TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Cemburu Buta


__ADS_3

Cileunyi, Bandung.


Meisya duduk termenung di ruang tamu Rumah Neneknya. Selain masih terpukul, ia juga merasa bersalah karena datang terlambat dan tidak bisa menyaksikan pemakaman Sang Nenek. 


Setelah terpikirkan sesuatu, Meisya mengangguk yakin dan bergegas bangkit. Ia berniat pergi ke mushola terdekat untuk menunaikan sholat dzuhur, dan membacakan doa ke dalam air yang nantinya akan ia tuangkan ke atas makam Sang Nenek. 


30 menit kemudian.


Baru saja Meisya menyelesaikan bacaan surat Yaa sin-nya, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan yang terjadi diluar sana. Gadis itu buru-buru melepaskan mukenah nya.


Sebelumnya, Regy juga tiba di mushola tempat Meisya berada saat ini. Mushola yang hanya berjarak 10 langkah dari rumahnya. 


Setibanya di tempat wudhu, Regy menyucikan diri disana. Baru saja ia hendak membaca doa setelah berwudhu, tiba-tiba Wulan, dengan segala keisengannya, mencolek dagu Regy sambil berseru.


"Weyah! Batal siah!" 


Regy auto ngamuk. "WULANDARI! Ari maneh geus bosen hirup sugan. (Kamu udah bosen hidup yah)?"


Bukannya merasa bersalah, Wulan justeru tertawa puas. Menggoda Regy seperti hiburan tersendiri baginya. 


Regy pun terpaksa mengulangi wudhu nya. Membuat kita bisa menyimpulkan bahwa mereka bukan mahram dan tidak ada hubungan darah.


Setelah keduanya berwudhu, mereka langsung memasuki mushola tersebut. Regy pun sudah hampir memulai sholatnya, ketika Wulan dengan rempong nya mengenakan mukenah sambil berkata, 


"Tungguan Aa! Urang berjamaah ambeh pahala na gede. (Tungguin Kakak! Kita sholat berjamaah biar pahalanya gede)."


"Buru atuh!" Ucap Regy tanpa menoleh ke belakang.


"Nya ngke da kudu di mukena heula! (Ya nanti kan harus pakai mukena dulu)."


"Oh!"


Setelah Wulan mengenakan mukenah nya, mereka berdua pun memulai ibadah sholat dzuhur bersama-sama. Regy menjadi imam. Wulan menjadi makmum.


Dari belakang, Meisya terus memerhatikan mereka dengan wajah sendu. Rasa sakitnya benar-benar double Kill. Sudah sakit ditinggalkan Nenek, sekarang juga sakit melihat lelaki pujaan yang tampak akrab dan bahagia bersama wanita lain.


Sebuah pertanyaan pun muncul di benak Meisya .


Siapakah Gadis itu, dan apa hubungannya dengan Regy?


5 menit kemudian, Regy dan Wulan mengakhiri sholat mereka. Begitu mengucap salam, Wulan yang benar-benar sudah tidak tahan, langsung merangkak mendekati Regy.


"Aa."


"Hmm?"


"Neng tipayun nya (duluan yah)."


"Kunaon Kitu?"


"Hayang ngompol (pengen pipis)."


Regy tersenyum geli sambil bergidik. "Garila ih! Jig atuh. Kahade ngompol di calana (Awas ngompol di celana)."


Plok! Wulan memukul punggung Regy. Membuat cowok itu kembali dibuat kesal karena wudhu nya lagi-lagi batal. Padahal ia berniat sholat sunah ba'diyah setelah berdoa. Si Wulan memang pikasebeleun!


Regy kemudian mengangkat tangan, dan berdoa.


Doa yang sama, di setiap kali ia meminta sehabis menunaikan ibadah sholat. Yakni hapuskan perasaannya untuk Meisya, jika Allah tidak mengizinkan mereka untuk bersama. Tapi kalau boleh memaksa, ia benar-benar ingin dipersatukan dengan Gadis itu. 


Setelah selesai, Regy langsung melepaskan sarung yang ia kenakan, kemudian melipatnya. Berniat pulang untuk segera makan siang bersama si Wulandari yang kecil-kecil tapi rakus. Telat sedikit bisa-bisa nasinya habis oleh Gadis itu.


Regy pun berbalik dan berjalan lurus. Namun keberadaan seseorang di dalam mushola itu membuat perhatiannya memaksa teralih. 


Saat melihat sosok itu, Regy shock bukan main.


"KAK MEISYA?"


Masih dengan wajah sedihnya, Meisya menatap Regy. Ia pikir pertemuan pertamanya dengan Regy setelah sekian lama tidak bertemu, akan sangat berkesan. Namun nyatanya tidak. Karena adanya Wulan membuat hatinya panas saat melihat kedekatan mereka berdua.


Meisya pun segera pergi setelah mengambil mukenah dan botol berisi air doa. Regy tidak tinggal diam dan langsung berlari mengejarnya.


"Kak Meisya! Tunggu Kak! Kak! KAK ICHA!" Teriak Regy, akhirnya. Membuat langkah Meisya seketika terhenti, dan membeku di tempatnya.


Mata Regy berkaca-kaca. Lirih, ia berkata. "Al kangen sama Kak Icha."


Meisya menghela nafas lemas. Tulangnya berasa dilolosi begitu mendengar ucapan yang tercetus dari mulut Regy.


Regy pun berjalan mendekati Meisya, dan berhenti dihadapannya. Bahagia, sedih, lemas, semua itu ia rasakan saat melihat Gadis tersebut.


"Masih ingat? Anak kecil yang Kakak tolongin 12 tahun yang lalu? Anak kecil yang selalu menganggap Kakak sebagai pahlawan di hidupnya, anak kecil yang selalu berterimakasih setiap kali dia mengingat kebaikan Kakak, dan anak kecil yang akhirnya jatuh cinta sama Kakak.


Sekarang anak kecil itu udah segede ini Kak."


Luruh. Airmata Meisya kini jatuh tak tertahankan. Regy benar-benar membuatnya lemah dan tidak berdaya.

__ADS_1


Regy menelan ludah getir. "Saya selalu berharap Kakak akan mengetahui hal tersebut suatu hari nanti, dan dengan sendirinya. Sayangnya Kakak nggak pernah sadar. Karena saya mungkin tidak berarti apa-apa di hidup kakak. "


"Kamu salah!" Ucap Meisya, setelah sekian lama bungkam. "Kakak udah tahu kalau sebenarnya kamu adalah Al. Teman kecil Kakak. Tapi sekarang, apa gunanya semua itu? Toh kamu udah bahagia sama cewek lain. Jadi, lupain sosok Icha, dan urusin aja cewek yang jadi makmum kamu tadi!" Meisya berlari pergi dengan hati yang remuk redam. Ia benar-benar hancur saat melihat kedekatan Regy dan Wulan. 


Kali ini Regy tidak berusaha mengejar Meisya. Ia dibuat bingung. Apa maksudnya perkataan Meisya?


Hingga akhirnya Regy tersadar jika Meisya mungkin cemburu pada Wulan. 


"Ya ampun.. Dia pikir Wulan cewek gue?" Regy geleng-geleng kepala. Dia tidak jadi sedih dan justeru geli saat menyadari Meisya yang salah paham akan hubungannya dengan Wulan.


Karena sebenarnya Wulan adalah adik tirinya. Bukan kekasihnya. 


***


(Key, gue pengen main sekaligus curhat. Gue ke rumah loe yah sekarang) Pesan dari Raya untuk Keyla.


(Oke Ray)


15 menit kemudian, Raya tiba di rumah Keyla. Setelah melepas seatbelt, ia segera turun. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Abi yang baru pulang dari toko.


Raya kaget. Begitupun dengan Abi. Keduanya kompak memanggil nama masing-masing.


"Loe balik lagi kesini?" Raya tidak habis pikir. Pantas si kutil akhir-akhir ini sering melamun dan tampak galau. Rupanya si Abi muncul lagi di kehidupannya 


Abi mengangguk, membenarkan.


Raya tidak bertanya lagi dan sudah hampir pergi.


Namun saat teringat Abi adalah bestie nya Divio, ia tergerak untuk bertanya.


"Oiyah. Apa loe tahu kalau sekarang Divio gak bisa ngelihat?"


Abi cengo. Tentu saja ia tidak tahu tentang itu. "Maksudnya?"


Merekapun akhirnya duduk bersama di teras rumah Abi. 


"HAH? DIVIO BUTA???!"


Raya mengangguk dengan tatapan lurus. Reaksi Abi tidak jauh berbeda dengannya saat tahu fakta tersebut.


"Demi apa loe Ray?" Abi seakan tidak percaya.


"Demi Allah Abi. Gue berani disambar geledek kalau bohong."


Raya menunduk sedih. "Semua ini gara-gara gue."


Gadis itu pun menceritakan semuanya pada Abi.  Tentang kecelakaan yang menimpanya suatu malam , dan merenggut indera penglihatannya. Hingga akhirnya membuat Divio rela mendonorkan kornea matanya untuk Raya. 


Sepanjang Raya bercerita, Abi menyimak dengan perasaan campur aduk. Sedih, prihatin, tidak menyangka, semuanya berbaur menjadi satu. Ia sungguh iba pada bestie nya yang mengalami ujian begitu berat. Bahkan lebih berat dari ujiannya dulu.


Selesai bercerita, Raya menangis. Tangisan rasa bersalah. "Gue harus gimana Bi? Apa gue harus ngembaliin mata Divio biar dia bisa ngelihat lagi?"


Abi tersenyum tipis mendengar perkataan Raya yang konyol dan merasa tidak perlu untuk dijawab.


Ia malah teringat sesuatu. Sesuatu yang ia yakini belum diketahui oleh Raya.


"Ray, 3 tahun yang lalu, Divio tiba-tiba mutusin loe kan?"


Raya mengangguk sembari menghapus airmatanya.


"Alasannya apa?"


"Dia bilang pengen balikan lagi sama cinta pertamanya yang bernama Bella."


"Dan loe percaya?"


"Iyah. Orang ada buktinya."


Abi menghela nafas panjang. Rupanya Raya benar-benar percaya akan semua itu. Tapi semuanya memang diperkuat oleh bukti chat dari Abi yang mengaku jadi Bella waktu itu 


"Itu semua hoax Ray." 


"Hoax apanya?"


"Bella memang cinta pertamanya Divio. Tapi Cewek itu udah nggak ada di dunia ini. Dia udah meninggal 


6 tahun yang lalu karena kecelakaan."


Raya melongo. Shock mendengar ucapan Abi. "Tapi waktu itu ada buktinya kok. Cewek itu ngechatt Divio dengan kata-kata mesra. Gue lihat sendiri isi chatt nya."


Fiuhh.. Abi kembali menarik nafas dalam-dalam.


"Loe jangan marah yah? Sebenarnya itu chatt dari gue. Divio minta gue ngirim kata-kata mesra dan ganti foto profil pake fotonya Bella.


Gue yang waktu itu gak tahu apa-apa ya cuma nurut aja."

__ADS_1


Raya cengo. Ia benar-benar tidak habis pikir. Lalu atas dasar apa Divio melakukan semua itu?


"Apa alasan yang sebenarnya dia mutusin gue?"


"Semua itu karena si Levin bangsat." Tutur Abi, geram. Masih segar dalam ingatannya ketika Divio curhat tentang kesedihannya waktu itu.


"Levin? Kenapa sama dia?"


"Suatu hari, dia nyulik salah satu anak panti dan menggunakan anak itu sebagai senjata biar Divio mau mutusin loe. Kalau Divio nolak, Levin gak bakal segan nyakitin anak itu. Akhirnya Divio terpaksa ngikutin kemauan Levin. Karena gimanapun juga hidup anak itu lebih penting."


Demi apapun Raya benar-benar shock. Bagaimana mungkin semua itu terjadi? "Gila Levin! Tapi kenapa Divio nggak jujur aja sih sama gue? Kalau dia ngasih tahu semua itu, kan kita bisa pura-pura putus aja."


"Loe pikir si Levin cowok bego? Nggak Ray. Dia adalah tipe manusia serakah yang menghalalkan segala cara demi dapetin semua yang dia mau.


Kalau kalian pura-pura putus, loe pikir dia gak bakal tahu?"


Raya tidak menjawab lagi. Benar kata Abi. Levin adalah manusia titisan Dajjal yang harusnya dimusnahkan dari muka bumi ini.


"Tapi jangan berpikir kalau loe gak penting di hidup dia Ray. Asal loe tahu, Divio benar-benar cinta sama loe. Buktinya dia rela donorin matanya kan?"


Raya mengangguk pelan. Airmatanya kembali berlinang. Kini ia semakin merasa bersalah pada Divio yang dulu sangat ia benci. Ya, semua ini salahnya. Harusnya ia mencari tahu semua kebenarannya. Bukan malah percaya begitu saja.


Tangis Raya pun semakin menjadi. Dengan kedua tangan, ia menyembunyikan wajahnya dan menangis tersedu-sedu. 


Abi ikut prihatin. Ia mengulurkan tangan, dan menepuk-nepuk pundak Raya, menenangkannya.


"Sekarang, loe udah tahu semuanya. Jadi bersikap baiklah sama Divio. Karena dia adalah cowok yang rela ngorbanin hidupnya demi loe."


Sementara itu, Keyla heran karena Raya tidak kunjung datang. Ia pun keluar rumah untuk memastikan.


"Nah. Ini mobil dia." Ucap Keyla begitu membuka gerbang dan melihat mobil Raya yang terparkir di depannya.


Sedetik kemudian Keyla mendengar isak tangis seorang perempuan yang berasal dari arah rumah Abi.


Keyla pun segera melihatnya. Antara heran dan gerah hati ia melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Raya menangis dan Abi terlihat menghiburnya.


Apa yang terjadi diantara mereka? Dengan langkah pelan, Keyla pun menghampiri keduanya.


"Raya, loe kenapa?" Tanya Keyla, kaya ada sinis -sinisnya gitu. 


Raya menurunkan tangannya. Wajahnya benar-benar basah oleh airmata. Alih-alih menjawab pertanyaan, ia malah pamit. "Sorry Key gue gak bisa cerita sekarang. Gue pergi dulu yah."


Sepeninggal Raya, Keyla menatap Abi. Tatapan kesal dan mengandung cemburu. "Loe apain Raya sampai dia nangis kaya gitu?"


Abi tersenyum seraya bangkit. "Gue gigit. Makanya dia nangis."


"Garing! "


Abi hanya tersenyum.


"Ngomong-ngomong loe masih suka caper (cari perhatian) sama semua cewek?" Keyla bertanya dengan sinis. Saat melihat Abi yang menepuk-nepuk pundak Raya, hatinya auto panas. 


"Hah? Caper?"


Keyla mengangguk. 


"Oh Iyah! Gue lupa. Loe kan orangnya emang suka tebar pesona. Bikin gue bener-bener ilfeel! 


Jadi kalau boleh ngasih saran, kurang-kurangin deh sifat jelek loe itu." Tukas Keyla, tajam. Kemudian berlalu.


Abi bengong sambil berusaha mencerna kata-kata Keyla. Caper? Tebar pesona? Kapan ia melakukan semua itu? Huuuh! Si Maheswari kalau ngomong memang suka ada-ada saja!


Hingga akhirnya Abi menyadari penyebab Keyla menjadi seperti itu.


"Oh My God! Ceritanya dia lagi cemburu? Haha! " 


How sweet they are.


****


Yayasan Kasih Bunda.


Tok.. tok.. 


Terdengar suara ketukan pintu. Divio yang kebetulan hendak keluar, langsung mempercepat langkah kakinya seraya meraba-raba, mencari handle pintu.


Sementara tangan kanannya memegang tongkat.


Begitu pintu berhasil ia buka, tiba-tiba seseorang menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Divio.



-Bersambung-


 

__ADS_1


__ADS_2