
"Halo Mei.. Ini aku, Rizvan."
Mata Meisya membulat sempurna. Bahkan ia refleks terbangun dari posisinya yang semula rebahan. Ya Allah.. Apakah ia sedang bermimpi?
Kalau Iyah, sungguh Meisya tidak ingin bangun dari mimpi tersebut.
"Ri.. Rizvan? Beneran ini kamu?"
'Iyah Mei. Ini aku.'
Tak terkira betapa bahagianya hati Meisya. Bahkan jika tidak malu, ia ingin loncat-loncat diatas spring bed saat itu juga.
Meisya tak berhenti nyengir seperti orang gila. " Ada perlu apa kamu nelfon aku Van?"
'Besok kan hari minggu. Kamu ada acara nggak?'
"Nggak ada Van, nggak ada. Kenapa emang?" Meisya bertanya dengan semangat. Kalaupun ada acara semisal pertemuan penting dengan Pak Jokowi , Meisya tidak akan sungkan membatalkannya.
'Kalau gitu kita jalan yuk?'
"Hah jalan?" Meisya membekap mulutnya yang ingin sekali bersorak girang. Sumpah demi apapun, ia benar-benar tidak menyangka dengan semua ini.
'Iyah. Besok jam 8 aku tunggu yah di taman pahlawan.'
"Oke Van, oke. Aku pasti datang."
'Yaudah.. Good night.' Klik! Rizvan menutup telfonnya.
Mesiya auto histeris. "AAAAAAAAA! Mimpi apa gue semalam? Rizvan nelfon gue, abis itu ngajak jalan? Oh My God.. Inikah jawaban dari doa-doa gue selama ini?"
Rizvan sendiri menghela nafas panjang setelah mengakhiri panggilan. Di kamarnya, ia merenung memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu.
Jam 7 malam, ia tiba di rumah Rangga. Berniat main ke rumah sepupunya. Dan saat tahu Rangga sedang tidak di rumah, alih-alih pulang, Rizvan justeru menunggu Rangga sambil bermain game di kamarnya.
2 jam kemudian, Rangga akhirnya pulang.
Rizvan heran melihat wajahnya yang tampak murung.
"Abis darimana?"
"Abis jalan sama Kak Meisya."
Rizvan cukup terkejut dengan kenyataan itu. Lalu kemudian ia bertanya, "Abis jalan kok ekspresinya sedih gitu?"
Rangga duduk di samping Rizvan, di bibir ranjang. Padahal sebelumnya, ia sudah mempersiapkan diri untuk kecewa. Namun hatinya tetap sakit.
"Barusan aku udah nembak Kak Meisya. Sayangnya dia nolak. Dengan alasan dia udah punya seseorang yang dia suka, dan sampe sekarang masih nunggu jawaban cinta dari orang itu." Tangan Rangga mengepal. "Bajingan mana yang tega ngegantungin perasaan Kak Meisya. Kalau aja aku tahu siapa orangnya, aku gak segan ngajak dia berantem."
Glek! Rizvan menelan ludah ngeri. Andai Rangga tahu bajingan itu adalah dirinya, sepupunya tersebut mungkin akan pingsan.
Tapi satu hal yang membuat Rizvan tidak habis pikir ketika mendengar penjelasan Rangga. Meisya masih menunggu jawaban cinta darinya? Jadi selama ini, sikap Rizvan masih belum jelas dimata Meisya?
Mengingat hal itu, Rizvan mengangguk yakin. Entah apa yang ia rencanakan.
**
Pukul 8 pagi, Meisya tiba lebih dulu di taman pahlawan dengan penampilan terbaiknya. Rambutnya yang sebahu tergerai indah dan tampak berkilau. Make up yang natural dan tidak over. Dan dress berwarna rosegold selutut yang menyatu dengan warna kulitnya yang putih. Pokoknya cantik sekali.
5 menit kemudian, Rizvan datang dengan mengendarai Honda Vario tecnho miliknya.
Segera ia melepas helm. "Maaf Mei.. Kamu udah nunggu lama yah?"
Meisya tersenyum menatap Rizvan yang tampak sangat tampan menggunakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans. "Nggak kok Van. Aku juga baru datang."
Rizvan ikut tersenyum. "Yaudah.. Sekarang kita mau kemana dulu?"
"Terserah. Kan kamu yang ngajak. Jadi aku ikut aja."
"Kalau aku ngajak ke neraka, kamu tetep mau ikut?" Rizvan melucu. Dan itulah salah satu alasan Meisya menyukainya. Karena Rizvan sosok yang humoris.
"Hahaha.. Kamu bisa aja." Meisya tertawa sambil menutup mulut. Membuatnya terlihat sok anggun.
"Yaudah kalau gitu kita ke Dufan aja yuk?"
Meisya mengangguk dan tersenyum semangat. Sudah terbayang serunya menaiki berbagai wahana di sana bersama Rizvan.
Sebelum berangkat, tanpa diduga Rizvan menyuruh Meisya berpegangan ke pinggangnya.
"Gak papa emang?" Tanya Meisya memastikan. Hatinya girang bukan main.
"Ya gak papa lah. Dulu juga kamu sering gitu kan?"
Meisya mengangguk dan tersenyum malu-malu bagong. Ia pun melingkarkan tangannya ke pinggang Rizvan. Sungguh, ini adalah moment terindah dalam hidupnya.
"Udah?"
"Udah."
"Okey.. Let's go.."
Sepanjang perjalanan, Meisya tak berhenti tersenyum. Orang yang melihat mungkin akan mengira Rizvan sedang membonceng orang gila.
Eh tapi mana ada cewek gila secantik Meisya?
"Van.."
Rizvan memutar kepalanya ke samping. "Iyah?"
"Apa aku lagi mimpi sekarang?"
"Emangnya kenapa?"
"Soalnya aku beneran nggak nyangka bisa deket lagi sama kamu."
Rizvan hanya tersenyum. Dalam hati ia meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Gadis itu.
Minta maaf untuk apa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Setibanya di Dufan, keduanya langsung mencoba berbagai wahana. Mulai dari halilintar, tornado, bianglala, piring oleng, dan mengunjungi tempat seperti istana boneka, rumah kaca, dan masih banyak lagi.
Hingga tidak terasa, waktu terus berlalu dan perut mereka mulai keroncongan.
"Makan yuk? Kamu mau makan di mana? Restoran? Rumah makan?" Tawar Rizvan, benar-benar berniat memanjakan Meisya.
Meisya berpikir dan akhirnya mendapat ide. "Aku mau makan bakso aja. Bakso Pak Hasan langganan kita waktu SMP. Kamu masih inget kan?"
Rizvan tersenyum dan mengangguk.
Setibanya di kedai bakso Pak Hasan, keduanya langsung memesan. Pak Hasan bahkan masih ingat pada mereka berdua, yang dulu hampir setiap hari makan ditempatnya.
__ADS_1
"Van kamu inget nggak, suatu hari kamu pernah bolak-balik WC gara-gara kebanyakan makan sambel pas makan baso disini."
Rizvan tersenyum. Tentu saja ia ingat. "Dan besoknya gantian kamu yang diare."
"Haha bener."
Setelah makan, mereka tidak pulang. Melainkan menonton film di bioskop. Keduanya kompak menonton film barat berjudul Insidious: The Red Door. Meskipun sebenarnya Meisya tidak menyukai film barat, namun jika Rizvan yang mengajak, ia tidak akan menolak.
Selesai menonton film, keduanya pergi ke taman kota. Pukul 8 malam, taman sedang ramai-ramainya oleh pengunjung. Ada yang sedang asyik berduaan, ada yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi bersama teman, ada pula anak-anak kecil yang sedang berlarian.
"Van.."
"Hmm?"
"Makasih banyak yah buat hari ini. Ini benar-benar hari terindah dalam hidup aku."
Rizvan terdiam. Saat ia mengungkapkan tujuan yang sebenarnya, ia yakin Meisya akan menarik ucapannya.
Ia pun menatap Meisya lekat. Jujur ia akui, Meisya sangat cantik hari ini. Namun kecantikan gadis itu tak mampu membuat Rizvan menaruh hati padanya.
"Mei kamu inget nggak? Setahun yang lalu, kamu pernah ngungkapin perasaan kamu ke aku. Bahwa sebenarnya kamu sayang sama aku, dan minta aku buat jadi pacar kamu."
Meisya mengangguk cepat. "Ingat lah.. Aku sampai ngebuang jauh harga diri aku saat itu.
Jadi mana mungkin aku nggak inget."
Rizvan mengerti. "Maaf, aku baru bisa ngasih jawaban sekarang, setelah setahun lamanya gantungin perasaan kamu."
"Oiyah? Jadi kamu mau ngasih jawaban sekarang? Terus apa jawaban kamu?" Meisya menanti jawaban dengan hati berdebar. Dalam hati ia tak henti berdoa semoga Rizvan akan menerima perasaannya.
"Jawaban aku.. Maaf,
Aku nggak bisa dan nggak akan pernah bisa jadi pacar kamu."
Wah.. Betapa jahatnya Rizvan. Ia seperti sengaja melambungkan perasaan Meisya setinggi langit, lalu menghempaskannya ke dasar bumi.
Gadis itu tertegun mendengar penolakan laki-laki yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Hatinya hancur. Rasanya sakit bukan main.
Bening airmata menggenang dipelupuk matanya. " Kenapa? Apa alasannya?" Tanya Meisya, lirih. Ia pikir perlakuan manis Rizvan hari ini merupakan lampu hijau pertanda cintanya akan terbalaskan.
"Karena dulu ataupun sekarang, bukan kamu cewek yang aku suka. Aku cuma nganggap kamu teman, gak lebih dari itu.
Selain itu, aku udah punya seseorang yang aku suka."
"Siapa? Diana?"
Rizvan membenarkan tanpa ragu. "Bahkan minggu lalu kami baru jadian."
Meisya tersenyum miris. Wah.. Rizvan benar-benar brengsek. Orang ter-brengsek yang pernah ia temui.
Disaat yang sama, dua orang yang sedang bernyanyi dan bermain gitar menyanyikan sebuah lagu yang sangat cocok menggambarkan perasaan Meisya.
"Sial.. Sialnya ku bertemu
Dengan cinta semu
Tertipu tutur dan caramu
Seolah cintaiku
PUAS KAU CURANGI AKU?
Bagaimana dengan aku
Yang datang beri harapan
Lalu pergi dan menghilang.."
Ingin rasanya Meisya menimpuk dua orang tersebut dengan heels-nya dan meminta mereka berhenti bernyanyi. Karena nyanyian mereka seolah menambah hancur perasaannya.
Dengan airmata yang berlinang, Meisya menatap Rizvan. "Makasih atas jawabannya. Sekarang aku akan berhenti mengharapkan kamu. Semoga kamu bahagia sama Diana."
Rizvan mengangguk. Ada rasa bersalah saat melihat airmata Meisya yang bercucuran. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Rizvan pun bangkit dari duduknya.
"Yaudah kalau gitu, aku pergi dulu yah..
Diana udah nungguin aku di rumahnya."
Meisya membuang muka dan tersenyum miris.
Rizvan memang seperti pohon pisang. Punya jantung tapi tidak punya hati.
Rizvan akhirnya pergi meninggalkan Meisya. Hatinya membatin. 'Maaf kalau aku jahat Mei.. Karena cuma ini satu-satunya cara biar kamu bisa benci dan ngelupain aku.'
Setelah kepergian Rizvan, tangis Meisya pecah.
Ia menangis tersedu-sedu, tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingnya.
"Bangsat loe Van." Meisya meremas dadanya yang terasa sesak. "Sakit banget anying.."
2 menit kemudian..
"Permisi Kak.." Seorang pengamen tiba-tiba berdiri di hadapan Meisya yang tengah menangis tertunduk. Meisya buru-buru menyeka airmatanya. Dengan mata sembab, ia menatap pengamen yang langsung menyanyikan sebuah lagu tersebut. Eh tunggu, itu bukan pengamen! Itu Regy!
"Miara domba teh dua (Melihara Dua domba)
Domba bikang duanana (Dua duanya domba betina)
Ayeuna geus ngalobaan (Sekarang sudah semakin banyak)
Ngalobaan ngaranakan (Beranak semakin banyak)
Domba domba Kuring (Domba domba aku)
Diangon-angon ku kuring (Di pelihara oleh ku)
Diparaban ku kuring (Dikasih makan oleh ku)
Anak namah nu Teh Meisya (Tapi anaknya punya Kak Meisya).."
Mau tak mau Meisya tertawa. Bahkan refleks melempar heels berwarna putih-nya ke arah Regy.
"Sialan kamu!"
Regy tersenyum. Alhamdulillah, usahanya menghibur Meisya tampaknya berhasil.
Lalu bagaimana ceritanya Regy bisa ada di tempat itu?
__ADS_1
Rupanya dua orang yang tadi bernyanyi sambil bermain gitar adalah Regy dan teman kosannya.
Dan saat teman Regy menyaksikan Meisya yang tampak menangis, ia berkata pada Regy.
"Gi.. Lihat tuh cewek. Kayanya dia abis diputusin sampe nangis segitunya."
Regy yang posisinya membelakangi Meisya, auto memutar kepala. Ia shock dong. Bahkan tak jauh dari tempat Meisya, ia melihat Rizvan yang sedang berjalan ke arah motornya.
Regy tampak memikirkan sesuatu.
"Gak tega gue lihatnya. Ampe segitunya dia-"
"Jer.. Gue samperin dia dulu yah."
"Loe kenal emang?"
Regy hanya mengangguk dan bergegas mendekati Meisya sambil membawa gitarnya.
Setelah menyanyikan lagu Domba Kuring, Regy duduk disamping Meisya.
"Jadi inget si Michelle, domba saya yang dikampung." Celetuk Regy.
Meisya ngikik. Nama yang terlalu keren untuk seekor kambing. "Serius namanya Michelle?"
"Iyah.. Terakhir saya pulang dia lagi bunting. Gak tahu sekarang udah lahiran apa belom."
Meisya tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Regy ada-ada saja. Tapi ia merasa bersyukur. Kehadiran Regy dapat sedikit mengobati hatinya yang sedang berdarah.
"Makasih yah Gi."
"Makasih buat apa Kak?"
"Berkat kamu, Kakak merasa sedikit terhibur."
Regy tersenyum tipis. Ia penasaran, apa yang dilakukan pemuda itu terhadap Meisya , sampai-sampai pujaan hatinya menangis dan membuatnya ikut bersedih. Namun Regy merasa segan untuk bertanya.
"Ngomong-ngomong kamu bisa main gitar?" Tanya Meisya kemudian.
"Mmm.. Sedikit."
"Kalau gitu, nyanyiin Kakak dong."
Regy bersiap memainkan gitarnya. "Boleh.. Mau lagu apa? Balonku? Naik delman? Atau-"
"Kamu pikir Kakak anak kecil dinyanyiin lagu begituan?"
Regy tersenyum geli. Matanya seolah tak bosan memandangi Meisya yang tampak sangat cantik hari itu.
**
Di kamarnya, Keyla tersenyum setelah berhasil mendownload film di laptopnya. Saat ini juga, ia berniat mengajak Aby nonton. Hal yang selalu mereka lakukan setidaknya seminggu sekali.
Setelah menemukan kontak Aby, Keyla langsung menelfonnya.
"Halo Bi? Gue udah download film M3GAN nih. Katanya loe pengen banget nonton."
'Sorry, gue gak bisa.'
Keyla auto kecewa. "Kenapa? Atau nggak, kita nonton di rumah loe aja yah? Gue kesana sekarang."
'Jangan! Gue lagi gak ada di rumah.'
"Hah? Terus loe lagi dimana sekarang?"
'Lagi main di rumah temen.'
"Temen yang mana?"
'Ada deh pokoknya.. Gue sebutin juga loe gak bakal kenal.'
"Cewek apa Cowok?"
'Cewek.'
Keyla membeku. Tiba-tiba pikirannya melayang menuju saat Aby mengaku bahwa dirinya sudah lama menyukai temannya. Apa mungkin, Aby sedang bersama teman sekaligus wanita yang dia sukai?
"Loe lagi sama temen yang udah lama loe suka itu yah?" Nada suara Keyla terdengar kecewa.
'Iyah. Udah dulu yah Key.' Klik! Aby menutup telfonnya secara sepihak. Setelah itu ia menghela nafas panjang.
Diambilnya foto bergambar dirinya dan Keyla yang terbingkai di atas meja belajar. Rupanya Aby berbohong. Aslinya dia ada di rumah, dan sedang berada dikamarnya.
Ia belai foto Keyla yang sedang tersenyum manis.
"Sekarang, loe puas-puasin dulu sama si Fathan.
Nanti, setelah dia ngelukain loe lagi, baru loe datang ke gue."
Oh.. So SAD.
**
"Gi.. Kamu pernah ngerasain cinta bertepuk sebelah tangan nggak?" Tanya Meisya dengan tatapan lurus, menatap anak kecil yang sedang berlarian. Kalau boleh meminta, ia ingin menjadi anak kecil lagi yang tahunya hanya bermain saja.
"Pernah." Dan sekarang pun sedang ia jalani.
"Gimana rasanya?"
"Sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Toh cinta juga gak bisa dipaksakan."
Meisya terdiam. Benar kata Regy. Cinta memang tidak bisa dipaksa. Kecuali jika Tuhan yang berkehendak.
"Oiyah.. Rangga bilang, kemarin malam dia nembak Kakak yah?" Tanya Regy yang kemudian dijawab anggukan kepala oleh Meisya.
"Terus kalau saya boleh tahu.. Apa jawaban Kakak?"
Meisya menghela nafas panjang. Ada rasa bersalah yang menghantui pikirannya tatkala mengingat penolakan yang ia berikan terhadap Rangga, kemarin malam. Dan mungkin penolakan Rizvan adalah bentuk karma karena kemarin ia menolak Rangga.
"Kakak terpaksa nolak dia. Karena dihati kakak udah ada seseorang."
"Dan seseorang itu adalah kak Rizvan?" Tebak Regy yang memang sudah tahu kalau Meisya cinta mati pada Rizvan.
Meisya sendiri tersenyum pahit dan tidak menyangkal. Biarlah ia buka-bukaan pada Regy.
Anak itu pasti bisa menyimpan rahasia dan bukan tipe orang yang seperti ember bocor.
"Tapi kalau seandainya Kakak nggak suka sama Kak Rizvan, apa Kakak mau nerima perasaan Rangga?"
Meisya terdiam dan tampak memikirkan jawaban atas pertanyaan Regy.
__ADS_1
-Bersambung-