TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

Meisya pergi ke perpustakaan, berniat meminjam buku. Sekian lama mencari, akhirnya ia menemukan buku incarannya dan langsung mengambil buku tersebut.


Disaat yang sama, sebuah tangan juga terulur dan bermaksud mengambil buku yang hendak diambil Meisya.


Meisya pun menatap pemilik tangan tersebut.


Gadis itu! Gadis yang tertawa bersama Rizvan beberapa waktu lalu. Dia bernama Diana dan Meisya tahu sedikit tentang dia. Gadis itu cukup populer karena parasnya yang cantik dan otaknya yang cerdas. Terbukti, Diana menjadi juara umum tahun lalu. Dan mungkin karena itu Rizvan menyukai sosok Diana. Sosok yang bahkan tidak pantas jika harus dibandingkan dengannya.


"Buat kamu aja." Ucap gadis itu, disertai senyuman manis. Buku itu memang hanya satu-satunya.


Sementara Meisya menolak tanpa diduga. "Gak papa, ambil aja. Aku juga gak terlalu butuh. "


"Beneran?"


Meisya mengangguk dan memaksa senyum. Gadis itu pun berterimakasih kemudian berlalu.


Meisya menghela nafas panjang sambil menatap punggung Diana yang semakin menjauh dari pandangannya. Tuhan.. Beruntung sekali hidupnya.


"DOR!" Tiba-tiba seseorang mengagetkan Meisya sekaligus membuyarkan lamunannya.


Gadis itu terlonjak kaget dan kontan berbalik.


Rupanya Rizvan! Ia salah mengira dan menyangka Meisya adalah Diana. Karena selain postur tubuh mereka yang setara, dari belakang mereka juga tampak mirip hingga membuat Rizvan salah orang.


"So.. Sorry.. Gue pikir loe Diana." Rizvan malu bukan kepalang. Bagaimana mungkin ia tidak bisa membedakan Meisya dan Diana.


Sementara Meisya hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa. Diana muncul dan mendekati keduanya.


"Van? Kamu ngapain disini?"


"Aku nyari kamu."


Diana tersenyum. Wajah teduhnya membuat Rizvan semakin hari semakin jatuh cinta. "Kenapa? Mau ngajak sarapan?"


Rizvan tersenyum dan mengangguk. Sekali lagi ia meminta maaf pada Meisya dan langsung pergi bersama Diana.


Membuat hati Meisya hancur untuk kesekian kalinya.


-


Karena buku yang diincar pun sudah tidak ada, Meisya pergi ke belakang kelas dan melamun disana.


Andai waktu bisa diputar kembali, Meisya tidak ingin mengenal Rizvan, bersahabat, hingga akhirnya menaruh hati pada pemuda itu.


Karena untuk apa? Jika semuanya harus berakhir sepahit ini.


Tiba-tiba Meisya mendengar suara seseorang yang sedang bertelfonan di samping kelas.


"Teu Aya Mamah, di Jakarta mah teu Aya ulukuteuk. (Gak ada Mah, di Jakarta gak ada ulukuteuk)."


'Terus Al sok mam sareng naon? (Terus Al suka makan sama apa)."


"Sareng tangan atuh, piraku sareng sekop. (Sama tangan lah, masa sama sekop)."


"BHAHAHA!" Meisya yang diam-diam mendengar percakapan mereka, dan mengerti apa yang dibicarakan pemuda itu, seketika tergelak.


Sementara Regy terkejut dan langsung pamit pada ibunya. "Ntos heula nya Mah, Al Bade lebet ka kelas. (Udah dulu ya Mah? Al mau masuk kelas)."


Regy mendekati sumber suara, dan cukup kaget melihat Meisya yang belum berhenti tertawa. Saking lucunya ia sampai meneteskan airmata.


"Kak Meisya?"


"Haha.. Aduh, sumpah.. Kamu lucu banget."


"Kakak kira saya badut?"


"Bukan gitu! Omongan kamu yang lucu. Ya kali makan pakai sekop."


Regy tersenyum dan akhirnya duduk di samping Meisya. "Emang Kakak ngerti yang saya omongin?"


"Ngerti lah.. Nenek Kakak kan orang Bandung.


Dan waktu kecil, Kakak sempet tinggal di Bandung selama satu tahun."


Regy manggut-manggut dan tidak berkata apa-apa lagi.


"Kamu asli mana?" Tanya Meisya kemudian.


"Saya juga asli Bandung."


"Bandungnya dimana?"


"Di--" ucapan Regy terpotong oleh suara bel masuk yang berbunyi. Merekapun terpaksa menghentikan obrolan dan pergi ke kelas masing-masing.


**


Astrid. Gadis yang bertukar posisi duduk dengan Raya tiba-tiba mendatangi Raya di tempatnya, dan meminta bertukar tempat kembali.


"Mata gue minus, jadi gue gak bisa ngelihat tulisan di papan tulis dengan jelas karena posisinya terlalu belakang."

__ADS_1


Mau tak mau, Raya kembali ke tempat duduknya yang semula, di samping Divio.


Saat istirahat, Meisya langsung ngacir ke toilet.


Berniat mengeluarkan harta karun yang bersemayam diperutnya. Sementara Keyla mengajak Raya ke kantin. Sayangnya gadis itu menolak dengan alasan ngantuk dan ingin tiduran.


Akhirnya Keyla pergi ke kantin seorang diri.


Saat sedang menikmati seporsi bakso Bu Onah yang lezat tiada tara, tiba-tiba seseorang mendekati Keyla dan duduk di sampingnya.


"Hai cantik."


Keyla langsung menelan bakso yang sedang ia kunyah. "Kak Hugo.."


Hugo tersenyum dan merapatkan kursinya lebih dekat dengan Keyla. "Kok sendirian aja? Temen-temen kamu pada kemana?"


"Yang satu lagi ke toilet. Satunya pengen di kelas aja katanya."


"Owh.." Hugo manggut-manggut.


"Kakak nggak pesen makan?"


"Nanti ah.. Masih ngantri.


Eh, itu di bibir kamu ada saos Key. Sini Kakak bersihin." Tanpa menunggu persetujuan Keyla, Hugo mengangkat tangan dan mengelap bibir Keyla dengan jempolnya.


Membuat gadis itu diam tak berkutik sekaligus tampak salting.


"Hayo! Lagi ngapain!" Seseorang datang sambil menggebrak meja. Keyla dan Hugo terlonjak kaget dan refleks menatap orang tersebut.


Rupanya Lukas. Salah satu siswa yang dikenal sultan karena setiap minggu gonta-ganti mobil, sekaligus teman dekat Hugo yang dulu pernah menyatakan cinta pada Keyla.


"Ngagetin aja lu!" Seloroh Hugo, sekaligus sewot.


Lukas tersenyum dan menyapa Keyla. "Hai Key.."


"Ha.. Hai Kak." Keyla menunduk , tak berani menatap Lukas. Sumpah demi apapun, kehadiran dua seniornya itu membuat perasaannya tidak nyaman.


Lukas menggoda. "Kamu makin cantik aja."


"M.. Makasih."


Hugo langsung mengusirnya. "Udah sono pergi! Loe gak lihat, kedatangan loe bikin Keyla gak nyaman."


"Emang Iyah?" Lukas kembali menatap Keyla.


Akhirnya Hugo bangkit dan mendorong Lukas, mengusirnya secara paksa. Setelah kepergian Lukas, Hugo bertanya.


"Dulu, kalian pernah deket yah?"


Keyla hanya mengangguk. Ia masih ingat saat Lukas menyatakan perasaannya di belakang kelas, sambil membawa sebuket bunga mawar.


Dan karena saat itu Keyla statusnya masih pacaran dengan Fathnan, Keyla pun terpaksa menolaknya. Lagipula ia tidak menyukai kepribadian Lukas yang arogan dan terkenal suka membully.


"Oiyah.. Kamu udah punya jawaban Key?" Tanya Hugo, membuyarkan lamunan Keyla. Berharap Keyla memberinya kepastian saat itu juga.


Keyla menunduk dan menggeleng. "Belum Kak, aku masih fikir-fikir dulu."


Meski kecewa, Hugo mencoba mengerti dan tidak memaksakan kehendak Keyla. Ia pun pamit guna memesan makanan.


Sementara itu di kelas 11 IPS 4, hanya ada Raya dan Divio. Tanpa bicara, Raya menyerahkan kembali sapu tangan pemberian Divio .


Divio mengambilnya, lalu menatap sapu tangan itu cukup lama.


"Ray.." Divio memanggil namanya.


Raya menoleh, tanpa menyahut.


Divio menatapnya lekat. "Maafin gue yah..


Maaf kalau selama ini gue sering bikin loe kesel. Entah itu karena sikap maupun omongan gue."


Sekian lama bungkam, Raya akhirnya bersuara. "Nggak kok."


"Beneran? Kalau gitu, loe mau nggak, ngabulin permintaan gue?"


"Permintaan apa?"


--


Saat pulang, Keyla dan Meisya dikejutkan oleh keberadaan Fathan di depan gerbang sekolah.


Tanpa ba-bi-bu , Keyla langsung menghampirinya.


"Mau ngapain sih loe kesini?"


Fathan memohon agar Keyla bersedia pulang dengannya. Karena ia sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mengantar Keyla pulang.


Sayangnya Keyla menolak mentah-mentah. Lebih baik naik gojek daripada pulang bersama Fathan yang saat ini begitu dia benci.

__ADS_1


Disaat seperti itu, Hugo datang dengan motor tigernya. Seperti kemarin, ia mengajak Keyla pulang bersama. Kesempatan bagus bagi Keyla untuk memanas-manasi Fathan.


Keyla pun menerima tawaran Hugo dan langsung naik ke motornya. Setelah Keyla pamit pada Meisya, Hugo melesat membawa Keyla meninggalkan sekolah mereka.


Fathan menginterogasi Meisya. "Siapa cowok itu?"


"Kamu nanyeaaaa."


"Serius dong Mei!"


"Cowok itu Kakak kelas yang suka sama Keyla.


Dan sekarang mereka lagi dalam masa PDKT. Jadi loe jauh-jauh sono. Lagian ngapain sih loe deketin Keyla lagi? Loe bukannya udah bahagia yah sama si Cabe Sonia?"


Fathan tidak menghiraukan pertanyaan Meisya dan malah pergi, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Kenyataan bahwa Keyla tengah dekat dengan seorang lelaki, membuat emosinya naik ke ubun-ubun.


**


Sore hari..


Di kamar kosnya, Regy sedang asyik bermain gtar. Ditemani segelas es kopi, ia menyanyikan beberapa lagu sambil membayangkan wajah seorang Gadis. Gadis yang sudah bertahun-tahun menjadi ratu dihatinya.


Setelah menyelesaikan lagu cinta dalam hati, Regy menyandarkan kepalanya ke tembok sambil menatap langit-langit kosannya. Ia menghela nafas berat. Tuhan.. Berapa lama lagi ia harus memendam perasaannya?


Mendadak handphonenya yang terletak di atas nakas bergetar, pertanda masuknya sebuah panggilan. Rangga. Ada perlu apa menelfonnya?


"Halo Ga? Ada apa?"


'Gi, ntar malam ke kafe Diamond yuk.'


"Mau ngapain?"


'Ya nongkrong.'


Regy tertawa seraya menaruh gitar yang berada di dekapannya. "Modus lu! Bilang aja loe pengen ngelihat Kak Meisya."


'Alhmadulillah loe peka.'


Regy tidak janji bisa datang. Karena nanti malam ia ada urusan penting di tempat lain.


Tapi Rangga tidak mau tahu. Pokoknya Regy harus datang.


"Kalau gue nggak datang, loe mau apa?"


'Gue bakal ngirim bom ke kosan loe.'


"Haha.. Sialan loe."


'Makanya loe musti dateng.'


"Iyah, Insyaallah."


**


Sementara itu, berkali-kali Keyla mengetuk pintu rumah Aby, namun tidak ada respon sama sekali.


Akhirnya ia mengeluarkan handphonenya, dan langsung menelfon Aby. Sambil menggigiti kuku jempolnya, Keyla menunggu dengan perasaan gelisah. Dalam hati ia berharap Aby mengangkat telfonnya sesegera mungkin.


Namun sayang, telfon Keyla juga tidak diangkat.


Keyla jadi kesal sekaligus cemas."Ih.. nih orang kemana sih?"


"Keyla?" Muncul Ayah Ginanjar yang baru saja menuruni grabcar. Segera Keyla berlari menghampiri beliau.


"Om.. Aby kemana?" Keyla bertanya tanpa basa-basi. Wajahnya dihiasi kekhawatiran yang amat sangat.


Ayah Ginanjar tiba-tiba menunduk dan menghela nafas sedih. "Aby di rumah sakit. Dia kecelakaan tadi siang."


"Astagfirullah.. Ya Allah.. Aby kecelakaan?"


Ayah Ginanjar mengangguk. Beliau meminta Keyla menemani Aby, karena saat ini putranya sedang sendirian di ruang perawatannya.


"Tolong yah.. Soalnya om mau packing."


Keyla mengerti dan langsung memesan grabcar saat itu juga. Dengan tangan bergetar, ia mencari driver yang tersedia, secepat mungkin.


Disaat yang sama, Aby tengah merenung di ruang perawatan. Tangan kanannya di gips karena mengalami patah tulang. Sementara wajahnya dihiasi memar dibeberapa bagian.


Sebelumnya, Aby yang berniat menjemput Keyla, terpaksa menghentikan motornya dari jarak jauh saat melihat Fathan yang sedang berdiri di depan gerbang. Tak lama kemudian, muncul Keyla dan Meisya, disusul Hugo.


Dan saat menyaksikan Keyla yang naik ke motor Hugo, Aby menelan ludah pahit. Ia langsung putar balik dan pergi tanpa sosok Keyla dibelakangnya.


Sepanjang perjalanan, Aby merenung. Dan saking banyaknya pikiran yang berkecamuk di otaknya, ia tidak sempat menghindari sebuah motor yang menyalip sebuah mobil dari arah depannya. Alhasil motornya dengan motor itu bertabrakan, dan Aby pun terhempas sejauh 5 meter.


10 menit kemudian, seseorang membuka pintu perawatannya dengan tidak sabar.


"Keyla?"


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2