TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Anying! Gak Kena


__ADS_3

Divio terperangah. Saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk seseorang yang kemudian terdengar menangis dan terisak.


Aroma tubuhnya mengingatkan Divio pada seseorang. Ya, kalau tidak salah itu adalah aroma parfum Raya. Divio mengenalnya dengan baik.


Tapi Divio merasa mustahil jika orang yang sedang memeluknya saat ini adalah Raya.


Cowok itupun memastikan. "Siapa?"


"Ini gue Div, Raya." Kata Raya. Dalam hati. Tubuhnya semakin menyatu dengan tubuh Divio. 


"Ini aku, Cinta." Ucapnya. Kembali berakting menjadi Gadis bernama Cinta. Entah sampai kapan ia akan bersandiwara.


Divio menghela nafas kecewa. Ia pikir dugaannya benar. Well.. Divio merasa tidak mungkin Raya tiba-tiba datang dan memeluknya. 


 Ia pun bertanya pada 'Cinta'. "Kamu kenapa?"


Otak Raya sempat ngeblang. Sebelum akhirnya ia menjawab asal.


"Aku lagi rindu sama seseorang yang udah nggak ada. Dan aku butuh seseorang buat nguatin aku." 


Divio merasa iba. Dengan tangan kirinya, ia menepuk-nepuk punggung Raya. "Kamu yang sabar yah."


Raya tidak berkata apa-apa lagi dan justeru mempererat pelukannya. Seolah tidak ingin berpisah dengan Divio yang sangat ia cintai.


***


Di teras rumah Neneknya, Meisya duduk menyendiri sambil menatap langit malam. Sepotong bulan menggantung indah di angkasa. Ditemani bintang-bintang yang bertaburan di sekelilingnya.


Seorang pemuda muncul dari dalam rumah. Dia mendekat kemudian duduk di samping Meisya.


Pemuda itu bernama Yazi. Dia adalah sepupu Meisya yang tidak lain adalah putra Om Andi.


"Teh, daripada bengong mending ikut Yazi yuk? Lagian pamali malam-malam bengong sendirian. Nanti bisik kasurupan." 


Meisya tersenyum geli mendengar ucapan Yazi yang setengah sunda setengah Indonesia. Tapi ia juga tertarik mendengar ajakan Yazi.


"Emangnya kamu mau kemana?"


"Teteh penasaran? Makanya hayu ikut Yazi."


Akhirnya Meisya mengangguk dan bersedia menerima ajakan pemuda kelas 2 SMA tersebut.


Dengan mengendarai motor vespa Yazi, merekapun pergi ke suatu tempat.


Yakni warung angkringan.


Keduanya duduk berdampingan menghadap gerobak. Yazi makan sate usus dengan lahap. Sementara Meisya hanya memutar-mutar sate telur puyuh yang berada di tangannya, dengan tatapan kosong. Raganya memang disana. Tapi jiwanya entah dimana.


Beberapa saat kemudian, datang dua orang yang berboncengan menaiki sebuah motor. 


"Buru turun! Budak teh jiga nu ngidam (Ayo turun! Nih anak kaya orang ngidam)." Sungut Regy, kesal.


Entah Wulan kesambet apa, tiba-tiba saja dia merengek dan meminta Regy mengantarnya ke warung angkringan karena ingin makan nasi kucing.


"Ih! Tong ngambek teuing geura, bisi tereh kolot! (Jangan ngambek mulu dong. Nanti cepet tua)." Balas Wulan seraya turun dari motor Regy.


Tanpa melihat, Meisya sudah bisa menebak jika itu adalah suara Regy dan wanita yang ia yakini merupakan kekasihnya. Gadis itu memejamkan mata seraya menghela nafas kesal. Apakah dunia memang sesempit ini?


Sementara Yazi berbalik saat mendengar ocehan dua orang tersebut. Tentu ia mengenal mereka berdua. Tersenyum, ia berkata.


"Garandeng pisan atuh (Pada berisik banget). Dasar Tom and Jerry!"


Wulan membeku menatap Yazi. Rona kebahagiaan seketika terpancar dari wajah imutnya saat melihat keberadaan Yazi yang diam-diam ia sukai. Begitupun dengan Sang Kakak tiri, ketika melihat punggung seorang Gadis yang sedang duduk disamping Yazi.


Regy mencoba tidak menghiraukan keberadaan Meisya, dan langsung duduk di samping kanan Yazi.


Disusul Wulan yang duduk di sebelah Regy, di ujung.


"Tos lila didieu? (Udah lama disini)." Tanya Regy kemudian memesan 2 gelas susu jahe.


"Nembean (Baru aja.)" Jawab Yazi.


Sementara Meisya membuang muka dan tampak tidak nyaman berada diantara mereka. 


Wulan sendiri tergerak untuk bertanya. "Yazi sareng saha? (Yazi sama siapa?)"


Yazi seperti disadarkan. "Oh enya, kenalkeun. Ieu teh lanceuk sepupu abi Orang Jakarta. Namanya Teh Meisya."


Wulan manggut-manggut dan tampak lega. Ia pikir perempuan itu pacarnya Yazi. Gadis itu pun memasang senyum. Mencondongkan badan dan merentangkan tangan kanannya sejauh mungkin, ke arah Meisya.


"Hai Teh Meisya.. Aku Wulan. Temennya Yazi."


Dengan wajah dingin, Meisya menjabat uluran tangan Wulan. "Meisya."


Tanpa diduga, Regy juga ikut mengulurkan tangannya setelah Wulan. "Aku Regi. Kakak tiri Wulan dan teman Yazi juga."


Meisya melongo. What? Kakak tiri? Jadi mereka tidak pacaran? Gadis itu menyesali kebodohannya. Ya memang bodoh. Atas dasar apa dia percaya bahwa Regy dan Wulan adalah sepasang kekasih?


"Teh." Yazi menyikut Meisya yang malah bengong. Sementara Regy mulai merasakan pegal karena tangannya tidak juga dijabat.


Dengan perasaan tidak karuan, Meisya akhirnya menyalami Regi. Andai Yazi tahu hubungannya dengan Kakak tiri Wulan tersebut, mungkin Yazi tidak akan menyangka.


Regy tersenyum simpul melihat ekspresi Meisya yang lucu dan menggemaskan. 


"Si Michelle reuneuh deui A? (Si Michelle hamil lagi Kak)?" Tanya Yazi kemudian, menanyakan soal domba Regy.


Regy menyeruput susu jahenya. "Enya duh. Geus reuneuh deui bae. (Iya duh. Udah hamil lagi aja)."


"Di reuneuhan ku A Egi Zi. (Dihamilin sama Kak Egi Zi)." Celetuk Wulan yang langsung dijitak oleh Regy.

__ADS_1


Yazi ngakak. Sementara Meisya terlihat menahan tawa. 


"Ai nyarios teh tong di saruakeun jeung hitut. Padu bae! (Kalau ngomong tuh jangan disamain sama kentut. Sembarangan aja)!" Kata Regy. Si Wulan kalau ngomong memang jarang disaring.


"Puguh aa nu sok hitut padu bae. Kuat ka ngebul warna hejo. (Kan Kakak yang sering kentut sembarangan. Sampe keluar asap warna ijo)."


Yazi semakin ngabrut. Begitupun dengan Meisya yang tidak bisa lagi menahan tawanya. Kakak-beradik itu memang sama. Sama-sama koplak!


Regy tersenyum lembut melihat Meisya tertawa. Akhirnya. Meisya tidak terlihat badmood lagi.


Kemudian handphone Yazi berdering. Ia pun permisi pada mereka untuk mengangkat telfonnya, dan berlalu darisana.


Wulan sendiri merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia tahan. "Duh aing mah. Kebiasaan heh. (Duh kesel gue. Kebiasaan banget)."


"Naha? (Kenapa?)" Regy menatap Wulan yang mencengkram erat celananya.


"Hayang ngompol (pengen pipis)."


Regy geleng-geleng kepala. Dasar beser! Diimana-mana selalu pengen ngompol!


Ia pun menyuruh Wulan pipis di toilet mushola yang terletak di samping warung angkringan. Wulan mengerti dan langsung ngibrit.


Tersisalah Meisya dan Regy.


Regy beringsut, duduk lebih dekat dengan Meisya. Ia harap Yazi dan Wulan tidak segera datang. Regy pun mengambil sate usus lalu menyerahkannya pada Meisya.


Gadis itu menggeleng.


"Kenapa?" Regy heran.


"Gak suka." Jawab Meisya, singkat.


"Kalau sama saya, suka nggak?" Goda Regy.


Membuat Meisya langsung mengalihkan pandang ke arahnya. Cowok itu tersenyum. Senyum yang membuat Meisya langsung beristighfar.


Sayangnya Yazi kembali, merusak suasana. Regy buru-buru menjauh dari Meisya. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya pada gadis itu.


Meisya sendiri sudah benar-benar tidak nyaman dan langsung mengajak Yazi pulang dengan alasan ngantuk.


****


Setelah menidurkan Anak-anak, Raya dan Divio duduk berdampingan di teras panti. Raya penasaran akan sesuatu.


"Vio."


"Hmm?"


"Cewek yang dapat donor mata dari kamu. Siapa namanya?"


Divio tersenyum saat teringat sosok Raya. Raya yang sampai saat ini menguasai hatinya dan akan selalu seperti itu. "Raya.. Raya Monica."


"Mmm.. Dia cerewet, galak, sangar, agak tomboy, keras kepala, dan kalau udah ngambek, beuh..


Horor!"


Raya menatap Divio kesal. Hatinya mengumpat. "Sialan lu Div!"


Namun Divio belum selesai bicara. "Tapi dibalik semua itu, dia adalah sosok cewek strong, baik, cantik, perhatian, solid, pokoknya the best deh."


Aww! Hidung Raya auto terbang mendengar pujian Divio. Tanpa Divio ketahui, Raya senyum-senyum sendiri seperti cewek sinting.


Raya kembali menguji. "Terus apa sampai sekarang, kamu masih cinta sama Raya?"


"Jelas. Aku udah bersumpah akan mencintai dia sampai mati. Dan seorang Divio Mahendra, pantang melanggar sumpahnya sendiri."


"Kalau gitu kenapa dulu kamu mutusin dia demi cewek lain?" Tanya Raya, tanpa sadar.


Divio menghela nafas lemah. Tentu saja ia melakukan semua itu karena terpaksa. "Aku gak bener-bener berniat mutusin dia. Dan saat itu aku nggak punya pilihan lain."


Raya mengerti dan tidak bertanya lagi. Akar masalah ini adalah si Levin. Manusia setengah iblis yang ingin ia bunuh saat ini juga.


Divio tiba-tiba menyadari sesuatu. "Tunggu! Kamu tahu darimana kalau aku mutusin Raya demi cewek lain?"


'Mampus!' pekik Raya dalam hati. Gadis itu auto panik. Bisa-bisanya dia bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu.


"I.. Itu.. Kamu kan pernah bilang sama aku." Jawab Raya, gugup setengah mampus.


Divio tidak merasa. "Kapan aku ngomong gitu?"


"Beberapa hari yang lalu. Kamu lupa yah? Serius kamu pernah ngomong gitu sama aku." Raya mencoba meyakinkan Divio. 


Divio tidak serta-merta percaya. Dia justeru mulai curiga. "Nama lengkap kamu apa?"


"Cinta.. Larasati." Jawab Raya sekenanya. Ini adalah moment paling menegangkan sepanjang hidupnya.


"Usia?" Divio terus menginterogasi.


"21 tahun." Aslinya 20.


'Setahun lebih tua dari gue.' batin Divio. Ia masih belum puas. "Kamu-"


"Duh, udah malam Vio. Aku pulang dulu yah? Takut Mamah khawatir." Raya memutuskan pergi sebelum Divio semakin mencurigainya.


"Cinta tunggu!" Teriak Divio. Membuat langkah kaki Raya seketika terhenti. Demi Tuhan ia semakin panik. Bagaimana kalau semuanya terbongkar?


Tanpa diduga, Divio berkata. "Sampai ketemu besok."


Fiuhhhhhh.. Raya menghela nafas panjang. Divio nyaris membuat jantungnya copot!

__ADS_1


***


Saat mendengar ketukan pintu, Mamah Keyla yang sedang duduk bersantai di ruang tamu, segera bangkit dan membuka pintunya.


Tampaklah Devon. Pemuda yang lehernya bertato dan membuat Mamah Keyla langsung bergidik ngeri.


"Malam Tante. Keyla nya ada?" Tanya Devon seraya mengunyah permen karet. Menunjukkan kesan tidak sopan.


"Ada. Mau apa nyari Keyla?" Tanya Mamah Keyla, tak suka. Pemuda itu terlihat tidak beradab.


"Mau jalan dong Tante. Tolong panggilin yah. " ucap Devon, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari dalam sakunya.


Mamah Keyla geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya Keyla punya kenalan cowok model begini. Meski begitu beliau tetap menemui Keyla di kamarnya.


"Key ada tamu tuh."


Keyla yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya, seketika menatap Sang Mamah "Tamu siapa Mah?"


"Gak tahu. Yang jelas tampangnya kaya preman."


Keyla memutar bola mata, mencoba menebak tamu yang dimaksud Mamanya.


"Kamu kok bisa-bisanya punya kenalan cowok model begitu?" Protes Sang Mamah. Keyla yang semakin penasaran akhirnya langsung beranjak dan bergegas menemui tamu tersebut.


"Devon.."


Cowok itu tersenyum dengan bibir tipisnya. "Malam sayang. Aku mau ngajak kamu jalan. Mau yah?"


Keyla teringat sesuatu. Saat ia mengaku pada Abi bahwa Devon adalah pacarnya. Sepertinya Devon menganggap jika semua itu serius.


Bagaimanapun Keyla harus meluruskannya. Ia pun menerima ajakan Devon dan bergegas ganti baju.


"Von, ada yang pengen aku omongin sama kamu." Ucap Keyla yang kini sudah berada di dalam mobil bersama Devon. Devon ini berasal dari keluarga Sultan namun terlahir di keluarga broken home. Karena itu dia terlihat seperti berandalan.


"Ngomong apa sayang?" Tanya Devon. Wajahnya tampak sagne saat menatap Keyla, yang padahal tampil natural tanpa make up malam itu. Karena pada dasarnya Keyla memang cantik.


"Kamu nggak nganggap serius omongan aku waktu itu kan?"


"Omongan yang mana?"


"Yang bilang kalau kamu cowok aku."


Devon terdiam. Jadi maksudnya, Keyla tidak serius dengan ucapannya?


Keyla sendiri menghela nafas panjang. Ia menunduk dan merasa bersalah. "Sebenarnya waktu itu aku terpaksa membenarkan omongan kamu. Maaf yah, aku nggak serius nganggap kamu sebagai cowok aku."


Tanpa Keyla ketahui, tangan Devon mengepal. Emosinya mulai memuncak ke ubun-ubun. Namun semua itu ia sembunyikan dibalik senyuman.


"Oh Gitu yah? Yaudah gak papa." Dari kursi belakang, Devon mengambil sebotol air mineral yang sudah tidak disegel.


"Nih minum dulu. Kamu pasti haus."


Keyla menerimanya dan untungnya tidak langsung meminumnya. Sementara Devon sudah tidak sabar.


"Kenapa nggak diminum?"


"Nanti aja."


Devon mendengus kesal. Ia pun menjalankan mobilnya dengan perasaan emosi yang berkecamuk di dadanya.


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba hujan turun tanpa tanda-tanda. Devon langsung menarik tuas wiper agar penglihatannya tidak terganggu oleh air hujan yang membasahi kaca depannya.


"Yah malah hujan. Padahal aku pengen ngajak kamu lihat pesta kembang api. Kita ke tempat lain aja yah?"


Tanpa menaruh curiga, Keyla mengangguk. 


Devon pun menambah kecepatan mobilnya. Ia tersenyum menyeringai membayangkan rencana yang telah ia susun. Malam ini, ia tidak akan membiarkan Keyla lolos!


5 menit kemudian, mobil Devon berhenti di sebuah rumah megah. 


Keyla bingung. "Ini rumah siapa?"


"Rumah aku."


Keyla langsung menatap Devon. "Mau ngapain kamu ngajak aku ke rumah kamu?"


Devon tersenyum ngeri. "Mau ngapain yah? Kita lihat aja nanti. Ayo turun." 


Keyla auto panik. "Nggak! Aku mau pulang!"


"Duh Key.. Masa udah jalan jauh-jauh kamu minta pulang sih? Udah tenang aja. Lagian di rumah aku nggak ada siapa-siapa kok."


"Justeru itu!" Nada suara Keyla meninggi bercampur ketakutan. "Kamu ngajak aku ke rumah kamu disaat hujan kaya gini, udah gitu gak ada siapa-siapa! Kamu pikir aku cewek bego?"


Devon yang kesabarannya setipis tissue akhirnya tak tahan dan langsung memaksa Keyla keluar. Persetan dengan hujan yang turun deras saat itu. Ia sudah tidak sabar menikmati tubuh Keyla.


"Lepasin! Loe apa-apaan sih?" Keyla meronta dan berusaha melepaskan genggaman Devon yang menyeretnya secara paksa. Ia seperti Dejavu. Teringat saat Hugo yang melakukan hal yang sama 3 tahun lalu. Bedanya saat itu tidak hujan.


"Berisik!" Timpal Devon tanpa belas kasihan dan terus menyeret Keyla menuju rumahnya.


Keyla mulai menangis. Demi apapun dia benar-benar takut.


Saat Devon menapaki teras rumahnya, tiba-tiba sebuah batu melayang dan menyerempet kepala cowok bengis itu.


Sret!


"Anying! Gak kena!" Celetuk Abi yang sudah basah-basahan.


-Bersambung-

__ADS_1


Ada yang mau double up?


__ADS_2