TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
GALAU


__ADS_3

"Suara kamu mirip Raya." Cetus Divio, membuat mata Raya membelalak seketika. Kecurigaan Divio membuatnya takut. Takut sandiwaranya terbongkar saat itu juga. Dan Raya belum siap menghadapi kemarahan pemuda itu.


"Serius Ta. Waktu kamu nyanyi, suara kamu benar-benar mirip sama suaranya Raya. Apa jangan-jangan.." Divio menggantungkan ucapannya.


Jantung Raya berdebar kencang.


"Kamu sebenarnya Raya yah?" Tanya Divio dengan wajah serius. Ingin rasanya ia melirik, melihat wajah Raya yang pastinya sangat panik.


Raya sendiri tampak kelabakan dan bingung harus menjawab apa. Saat ia hendak menyangkal, tiba-tiba Divio tertawa terbahak-bahak.


"Haha! Sorry Ta, aku bercanda. Mana mungkin kamu Raya. Orang jelas-jelas kamu adalah Cinta. "


Raya menghela nafas panjang. Divio paling jago membuatnya senam jantung.


Divio kemudian meraba-raba, seolah mencari sesuatu.


Saat ia menemukan tangan Raya, pemuda itu langsung menggenggamnya. Anyway, aktingnya benar-benar patut diacungi jempol.


"Janji yah Ta, jangan pernah bohongin aku dalam keadaan apapun. Karena satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah, dibohongi."


"Apa yang akan terjadi kalau suatu hari aku bohongin kamu?"


Divio menunjukkan ekspresi marahnya. "Maka aku akan sangat marah. Dan mungkin nggak ada kata maaf bagi kamu."


Raya terhenyak. Lalu bagaimana jika suatu hari Divio mengetahui kebohongan yang selama ini ia lakukan?


Se murka apa ia nantinya? Membayangkannya saja sudah membuat Raya menelan ludah ngeri. 


Padahal tanpa sepengetahuan Gadis itu, Divio memang sudah mengetahui semuanya.


***


Pagi itu, Keyla ada jadwal kuliah. Setelah semuanya siap, ia segera keluar dari kamar. Tak lupa, ia sarapan nasi goreng buatan Mbok Sumi terlebih dahulu.


Mbok Sumi meletakkan segelas air putih ke hadapan Keyla yang tampak makan dengan lahap. "Makan yang banyak Non, biar kenyang."


Keyla tersenyum. Dengan mulut yang dipenuhi makanan ia bertanya, "Mamah kemana? Aku belum lihat."


"Nyonya sedang ke rumah tetangga. Katanya ada urusan."


"Sama Calief?"


"Sendiri. Calief lagi sama Den Abi diluar."


Keyla melongo. Abi? Diluar bersama Calief? 


Keyla seketika menghentikan makannya, minum sejenak, dan langsung bangkit dengan tergesa-gesa.


"Mbok aku berangkat dulu yah?"


"Kok buru-buru sekali Non?"


Keyla tidak menjawab dan hanya tersenyum, kemudian segera pergi. Meski kejadian kemarin masih membuatnya kesal, namun ia tidak bisa membenci pemuda itu. Yang ada Keyla justeru ingin selalu bersamanya setiap waktu.


Saat pintu terbuka, ia mendapati Abi yang sedang mendorong Calief di atas sepeda. Pemuda itu langsung melempar senyum ketika melihat sosoknya.


Merekapun saling mendekat dan berhenti di hadapan masing-masing. 


"Lo mau kuliah?" Tanya Abi saat melihat penampilan Keyla yang rapi.


Keyla mengangguk. "Lo sendiri kapan mulai sekolah paket C?"


"Besok."


Keyla mengerti. Kemudian tatapannya tertuju pada lutut Abi yang cedera akibat insiden kemarin. "Kaki lo masih sakit?"


Abi tersenyum menyejukkan hati. "Alhamdulillah udah nggak. Jatohnya juga nggak parah kok."


Handphone Abi yang berada di dalam saku celananya tiba-tiba berdering. Pemuda itu langsung mengeluarkan benda pipih tersebut, kemudian menatap layarnya.


Sebuah panggilan dari nomor asing. Abi pun mengangkatnya.


"Halo?"


'Halo ini nomor Abi kan?'


"Iyah. Siapa yah?"


'Ini aku, Naura.'


Kening Abi berkerut. "Naura mana?"


Lain halnya dengan Keyla yang langsung tampak panas saat mendengar nama itu. Ingatannya yang tajam membuat Keyla langsung tahu bahwa Naura adalah Gadis yang menabrak Abi kemarin.


'Aku yang kemarin nabrak kamu lho.'


Abi akhirnya ingat. Ia menggigit bibir sambil menatap Keyla yang juga sedang menatapnya. Posisinya seakan serba salah.


"Ngomong-ngomong, ada perlu apa kamu nelfon aku? Dan kamu dapat nomor aku darimana?" Tanya Abi, terdengar wajar.


Tapi tidak bagi Keyla. Hatinya semakin panas mendengar pertanyaan Abi.


'Gak penting aku dapat nomor kamu darimana. Yang jelas, aku udah di depan rumah kamu sekarang. Kamu bisa kesini nggak?'


Tentu saja Abi semakin terkejut mengetahuinya. Dan tentunya semakin bimbang. Ingin menolak, tapi rasanya tidak tega. Tapi kalau ia pergi, Keyla pasti akan salah paham dan mengira dirinya tertarik dengan gadis itu. Apalagi saat melihat ekspresi si ayang yang tampak murka sekarang ini. Abi jadi ngeri.


'Abi? Kok diem aja?'


Demi Neptunus, Abi benar-benar galau. "Mmm gimana yah. Aku.."

__ADS_1


Tiba-tiba Keyla mengangkat Calief, dan langsung membawanya masuk. Setelah memberikan adiknya pada Mbok Sumi, ia kembali keluar.


Dilihatnya punggung Abi yang semakin menjauh dari pandangannya. 


****


Setelah kelas Trio somplak selesai, seperti biasa, ketiganya nongkrong di cafe favorit mereka. 3 Gadis itu sama-sama sedang galau saat ini.


Meisya. Hingga saat ini, hubungannya dengan Regy belum juga membaik. Mereka belum berkomunikasi lagi sejak perdebatan singkat malam itu. Membuat Meisya mempertanyakan ketulusan Regy dan meragukan perasaannya. 


Raya. Dia merasa terjebak dalam permainan yang dibuatnya sendiri. Dan mulai memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya pada Divio. Karena tidak mungkin ia terus-menerus bersandiwara. Bagaimanapun dia harus jujur pada pemuda itu, bahwa Cinta dan Raya sebenarnya adalah orang yang sama.


Dan Keyla, mulai tidak tenang saat seorang Gadis bernama Naura muncul ditengah-tengah hubungannya dengan Abi. Apalagi saat melihat sikap Abi yang pergi tanpa pamit untuk menemui gadis itu, tadi pagi.


Saat memikirkan semua itu, ketiganya kompak menghela nafas frustasi. Lalu mereka saling bertukar pandang dan merasa takjub saat menyadari bahwa mereka bertiga sedang tidak baik-baik saja.


"Kalian lagi punya masalah?" Tanya Raya, gadis yang paling bijak dan paling dewasa diantara mereka berdua.


Dengan wajah murung, Keyla dan Meisya mengangguk.


"Sama, gue juga. Yaudah, kita saling curhat yuk? Siapa tahu kita bisa saling ngasih pencerahan. " Raya menatap Keyla.


"Loe dulu kutil. Loe kenapa?"


Keyla mendesah berat. Saat ia dan Abi sudah tinggal selangkah lagi menuju kebahagiaan, kenapa Tuhan menghadirkan sosok Naura diantara mereka?


"Kemaren, Abi ketabrak mobil. Untungnya gak parah. Dan cewek yang nabrak dia kaya yang suka sama Abi. Dia terus ngelihat Abi dengan tatapan kaya orang jatuh cinta. Gue yakin itu. Dan yang bikin gue gak tenang, dia penghuni baru rumah yang ada di sebrang jalan. Terus tadi pagi, si cewek itu tiba-tiba nelfon Abi dan bilang kalau dia udah ada di depan rumah Abi."


Meisya dan Raya cukup terkejut mengetahuinya.


"Terus endingnya, Abi nemuin dia?" Tanya Raya.


Keyla mengangguk sedih.


Meisya sendiri heran pada Abi yang dari dulu selalu menggantung perasaan Keyla dan urung memberinya kepastian.


"Gimana kalau gue sama Raya, nanya sama Abi soal perasaan dia sama loe, sekarang? Biar semuanya jelas." Usul Meisya.


Namun Raya melarang dengan keras. "Jangan! Kesannya nanti Keyla kaya ngemis-ngemis kepastian dari Abi dan bikin si Abi gede kepala."


Keyla tampak frustasi. "Terus gue musti gimana?" Tanyanya, bingung. Dari dulu Abi selalu membuat kepalanya mumet.


"Gini aja."


Sambil mendengarkan saran dari Raya, Keyla manggut-manggut dan akhirnya mengerti. Saran yang tidak buruk dan boleh dicoba.


"Oke deh."


"Giliran lo Kebo. Loe kenapa?"


Meisya menggigit bibir bawahnya, kemudian menjawab. "Gue lagi perang dingin sama si Regy." 


"Padahal gue gak serius nyuruh dia ke Jakarta. Sekedar 'Oke, kalau itu yang kamu mau.' aja udah cukup bagi gue. Tapi dia ngomong seolah itu sesuatu yang berat dan gak mungkin dia lakuin."


"Dia orangnya bisa diajak bercanda gak sih? Apa hidupnya selalu serius?" Tanya Raya, penasaran.


"Nggak Ray, dia orangnya lawak. Dan itu salah satu alasan gue suka sama dia."


Merekapun lanjut berbincang. Sementara Keyla diam-diam men-DM Regy untuk mencari tahu sesuatu.


Untungnya Regy saat itu sedang aktif dan langsung membalas pesan dari Keyla.


(Gi, kamu lagi perang dingin sama Meisya?)


(Iya kak.)


(Kok kamu gak berusaha bujuk Meisya biar dia gak marah lagi?)


(Biarin aja lah Kak. Lama-lama dia pasti luluh sendiri.)


Keyla melongo. Jawaban Regy sungguh diluar ekspektasinya ."Anjir. Songong beud nih bocah."


"Kenapa?" Raya heran.


Meisya sendiri langsung merebut handphone Keyla dari tangannya. Saat membaca semua itu, ia tersenyum miris dan semakin emosi jiwa.


BRAK! Meisya menaruh handphone Keyla ke atas meja dengan keras. Membuat Keyla langsung ngomel-ngomel.


"Sialan lu kebo! Hape gue ini!"


"Sabodo (bodo amat)! Kesel gue sama si Regy." Ucap Meisya dengan nafas yang memburu. Si Regy semakin kesini malah semakin menyebalkan.


Sambil mengelus-elus handphonenya yang Meisya banting, Keyla menatap Raya. "Your turn (giliran loe)."


Raya juga menceritakan masalahnya. Tentang Divio yang sepertinya mulai curiga bahwa Cinta itu sebenarnya adalah Raya. Dan tentang kapan waktu yang tepat baginya untuk memberi tahu sandiwaranya selama ini.


"Yaudah loe kasih tahu aja secepatnya. Nungguin apa lagi?" Tanya Meisya setelah menyimak.


Namun Keyla tidak sependapat. "Kalau loe ngasih tahu sekarang-sekarang, loe siap menghadapi kemarahan Divio? Gue yakin dia bakal ngamuk."


Meisya langsung mendebatnya. "Ya terus mau sampai kapan? Bukannya lebih cepat lebih baik?"


"Iya sih, tapi kasihan Raya nanti kena amukan Divio."


"Iyah, gue ngerti, masalahnya -"


Mendengar perdebatan kedua sahabatnya, Raya langsung memegangi kepalanya yang semakin pening. Bukannya mendapat pencerahan, Gadis itu justeru semakin frustasi.


**

__ADS_1


Malam hari. Di sebuah kamar (yang jelas bukan kamarnya) Keyla berbaring telentang sambil bermain handphone. 


Dia benar-benar menuruti saran Raya untuk sementara menghindari Abi dan melihat, bagaimana reaksi pemuda itu. Apakah Abi akan mencarinya? Atau justeru bodo amat?


I LEAVE YOU


Setelah mengetik kalimat tersebut, Keyla langsung mengunggahnya di story WhatsApp.


Beberapa menit kemudian, Story Keyla langsung di reply oleh Abi.


(Maksudnya?)


Dengan hati berdebar, Keyla membalas : Kepo!


(Gaje!)


(Iyah, gue emang gaje. Nyebelin lagi)


Abi langsung menelfon Keyla untuk mencari tahu penyebab dia tiba-tiba seperti itu. Namun panggilan Abi ditolak. Pemuda itu tidak kehabisan akal, dan langsung pergi ke Rumah gadis pujaannya.


"Mbok. Keyla nya ada?" Tanya Abi pada Mbok Sumi, begitu pintu terbuka.


"Nggak ada Den. Non keyla pergi bawa-bawa koper tadi sore."


Abi shock dong. "Pergi bawa-bawa koper? Kemana?"


"Duh maaf Den, Non Keyla minta Mbok buat nggak ngasih tahu Den Abi."


Abi langsung lemas. Ia benar-benar kecewa mendengar penjelasan Mbok Sumi. Satu hal yang pasti, ia tidak akan tinggal diam.


Tiba di kamarnya, Abi kembali menelfon Keyla. Untungnya kali ini, Keyla mengangkatnya.


"Halo? Key loe pergi kemana?"


'Kepo!'


"Ya jelas lah! Loe pergi tanpa pamit udah gitu nyuruh Mbok Sumi buat nggak ngasih tahu gue loe pergi kemana. Apa maksudnya coba?" Tanya Abi dengan suara yang meninggi. Ia sungguh tidak habis pikir dengan sikap Keyla.


Tidak ada jawaban. Keyla membisu di tempatnya.


Abi pun melunak. "Loe tuh kenapa sih Key? Gue ada salah sama lo?"


'Gak ada.'


"Ya terus kenapa loe tiba-tiba kaya gini?"


'.....'


"Kenapa yah cewek gak suka ngejelasin apa yang mereka mau, dan malah nyuruh cowok buat ngertiin mereka. Plis Key, gue bukan titisan dukun."


'Yang bilang loe dukun siapa?'


Abi mengacak rambut, frustasi. Bukan itu jawaban yang dia inginkan. Merasa kalah, akhirnya ia menyerah.


"Ya Udahlah terserah loe aja. Capek gue lama-lama."


'Yaudah!' 


Klik! Keyla menutup telfonnya secara sepihak. Membuat Abi semakin kesal dan langsung melemparkan handphonenya ke atas kasur.


 


Disaat yang sama, Meisya juga membuat story di WhatsApp nya.


(Jangan membuatku menyesal telah memilihmu)


Dan orang yang pertama melihat story nya tidak lain adalah Regy. Meisya berpikir. Kalau Regy cowok normal, dia pasti tidak akan tinggal diam dan langsung membalas story nya yang jelas-jelas ditujukan untuk Regy.


Namun nyatanya Meisya harus kecewa. Karena sampai akhir, tidak ada chatt sama sekali dari Regy.


Yang ada ia malah membuat status yang sama sekali tidak penting.


Foto bergambar domba dengan caption:


Si Michelle disuruh KB aja gitu? Biar gak reneuh-reneuh deui (hamil- hamil lagi) wkwkwk.


"Anying maneh Regy (Anying lu Regy)." Umpat Meisya. Hatinya semakin sakit dengan sikap Regy yang seolah terus mengabaikannya. 


Saking kesalnya, Meisya jadi terpikirkan untuk memutuskan hubungannya dengan Regy.


--


Sementara itu, Divio sudah keluar dari rumah sakit dan sedang berada di rumahnya. Tidak lama kemudian, Raya (sebagai Cinta) datang setelah sebelumnya diminta Divio untuk menemuinya.


Mereka duduk berdampingan di ruang tamu rumah Divio.


"Selamat datang di rumah aku Cinta."


"Iyah Vio."


"Oiyah nanti kamu ikut aku yah."


"Kemana?"


"Rencananya aku mau nyuruh seseorang buat mempertemukan aku sama Raya. Dan nanti aku ngajak kamu , dan ngenalin kamu sama dia."


Raya shock mendengarnya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2