinya dan bermaksud menunggu Divio diluar toilet.


Ada rasa bahagia yang menyusup ke hatinya tatkala Divio bersedia mengantarnya pulang.


Sementara Meisya juga pamit duluan pada Keyla. Kali ini, ia tidak boleh mengingkari janjinya terhadap Regy. Janji untuk pulang bersama dan menjadi guru privatnya.


Tersisalah Keyla seorang diri yang langsung menelepon malaikat penjaganya.


"Halo Bi? Loe bisa jemput gue nggak?"


'Aduh sorry Key, gue udah janji mau nganterin Nilam pulang. Sekalian kita juga mau diskusiin sesuatu.'


Fiks! Keyla kecewa. "Oh gitu. Yaudah." Klik! Keyla mengakhiri panggilannya dan bergegas keluar kelas dengan perasaan kesal.


Bisa-bisanya Aby lebih memilih Nilam daripada dirinya!


Saat tiba di luar gerbang, Keyla pun berhenti dan langsung mengeluarkan handphonenya guna memesan grabcar.


"Kiw! Pstt! Psst!" Seorang pemuda melakukan catcalling terhadap Keyla. Sontak gadis itu tak terima dan langsung menatap ke arah sumber suara. Berniat memberi pemuda itu pelajaran.


Tapi saat tahu siapa orangnya, Keyla tidak jadi marah.


"Abii?" Keyla berjalan cepat ke arah Aby, mendekatinya dengan perasaan tidak sabar,


dan... PLOK! Bahu Aby menjadi sasaran empuk kekesalannya.


"Loe ngeselin banget sih!"


"Hehe.. Tapi ngangenin kan?"


"Idih! Pede!" Meski kesal, tak dapat dipungkiri. Hati Keyla bahagia melihat keberadaan pemuda itu.


"Gue pikir loe beneran nganterin Nilam pulang."


"Ya nggak lah. Mana mungkin gue lebih milih dia daripada loe."


"Kenapa?" Tanya Keyla pelan. Berharap Aby menegaskan perasaannya. "Karena gue sahabat loe?"


"Terus?" Tanya Keyla dengan hati berdebar. Plis Aby, jangan memberi harapan palsu.


"Karena.. loe juga tetangga gue. Jadi gue lebih irit bensin."


Fiuhhhhhh. Keyla menghela nafas. Aby memang MEMBAGONGKAN!


Disaat yang sama, Divio muncul membonceng Raya dengan tiger putihnya. Tenang, kalau siang Raya tidak akan terkena alergi dingin.


"Anjay.. Yang lagi mojok." Goda Divio begitu melihat kedua manusia yang hobinya tarik ulur tersebut.


"Apaan sih loe!" Balas Aby sambil mesem-mesem.


Sementara Raya dan Keyla dibuat heran.


"Kalian saling kenal?" Tanya Raya yang seolah takjub dan menyadari betapa sempit dunia ini.


"Kagak! Lu siapa yah?" Canda Aby.


"Oh jadi gitu? Keyla, loe tahu gak orang yang nganterin buku gambar loe tempo hari, itu si Aby." Divio buka kartu.


Aby terbahak. "Haha. Orang dia udah tahu. "


Keyla hanya diam dan terlihat bingung.


Disaat seperti itu, Meisya juga muncul bersama Regy yang mengendarai motor matic berwarna biru.


Melihat dua sahabatnya yang masing-masing bersama seorang lelaki, Meisya berkata iri. "Anjay.. Kayanya tinggal gue doang yang jones."


"Itu di depan loe apa? Candi?" Seloroh Keyla.


Meisya gagal paham. "Maksud loe?"


"Maksud si Kutil, loe jadian aja sama si Regy." Ucap Raya.


Regy menunduk dan menyembunyikan senyumannya. Dalam hati ia berharap ucapan Raya menjadi kenyataan.


Sementara Meisya langsung terlihat grogi. "A.. Apaan sih loe Ray! Udah yuk Gi, kita pergi aja."


"Dadah Kakak." Ledek Raya sambil melambai-lambaikan tangan.


Regy tersenyum geli sebelum akhirnya pamit pada mereka. Tidak lama, Divio juga menyusul bersama Raya. Tersisalah Aby dan Keyla di tempat itu.


"Yaudah yuk, kita juga pergi." Aby mengenakan helmnya dan menegakan posisi motornya.


Keyla justeru bergeming dan tak kunjung naik.


Membuat Aby heran. "Kenapa ayang?"


Mata Keyla membulat sempurna. "Hah? Apa loe bilang?"

__ADS_1


"Ayang. Kenapa? Salah yah, kalau gue manggil loe kaya gitu?" Awww.. Aby mulai berani.


Keyla menunduk dan menggeleng sambil tersenyum malu-malu bagong. Duh.. Aby memang jago mengobrak-abrik perasaannya.


"Yaudah, ayo naik. Gue udah gak sabar pengen nonton film Megan."


Keyla menurut dan akhirnya naik ke motor Aby. Demi apapun, ia sungguh bahagia saat ini.


"Pegangan dong."


Lagi-lagi Keyla pasrah dan menuruti kemauan Aby. Kemauan dia juga sih sebenarnya.


Dan saat tangan Keyla memegang kedua pundaknya, Aby langsung memindahkan kedua tangan gadis itu ke pinggangnya.


"Berasa tukang ojek gue kalau loe pegangan ke pundak. "


"Haha." Keyla akhirnya tertawa.


Plak! Aby memukul tangki motornya. "Berangkaaaaat.."


****


"Makasih yah." Kata Raya, sesaat setelah ia turun dari moge Divio.


Cowok itu tersenyum lembut. "Sama-sama."


"Loe mau mampir dulu?"


"Nggak usah, gue ada urusan."


"Owh gitu. Yaudah, gue masuk dulu yah?"


Divio mengangguk. Setelah Raya menghilang dari pandangannya, pemuda itu menghembuskan nafas panjang yang dari tadi seolah ia tahan.


Divio menggeleng tak percaya. "Jadi cewek itu loe Ray?"


Sebelumnya, saat istirahat, Divio berjalan menaiki tangga rooftop sambil bertelfonan dengan seseorang.


"Cie.. Berarti, tinggal masalah waktu aja buat loe nembak -" ucapan Divio terhenti ketika sayup-sayup ia mendengar suara seorang gadis yang sedang bernyanyi. Suara yang sangat ia kenali.


Divio pun izin menutup telfon, dan buru-buru naik menuju rooftop. Sesampainya disana, ia dibuat shock.


"Raya? Jadi, cewek yang gue suka itu... Raya?"


Rasa kaget Divio menjadi double saat ia mendengar teriakan Raya beberapa detik kemudian.


"DIVIOOOO.. Kayanya gue suka sama loe."


Mengingat semua itu, Divio kembali menghela nafas. Semua ini benar-benar diluar nalar.


***


Tiba di kosannya, Regy langsung mengajak Meisya masuk. Gadis itu takjub saat melihat ke dalam kosan Regy yang semua barang tertata dengan rapi. Mendandankan jika Regy cowok yang apik dan rajin beres-beres.


"Wah.. Beda banget sama kamar Kakak yang kaya kapal pecah. " Meisya mengacungkan jempolnya pada Regy.


Cowok itu tertawa ringan. Ia paling tidak tahan melihat sesuatu yang berantakan. Jadi sebisa mungkin, kamar kosnya selalu terlihat rapi dan bersih.


Meisya teringat sesuatu. Rangga! Bagaimana jika suatu hari ia tahu akan hal ini? "Apa nggak akan terjadi masalah nantinya?"


Regy yang sedang menuangkan air ke dalam gelas mendadak berhenti. Seandainya tidak ada Rangga, mungkin hubungannya dengan Meisya akan berjalan dengan mulus . Sayangnya Tuhan menghadirkan pemuda itu sebagai orang ketiga di dalam kisah cinta mereka.


"Saya juga nggak tahu Kak. Tapi untuk seminggu ke depan, kayaknya kita bakal aman."


"Maksud kamu?"


"Hari ini Rangga pergi ke Jogja buat nemuin Neneknya yang lagi sakit. Dan dia bilang, dia akan tinggal selama seminggu disana."


 


Saat Aby dan Keyla tengah khusyu menonton film M3GAN di laptop Keyla, tiba-tiba handphone Aby yang sedang di charge, berdering.


Aby yang duduk berdampingan dengan Keyla diatas ranjang, langsung mencabut handphonenya dan mengangkat telfon.


"Halo."


'Bi.. kata si Kapten, ada yang nantangin tim Futsal SMA kita.'


"Siapa?"


'........'


"Oke. Terus?"


'.......'


Aby menghela nafas. Huuh! Menganggu saja.


Meski begitu ia berkata, "Yaudah, gue kesana sekarang. Gor merdeka kan?"


'Iyah.'


"Oke." Aby menaruh handphonenya setelah panggilan berakhir.


"Ada apa?" Tanya Keyla saat melihat Aby bangkit dan berjalan menuju lemari bajunya.


"Loe pulang gih. Gue mau tanding futsal sekarang."


"Ikut!" Rengek Keyla, yang saat ini seolah tidak ingin jauh dari Aby.


Aby yang sedang memilih bajunya sontak menoleh ke arah gadis itu.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2