
Malam itu, Meisya ada jadwal menyanyi di kafe Om-nya. Setelah berdandan secantik mungkin, ia bergegas memesan grab car.
Kini, Meisya sudah berada di dalam taxi online.
Ia merenung sambil menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Sesekali ia memejamkan mata dan menghela nafas berat. Entah kenapa, pikirannya benar-benar kacau malam ini.
Hingga beberapa detik kemudian, sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Meisya langsung mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas, dan membaca nama yang tertera di layar gawai.
Rangga memanggil.
Tanpa pikir panjang, Meisya langsung menolak panggilan. Untuk saat ini, ia tidak ingin berurusan dengan pemuda itu. Karena meskipun Regy telah mematahkan dugaannya, Meisya masih belum sepenuhnya percaya bahwa Rangga benar-benar menyukainya.
5 menit kemudian, Meisya akhirnya sampai di kafe Om-nya. Saat ia masuk, dirinya cukup terkejut melihat keberadaan Regy yang sedang duduk di salah satu meja. Regy sendiri langsung mendekati Meisya begitu melihat sosoknya. Sosok yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya.
"Kak.."
"Regy? Kamu sengaja datang kesini?"
Regy membenarkan. Ia bermaksud meminta maaf pada Meisya. "Saya salah Kak. Harusnya saya ngasih tahu Kakak dari awal, kalau Rangga dan Kak Rizvan adalah sepupu."
Beberapa saat Meisya terdiam. Sebelum akhirnya ia berkata. "Udahlah Gi. Gak usah bahas mereka. Kakak bener-bener males."
"Oh, yaudah kalau itu mau Kakak.
Umm ngomong-ngomong.. Besok kan hari minggu. Kalau saya ngajak Kakak joging, Kakak mau nggak?"
"Jogging?"
Regy tersenyum dan mengangguk. Ia harap Meisya bersedia menerima ajakannya.
"Mmm.. Boleh deh. Kebetulan BB (Berat badan) Kakak naik akhir-akhir ini. Siapa tahu dengan jogging, BB Kakak bisa langsung turun 5 kilo." Celetuk Meisya.
Regy tertawa mendengarnya. Ya kali jogging satu kali bisa langsung menurunkan berat badan sedrastis itu.
"Oiyah Kak, saya mau request lagu dong." Ucap Regy dengan wajah berseri-seri. Kenyataan bahwa Meisya tidak marah padanya, sangat membuat hatinya lega sekaligus senang.
"Boleh, tapi bayar. Haha."
Setelah duduk di kursi, seperti biasa Meisya menyapa para pengunjung terlebih dahulu.
Setelah itu, barulah ia menyanyikan sebuah lagu. Dan lagu pertama yang ia nyanyikan adalah lagu yang di request oleh Regy.
"Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan bantu ku 'tuk berubah
Tuk miliki dia tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna
Untuk dia.."
Sepanjang lagu, Regy tidak bisa berhenti tersenyum. Andai Meisya tahu lagu itu untuk dirinya, mungkin Gadis itu tidak akan menyangka.
***
Setelah mengambil 20 buah coklat dari dalam rak, Divio segera pergi ke kasir untuk membayar. Waktu itu 20 porsi nasi goreng, sekarang 20 buah coklat. Entah untuk siapa Divio membeli makanan sebanyak itu.
Saat dirinya keluar, ia mendapati Raya yang rupanya sudah datang sejak 3 menit lalu. Gadis itu tengah duduk di kursi. Melambaikan tangan sambil melempar senyum manis.
Divio balas tersenyum dan langsung mendekatinya. "Gue kira loe nggak bakal datang."
Raya beralasan. "Boring gue di rumah. Jadi mending gue ikut loe aja. Meski gue gak tahu loe bakal bawa gue kemana."
Divio manggut-manggut. "Loe gak bawa mobil kan?"
"Nggak. Kan loe bilang jangan."
"Iyah, emang. Yaudah yuk, kita pergi naik motor gue sekarang." Divio berjalan menuju motornya.
Alih-alih mengikuti Divio, Raya justru bergeming dan tampak mengkhawatirkan sesuatu. Membuat Divio auto berbalik dan heran, "Kenapa? Loe nggak mau naik motor?"
"Bukan gitu."
"Terus?"
Raya menggeleng dan akhirnya mendekati Divio.
Apapun yang terjadi nanti, ia pasrahkan saja semuanya pada yang diatas.
Setelah keduanya naik ke atas motor, Divio langsung melesat, membawa Raya dengan motornya menuju suatu tempat. Dan tempat itu adalah.. Panti asuhan.
Raya menatap plang bertuliskan YAYASAN KASIH BUNDA yang berada dihadapannya. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan sebenarnya Divio anak adopsi dan dulunya tinggal di panti ini.
Langsung saja gadis itu bertanya. "Kita mau ngapain kesini?"
__ADS_1
Divio tersenyum. "Gue mau ngenalin loe sama adek-adek gue." dan mengajak Raya untuk segera memasuki panti asuhan tersebut.
"BU'DE.. VIO DATANG!" Teriak Divio begitu sampai di dalam. Tidak lama, muncullah seorang wanita paruh baya yang tampak bersahaja.
"Eh.. Si Ganteng baru kesini lagi."
Divio hanya tersenyum. Wanita itu adalah Bu'denya alias Kakak dari Mamahnya. Sekaligus pengelola panti yang sudah lama didirikan ini.
Saat melihat raya, Sang Bu'de langsung menggoda Divio. "Siapa gadis cantik ini? Pacar kamu yah?"
Divio dan Raya auto melempar pandang. Tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Raya, menjadi pacar seorang Divio. Begitupun dengan Divio yang buru-buru menyangkal . "Bukan Bu'De.. Dia cuma temen Vio."
"Temen apa demen?"
"Apaan sih Bu'de.. Dia beneran temen Vio."
Divio pun menyuruh Raya memperkenalkan diri pada Bu'Denya. Gadis itu tersenyum dan langsung menyalami Bu'de Divio.
"Hai Bu'De.. Nama saya Raya."
Bu'de balas tersenyum. Dalam hati, beliau memuji kecantikan Raya yang tidak kalah cantik dari artis sinetron.
"Iya Raya.. Saya Bu'de nya Divio."
Setelah menemui Bu'Denya, Divio membawa Raya menuju sebuah ruangan. Ruangan dimana anak-anak panti sedang berkumpul dan bermain bersama.
"Hai Anak- Anak!" Seru Divio dan seketika menjadi pusat perhatian anak-anak panti.
"KAK VIO!" Anak-anak itu tersenyum girang dan langsung mengerubungi Divio. Layaknya gula yang dikerubungi gerombolan semut.
Raya sendiri tersenyum. Apalagi saat menyadari betapa lucunya anak-anak calon penghuni surga tersebut.
"Lihat nih.. Kakak punya cokelat buat kalian." Divio menunjukkan plastik Indomaret berisi 20 buah cokelat yang barusan ia beli.
"ASIIIKK!" Anak-anak itu bersorak dan tampak girang.
"Bilang apa?"
"MAKASIH KAK VIO." Jawab mereka, kompak.
Tiba-tiba salah seorang anak perempuan berusia 8 tahun bertanya, sambil melirik Raya. "Kak Vio.. Kakak itu siapa?"
Sempat terdiam, akhirnya Raya tersenyum dan memperkenalkan diri. "Hai Adek-adek.. Kenalin, Kakak temannya Kak Divio. Nama Kakak Raya." Ucapnya seramah mungkin.
Anak-anak itu kompak berseru, "HAI KAK RAYA."
Kemudian satu persatu anak mulai berkicau.
"Kakak temennya Kak Vio atau pacarnya?"
"Kak Raya sama Kak Vio cocok. Kaya puteri sama pangeran."
Divio dan Raya kembali melempar pandang. Duh.. Anak-anak itu suka asal kalau bicara! Namun tak dapat dipungkiri, ada getaran aneh yang dirasakan keduanya begitu mendengar ucapan anak-anak tersebut.
Sebelum akhirnya Divio membantah. "Hus! Jangan ngomong sembarangan. Kalian anak kecil tahu apa?"
Anak-anak itu malah tertawa melihat Divio yang tampak salah tingkah. Kemudian Divio mengedarkan pandangannya, mencari sesosok anak perempuan. "Alifa mana?"
Setelah diberitahu keberadaan Alifa, Divio bergegas menuju halaman belakang panti dimana gadis kecil itu berada.
Setibanya disana, Divio melihat Alifa yang sedang duduk termenung diatas kursi rodanya.
Divio pun mendekat, lalu duduk berjongkok dihadapan gadis kecil berusia 7 tahun tersebut.
"Hai cantik.."
Alifa tersadar dari lamunannya. "Eh, Kak Vio?"
Raya sendiri memerhatikan mereka dari jarak 1 meter. Melihat keadaan gadis kecil itu membuat ia terenyuh dan merasa iba.
Divio lalu menyerahkan cokelat bagian Alifa beserta poster pemberian Tania yang baru sempat ia berikan. "Nih.. Kakak punya ini buat kamu."
Alifa menerimanya dan langsung membuka gulungan poster tersebut. "Wah.. Blackpink." Gadis kecil itu tampak bahagia sekali. "Makasih yah Kak."
Divio tersenyum dan membelai rambut Alifa. "Sama-sama sayang."
Raya ikut tersenyum dan menatap Divio dengan pandangan kagum. Ia mulai respect pada sosok Divio yang lembut dan penyayang.
"Oiyah kenalin, itu teman Kakak. Namanya Kak Raya." Dengan isyarat, Divio menyuruh Raya mendekat.
Gadis itu pun menghampiri mereka, dan ikut berjongkok disamping Divio. "Hai Cantik.. Nama Kakak Raya. Nama kamu siapa?"
Alifa tersenyum pada Raya. "Nama aku Alifa.. Kakak cantik deh. Mirip Kak Jisoo Blackpink."
Hidung Raya auto terbang. "Haha Alifa bisa aja.. Alifa juga cantik, kaya Lisa Blackpink."
Divio tersenyum melihat kedekatan mereka.
Setelah itu, keduanya duduk berdampingan di sebuah kursi yang terdapat di teras panti.
"Jadi poster Blackpink itu buat Alifa?" Tanya Raya yang sudah salah sangka. Ia pikir Divio benar-benar fansnya Blackpink.
Divio mengangguk pelan. "Iyah.. Dia ngefans banget sama girlband itu."
__ADS_1
Raya manggut-manggut. "Terus kalau boleh tahu. Kenapa dia nggak bisa jalan?"
Divio menghela nafas berat. "Beberapa waktu lalu, dia ketabrak motor. Karena itu, kakinya jadi lumpuh."
Raya ikut prihatin mendengarnya. "Tapi dia masih bisa sembuh kan?"
Divio menggeleng sedih. "Dokter bilang itu mustahil. Kasihan yah dia.. Masih kecil udah dikasih cobaan seberat itu."
"Kita doain aja. Semoga suatu hari, Allah ngasih keajaiban, dan Alifa bisa jalan lagi." Raya berharap.
Divio mengamini. "By the way, loe nyesel gak ikut gue kesini?"
"Nggak lah.. Gue malah seneng ngelihat anak-anak yang lucu kaya mereka.
Tapi kalau gue boleh tahu, panti ini punya Bu'de loe?"
"Lebih tepatnya punya keluarga Almarhum Bokap gue. Dan Bu'de lah yang dikasih tugas mengelola panti ini."
"Owh gitu.. Loe sering kesini?"
"Jarang sih. Paling cuma 2 Minggu sekali."
Raya mengerti. Ia tersenyum. "Next time kalau loe mau kesini, ajak gue lagi yah."
Divio tersenyum dan mengangguk. Ia pikir Raya tidak senang saat diajak kesini. Rupanya dugaan Divio salah.
Kemudian tatapan Divio tertuju pada lengan Raya yang tampak biduran (bentol-bentol besar). Pemuda itu terkejut.
"Ya ampun Ray.. Tangan loe pada bentol."
Raya menyadari. Yah.. Inilah akibatnya jika dia naik motor malam-malam dan terkena angin malam yang dingin. Tubuhnya jadi biduran.
"Loe kenapa?" Divio histeris.
"Gue alergi angin malam. Makanya jadi bentol-bentol gini." Jawab Raya, santai.
Divio sendiri merasa bersalah. "Tahu gitu gue gak bakal ngajak loe naik motor malam-malam."
Raya tersenyum simpul. "Lagian mobil loe kemana? Kok malah bawa motor?"
"Ya ada.. Gue lagi pengen naik motor aja. By the way sorry yah.. Gara-gara gue, alergi loe jadi kambuh."
"Santuy.. Ntar juga sembuh sendiri kok."
Divio yang masih dihantui rasa bersalah langsung melepaskan jaketnya, dan menyuruh Raya memakainya.
Namun Raya menolak. Akhirnya Divio sendiri yang memakaikannya. "Loe pengen sekujur tubuh loe dipenuhi bentol? Nggak kan? Makanya nurut kalau dibilangin."
Raya hanya diam sambil menatap Divio yang sedang menyampirkan jaketnya ke tubuhnya.
Dalam hati ia membatin. 'Ya Allah.. Jangan sampai gue suka sama cowok ini.'
**
Tring! Sebuah notifikasi masuk ke handphone Aby. Pemuda yang sedang rebahan sambil membaca manga itu langsung meraih handphonenya yang terletak di samping bantal.
Chatt dari Keyla!
(Abi)
Aby tersenyum semangat dan langsung bangkit duduk.
[Apa Key?]
(Gimana rasanya ayam sambal kecombrang buatan Om Ginanjar?)
[Enak sih tapi keasinan. Kayanya Ayah pengen nikah lagi.]
(Haha. Emangnya loe pengen punya Ibu tiri?)
[Nggak ah. Takut disiksa]
(Kalau gue yang jadi ibu tiri loe gimana?)
[WTF! Pertanyaan macam apa itu?]
(Jodoh seseorang kan gak ada yang tahu.)
[Daripada sama Ayahnya mending sama anaknya.]
(Maksudnya sama loe?)
[Selain gue, anak Ayah siapa lagi coba?]
(Emang loe mau sama gue?)
[Kenapa nggak?]
Keyla mematung di tempatnya. Apa ini artinya? Apakah secara tidak langsung, Aby mengakui kalau dirinya menyukai Keyla? Ah tidak! Tidak! Untuk saat ini, Keyla tidak ingin berurusan dengan laki-laki yang bisanya cuma menyakiti.
Keyla pun menaruh handphonenya dan langsung tarik selimut.
Sementara Aby tampak kecewa karena Keyla hanya menceklis dua biru kan pesannya.
__ADS_1
-Bersambung-