
Aby yang sedang memilih bajunya sontak menoleh ke arah Keyla.
"Loe yakin?"
"Kenapa nggak? Gue bakal jadi suporter loe."
"Masalahnya lawan gue itu tim futsal SMA loe. SMA Kartini. Selain itu, si Fathan juga main satu tim sama gue."
Keyla terdiam. Ia baru ingat, sahabat dan mantannya sama-sama jago bermain futsal dan berada dalam satu tim.
Namun akhirnya, Keyla tidak mempermasalahkan hal itu. Ia bersikeras ingin ikut dan menjadi supporter tim Aby.
"Siapa tahu loe lebih semangat kalau ada gue." Kata Keyla, narsis.
Aby tersenyum. Namun ia tidak dapat memungkiri perkataan Keyla yang berdasarkan fakta. "Yaudah loe keluar dulu sana. Gue mau ganti baju. Atau.. loe pengen lihat gue ganti baju?" Tanya Aby sambil tersenyum menggoda.
Keyla begidik jijik dan langsung kabur.
Sesampainya di Gor merdeka, Aby dan Keyla segera masuk. Kemudian Aby menyuruh Keyla duduk di tribun.
"Gue mau prepare dulu."
Keyla mengerti. Namun saat Aby hendak pergi, tiba-tiba gadis itu meraih tangannya.
Aby heran. "Kenapa?"
Keyla tersenyum. Membuat hati Aby meleleh. "Semangat mainnya. Gue doain semoga tim loe yang menang."
Aby balas tersenyum. Ia mendekat, dan membisikkan sesuatu di telinga Keyla. "Makasih sayang."
Aww! Keyla auto baper mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Aby padanya. Dan sekarang Gadis itu semakin yakin, bahwa Aby memang memiliki perasaan cinta terhadapnya.
Aby menghampiri timnya yang baru ada 2 orang.
"Siapa sih yang nantangin?"
"Si Levin. Loe tahu dia kan?" Ucap seorang pemuda bernama Dimas.
Aby mencoba mengingat-ingat. Akhirnya ia tahu. "Owh.. Cowok kampret yang gak terima kita kalahin di pertandingan bulan lalu? Eh, tapi bukannya dia anak Bumi Pertiwi yah?"
"Dia pindah sekolah ke Kartini, dan langsung direkrut sama pelatih. Makanya sekarang dia nantangin kita lagi sama timnya yang lebih jago."
"Owh.." kata Aby sambil manggut-manggut. Kemudian ia mengedarkan pandangannya, mencari sesosok manusia. "Si kapten belum dateng?"
"Tuh." Dimas menunjuk Fathan yang baru datang dan sedang berjalan ke arah mereka. Sontak Aby melihat Keyla yang sedang duduk di tribun barisan paling bawah. Penasaran, bagaimana reaksinya?
Awalnya gadis itu tampak menatap sendu ke arah Fathan. Sebelum kemudian ia geleng-geleng, dan terlihat memukuli kepalanya. Seolah sedang mengusir bayangan Fathan dari pikirannya.
Aby tersenyum simpul melihat hal itu.
"Si Bagas gak bisa dateng katanya." Ucap Fathan begitu bergabung dengan timnya.
"Si Juna sih?" Dimas menanyakan cowok yang merupakan pemain cadangan.
"Dia kan abis kecelakaan."
"Lah terus gimana? Masa kita cuma berempat?"
Tiba-tiba Aby teringat seseorang. "Gue punya temen yang lumayan jago, dan gue yakin dia mau bantuin kita. Tapi masalahnya.."
"Apa?" Tanya Fathan, sengit. Dalam keadaan seperti ini, ia dipaksa akur dengan musuh bebuyutannya.
"Dia anak Kartini."
"Dih. Itu sih sama aja bohong." Ucap Gerry, pemuda yang berdiri di samping Dimas.
Akhirnya Fathan menyuruh Dimas mendekati tim lawan dan mencoba membuat kesepakatan. Dimas pun menurut dan segera pergi. Tak lama ia kembali dengan jawaban yang memuaskan.
"Gak papa katanya."
"Yaudah, telfon temen loe sekarang." Ujar Fathan pada Aby.
Aby mengerti dan langsung menelfon Divio. Untungnya Divio segera mengangkat telfon Aby, dan dengan senang hati menerima ajakan bestienya.
Disaat yang sama, Raya juga datang di Gor tersebut. Setelah sebelumnya mendapat telfon dari Keyla yang mengajaknya nonton futsal bersama.
"Wih.. Kayanya bakal seru nih." Ucap Raya sembari duduk di samping Keyla. "Loe dukung yang mana?"
"Dukung yang ada Aby nya lah."
"Haha dasar pembelot."
"Bodo!"
"Loe yang ngajak Keyla kesini?" Tanya Fathan yang sedang berdiri sambil memasang gelang kapten.
Aby yang sedang mengencangkan tali sepatunya, menjawab. "Dia yang pengen ikut."
Fathan tersenyum sinis. "Bagus deh. Gue jadi bisa nunjukin sama dia kalau gue 100 kali lebih baik dari loe."
Aby tersenyum meremehkan. Lalu bangkit dan menatap Fathan . "Whatever!" Ia berlalu menuju Keyla.
Tangan Fathan auto mengepal. "Awas loe!"
"Minta minum dong." Ucap Aby ketika sudah berada di depan Keyla.
Keyla tersenyum dan langsung menyerahkan botol minum Aby.
Raya auto menggoda keduanya. "Ciee.. Yang makin lengket. Jadi mau kapan hubungan kalian diresmiin?"
__ADS_1
Sambil mesem-mesem, Aby menjawab. "Kapan Key?"
Keyla langsung salting seperti orang sinting. "Apaan sih, ya gak tahu lah."
"Haha.. lihat pipinya langsung merah." Raya menunjuk pipi Keyla yang merah alami tanpa blush on.
Seketika Keyla menutupi kedua pipinya dengan tangan. Si kampret memang kampret!
"Ekhm.. Kok kayanya tim kalian cuma berempat?" Keyla bertanya, sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Yang satunya masih on the way." Aby menatap ke arah pintu gor. "Nah, panjang umur. Tuh dia.."
Raya dan Keyla mengikuti arah pandang Aby. Keduanya terkejut.
"Divio?" Pekik mereka, kompak.
"Dia kan anak Kartini. Kok bisa?" Keyla tidak habis pikir.
"Tim kita kekurangan personil. Jadi terpaksa minta bantuan dia."
Divio tiba di hadapan mereka dan langsung ber-toss ria dengan Aby.
"Sorry yah, gue jadi ngerepotin loe." Sesal Aby.
"Santuy. Gue juga lagi gabut di rumah." Jawab Divio. Ia menatap ke atas, ke arah Raya.
"Loe disini juga ternyata."
Raya mengangguk dan tersenyum lembut. "Keyla yang ngajak gue kesini."
"Mau nyuportetin si Levin?" Canda Divio sekaligus ingin tahu reaksi Raya.
Dan reaksi gadis itu langsung terlihat kesal. "Dih najis!"
"Haha."
"Loe kenal sama si Levin?" Tanya Aby, heran.
"Jelas lah. "
"WOY! SINI!" Teriak Fathan.
Aby dan Divio pamit pada kedua Gadis itu dan berlalu ke tengah lapangan.
Keyla menyikut Raya. "Loe juga kapan mau diresmiin sama si Divio?"
Raya hanya mengangkat bahu. Saat teringat Divio yang sudah punya gebetan, wajahnya mendadak suram.
Fathan selaku kapten menyalami Divio. "Kita minta bantuan loe ya sob."
Divio tersenyum dan menjabat uluran tangan Fathan. "Iya sob. Tapi maaf kalau gue gak sejago kalian."
Saat Divio bertemu mata dengan Levin, cowok rambut landak itu mengacungkan jari tengah sambil tersenyum sinis ke arah Divio.
5 menit kemudian, pertandingan pun dimulai..
Divio mendapat operan bola dari Aby dan langsung berlari menggiring benda bulat itu menuju gawang lawan. Namun tiba-tiba, Levin menarik baju belakang Divio dan merebut bolanya.
Fathan cs langsung menatap wasit. "Pelanggaran !"
Namun sang wasit seolah berpihak pada tim Levin dan tidak menganggap hal itu sebagai pelanggaran.
"Anjir, kasar banget dia mainnya. Mana nggak pelanggaran lagi." Komentar Keyla.
Raya hanya diam dan tampak marah dengan sikap Levin.
Sementara Levin terus menggiring bolanya menuju gawang. Untungnya Aby berhasil merebut bola dari Levin kemudian mengopernya ke arah Fathan yang posisinya dekat dengan gawang.
Fathan menerima operan bola dari Aby dan langsung mengshoot dari jarak 3 meter.
Jebred!
Owh. Nyaris! Bola mengenai mistar dan gagal masuk gawang. Suporter tim 70 sontak mendesah kecewa dibuatnya.
Permainan terus berlanjut. Namun makin kesini, situasi di lapangan kian memanas. Apalagi Levin yang selalu bersikap kasar terhadap Divio dan tidak dianggap sebagai pelanggaran oleh wasit.
Levin mendorong, menjegal, menarik baju, bahkan menginjak sepatu Divio. Puncaknya di tengah-tengah permainan. Levin seperti sengaja menendang bola ke arah Divio dengan sebuah tendangan maut.
Bug! Bola mengenai dada Divio dan membuat cowok itu tergolek lemah. Barulah wasit membunyikan peluit, pertanda pelanggaran.
Sementara Aby yang sudah sangat panas merasa tidak terima, dan langsung mendorong Levin. "SANTAI ANJING!"
Levin tidak mau kalah dan balas mendorong Aby. "APA LOE?!"
"LOE SENGAJA KAN? DARITADI LOE MAIN KASAR TERUS SAMA DIVIO!"
"HALAH! DIANYA AJA YANG CEMEN."
Aby semakin emosi dan sudah berniat menjotos Levin. Beruntung teman-temannya langsung mencegah. Terkecuali Fathan selaku kapten. Dia justeru diam seperti malin Kundang yang dikutuk ibunya jadi batu.
"Pokoknya permainan ini gak boleh dilanjutin! Kalau nggak, bisa-bisa dia ngebunuh Divio." Aby tampak sangat murka.
Barulah Fathan bertindak. Bertindak dengan menentang kemauan Aby. "Apaan sih loe sok ngatur? Gue yang jadi kapten disini."
"Loe emang kapten, tapi lihat situasi bego! Loe tega ngelihat Divio yang dibully abis-abisan sama si Levin? Mana wasitnya kaya anjing lagi!"
Divio mencoba bangkit. Meski ulu hatinya masih terasa sakit, ia mencoba meyakinkan Aby. " Udahlah Bi.. Gue gak papa kok."
"Tuh! Loe denger sendiri kan?" Pungkas Fathan.
__ADS_1
Aby membuang muka dan berteriak frustasi. "SH*IT!"
"Dih kok malah jadi kaya gini sih?" Ucap Keyla, tak mengerti. Sebenarnya mereka mau tanding futsal atau tawuran?
Lain halnya dengan Raya yang menatap Levin dengan geram sambil mengepalkan tangan. Seperti Aby, ia tidak terima melihat berbagai penyerangan yang dilakukan Levin pada Divio.
"Awas aja loe Vin!"
Karena pelanggaran yang dilakukan Levin, tim 70 mendapat hadiah tendangan bebas dari wasit.
Fathan bertugas meng-shoot. Sayangnya ia kembali gagal mencetak goal.
Permainan pun kembali dimulai. Dan kali ini, Aby selalu berusaha melindungi Divio dari berbagai serangan jahat Levin.
"Bi.." Dimas mengoper bola ke arah Aby. Aby menerimanya dan langsung berlari ke arah gawang, kemudian meng-shoot dari jarak 2 meter.
JEBRED! MASUK PEMIRSAA!
"YEEE!!" Keyla dan Raya berpelukan dengan girang. Padahal jelas-jelas mereka murid Kartini.
Begitupun dengan suporter tim 70 yang tak kalah senang melihat Aby berhasil mencetak goal.
Timnya sendiri langsung mengerubungi Aby. Dimas memeluk Aby, Divio mengacak-acak rambut Aby, sementara Gerry sang penjaga gawang, mencubit pipi Aby. Berbeda dengan Fathan. Dia tidak melakukan selebrasi dan hanya diam mematung. Bahkan terlihat tidak senang, meski timnya berhasil mencetak poin.
Ia malah menatap Keyla yang sedang menatap Aby dengan pandangan bangga sambil bertepuk tangan. Niat menyombongkan diri, malah gagal. Haha!
Dan skor 1-0 bertahan sampai akhir pertandingan.
Fathan menyombongkan diri pada Levin yang menantangnya. "Sekarang udah kebukti kan? Mau masuk tim Bumi Pertiwi, ataupun Kartini, loe tetep gak bisa ngalahin tim 70!"
"Jangan songong nyet! Karena bukan loe yang nyetak goal. Kapten tapi kaya sampah!" Jawab Levin, kerad. Dan berlalu meninggalkan Fathan yang tampak murka mendengar ucapannya.
Aby yang masih khawatir, menanyakan keadaan Divio. "Loe gak papa kan?"
Divio tersenyum dan menenangkan. "Gue gak papa. Loe gak usah khawatir."
Fathan menatap sinis ke arah Aby, sebelum akhirnya melengos pergi. Namun langkahnya tertahan saat Aby berkata, "Loe gak mau berterima kasih sama gue Tan? Secara gak langsung, gue udah menyelamatkan harga diri tim 70 loh."
"Jangan ngarep!" Jawab Fathan tanpa menoleh, dan kembali meneruskan langkahnya.
Aby tersenyum sinis. Ia menduga Fathan kesal karena usahanya mengunggulkan diri di depan Keyla ternyata zonk.
Setelah Dimas dan Gerry juga pergi, Keyla langsung turun ke lapangan dan mendekati Aby dan Divio.
"Kalian hebat! Apalagi loe Bi, gue bangga banget sama loe." Ucap Keyla sambil menyerahkan botol minum Aby.
Cowok itu tersenyum dan menerimanya. "Semua ini berkat doa dari loe. "
"Anjay.. Doa dari seorang istri ya Bi." Goda Divio yang langsung mendapat tinjuan ringan di bahunya.
"Sa ae loe."
"Oiyah Key, si Raya kemana?" Tanya Divio.
Rupanya Raya sedang berdiri di depan pintu GOR sambil menunggu kedatangan seseorang. Saat targetnya keluar, Raya langsung menghadangnya.
"Gue perlu ngomong. Ikut gue!"
Meski bingung, Levin tetap mengikuti Raya ke samping GOR.
"Ada apa sih Ray?"
PLAK! Raya menggampar pipi Levin tanpa aba-aba. Membuat kepala Levin miring dan merasakan panas di pipinya.
"Sakit? Tamparan gue ini gak seberapa kalau dibandingin sama perasaan gue ketika ngelihat loe jahatin Divio!"
Levin menatap Raya murka. "Loe berani nampar gue?"
"Iyah! Kenapa? Loe mau ngebales? Tampar aja!"
Emosi Levin terpancing. Apalagi ia masih lelah setelah bertanding. Cowok itupun sudah bersiap menampar Raya, ketika sebuah tangan tiba-tiba menahannya.
Levin berbalik dan menatap pemilik tangan itu.
"Cuma cowok banci yang berani mukul cewek!" Tegas Divio.
Levih semakin murka dan langsung melayangkan bogemnya. Beruntung Divio berhasil menangkis tangan Levin. Lalu dengan tangan kirinya, Divio memukul cowok bangsat tersebut.
Seketika Levin jatuh tersungkur.
"Loe tahu? Gue juga punya batas kesabaran! Dan sekalinya gue marah, gue pastiin loe bakal habis di tangan gue!" Divio menggenggam tangan Raya dan mengajaknya pergi.
***
"Oh jadi gitu caranya? Ternyata gampang yah." Ucap Regy setelah Meisya menjelaskan materi yang tidak ia pahami.
Meisya tersenyum. "Sebenernya di dunia ini tuh gak ada yang susah kalau kita mau belajar dan berusaha. Kan ada peribahasa nothing is impossible."
"Apa tuh artinya."
"Artinya tahu bulat digoreng dadakan."
"Haha." Regy ngakak. Kadang Meisya serandom itu orangnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Seseorang mengetuk pintu kosan Regy tanpa tanda-tanda. Kedua orang itu sontak melempar pandang.
"Siapa?" Tanya Meisya dengan jantung berdebar. Perasaannya mulai tidak enak.
__ADS_1
Regy mengangkat bahu dan langsung permisi untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, mata Regy terbelalak.
-Bersambung-